Sudah Terujikah Iman Kita
Oleh: Ade
Hermansyah Bin Bunyamin (www.alsofwah.or.id)
Khutbah Pertama
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنِ
اهْتَدَى
بِهُدَاهُ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ، وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!
Pada
kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam
surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:
أَحَسِبَ
النَّاسُ
أَنْ
يُتْرَكُوا
أَنْ يَقُولُوا
آمَنَّا
وَهُمْ لَا
يُفْتَنُونَ،
وَلَقَدْ
فَتَنَّا
الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ
فَلَيَعْلَمَنَّ
اللَّهُ
الَّذِينَ
صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ
الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak
diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,
maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu
konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu
wa Ta'ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan
kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari
keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah
dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin
mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang
digambarkan Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10:
وَمِنَ
النَّاسِ
مَنْ يَقُولُ
آمَنَّا
بِاللَّهِ
فَإِذَا
أُوذِيَ فِي
اللَّهِ
جَعَلَ
فِتْنَةَ النَّاسِ
كَعَذَابِ
اللَّهِ
وَلَئِنْ جَاءَ
نَصْرٌ مِنْ
رَبِّكَ
لَيَقُولُنَّ
إِنَّا
كُنَّا
مَعَكُمْ
أَوَلَيْسَ
اللَّهُ بِأَعْلَمَ
بِمَا فِي
صُدُورِ
الْعَالَمِينَ
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka
apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah
manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari
Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.”
Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!
Bila kita sudah
menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu
Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala :
وَمِنَ
النَّاسِ
مَنْ يَقُولُ
آمَنَّا بِاللَّهِ
فَإِذَا
أُوذِيَ فِي
اللَّهِ
جَعَلَ
فِتْنَةَ
النَّاسِ
كَعَذَابِ
اللَّهِ وَلَئِنْ
جَاءَ نَصْرٌ
مِنْ رَبِّكَ
لَيَقُولُنَّ
إِنَّا
كُنَّا
مَعَكُمْ
أَوَلَيْسَ
اللَّهُ
بِأَعْلَمَ
بِمَا فِي
صُدُورِ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah
Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi 107).
Maka marilah kita
bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada
kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan
sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.
أَمْ
حَسِبْتُمْ
أَنْ
تَدْخُلُوا
الْجَنَّةَ
وَلَمَّا
يَأْتِكُمْ
مَثَلُ
الَّذِينَ
خَلَوْا مِنْ
قَبْلِكُمْ
مَسَّتْهُمُ
الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ
وَزُلْزِلُوا
حَتَّى
يَقُولَ
الرَّسُولُ
وَالَّذِينَ
آمَنُوا
مَعَهُ مَتَى
نَصْرُ
اللَّهِ
أَلَا إِنَّ
نَصْرَ
اللَّهِ
قَرِيبٌ
Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka
ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah
Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan
Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).
Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam
perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada
shahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu.
لَقَدْ
كَانَ مَنْ
قَبْلَكُمْ
لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ
الْحَدِيْدِ
مَا دُوْنَ
عِظَامِهِ
مِنْ لَحْمٍ
أَوْ عَصَبٍ
مَا
يَصْرِفُهُ
ذَلِكَ عَنْ
دِيْنِهِ
وَيُوْضَعُ
الْمِنْشَارُ
عَلَى
مِفْرَقِ رَأْسِهِ
فَيَشُقُّ
بِاثْنَيْنِ
مَا يَصْرِفُهُ
ذَلِكَ عَنْ
دِيْنِهِ.
(رواه
البخاري).
... Sungguh
telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir
besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu
tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada
pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua,
namun itu tidak memalingkannya dari agamanya...
(HR. Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).
Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan
kita? cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang
telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita? Bila kita
memper-hatikan perjuangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam dan
orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, dan betapa pengorbanan
mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta mereka,
tenaga mereka, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu.
Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila
dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang
besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikit pun belum ada?
Hadirin sidang Jum’at yang
dimuliakan Allah!
Ujian yang diberikan oleh
Allah kepada manusia adalah berbeda-beda.
Dan ujian dari Allah
bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami
oleh para pendahulu kita:
Yang pertama:
Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada
Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini
adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal,
bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal
anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat
berat sehingga Allah sendiri mengatakan:
إِنَّ
هَذَا لَهُوَ
الْبَلَاءُ
الْمُبِينُ
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat 106).
