
August
13, 2015
Khotbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ كِتَابِهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ)، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَأُلُهِيَتِهِ وَأَسْمَاءِهِ وَصِفَاتِهِ وَسُبْحَانَ اللهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَادِقَ المَأْمُوْنِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اَلَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُوْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى،
تَمَسَّكُوْا
بِدِيْنِكُمْ
وَسِيْرُوْا
عَلَى
مَنْهَاجِ رَبِّكُمْ
لِأَجْلِ
أَنْ
تَصِلُوْا
إِلَيْهِ
وَإِلَى
جَنَّتِهِ
جَنَّاتُ
النَّعِيْمِ
وَذَلِكَ
بِاتِّبَاعِ
كِتَابِهِ
وَسُنَّةِ
رَسُوْلِهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Saudara-saudaraku
seiman dan seakidah…
Selayaknyalah
kita bersyukur kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala atas segala nikmat yag Allah karuniakan kepada kita
yang semua itu wajib untuk kita syukuri. Nikmat yang Allah berikan kepada kita
sangatlah banyaki, tidak dapat dan tidak akan dapat kita hitung. Maka kewajiban
seorang Muslim dan Muslimah adalah mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah
karuniakan kepada kita. Di antaranya adalah nikmat Islam, nikmat iman, nikmat
sehat, nikmat rezeki, dan lainnya yang Allah berikan kepada kita.
Mensyukuri
nikmat-nikmat Allah adalah wajib hukumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Seandainya
kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat
menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat zhalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
mengingatkan bahwa manusia sangat zhalim dan sangat kufur karena mereka tidak
mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada mereka.
Di
antara nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat Islam, iman, rezeki,
harta, umur, waktu luang, dan kesehatan untuk beribadah kepada Allah dengan
benar dan untuk menuntut ilmu syar’i.
Manusia
diberikan dua kenikmatan, namun banyak di antara mereka yang tertipu.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.
“Dua
nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan
waktu luang.”(HR. al-Bukhari dan selainnya).
Ibadallah,
Banyak
di antara manusia yang tidak menggunakan waktu sehat dan waktu luangnya dengan
sebaik-baiknya. Ia tidak gunakan untuk belajar tentang Islam, tidak ia gunakan
untuk menimba ilmu syar’i. Padahal dengan menghadiri majelis taklim yang
mengajarkan Alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat, akan bertambah
ilmu, keimanan, dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga dapat
menambah amal kebaikannya.
Semoga
melalui majelis taklim yang kita kaji dari kitab-kitab para ulama Salaf, Allah
memberikan hidayah kepada kita di atas Islam, ditetapkan hati dalam beriman,
istiqamah di atas sunnah, serta diberikan hidayah taufik oleh Allah untuk dapat
melaksanakan syari’at Islam secara kaffah (menyeluruh) dan kontinyu
hingga kita diwafatkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam keadaan mentauhidkan Allah dan melaksanakan
sunnah. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk selalu menuntut ilmu
syar’i, diberikan kenikmatan atasnya, dan diberikan pemahaman yang benar
tentang Islam dan sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.
Seorang
Muslim tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan
belajar Islam yang benar berdasarkan Alquran dan sunnah menurut pemahaman
Salafush Shalih. Agama Islam adalah agama ilmu dan amal karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
diutus dengan membawa ilmu dan amal shalih.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Dia-lah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
(QS. Al-Fat-h: 28).
Yang
dimaksud dengan al-hudaa (petunjuk) dalam ayat ini adalah ilmu yang bermanfaat.
Dan yang dimaksud dengan diinul haqq (agama yang benar) adalah amal shalih.
Allah Ta’ala
mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan
kebenaran dari kebatilan, menjelaskan Nama-Nama Allah, sifat-sifat-Nya,
perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta
memerintahkan untuk melakukan segala apa yang bermanfaat bagi hati, ruh, dan
jasad.
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyuruh ummat-nya agar mengikhlaskan ibadah semata-mata
karena Allah Ta’ala,
mencintai-Nya, berakhlak yang mulia, beradab dengan adab yang baik dan
melakukan amal shalih. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam melarang ummatnya dari perbuatan syirik,
amal dan akhlak yang buruk, yang berbahaya bagi hati, badan, dan kehidupan
dunia dan akhiratnya.
Cara
untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menuntut ilmu
syar’i. Menuntut ilmu adalah jalan yang lurus untuk dapat membedakan
antara yang haq dan yang bathil, Tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah,
yang ma’ruf dan yang munkar, dan antara yang bermanfaat dan yang
membahayakan. Menuntut ilmu akan menambah hidayah serta membawa kepada
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ibadallah,
Seorang
Muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk
memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya harus dibuktikan dengan
melaksanakan konsekuensi dari Islam. Karena itulah menuntut ilmu merupakan
jalan menuju kebahagiaan yang abadi.
Pertama: Menuntut Ilmu Syar’i Wajib
Bagi Setiap Muslim Dan Muslimah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut
ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”(HR. Ibnu Majah).
Imam
al-Qurthubi rahimahullah
menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:
Pertama,
hukumnya wajib; seperti menuntut ilmu tentang shalat, zakat, dan puasa. Inilah
yang dimaksudkan dalam riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu
(hukumnya) wajib.
Kedua,
hukumnya fardhu kifayah; seperti menuntut ilmu tentang pembagian berbagai hak,
tentang pelaksanaan hukum hadd (qishas, cambuk, potong tangan dan lainnya),
cara mendamaikan orang yang bersengketa, dan semisalnya. Sebab, tidak mungkin
semua orang dapat mempelajarinya dan apabila diwajibkan bagi setiap orang tidak
akan mungkin semua orang bisa melakukannya, atau bahkan mungkin dapat
menghambat jalan hidup mereka. Karenanya, hanya beberapa orang tertentu sajalah
yang diberikan kemudahan oleh Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya.
