Wujudkan
Kejayaan Umat Dengan Kemurnian Tauhid
Selasa,
16 Maret 04 Oleh:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Amma ba’du, kaum muslimin yang
berbahagia!
Saya mewasiatkan kepada Anda sekalian dan juga kepada diri saya sendiri untuk
selalu menjaga dan meningkatkan taqwa yang hakiki kepada Allah Subhannahu wa
Ta'ala, sebab inilah wasiat yang disampaikan Allah kepada generasi terdahulu
dan juga generasi yang akan datang:
وَلِلَّهِ
مَا فِي
السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي
الْأَرْضِ
وَلَقَدْ
وَصَّيْنَا
الَّذِينَ
أُوتُوا
الْكِتَابَ
مِنْ
قَبْلِكُمْ
وَإِيَّاكُمْ
أَنِ
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَإِنْ تَكْفُرُوا
فَإِنَّ
لِلَّهِ مَا
فِي السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي
الْأَرْضِ
“Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan
sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang ahlulkitab sebelum kalian dan
kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah. Dan jika kalian kafir maka
sesungguhnya kepunyaan Allah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi
...” (An-Nisa: 131).
Hadirin yang dimuliakan Allah!
Sesungguhnya Tauhid yang murni dan bersih adalah inti ajaran dari semua risalah
samawiyah yang diturunkan Allah Ta’ala. Ia adalah tiang penopang yang
menegakkan bangunan Islam. Ia adalah syi’ar Islam yang terbesar yang tak dapat
terpisahkan dari Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allah kepada Rasulnya
yang diutus kepada ummat manusia.
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا
فِي كُلِّ
أُمَّةٍ رَسُولًا
أَنِ
اعْبُدُوا
اللَّهَ
وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ
“Sungguh Kami
telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul (untuk menyampaikan):
Sembahlah (oleh kalian) akan Allah dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)
Itulah misi utama para Rasul; menegakkan penyembahan dan penghambaan hanya kepada
Allah serta menafikan dan menjauhi segala bentuk thaghut. Dan yang dimaksud
dengan thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui
batas-batas yang seharusnya tak boleh ia langgar, baik berupa sesembahan,
panutan dan ikutan. Sehingga thaghut setiap kaum/komunitas adalah siapapun yang
mereka jadikan sumber dasar hukum selain Allah dan RasulNya, yang mereka
jadikan Tuhan selain Allah Subhannahu wa Ta'ala , yang mereka ta’ati meskipun
dimurkai dan tidak diridloi Allah Ta’ala.
أَلَمْ
تَرَ إِلَى
الَّذِينَ
يَزْعُمُونَ
أَنَّهُمْ
آمَنُوا
بِمَا
أُنْزِلَ
إِلَيْكَ وَمَا
أُنْزِلَ
مِنْ
قَبْلِكَ
يُرِيدُونَ
أَنْ
يَتَحَاكَمُوا
إِلَى
الطَّاغُوتِ
وَقَدْ
أُمِرُوا
أَنْ
يَكْفُرُوا
بِهِ
“Tidakkah
engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah beriman
kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu,
(padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut padahal sungguh
mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.” (An-Nisa: 60)
Kedua unsur penting inilah yang terangkai dalam kalimat suci La ilaha illallah;
tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Hadirin para hamba Allah yang berbahagia!
Di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia itulah Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam membangun ummatnya, di atas landasan yang kokoh itulah beliau
menegakkan da’wah, dari situlah beliau menegakkan generasi yang hanya
meng-Esa-kan Allah Yang Maha Esa dan membebaskan diri mereka dari cengkraman
makhluq-makhluq lain yang dianggap sekutu bagi Allah Ta’ala.
Dan ketika seorang Muwahhid mengucapkan dan melantunkan kalimat Tauhid itu,
maka seharusnya ia meyakini dua hal yang menjadi tujuan dari kalimat suci
tersebut. Apa dua tujuan itu?
