Tegakkan
Sunnah Hapuskan Bid'ah
Oleh:
Muhammad Ihsan Zainuddin
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
أَحْمَدُهُ
سُبْحَانَهُ
وَأَشْكُرُهُ
وَأَتُوْبُ
إِلَيْهِ
وَأَسْتَغْفِرُهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
دَعَا إِلَى
اللهِ عَلَى
بَصِيْرَةٍ فَاسْتَجَابَ
لِدَعْوَتِهِ
الرَّاشِدُوْنَ،
فَصَلَوَاتُ
اللهِ
وَسَلاَمُهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى مَنْ
تَبِعَهُ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
Amma ba’du.
Kaum Muslimin para hamba Allah yang berbahagia!
Ketahuilah hadirin
sekalian bahwa agama Islam pada asalnya sama seperti agama samawiyah lainnya
yang diturunkan Allah, dengannya Allah mengutus para Rasul; yaitu agama yang
dibangun di atas dasar ittiba’ (mengikuti) dan kepatuhan pada apa yang
disampaikan Allah dan RasulNya. Sebab sebuah ajaran tidak dapat disebut Ad-Dien
kecuali bila di dalamnya ada kepatuhan pada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan
ittiba’ pada apa yang diserukan oleh RasulNya.
Dan sebaik-baik
petunjuk yang harus ditempuh oleh orang –orang yang mengharapkan kejayaan, sebaik-baik
jalan yang mesti dilalui oleh orang-orang shaleh adalah: petunjuk dan jalan
yang digariskan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam kepada umatnya.
Tidak ada lagi pertunjuk yang lebih baik dari pada petunjuk beliau. Tidak ada
lagi jalan hidup yang lebih lurus selain dari pada jalan hidup yang beliau
tempuh.
وَمَنْ
أَحْسَنُ
مِنَ اللَّهِ
حُكْمًا لِقَوْمٍ
يُوقِنُونَ
“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum)
Allah, bagi orang-orang yang yakin.” (Al-Maidah: 50)
Namun ternyata iblis
-la’natullah ‘alaihi- tidak pernah berhenti menyesatkan
anak cucu Adam. Dengan berbagai cara tipu muslihat ia mencoba memalingkan
mereka dari cahaya ilmu lalu membiarkan mereka tersesat dan kebingungan dalam
gelapnya kebodohan. Dari situlah iblis kemudian memasukkan hal-hal yang secara
lahiriah adalah perbuatan baik/amal shaleh ke dalam agama namun sebenarnya ia
tidak pernah dituntunkan Allah dan RasulNya. Muncullah berbagai keyakinan dan
amalan yang tidak pernah diajarkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
Lahirlah i’tiqad dan perbuatan yang tak pernah dikenal oleh generasi
terbaik ummat ini; generasi As-Salafus shalih ridlwanullah ‘alaihim,
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
إِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ
مِنْكُمْ
فَسَيَرَى
اخْتِلاَفًا
كَثِيْرًا،
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الْمَهْدِيِّيْنَ،
عَضُّوْا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
اْلأُمُوْرِ،
فَإِنَّ
كُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
“Sesungguhnya
barangsiapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan
yang banyak, (maka saat itu) ikutilah sunnahku
dan sunnah para khulafa’ Ar-rasyiddin yang mendapatkan hidayah, gigitlah
(sunnah)dengan gigi-gigi geraham (berpegang teguh), dan jauhilah
perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena setiap bid’ah itu
sesat.” (HR.
Abu Dawud dan At-Tarmidzi ia katakan hadits hasan
shahih)
Yang dimaksud dengan bid’ah adalah segala perkara yang dibuat-buat dalam
agama yang sama sekali tidak memiliki dasar dalam syari’ah . Dan barangsiapa
yang mencoba melakukan hal ini, maka ia akan masuk dalam ancaman Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam :
مَنْ
أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا
هَذَا مَا لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa
yang membuat-buat hal baru dalam urusan (agama) kami, apa-apa yang tidak ada
keterangan darinya maka ia itu tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan riwayat Muslim yang lain, beliau bersabda:
مَنْ
عَمِلَ
عَمَلاً
لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa
yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dilandasi/sesuai dengan keterangan
kami, maka ia itu tertolak.”
