MENDIDIK ANAK MENJAWAB TANTANGAN
ZAMAN
Rabu, 31 Maret 10 Oleh: Suroso Abd. Salam, M.Pd.
KHUTBAH PERTAMA :
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بلله مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ الله
فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Salah
satu nikmat, amanah, sekaligus ujian dari Allah Subhanahu Wata'ala adalah
hadirnya seorang anak di tengah keluarga kita. Perilaku lucu, cerdik,
menggelikan, sekaligus menyenangkan, senantiasa mereka tampilkan. Hal itu
membuat suasana keluarga semakin meriah. Hadirnya momongan di tengah keluarga
merupakan dambaan pasutri (pasangan suami–istri) atau orang tua. Karena itu
dapat kita bayangkan, betapa sepinya keluarga, jika anak tak berada di sisi
pasutri.
Selanjutnya,
cara orang tua menyambut, menjaga, memelihara, mengarahkan, membimbing, atau
mendidik anak untuk kehidupan anak di masa depan jangka pendek (dunia) dan
jangka panjang (akhirat) akan memberikan andil besar atau bahkan menentukan
bagi:
1. Sukses tidaknya orang tua di dalam bersyukur kepada Allah Subhanahu
Wata'ala atas nikmat dariNya berupa anak, sehingga anak tidak dicemari
fitrahnya.
2. Sukses tidaknya orang tua di dalam menunaikan amanah Allah Subhanahu
Wata'ala berupa anak, sehingga akan tumbuh anak-anak shalih atau shalihah.
3.Sukses tidaknya orang tua di dalam menempuh ujian dengan lahirnya anak
di tengah keluarga, sehingga anak tidak menjadi penyebab orang tua meninggalkan
ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda :
مَا مِنْ
مَوْلُوْدٍ
إِلاَّ
يُوْلَدُ
عَلَى
الْفِطْرَةِ،
فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ
أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ.
"Tidaklah
anak manusia dilahirkan melainkan pasti lahir di atas fitrahnya, maka kemudian
orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan
hadits ini kita mengetahui, bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid
dan berpotensi baik). Jika kemu-dian anak menjadi menyimpang, ia menjadi
Yahudi/Nasrani/ Ma-jusi, dan ahli maksiat, maka orang tua memiliki andil besar
sebagai penyebabnya. Mengapa?
Sebabnya adalah: Pertama, orang tua adalah pihak yang sejak awal paling
dekat dan berpengaruh langsung kepada anak.
Kedua, orang tua tidak memberikan perawatan dan pendidi-kan yang tepat
sejak usia dini. Orang tua justru memberikan pendi-dikan yang menyimpang dari
Tauhid dan sunnah Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam.
Jika orang tua mencari rizki (nafkah) dengan cara yang batil (hasil menipu, mencuri, korupsi, riba, memeras, dan sejenisnya), maka nafkah tersebut tidak berkah (tidak mengandung kebaikan). Lantas, anak dan istri, juga diri ayah tersebut tumbuh dari perawatan fisik/jasad (nafkah) yang haram. Pengaruhnya, hati manusia menjadi keras untuk menerima kebenaran dari Allah Subhanahu Wata'ala dan Rasul-Nya.
Hal itu akan diperparah lagi dengan cara, harta dari hasil yang haram tersebut dibelanjakan untuk makanan, minuman, dan hal-hal lain yang haram (untuk merokok, berjudi, khamar, narkoba, membeli daging babi dan marus/darah binatang dan sejenisnya). Maka tumbuhlah jasmani yang tidak sehat. Inilah bentuk perawatan yang menyimpang.
Adapun pendidikan yang menyimpang terlihat dengan jelas, manakala orang tua menyerahkan pendidikan anak mereka pada sekolah-sekolah yang tidak menghargai pendidikan Agama secara memadai. Hal itu diperburuk dengan pendidikan agama yang diajarkan itu pun menyimpang dari sumber rujukan Islam (al-Qur`an dan as-Sunnah).