Tujuan pertama adalah menegakkan
yang haq dan member-sihkan yang bathil. Sebab makna yang sesungguhnya dari
kalimat la ilah Illallah itu adalah tidak ada yang berhak untuk disembah selain
Allah. Sehingga segala sesuatu selain Allah adalah bathil dan tidak berhak
mendapatkan hak-hak ilahiyyah (hak-hak untuk disembah). Dan lihatlah bagaimana
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membersihkan Jazirah Arab dari
kotoran-kotoran dan kekuasaan thoghut dan patung-patung sesembahan. Ingatlah
bagaimana batu besar saat itu yang bernama Hubal yang dikelilingi 360 berhala
dihancurkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan tangan beliau
yang mulia pada saat beliau memasuki kota Makkah dengan penuh kemenangan. Dan
semua itu beliau seraya mengulang-ulang firman Allah:
وَقُلْ
جَاءَ
الْحَقُّ
وَزَهَقَ
الْبَاطِلُ
إِنَّ
الْبَاطِلَ
كَانَ
زَهُوقًا
“Dan Katakanlah
(wahai Muhammad) telah datang Al-Haq dan hancurlah yang bathil. Sesungguhnya
yang bathil itu pasti hancur.” (Al-Isra’: 81)
Kemudian tujuan yang kedua adalah
untuk mengatur dan meluruskan perilaku manusia agar selalu dalam lingkaran
Tauhid yang murni kepada Allah yang terpancar dari kalimat Tauhid. Agar semua
tindak-tanduk manusia dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dan agar kalimat Tauhid itu dapat “berhasil guna” dalam mengatur perilaku
manusia maka ada tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu: al-’ilm (mengetahui)
maknanya yang benar, al-yaqin (meyakini) kandungan-nya tanpa ada keraguan,
al-ikhlas (ikhlas) tanpa ternodai oleh syirik, ash-shidq (membenarkan) tanpa
mendustakannya, al-qabul (menerimanya) dengan penuh kerelaan tanpa menolaknya,
tunduk pada konsekwensi kalimat Tauhid (al-inqiyad), dan semua itu harus
dilandasi dengan al-mahabbah (cinta) kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Bila ketujuh syarat tersebut telah terpenuhi maka insya’ Allah seluruh ibadah
dan amal kita akan selalu terhiasi dan diterangi oleh kemurnian Tauhid,
sehingga semuanya dikerjakan hanya karena Allah, tidak ada lagi permintaan
tolong selain kepada Allah, tidak ada lagi tawakkal kecuali kepada Allah, tidak
ada lagi pengharapan dan rasa takut selain kepada Allah, tidak ada lagi
kekuatan selain pertolongan Allah. Dari sinilah, seorang muwahhid akan
merasakan dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa segala sesuatu selain Allah
adalah lemah dan tidak berdaya. Maka ia tidak lagi takut kebengisan dan
kekuatan para makhluq, tidak lagi terpedaya oleh kilau duniawi, dan baginya
tidak mungkin ada yang dapat manandingi Allah, tidak ada yang dapat menghalangi
apapun yang dikehendaki Allah Subhannahu wa Ta'ala . Sehingga baginya
bergantung kepada selain Allah adalah suatu kelemahan dan berharap kepada
selain Allah adalah sebuah kesesatan:
وَلِلَّهِ
غَيْبُ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَإِلَيْهِ
يُرْجَعُ
الْأَمْرُ
كُلُّهُ
“Dan bagi
Allah-lah segala hal ghaib yang ada di langit dan di bumi, dan kepadaNya-lah
segala perkara dikembalikan.” (Hud: 123).
Dari sini jelaslah perbedaan yang sangat jauh antara seorang Muwahhid dengan
seorang musyrik. Seorang muwahhid adalah orang yang mengetahui Dzat yang
menciptakannya sehingga ia pun beribadah dan menghamba padaNya dengan
sebenar-benarnya. Sebaliknya seorang musyrik adalah orang yang buta mata
hatinya, kehilangan arah dan jauh meninggalkan Dzat yang melimpahkan ni’mat
padanya. Na’udzu billah min dzalik.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Sejak dahulu hingga sekarang, begitu banyak manusia yang tersesatkan oleh
keyakinan berbilang “tuhan” yang disembah, yang dapat dimintai pertolongan,
yang dapat dijadikan sumber hukum dan yang berhak mendapatkan
kekhususan-kekhususan ilahiyah. Dan keyakinan ini adalah sebuah kesesatan yang
nyata yang telah diperangi oleh Islam dengan keras. Sehingga tidaklah
mengherankan bila Tauhid yang murni kemudian menjadi syi’ar terpenting Islam
yang selalu ada dalam aspek I’tiqad dan amaliyah. Dengan syi’ar inilah Islam
dikenal bahkan karenanya Islam diperangi. Seputar syi’ar ini pula lah
pertentangan antara ahlul haq dan ahlul bathil terus berlanjut.
إِنَّ
إِلَهَكُمْ
لَوَاحِدٌ،
رَبُّ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَمَا
بَيْنَهُمَا
“Sesungguhnya
Tuhan kalian benar-benar satu. Tuhan (yang menciptakan, mengatur dan menguasai)
langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya ...” (Ash-Shaffat: 4-5).