Ketahuilah,
menuntut ilmu adalah suatu kemuliaan yang sangat besar dan menempati kedudukan
tinggi yang tidak sebanding dengan amal apa pun.
Kedua: Menuntut Ilmu Syar’i
Memudahkan Jalan Menuju Surga
Setiap
Muslim dan Muslimah ingin masuk Surga. Maka, jalan untuk masuk Surga adalah
dengan menuntut ilmu syar’i. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَـمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.
“Barangsiapa
yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah
melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan
(urusan) atas orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah
memudahkan atasnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang
muslim, maka Allah menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa
menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.
Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan
untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah
Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka,
melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat
mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang
berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar
dengan nasabnya.” (HR. Muslim dan selainnya).
Di
dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza
wa Jalla bahwa bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut
ilmu syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga.
“Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna:
Pertama
: Menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju
majelis-majelis para ulama.
Kedua : Menempuh jalan (cara) yang
mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar
(sungguh-sungguh), membaca, menelaah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan
berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari). Dan cara-cara lain yang
dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.
“Allah
akan memudahkan jalannya menuju Surga” mempunyai dua makna. Pertama,
Allah akan memudah-kan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang
tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat
dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya. Kedua, Allah akan
memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati
“shirath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum
dan sesudahnya.
Juga
dalam sebuah hadits panjang yang berkaitan tentang ilmu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Barangsiapa
yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga.
Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu
karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang
mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit
maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang
‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.
Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak
mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan
barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian
yang paling banyak.”(HR. Ahmad dan selainnya).
Jika
kita melihat para sahabat radhiyallaahu anhum ajma’in, mereka
bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Bahkan para sahabat wanita
juga bersemangat menuntut ilmu. Mereka berkumpul di suatu tempat, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mendatangi mereka untuk menjelaskan tentang Alquran, menelaskan pula tentang
sunnah-sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala
juga memerintahkan kepada wanita untuk belajar Alquran dan sunnah di rumah
mereka.
Sebagaimana
yang Allah Ta’ala
firmankan,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
“Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah
laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat,
tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu
dengan sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari
ayat-ayat Allah dan al-Hikmah (sunnah Nabimu). Sungguh, Allah Mahalembut, Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Ahzaab: 33-34).
Saudara-saudaraku,
kaum muslimin..
Laki-laki
dan wanita diwajibkan menuntut ilmu, yaitu ilmu yang bersumber dari Alquran dan
sunnah karena dengan ilmu yang dipelajari, ia akan dapat mengerjakan amal-amal
shalih, yang dengan itu akan mengantarkan mereka ke Surga.
Kewajiban
menuntut ilmu ini mencakup seluruh individu Muslim dan Muslimah, baik dia sebagai
orang tua, anak, karyawan, dosen, Doktor, Profesor, dan yang lainnya. Yaitu
mereka wajib mengetahui ilmu yang berkaitan dengan muamalah mereka dengan
Rabb-nya, baik tentang Tauhid, rukun Islam, rukun Iman, akhlak, adab, dan
mu’amalah dengan makhluk.
Ketiga: Majelis-Majelis Ilmu adalah
Taman-Taman Surga
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْـجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا رِيَاضُ الْـجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.
“Apabila
kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berdzikir.” Para
sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman
Surga itu?” Beliau menjawab, “Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis
ilmu).” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).
بَارَكَ
اللهُ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ
وَنَفَعْنَا
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
البَيَانِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلَجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ،
وَأَشُكُرُهُ
عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى،
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah,
Atha’
bin Abi Rabah (wafat th. 114 H) rahimahullah
berkata, “Majelis-majelis dzikir yang dimaksud adalah majelis-majelis
halal dan haram, bagaimana harus membeli, menjual, berpuasa, mengerjakan
shalat, menikah, cerai, melakukan haji, dan yang sepertinya.”
Ibadallah,
Ketahuilah
bahwa majelis dzikir yang dimaksud adalah majelis ilmu, majelis yang di
dalamnya diajarkan tentang tauhid, ‘aqidah yang benar menurut pemahaman
Salafush Shalih, ibadah yang sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
muamalah, dan lainnya.
Kita
memohon kepada Allah, agar memberi taufik kepada kita agar terbuka hati kita
untuk mengkaji agama ini. Agama mulia yang tidak ada sesuatu pun yang
menandinginya. Semoga kita diberikan kecintaan dan kesadaran bahwa mempelajari
agama kita adalah kebutuhan bukanlah sesuatu yang menjadi beban.
فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ.
ثُمَّ
اِعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ
بِنَفْسِهِ
وَمَلَائِكَتِهِ
قَالَ
سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى:
(إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
الرَاشِدِيْنَ،
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ،
أَبِيْ
بَكْرٍ،
وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَجَعَلَ
هَذَا
البَلَدَ
آمِنًا مُطْمَئِنًّا
وَسَائِرَ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اللَّهُمَّ
احْفَظْ
عَلَيْنَا
أَمْنَنَا
وَإِيْمَانَنَا
وَاسْتِقْرَارَنَا
فِي أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
سُلْطَانَنَا
وَأَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
دُوَرِنَا
وَأَصْلِحْ
وُلَاةَ أُمُوْرِنَا
وَأَصْلِحْ وُلَاةَ
أُمُوْرِ
المُسْلِمِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ
وَأَخْرِجْهُمْ
مِنْ هَذَا
الضَّيْقِ
وَالشِّدَّةِ
بِفَرَجِ
عَاجِلٍ قَرِيْبٍ،
(رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ).
عِبَادَ
الله، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ)،
(وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرَ،
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com