
March
1, 2016
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ؛
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah. Dengan takwa, Allah akan menjaga seseorang. Dengan takwa, Allah ﷻ
akan membimbing seseorang menuju kebaikan dalam setiap urusan, dunia dan
akhirat.
Takwa
adalah pondasi kebahagiaan. Takwa adalah jalan keselmatan. Dan takwa adalah
sumber kesuksesan di dunia dan akhirat. Takwa adalah wasiat Allah ﷻ
kepada orang-orang terdahulu hingga yang akhir kelak. Sebagaimana firman-Nya,
وَلَقَدْ
وَصَّيْنَا
الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ
مِنْ
قَبْلِكُمْ
وَإِيَّاكُمْ
أَنِ
اتَّقُوا
اللَّهَ
“dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang
yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada
Allah.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 131).
Ibadallah,
Takwa
bukanlah semata-mata kata yang diucapkan seseorang dengan lisannya. Bukan pula
suatu klaim dan pengakuan. Hakikat takwa kepada Allah ﷻ adalah seseorang melakukan amalan ketaatan
berdasarkan petunjuk dari Allah dengan berharap pahala dari-Nya. Dan
meninggalakn perbuatan maksiat berdasarkan petunjuk dari Allah dengan perasaan
takut akan adzab-Nya. Takwa kepada Allah adalah melakukan apa diperintahkan dan
meninggalkan semua yang dilarang. Oleh karena itu, kemaksiatan itu terbagi
menjadi dua: melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diperintahkan.
Pertama: Meninggalkan perintah.
Inilah
kemaksiatan yang dilakukan oleh Iblis kepada Rabbnya. Allah ﷻ
perintahkan ia untuk bersujud pada Adam, tapi dia tidak mau.
Kedua: Melakukan yang dilarang.
Inilah
dosa yang dilakukan Adam. Allah ﷻ melarangnya untuk memakan buah suatu
pohon. Namun ia tetap memakannya. Adam pun menyesal. Kemudian bertaubat kepada
Allah ﷻ.
Kedua
hal ini adalah kemaksiatan kepada Allah ﷻ.
Ibadallah,
Dari
sisi kadarnya, dosa juga terbagi menjadi dua: dosa besar dan dosa kecil. Tidak
ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus. Dan tidak ada dosa besar jika
diiring taubat dan penyesalan. Dalam Alquran banyak dijelaskan tentang
peringatan menjauhi dosa besar. Dan penjelasan hikmah dan buah dari menjauhi
dosa besar itu berupa dampak yang terpuji dan keberkahan di dunia dan akhirat.
Dalam
surat An-Nisa, Allah ﷻ mengabarkan bahwa orang yang menjauhi dosa besar, maka mereka
mendapatkan ampunan dari kesalahan yang telah mereka lakukan dan memasukkan
mereka ke surga.
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika
kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang
kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS:An-Nisaa
| Ayat: 31).
Dalam
surat Asy-Syura, Allah ﷻ menyebutkan sifat-sifat hamba-Nya yang
memiliki keimanan sempurna, yakni menjauhi dosa besar.
وَالَّذِينَ
يَجْتَنِبُونَ
كَبَائِرَ الْإِثْمِ
وَالْفَوَاحِشَ
وَإِذَا مَا
غَضِبُوا
هُمْ
يَغْفِرُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan
keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS:Asy-Syuura |
Ayat: 37).
Dalam
surat An-Najm, Allah menjanjikan rahmat dan ampunan bagi mereka yang menjauhi
dosa besar. Allah ﷻ berfirman,
الَّذِينَ
يَجْتَنِبُونَ
كَبَائِرَ
الْإِثْمِ
وَالْفَوَاحِشَ
إِلَّا
اللَّمَمَ
إِنَّ
رَبَّكَ
وَاسِعُ
الْمَغْفِرَةِ
“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan
perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu
maha luas ampunan-Nya.” (QS:An-Najm | Ayat: 32).
Wajib
bagi setiap muslim menjauhi dosa besar. Menjauhi dosa-dosa tersebut adalah
bagian dari pengetahuan tentang dosa itu. Karena bagaimana mungkin seseorang
bisa menjauhinya apabila ia tidak mengetahui suatu perbuatan dikategorikan
sebagai dosa. Apa yang harus dijaga seseorang ketika dia tidak mengetahui apa
yang harus dijaga.
Nabi
Muhamma ﷺ telah menasihati umatnya dengan nasihat yang sempurna. Beliau
mengajak dan menyeru umatnya kepada semua kebaikan. Dan juga melarang mereka
dari semua yang buruk dan rendah. Banyak riwayat dari beliau yang
memperingatkan umatnya tentang dosa besar dan bahayanya. Serta apa yang
dipersiapkan oleh Allah bagi pelakunya. Berupa hukuman di dunia dan akhirat.