Berbarengan dengan hal itu, anak dicekoki dengan berbagai acara di TV, radio, dan sejenisnya selama berjam-jam setiap harinya. Demikian halnya di masyarakat marak sekali adanya acara panggung-panggung hiburan yang jauh dari tuntunan Islam. Dilengkapi dengan pergaulan yang dialami anak, baik di lingkungan keluarga besarnya, di masyarakat, dan di berbagai kesempatan, jauh dari akhlak Islami. Disempurnakan dengan bahan bacaan (majalah, surat kabar, tabloid, novel, puisi, kaset/CD/DVD, dan sejenisnya) yang mengumbar kemaksiatan (pornografi dan sejenisnya), maka genap lengkap dan sempurnalah pendidikan anak yang menyimpang menjadi menu/program/kurikulum yang mengarahkan anak menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Sungguh besar pengaruh orang tua terhadap anak. Pepatah mengatakan, "Mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya." Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam pun telah bersabda :
اَلْمَرْءُ
عَلَى دِيْنِ
خَلِيْلِهِ،
فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ
مَنْ
يُخَالِلُ.
"Agama
seseorang tergantung kepada siapa yang menjadi orang yang paling dicintainya.
Maka coba perhatikan siapa orang yang paling dicintai oleh salah seorang dari
kalian." (HR.
Ahmad).
Sadar
atau pun tidak, orang tua dan masyarakat yang demikian telah dengan mulus
memberikan jalan kepada program-program kerja Yahudi, Nasrani, dan Majusi, yang
dengan gigih menyediakan semua waktu, tenaga, dan pikiran, program hiburan,
serta hartanya di dalam program pemurtadan umat Islam dalam bentuk 'tidak harus
berpindah agama'.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :
وَلَن
تَرْضَى
عَنكَ
الْيَهُودُ
وَلاَ النَّصَارَى
حَتَّى
تَتَّبِعَ
مِلَّتَهُمْ
قُلْ إِنَّ
هُدَى
اللَّهِ هُوَ
الْهُدَى وَلَئِنِ
اتَّبَعْتَ
أَهْوَآءَهُمْ
بَعْدَ الَّذِي
جَاءَكَ مِنَ
الْعِلْمِ
مَالَكَ مِنَ
اللَّهِ مِن
وَلِيٍّ
وَلاَ نَصِيرٍ
"Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah, 'Sesungguh-nya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
sebenarnya)'. Dan sesung-guhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu."
(Al-Baqarah: 120).
Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Inilah
tantangan umat Islam dari luar dirinya di masa kini dan mendatang. Demikian
halnya kelemahan umat Islam sendiri (tidak memahami Islam dengan benar, taklid,
berlebih-lebihan di dalam mencintai orang-orang shalih, maupun meremehkan
agama, tidak istiqamah, dan sejenisnya, lemah iptek, tak profesional di
dalam beramal, dan lain-lain) merupakan tantangan dari dalam tubuh umat Islam
yang harus dijawab umat Islam sendiri.
Orang tua, khususnya ayah, adalah pihak yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikan agenda besar ini dalam lingkup keluarga yakni pendidikan yang sejalan dengan fitrah anak. Pendidikan anak yang demikian dapat menghadapi tantangan masa kini dan masa depan yang bersifat materialistis, liberalistis, anti AGAMA, dan pengumbar nafsu yang diciptakan oleh Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
قُوا أَنفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا
وَقُودُهَا
النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ
غِلاَظٌ
شِدَادُُ
لاَّيَعْصُونَ
اللهَ
مَآأَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ
مَايُؤْمَرُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tah-rim: 6).
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Sekiranya
orang tua sanggup mengatasi tantangan dari dalam dan luar tersebut, dengan cara
memberikan perawatan yang baik dan halal, serta pendidikan yang berbasis Islam
yang mengembangkan fitrah anak, maka akan lahir anak-anak yang bertauhid,
berbuat baik, menguasai bidang keahlian yang dipilihnya, dan istiqamah di atas
Din yang haq (Dinul Islam). Akhirnya kelak akan lahir anak-anak yang sanggup
menghadapi tantangan materialisme, liberalisme, anti Agama, dan para pengumbar
nafsu produk dan antek Yahudi dan Nasrani. Insya Allah Subhanahu
Wata'ala mereka akan mengungguli musuh-musuh Allah, musuh-musuh Islam, dan
musuh-musuh kaum Muslimin hari ini dan ke depan.
Demikian halnya, anak merupakan amanah.