Dan di sini kita melihat
bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan
uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat
berat itupun dijalankan.
Apa yang dilakukan oleh Nabi
Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan puteranya adalah pelajaran yang sangat
berat itupun dijalankannya.
Apa yang dilakukan oleh
Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan
sangat perlu kita tauladani, karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan
kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan
berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh,
Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab
(pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara
wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya:
يَا
أَيُّهَا
النَّبِيُّ
قُلْ
لِأَزْوَاجِكَ
وَبَنَاتِكَ
وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ
يُدْنِينَ
عَلَيْهِنَّ
مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
ذَلِكَ
أَدْنَى أَنْ
يُعْرَفْنَ
فَلَا
يُؤْذَيْنَ
وَكَانَ
اللَّهُ غَفُورًا
رَحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Al-Ahzab, 59).
Namun kita lihat sekarang
masih banyak wanita Muslimah di Indonesia khususnya tidak mau memakai jilbab
dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kampungan, tidak modis, atau
beranggapan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya bangsa Arab. Ini pertanda
bahwa iman mereka belum lulus ujian. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam
sabdanya:
صِنْفَانِ
مِنْ أَهْلِ
النَّارِ
لَمْ أَرَهُمَا؛
قَوْمٌ
مَعَهُمْ
سِيَاطٌ
كَأَذْنَابِ
الْبَقَرِ
يَضْرِبُوْنَ
بِهَا النَّاسَ،
وَنِسَاءٌ
كَاسِيَاتٌ
عَارِيَاتٌ
مُمِيْلاَتٌ
مَائِلاَتٌ
رُؤُوْسُهُنَّ
كَأَسْنِمَةِ
الْبُخْتِ
الْمَائِلَةِ
لاَ
يَدْخُلْنَ
الْجَنَّةَ
وَلاَ
يَجِدْنَ
رِيْحَهَا.
(رواه مسلم).
“Dua golongan dari
ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor
sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai
baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala
mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium
wanginya”. (HR. Muslim, Shahih
Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayyan, juz 14 hal. 109-110).
Yang kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya
yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan
cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan
kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di
rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf
Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari
godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat
kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.
Sikap Nabi Yusuf
Alaihissalam ini perlu kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang,
di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana,
minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan
masyarakat, sampai-sampai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar
pun sudah ada yang kecanduan. Perzinahan sudah seakan menjadi barang biasa bagi
para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian, bahwa di
kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya enam dari sepuluh remaja putri
sudah tidak perawan lagi. Di antara akibatnya setiap tahun sekitar dua juta
bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi
lahir. Keadaan seperti itu diperparah dengan semakin banyaknya media cetak yang
berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara
yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja. Pada
saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf Alaihissalam perlu ditanamkan dalam dada
para pemuda Muslim. Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi
godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam telah menjanjikan kepada siapa saja
yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari
Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ
اللهُ فِيْ
ظِلِّهِ
يَوْمَ لاَ ظِلَّ
إِلاَّ
ظِلُّهُ ...
وَرَجُلٌ
طَلَبَتْهُ
امْرَأَةٌ
ذَاتُ
مَنْصِبٍ
وَجَمَالٍ
فَقَالَ
إِنِّيْ
أَخَافُ
اللهَ ... (متفق
عليه).
“Tujuh (orang yang
akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan
selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang
perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan
Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh
An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).
Yang ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit,
ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub
Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga
tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit
itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk
biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya
meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan
nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada
saat yang sangat sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:
“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia
menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan
siksaan”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).
Dan ketika itu
Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke
tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air
itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar
tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52). Begitulah ujian Allah kepada
NabiNya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan
perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam
membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak
terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak
dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya
dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, karena tidak tahan menghadapi
kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang
dialami oleh Nabi Ayyub Alaihissalam ini.
Sidang jamaah rahima kumullah
Yang keempat:
Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi
Islam. Apa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa salam dan
para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah kiranya cukup menjadi
pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat
yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Di antaranya apa yang
dialami oleh Rasulullah n di akhir
tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan
hubungan apapun dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta Bani
Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku
itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam untuk dibunuh.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama orang-orang yang membelanya
terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang
hebat. (DR. Akram Dhiya Al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1
hal. 182).