Dan sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat
Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting
ini. Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari
berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita
saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak di antara kaum muslimin yang
tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi
penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan
penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka
memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya
pantas diberikan kepada Allah Rabbul ’alamin.
Dikarenakan lemahnya keyakinan akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum
muslimin yang kemudian menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka
karena yakin hal itu akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari
marabahaya. Padahal Allah telah menegaskan:
وَإِنْ
يَمْسَسْكَ
اللَّهُ
بِضُرٍّ
فَلَا كَاشِفَ
لَهُ إِلَّا
هُوَ وَإِنْ
يَمْسَسْكَ
بِخَيْرٍ
فَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيرٌ
“Dan jika Allah
menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia,
dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala
sesuatu.” (Al-An’am: 17).
Dan suatu hari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang
mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata:
اِنْزِعْهَا
فَإِنَّهَا
لاَ
تَزِيْدُكَ إِلاَّ
وَهْنًا
فَإِنَّكَ
لَوْ مِتَّ
وَهِيَ
عَلَيْكَ مَا
أَفْلَحْتَ
أَبَدًا.
“Cabutlah
(benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena
sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan
beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”).
Dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam bersabda:
مَنْ
تَعَلَّقَ
تَمِيْمَةً
فَقَدْ
أَشْرَكَ.
“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka sungguh ia
telah berbuat syirik.” Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang
terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa
depan, padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia telah menyatakan:
مَنْ
أَتَى
عَرَّافًا
أَوْ
كَاهِنًا
فَصَدَّقَهُ
بِمَا
يَقُوْلُ
فَقَدْ
كَفَرَ بِمَا
أُنْزِلَ
عَلَى
مُحَمَّدٍ.
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu
mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa
yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. Abu Dawwud, An-Nasai, At-Tirmidzy, Ibnu
Majah dan Al-Hakim)
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ.
فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
Kaum
muslimin yang berbahagia!
Semua yang saya sebutkan di atas adalah sekedar contoh terhadap model-model
kesyirikan yang dilakukan sebagian kaum muslimin. Dalam kenyataan sehari-hari
kita akan menemukan model-model lain dari perilaku syirik itu dalam berbagai
aspek kehidupan kaum muslimin, yang kemudian disadari atau tidak menyebabkan
lemahnya keyakinan mereka terhadap kemaha-besaran, kemahakuasaan,
kemahaperkasaan Allah. Karena Tauhid mereka lemah, maka merekapun tidak begitu
yakin lagi dengan pertolongan Allah, sehingga dengan amat sangat mudahnya
musuh-musuh mereka menyebarkan rasa takut lalu mengalahkan mereka.
Dengan demikian telah jelaslah, bahwa rahasia kejayaan kaum muslimin terletak
pada sejauh mana mereka menegakkan Tauhid yang murni dalam segala kehidupan
mereka. Bukankah kejayaan dan kemengangan itu telah diraih oleh generasi
pendahulu ummat ini, ketika mereka telah terlebih dahulu menghujam nilai-nilai
Tauhid tersebut ke dalam kalbu mereka? Bukankah kejayaan dan kecemerlangan itu
mereka dapatkan ketika mereka meyakini bahwa misi utama mereka adalah mengeluarkan
ummat manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya
kepada Sang khaliq?
Oleh sebab itu, bila kita sekalian bertekad mengulang kembali kesuksesan dan
kejayaan generasi As-Salaf Ash-Shaleh itu, maka tidak ada jalan lain selain
menapaki jejak mereka; menegakkan kemurnian Tauhid dalam pribadi kita
masing-masing. Imam Malik pernah bertutur:
لاَ
يَصْلُحُ
آخِرُ هَذِهِ
اْلأُمَّةِ
إِلاَّ بِمَا
صَلُحَ بِهِ
أَوَّلُهَا.
“Generasi akhir ummat ini tak akan baik kecuali dengan (jalan
hidup) yang telah menjadikan baik generasi pendahulunya.”
Kaum muslimin yang berbahagia!
Akhirnya, semoga kita sekalian terpanggil untuk mengembalikan kejayaan dan
kehormatan ummat Islam. Semoga kita sekalian tergugah untuk menebarkan rahmat
Islam yang dibangun di atas kemurnian Tauhid ke seluruh penjuru dunia, sehingga
terwujudlah kehidupan yang diridloi oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . Amin.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ
مِنَ
الْخَيْرِ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَأَرْخِصْ
أَسْعَارَهُمْ
وَآمِنْهُمْ
فِيْ
أَوْطَانِهِمْ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ.
|
YAYASAN AL-SOFWA |