Orang tua yang sukses adalah mereka yang sanggup mengem-ban amanah. Sesunguhnya Allah Subhanahu Wata'ala telah mempercayakan makhlukNya (berupa anak) untuk dirawat/diasuh dan dididik oleh orang tua. Orang tua yang menyadari hal ini, mereka akan memperkuat keikhlasan, kesabaran, dan kesungguhannya di dalam merawat dan mendidik amanah Allah Subhanahu Wata'ala. Anak merupakan asset masa depan (dunia, jangka pendek dan akhirat, jangka panjang). Tanpa keikhlasan, kesabaran, dan kesungguhan (juhud) yang prima, niscaya orang tua akan menghadapi kegagalan di dalam menunaikan amanah.
Orang tua hendaknya mengerahkan segala daya upaya –yang juga merupakan karunia Allah Subhanahu Wata'ala - untuk meraih keuntungan/kebaikan dunia akhirat bagi diri mereka dengan cara menunaikan amanah yakni merawat dan mendidik anak. Mereka selalu mengingat dan melaksanakan sabda Rasulullah  berikut :
إِذَا مَاتَ
ابْنُ آدَمَ
انْقَطَعَ
عَمَلُهُ
إِلَّا مِنْ
ثَلَاثٍ:
صَدَقَةٌ
جَارِيَةٌ،
أَوْ عِلْمٌ
يُنْتَفَعُ
بِهِ، أَوْ
وَلَدٌ صَالِحٌ
يَدْعُوْ
لَهُ.
"Apabila
anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali
tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang
mendoakannya."
(HR. Muslim).
Anak
shalih/shalihah tidaklah akan mungkin terwujud, manakala perawatan dan
pendidikan terhadapnya menyimpang. Oleh karena itu, orang tua yang menghendaki
buah yang segar di dunia maupun di akhirat berupa anak shalih/shalihah, maka
hendaknya mereka mempersiapkannya sebaik mungkin sejak dini.
Anak shalih adalah anak yang berbuat baik yakni anak yang tergambarkan di dalam
Firman Allah Subhanahu Wata'ala berikut ini :
وَاعْبُدُوا
اللهَ
وَلاَتُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ
وَالْجَارِ ذِي
الْقُرْبَى
وَالْجَارِ
الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ
بِالْجَنبِ
وَابْنِ
السَّبِيلِ
وَمَامَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ
إِنَّ اللهَ
لاَيُحِبُّ
مَن كَانَ
مُخْتَالاً
فَخُورًا
"Sembahlah
Allah dan janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil
dan hamba saha-yamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
som-bong dan membangga-banggakan diri." (An-Nisa`: 36).
Berdasarkan
ayat ini, anak/orang yang baik adalah:
1. Bertauhid dan tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wata'ala.
2. Birrul walidain (berbakti kepada ibu bapak).
3. Berbuat baik kepada sesama manusia.
4. Tidak sombong dan bangga diri.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Anak shalih yang berciri-ciri seperti digambarkan pada surah an-Nisa` 36 itulah yang sanggup menjawab tantangan zaman, yang sanggup mengatur dunia ini dalam rangka taat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Dan hal itu merupakan karunia dariNya kepada siapa yang Dia Kehendaki. Perhatikan Firman Allah Subhanahu Wata'ala “
وَعَدَ اللهُ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
مِنكُمْ
وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ
فِي
اْلأَرْضِ
كَمَااسْتَخْلَفَ
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ
لَهُمْ
دِينَهُمُ
الَّذِي
ارْتَضَى
لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم
مِّن بَعْدِ
خَوْفِهِمْ
أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي
لاَيُشْرِكُونَ
بِي شَيْئًا
وَمَن كَفَرَ
بَعْدَ
ذَلِكَ
فَأُوْلاَئِكَ
هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan)
mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka
tetap menyembahKu dengan tiada menyekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik."
(An-Nur: 55).
بَارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Upaya
orang tua berikutnya dalam rangka menyiapkan anak menghadapi tantangan zaman di
masanya adalah bahwa sejak awal orang tua harus menyadari bahwa anak merupakan
ujian bagi diri mereka. Allah Subhanahu Wata'ala memberikan karunia anak,
berarti Allah Subhanahu Wata'ala juga sedang menguji orang tua. Luluskah dalam
ujian?