Juga apa yang dialami
oleh para shahabat tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir z dan istrinya Sumayyah dua orang pertama yang
meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah
Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang
pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil
mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad,
Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1
hal. 154-155).
Dan masih banyak
kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka
dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak
sedikit pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus
berdakwah dan menyebarkan Islam.
Musibah yang dialami oleh
saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang akibat kedengkian
orang-orang kafir, adalah ujian dari Allah kepada umat Islam di sana, sekaligus
sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di daerah-daerah lain. Umat Islam di
Indonesia khususnya sedang diuji sejauh mana ketahanan iman mereka menghadapi
serangan orang-orang yang membenci Islam dan kaum Muslimin. Sungguh menyakitkan
memang di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim terjadi pembantaian
terhadap kaum Muslimin, sekian ribu nyawa telah melayang, bukan karena mereka
memberontak pemerintah atau menyerang pemeluk agama lain, tapi hanya karena
mereka mengatakan: ( Laa ilaaha illallaahu ) لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ, tidak jauh berbeda dengan apa yang
dikisahkan Allah dalam surat Al-Buruj ayat 4 sampai 8:
“Binasa dan
terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan)
kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa
yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak
menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman
kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.
Peristiwa seperti inipun mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih
tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang
telah ditentukan oleh Allah.
Kita berdo’a
mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan
iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga umat
Islam yang berada di daerah lain, bisa mengambil pelajaran dari berbagai
peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu
berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban
dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan
Allah akan datang kepada kita, firman Allah.
“Hai orang-orang yang
beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan
meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad:
7).
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ.
وَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
كَانَ
بِعِبَادِهِ
خَبِيْرًا
بَصِيْرًا،
تَبَارَكَ
الَّذِيْ
جَعَلَ فِي
السَّمَاءِ
بُرُوْجًا
وَجَعَلَ
فِيْهَا
سِرَاجًا
وَقَمَرًا
مُنِيْرًا.
أَشْهَدُ
اَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وأََشْهَدُ
اَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وُرَسُولُهُ
الَّذِيْ
بَعَثَهُ بِالْحَقِّ
بَشِيْرًا
وَنَذِيْرًا،
وَدَاعِيَا
إِلَى الْحَقِّ
بِإِذْنِهِ
وَسِرَاجًا
مُنِيْرًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوا
اتَقُوا اللهَ
وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا
قَدَّمَتْ لِغَدٍ
وَاتَّقُوا
اللهَ إِنَّ
اللهَ خَبِيْرٌ
بِمَا
تَعْمَلُوْنَ.
Hadirin jamaah Jum’at yang
dimuliakan Allah!
Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri
untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yaqin bahwa ujian dari Allah
itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa salam :
إِنَّ
عِظَمَ
الْجَزَاءِ
مَعَ عِظَمِ
الْبَلاَءِ
وَإِنَّ
اللهَ إِذَا
أَحَبَّ
قَوْمًا
اِبْتَلاَهُمْ،
فَمَنْ
رَضِيَ
فَلَهُ الرِّضَا
وَمَنْ
سَخِطَ
فَلَهُ
السُّخْطُ.
(رواه
الترمذي، وقال
هذا حديث حسن
غريب من هذا
الوجه).
“Sesungguhnya besarnya
pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah
mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah
keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. (HR.
At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan
At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).
Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam
menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita. Amin.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَاأَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
وَرَضِيَ
اللهُ
تَعَالَى عَنْ
كُلِّ
صَحَابَةِ
رَسُوْلِ
اللهِ أَجْمَعِيْنَ.
رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا
مِن لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنتَ
الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا
أَفْرِغْ
عَلَيْنَا
صَبْرًا
وَثَبِّتْ
أَقْدَامَنَا
وَانْصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَصْلِحْ
وُلاَةَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِهِمْ
وَأَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِهِمْ
وَانْصُرْهُمْ
عَلَى
عَدُوِّكَ
وَعَدُوِّهِمْ
وَوَفِّقْهُمْ
لِلْعَمَلِ
بِمَا فِيْهِ
صَلاَحُ
اْلإِسْلاَمِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَ
لاَ
تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا
بِذُنُوْبِنَا
مَنْ لاَ
يَخَافُكَ
فِيْنَا وَلاَ
يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.