Dosa
besar adalah semua perbuatan yang mendapat hokum had di dunia dan ancaman di
akhirat. Setiap perbuatan dosa yang disebutkan dalam Alquran dan hadits,
diakhiri dengan laknat, ancaman yang keras, dan pelakunya diancam masuk neraka
atau tidak dimasukkan ke dalam surga atau tidak mencium bau surga. Demikian
juga dengan dosa yang disebutkan dengan kata-ktaka “tidak beriman”
atau “bukan termasuk golongan kami”. Atau disebutkan juga dalam
teks hadits sebagai dosa yang membinasakan. Semua itu menunjukkan bahwa dosa
tersebut dosa besar.
Di
antaranya adalah sebagaimana termaktub dalam Shahihain dari Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
“Jauhilah
7 dosa yang membinasakan…”
Disebutkan
denga kata membinasakan karena dosa-dosa ini membinasakan pelakunya di dunia
dan akhirat.
اجْتَنِبُوا
السَّبْعَ
الْمُوبِقَاتِ
، قَالُوا يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
وَمَا هُنَّ ؟
قَالَ :
الشِّرْكُ
بِاللَّهِ ،
وَالسِّحْرُ
، وَقَتْلُ
النَّفْسِ
الَّتِي
حَرَّمَ
اللَّهُ إِلَّا
بِالْحَقِّ ،
وَأَكْلُ
الرِّبَا ، وَأَكْلُ
مَالِ
الْيَتِيمِ ،
وَالتَّوَلِّي
يَوْمَ الزَّحْفِ
، وَقَذْفُ
الْمُحْصَنَاتِ
الْمُؤْمِنَاتِ
الْغَافِلَاتِ
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Jauhilah tujuh
dosa yang membinasakan.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apa
saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “Syirik
kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali jika lewat
jalan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang,
menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina.” (HR. al-Bukhari
dan Muslim).
Dalam
Shahihain terdapat sebuah hadits dari Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu, dari
Nabi ﷺ, beliau bersabda,
أَلَا
أُنَبِّئُكُمْ
بِأَكْبَرِ
الْكَبَائِرِ
ثَلَاثًا
قَالُوا
بَلَى يَا
رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ
الْإِشْرَاكُ
بِاللَّهِ وَعُقُوقُ
الْوَالِدَيْنِ
وَجَلَسَ
وَكَانَ
مُتَّكِئًا
فَقَالَ
أَلَا وَقَوْلُ
الزُّورِ
قَالَ فَمَا
زَالَ يُكَرِّرُهَا
حَتَّى
قُلْنَا
لَيْتَهُ
سَكَتَ
“Perhatikanlah (wahai para sahabat), maukah aku tunjukkan
kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau ﷺ mengatakannya
tiga kali. Kemudian para sahabat mengatakan: “Tentu, wahai
Rasulullah.” Beliau ﷺ bersabda: “Syirik kepada Allah,
durhaka kepada kedua orang tua,” sebelumnya beliau bersandar, lalu beliau
duduk dan bersabda, Perhatikanlah! Dan perkataan palsu (perkataan
dusta),” beliau selalu mengulanginya sampai kami berkata,
“Seandainya beliau berhenti”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Nabi
ﷺ
pernah melewati dua kuburan, lalu beliau berhenti di sana dan bersabda,
إِنَّهُمَا
لَيُعَذَّبَانِ
وَمَا يُعَذَّبَانِ
فِي كَبِيرٍ
أَمَّا
أَحَدُهُمَا
فَكَانَ لَا
يَسْتَنْزِهُ
مِنْ بَوْلِهِ
وَأَمَّا
الْآخَرُ
فَكَانَ
يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
”Sungguh keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan
karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini,
(semasa hidupnya) tidak memperhatikan kesucian dari kencing. Sedangkan yang
satunya lagi, dia keliling menebar adu domba.”
Perhatikanlah
“keduanya diadzab” di dalam kuburnya “diadzab bukan karena
hal yang besar” maksudnya adalah keduanya diadzab bukan karena
permasalahan yang dianggap besar oleh manusia. Bahkan sebabnya adalah perkara
kecil dan remeh oleh orang-orang. Mengadu domba adalah sesuatu yang mudah untuk
ditinggalkan. Bersuci dari kencing adalah perkara yang mudah bagi setiap orang.
Karena perkara ini dianggap remeh, maka Nabi ﷺ ingatkan, ini bukanlah perakara remeh. Ini
masalah serius dan besar. Bahkan termasuk dosa besar.