Ujian yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata'ala memiliki tujuan untuk mengetahui dengan sebenarnya siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang dusta; siapa yang bersungguh-sungguh dan siapa yang bermain-main; siapa yang terbaik amalnya dan siapa yang merugi. Hal ini banyak disebutkan di dalam al-Qur`an al-Karim. Di antaranya :
زُيِّنَ
لِلنَّاسِ
حُبُّ الشَّهَوَاتِ
مِنَ
النِّسَاءِ
وَالْبَنِينَ
وَالْقَنَاطِيرِ
الْمُقَنطَرَةِ
مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ
وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ
وَاْلأَنْعَامِ
وَالْحَرْثِ
ذَلِكَ
مَتَاعُ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَاللهُ
عِندَهُ
حُسْنُ
الْمَئَابِ
"Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Ali Imran: 14).
وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ
لَوْ
تَرَكُوا
مِنْ خَلْفِهِمْ
ذُرِّيَّةً
ضِعَافًا
خَافُوا عَلَيْهِمْ
فَلْيَتَّقُوا
اللهَ
وَلْيَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut kepada
Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan anak-anak yang lemah di belakang
mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar."
(An-Nisa`: 9).
وَاعْلَمُوا
أَنَّمَآ
أَمْوَالُكُمْ
وَأَوْلاَدُكُمْ
فِتْنَةُُ
وَأَنَّ
اللهَ عِندَهُ
أَجْرُُ
عَظِيمُُ
"Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar."
(Al-Anfal: 28).
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Jika
kita sebagai orang tua –lebih khusus sebagai ayah- sanggup merawat dan mendidik
anak dengan berbasiskan Islam, sehingga ciri-ciri anak shalih seperti tersebut
di atas teraih, maka inilah bukti kita mengikuti dan taat kepada Allah
Subhanahu Wata'ala dan Rasul-Nya, bukti bahwa kita cinta kepada Allah Subhanahu
Wata'ala dan RasulNya, bukti bahwa kita telah bersungguh-sungguh (berjihad)
dalam dunia pendidikan fi sabilillah.
Anak adalah ujian yang jika kita kurang hati-hati, akan menempatkan kita pada derajat fasik, mengapa? Sebab jika kita teledor, maka saking cintanya kita kepada anak, dapat melalaikan kita dari cinta dan taat kepada Allah Subhanahu Wata'ala, RasulNya, dan berjihad di jalan-Nya. Perhatikan FirmanNya :
قُلْ إِن
كَانَ
ءَابَآؤُكُمْ
وَأَبْنَآؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ
وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ
وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ
تَخْشَوْنَ
كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ
تَرْضَوْنَهَآ
أَحَبَّ إِلَيْكُم
مِّنَ اللهِ
وَرَسُولِهِ
وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ
فَتَرَبَّصُوا
حَتَّى
يَأْتِيَ
اللهُ
بِأَمْرِهِ
وَاللهُ
لاَيَهْدِي
الْقَوْمَ
الْفَاسِقِينَ
"Katakanlah,
'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu
cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya'. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (At-Taubah: 24).
Karena
itulah, mari kita siapkan, kita rawat, dan kita didik anak-anak kita untuk
menghadapi berbagai tantangan zaman seperti materialisme, komunisme,
sekularisme, liberalisme, dan berbagai ismeisme lainnya buatan manusia yang
dimotori oleh Yahudi dan Nasrani serta Majusi.
Kita rawat dan didik anak-anak kita dengan basis Islam untuk mewujudkan anak-anak yang shalih. Anak-anak yang beriman/ bertauhid, istiqamah di atas keimanan dan ketakwaan, berakhlak karimah, dan profesional/ahli di bidang spesialisasinya. Dengan anak yang shalih inilah dunia akan aman, tentram, sejahtera dalam keadaan tunduk patuh kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Dengan demikian, kita telah mencapai tujuan diciptakannya manusia itu sendiri di dunia ini.
Marilah kita tundukkan hati, pikiran, dan perasaan kita ke hadapan Allah, Rabbul 'alamin. Kita memohon kepadaNya, semoga berkenan kiranya Dia menurunkan karunia, taufik, hidayah, dan inayahNya kepada kita semuanya, amin.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at
Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar.
S.Pd.I )