Para hamba Allah yang berbahagia.
Hadits yang baru
saja kita simak ini merupakan dasar terpenting dalam ajaran Islam. Hadits ini
merupakan standar yang harus digunakan untuk mengukur dan menilai sebuah amalan secara lahiriah,
sehingga -berdasarkan hadits ini- amalan apapun dilemparkan kembali
kepada pelakunya. Sehingga berdasarkan hadits ini pula perbuatan apa pun yang
diada-adakan dalam Islam bila tidak diizinkan oleh Allah dan RasulNya, maka
tidaklah boleh dikerjakan; bagaimanapun baik dan bergunanya menurut akal kita.
Imam Nawawy menjelaskan bahwa hadits yang mulia ini adalah salah satu hadits
penting yang harus dihafal dan digunakan untuk membantah dan membatalkan segala
bentuk kemungkaran dalam Islam.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah!
Sesungguhnya perilaku
bid’ah dan segala perilaku yang mengarah pada penambahan terhadap ajaran Islam
adalah tindakan kejahatan yang amat sangat nyata. Bila kejahatan bid’ah ini
dilakukan maka “kejahatan-kejahatan” lain yang akan muncul, di antaranya:
Perilaku bid’ah menunjukkan
bahwa pelakunya telah berprasanga buruk (suudhan)terhadap Allah Subhannahu wa
Ta'ala dan RasulNya yang telah menetapkan risalah Islam, karena pelaku
bid’ah telah menganggap bahwa agama ini belumlah sempurna sehingga perlu diberikan
ajaran-ajaran tambahan agar lebih sempurna. Itulah sebabnya Imam Malik bin Anas
rahimahullah pernah berkata: “Barangsiapa yang membuat-buat sebuah
bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad
Shallallaahu alaihi wa Salam telah mengkhianati risalah yang diturunkan Allah
padaNya, karena Allah berfirman:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمُ
الْإِسْلَامَ
دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan buat kalian dien
kalian, dan telah kucukupkan atas kalian nikmatKu, dan telah Aku relakan Islam
sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maidah:3)
Oleh karena itu,
apapun yang pada saat itu tidak temasuk dalam Ad-Dien maka hari inipun ia tak
dapat dijadikan (sebagai bagian) Ad-Dien.
Disamping itu, berdasarkan
point pertama maka dampak negatif lain dari perilaku bid’ah adalah bahwa hal
ini akan mengotori dan menodai keindahan syari’ah Islam yang suci dan telah
disempurnakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . Perbuatan ini akan memberikan
kesan bahwa Islam tidaklah pantas menjadi pedoman hidup karena ternyata belum
sempurna.
Perbuatan bid’ah
juga akan mengakibatkan terhapusnya dan hilangnya syi’ar-syi’ar As Sunnah dalam
kehidupan umat Islam. Hal ini disebabkan tidak ada satupun bid’ah yang muncul
dan menyebar melainkan sebuah sunnah akan mati bersamanya, sebab pada dasarnya
bid’ah itu tidak akan muncul kecuali bila As-Sunnah telah ditinggalkan. Sahabat
Nabi yang mulia, Ibnu Abbas Rahimahullaah pernah menyinggung hal ini dengan
mengatakan:
مَا
أَتَى عَلَى
النَّاسِ
عَامٌ إِلاَّ
أَحْدَثُوْا
فِيْهِ
بِدْعَةً
وَأَمَاتُوْا
فِيْهِ سُنَّةً
حَتَّى
تَحْيَا
الْبِدْعَةُ
وَتَمُوْتَ
السُّنَّةُ.
“Tidaklah datang
suatu tahun kepada ummat manusia kecuali mereka membuat-buat sebuah bid’ah di
dalamnya dan mematikan As-Sunnah, hingga hiduplah bid’ah dan matilah
As-Sunnah.”
Tersebarnya bid’ah juga akan menghalangi kaum Muslimin untuk memahami
ajaran-ajaran agama mereka yang shahih dan murni. Hal ini tidaklah
mengherankan, karena ketika mereka melakukan bid’ah tersebut maka saat itu
mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang salah, mereka justru meyakininya
sebagai sesuatu yang benar dan termasuk dalam ajaran Islam. Hingga tepatlah
kiranya apa yang dinyatakan oleh Imam Sufyan Ats Tsaury:
اَلْبِدْعَةُ
أَحَبُّ
إِلَى
إِبْلِيْسَ
مِنَ
الْمَعْصِيَةِ.