Dosa-dosa
besar adalah pembahasan besar dalam bab fikih. Oleh karena itu, umat Islam harus
memiliki perhatian besar dalam permasalahan ini. harus berusaha mengetahui dan
memahaminya melalui nash-nash syariat. Dari sana akan muncul semangat dan
dorongan untuk menjauhinya.
Para
ulama semenjak dahulu, telah membahas permasalahan ini. Mereka menuliskannya
dalam buku-buku mereka. Hendaknya kaum muslimin bersemangat mengkaji dan
membacanya walaupun hanya sebagian buku saja. Sebagai nasihat dan pengetahuan
tentang dosa-dosa besar. Dengan pengetahuan itulah kaum muslimin bisa
menghindarinya.Di antara buku terbaik yang ditulis oleh para ulama dalam
permasalahan ini adalah al-Kabair karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah. Buku
beliau ini adalah buku yang sangat berharga.
Ya
Allah perbaikilah urusan agama kami yang merupakan puncak urusan kami. Perbaikilah
urusan dunia kami, tempat dimana kami hidup. Perbaikilah akhirat kami, tempat
kembali kami. Dan jadikanlah kehidupan kami ini sebagai penambahan dalam segala
kebaikan. Serta kematian kami sebagai peristirahatan dari semua keburukan. Ya
Allah, ampuni semua dosa kami. Yang terperinci maupun tidak. Yang
sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
تَقْوَى مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يّسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ،
Ibadallah,
Pondasi
ilmu adalah rasa takut kepada Allah ﷻ. Sebagaimana firman-Nya,
إِنَّمَا
يَخْشَى
اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ
الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS:Faathir | Ayat: 28).
Semakin
seorang hamba kenal kepada Allah, maka semakin ia merasa butuh beribadah kepada
Allah dan semakin jauh dari kemaksiatan. Karena itu, seorang muslim butuh
memperbaiki agamanya. Kemudian menjauhi perbuatan dosa dan kesalahan. Seorang
muslim harus mengenal Allah ﷻ. Mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Mengenal bahwasanya ilmu Allah ﷻ itu meliputi segala sesuatu.
Mengetahui
bahwasanya Allah itu mengawasi hamba-hamba-Nya. Dia mendengar apa yang mereka
ucapkan. Mengetahui segala keadaan mereka. tidak ada satu pun yang tersembunyi
dari-Nya. Barangsiapa yang tergoda untuk melakukan maksiat, ingatlah bahwa
Allah ﷻ mengetahuinya dan mengawasinya. Karena itu, malulah kepada
Allah.
Orang
yang melakukan perbuatan dosa, hanyalah mereka yang berada dalam dua keadaan:
Pertama,
ia menyangka Allah ﷻ tidak melihatnya. Yang demikian ini adalah kekufuran.
Kedua,
ia yakin bahwa Allah melihatnya, namun ia remehkan hal itu.
Marilah,
hendaknya kita bertakwa kepada Allah ﷻ dalam keadaan sepi atau di tengah
keramaian. Dalam keadaan menyendiri ataupun dilihat orang. Ingatlah, orang yang
cerdas adalah mereka yang menundukkan hawa nafsunya agar beramal untuk
kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah mereka yang tertipu
degan angan-angan.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَحمَاكُمُ
اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
﴾ [الأحزاب:٥٦]،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَبْدِلْ
ذُلَّ المُسْلِمِيْنَ
عِزًّا
وَفَقِرَهُمْ
غِنَى،
اَللَّهُمَّ
وَأَصْلِحْ
لَهُمْ
شَأْنَهُمْ
كُلَّهُ يَا
ذَا الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ عَمَلَهُ
فِي رِضَاكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَّاصِحَةَ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا
تُحِبُّ وَتَرْضَى،
وَأَعِنَّا
عَلَى
البِرِّ
وَالتَّقْوَى،
وَسَدِدْنَا
فِي
أَقْوَالِنَا
وَأَعْمَالِنَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
وَأَعِنَّا
عَلَى
البِرِّ وَالتَّقْوَى
وَلَا
تَكِلْنَا
إِلَى أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ.
اَللَّهُمَّ
اكْتُبْ
لَنَا
تَوْبَةً
نَصُوْحًا،
اَللَّهُمَّ
اكْتُبْ
لَنَا تَوْبَةً
نَصُوْحًا،
اَللَّهُمَّ
اكْتُبْ
لَنَا تَوْبَةً
نَصُوْحًا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا
وَمَا أَخَّرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا أَعْلَنَّا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ.
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا،
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا،
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّناَ
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com