Urgensi Tauhid Dalam Mengangkat
Derajat Dan Martabat Kaum Muslimin
Oleh: Andri Sugeng Prayoga
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah
mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus
sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan
sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’at.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi
Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita,
sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat
serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya
hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan
kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa
kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di
akhirat kelak.
Ma'asyirol
Muslimin rahimakumullah ...
Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia,
karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal, menurut tuntunan Islam,
tauhidlah yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan
kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti. Dan amal yang tidak dilandasi
dengan tauhid akan sia-sia, tidak dikabulkan oleh Allah dan lebih dari itu,
amal yang dilandasi dengan syirik akan menyengsarakannya di dunia dan di
akhirat. Sebagaimana Allah berfirman:
وَلَقَدْ
أُوحِيَ
إِلَيْكَ
وَإِلَى
الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِكَ
لَئِنْ
أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ
عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ،
بَلِ اللَّهَ
فَاعْبُدْ
وَكُنْ مِنَ
الشَّاكِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum
kamu, ‘jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah
Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)
Hamba
Allah yang beriman ...
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta
ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang
kebenaran wujud (keberadaan)Nya dan wahdaniyah (keesaan)Nya dan
bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan sifatNya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan mengakui keesaaan dan
kemahakuasaan Allah dengan permin-taannya kepada Allah melalui Asma dan
sifat-Nya. Kaum Jahiliyah Kuno yang dihadapi Rasulullah juga meyakini bahwa
pencipta. Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah.
Sebagaimana Allah berfirman:
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ
مَنْ خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ
لَيَقُولُنَّ
اللَّهُ
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” (Luqman:
25).
Namun kepercayaan mereka dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka
sebagai makhluk yang berpredikat Muslim, yang beriman kepada Allah. Dari sini
lalu timbullah pertanyaan: “Apakah hakikat tauhid itu?”
Hamba
Allah, yang beriman ...
Hakikat Tauhid, ialah pemurnian ibadah kepada Allah, yaitu: menghambakan diri
hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen, dengan mentaati segala
perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan penuh rasa rendah diri,
cinta, harap dan takut kepadaNya. Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan
Allah. Dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid. Mulai
Rasul yang pertama, Nuh, hingga Rasul terakhir, yakni nabi Muhammad n.
Sebagaimana firman Allah:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembahKu.” (Adz-Dzariyat: 56).
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا
فِي كُلِّ
أُمَّةٍ رَسُولًا
أَنِ
اعْبُدُوا
اللَّهَ
وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)
Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maknanya, tidak ada yang berhak
disembah melainkan Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali ibadah yang
sesuai dengan tuntunan rasul yaitu As-Sunnah. Orang yang mengikrarkannya akan
masuk Surga selama tidak dirusak syirik atau kufur akbar.
Sebagaimana firman Allah:
الَّذِينَ
آمَنُوا
وَلَمْ
يَلْبِسُوا
إِيمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ
أُولَئِكَ
لَهُمُ الْأَمْنُ
وَهُمْ
مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan
kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan
mereka itu adalah orang-orang yang, mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa
sedih dan berat. Mereka berkata siapa di
antara kita yang tidak berlaku dzalim kepada diri sendiri lalu Rasul menjawab:
لَيْسَ
ذَلِكَ،
إِنَّمَا
هُوَ
الشِّرْكُ، أَلَمْ
تَسْمَعُوْا
قَوْلَ
لُقْمَانَ
لاِبْنِهِ:
{يَا بُنَيَّ
لاَ تُشْرِكْ
بِاللهِ إِنَّ
الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ}.
(متفق عليه
“Yang dimaksud bukan (kedzaliman) itu, tetapi syirik. Tidak-kah kalian
mendengar nasihat Luqman kepada puteranya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar suatu
kedzaliman yang besar.” (Luqman:
13) (Muttafaqun alaih).
Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengesakan
Allah. Orang-orang yang tidak mencampur-adukkan antara keimanan dengan syirik
serta menjauhi segala perbuatan syirik. Sungguh mereka akan mendapatkan
keamanan yang sempurna dari siksa Allah di akhirat. Mereka itulah yang
mendapatkan petunjuk di dunia.
Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah ...
Jika dia adalah seorang ahli tauhid yang murni dan bersih dari noda-noda syirik
serta ikhlas mengucapkan “laa ilaaha illallah” maka tauhid kepada Allah
menjadi penyebab utama bagi kebahagiaan dirinya, serta menjadi penyebab bagi
penghapusan dosa-dosa dan kejahatannya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam
sabda Rasulullah yang diriwayatkan ‘Ubadah bin Ash-Shamit:
مَنْ
شَهِدَ أَنْ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
وَأَنَّ
عِيْسَى
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَكَلِمَتُهُ
أَلْقَاهَا
إِلَى
مَرْيَمَ
وَرُوْحٌ
مِنْهُ،
وَالْجَنَّةُ
حَقٌّ
وَالنَّارُ
حَقٌّ،
أَدْخَلَهُ
اللهُ
الْجَنَّهَ
عَلَى مَا
كَانَ مِنَ
الْعَمَلِ.
(رواه البخاري
ومسلم
“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah
semata, tiada sekutu bagiNya, dan Muham-mad adalah hamba dan utusan-Nya, dan
(bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusanNya dan kalimat yang
disampaikanNya kepada Maryam serta ruh dari padaNya, dan (bersaksi pula bahwa)
Surga adalah benar adanya dan Nerakapun benar adanya maka Allah pasti akan
memasukkan ke dalam Surga, apapun amal yang diperbuatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, segenap persaksian yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagaimana
yang terkandung dalam hadist tadi berhak memasukkan dirinya ke Surga. Sekalipun
dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat. Hal ini sebagaimana
ditegaskan di dalam hadist qudsi, Allah berfirman:
يَا
ابْنَ آدَمَ
إِنَّكَ لَوْ
أَتَيْتني بِقُرَابِ
اْلأَرْضِ
خَطَايَا،
ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ
لاَ تُشْرِكُ
بِيْ شَيْئًا
لأَتَيْتُكَ
بِقُرَابِهَا
مَغْفِرَةً.
(حسن، رواه الترمذي
والضياء
“Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh
bumi, sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu
sedikitpun, niscaya aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhiya’, hadist hasan).
Hadist tersebut menegaskan tentang keutamaan tauhid. Tauhid merupakan faktor
terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid merupakan sarana paling agung
untuk melebur dosa-dosa dan maksiat.
Hamba
Allah yang beriman ...
Jika tauhid yang murni terealisasi dalam hidup seseorang, baik secara pribadi
maupun jama’ah, niscaya akan menghasilkan buah yang sangat manis. Di antara
buah manis yang didapat adalah:
إِذَا
سَأَلْتَ
فَاسْأَلِ
اللهَ،
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ
بِاللهِ.
(رواه الترمذي
وقال حسن صحيح
Bila kamu meminta maka mintalah
kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Itulah buah manis dari Tauhid yang akan membebaskan pelakunya dari kehinaan dan
kesengsaraan dan Tauhidlah yang akan mengembalikan kehormatan Islam dan
Muslimin, mengembalikan harga diri dan kemuliaan Islam dan Muslimin, dan
menaikkan derajat dan martabat Islam dan Muslimin di atas segala kehinaan yang
selama ini dialami oleh kaum Muslimin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ.
فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيَّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah ...
Kembali pada khutbah yang kedua ini, saya mengajak diri saya dan jama’ah untuk
senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dengan sesungguhnya.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad, kepada para
sahabatnya, keluarganya dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Kemudian dari khutbah yang pertama tadi dapat kita tarik kesimpulan sebagai
berikut:
3. Tauhid menyebabkan pemiliknya dihapuskan dari segala dosa.
Karena itu, marilah pada kesempatan kali ini kita berdo’a kepada Allah, memohon
ampunan atas segala dosa syirik yang pernah kita lakukan dan kita memohon agar
kita dijauhkan dari segala perbuatan syirik dan pelaku-pelakunya. Kemudian pula
kita memohon kepada Allah agar kita dihindarkan dari kehinaan dan diangkat
derajat kita di dunia dan di Akhirat.