اَلْمَعْصِيَةُ
يُتَابُ
مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ
لاَ يُتَابُ
مِنْهَا.
“Bid’ah itu
lebih disenangi oleh syaitan dari pada perbuatan maksiat, karena perbuatan
maksiat itu (pelakunya) dapat bertaubat (karena bagaimanapun ia meyakini bahwa
perbuatannya adalah dosa) sedangkan bid’ah (pelakunya) sulit untuk bertaubat
(karena ia melakukannya dengan keyakinan hal itu termasuk ajaran agama, bukan
dosa).
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah!
Dengan demikian
jelaslah sudah bahwa perbuatan bid’ah adalah tindak kejahatan yang sangat nyata
terhadap syari’at Islam yang suci dan telah disempurnakan oleh Allah. Dan tidak
ada jalan lain untuk membasmi hal tersebut kecuali dengan mendalami dan melaksanakan
sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam , tidak ada
penyelesaian lain kecuali dengan mengembalikan semua perkara kepada hukum Allah
dan RasulNya.
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلَا
تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ
وَصَّاكُمْ
بِهِ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang
lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Al-An’am: 153)
Bid’ah adalah gelombang
taufan yang dapat menenggelam-kan siapapun, dan As-Sunnah yang shahihah adalah
“bahtera Nuh”; siapapun yang mengendarainya akan selamat dan siapa yang
meninggalkannya akan tenggelam.
Kaum Muslimin, para hamba Allah yang berbahagia!
Setiap jalan selain
jalan Allah disitu terdapat syetan yang akan selalu mengajak dan menanamkan
rasa cinta kepada perilaku bid’ah lalu perlahan-lahan menjauhkan kita dari
As-Sunnah. Ini adalah salah satu langkah syetan dimana secara bertahap ia
membisikkan syubhat-syubhat itu ke dalam amal nyata; baik dengan mengurangi
atau menambah i’itiqad maupun amalan yang tak pernah dituntunkan
oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Sangat banyak kaum Muslimin yang
jatuh dan menjadi korban; syetanpun telah memperoleh kemenangan
“peperangan” ini dalam banyak kesempatan; baik ketika seorang hamba meyakini i’tiqad
tertentu yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah atau ketika seorang hamba
mengerjakan amalan ibadah tertentu yang tidak pernah digariskan dalam risalah
Al-Islam.
Namun Ahlus Sunnah
wal Jama’ah satu-satunya golongan yang selamat dan satu-satunya kelompok
yang akan dimenangkan Allah telah menetapkan Kitabullah dan Sunnah RasulNya ke
dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.
Nasihat Allah dan Rasulnya telah tersimpan abadi dalam jiwa-jiwa
mereka. Allah Yang Maha Bijaksana telah menanamkan dalam hati mereka keyakinan
akan kesempurnaan Ad-Dien ini, bahwa kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki
hanyalah dicapai bila berpegang teguh kepada Wahyu Allah dan Sunnah RasulNya,
sebab apapun selain keduanya adalah kesesatan dan kebinasaan! Sebab segala
kebaikan terdapat dalam ittiba’ kepada kaum salaf dan segala keburukan terdapat
dalam perilaku bid’ah kaum Khalaf!
Hadirin yang berbahagia dan dirahmati Allah!
Akhirnya, saya kembali
mengulang wasiat untuk selalu bertaqwa kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Waspadailah segala perilaku bid’ah, yang kecil maupun yang besar dalam Ad-Dien
ini karena ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang
yang mengerjakanya hingga hari Kiamat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
bersabda:
مَنْ
سَنَّ
سُنَّةً سَيِّئَةً
كَانَ
عَلَيْهِ
وِزْرُهَا
وَوِزْرُ
مَنْ عَمِلَ
بِهَا إِلَى
يَوْمِ
الْقِيَامَةِ
لاَ يُنْقَصُ
مِنْ
أَوْزَارِهِمْ
شَيْئًا.
“Barangsiapa
yang mempelopori perbuatan buruk maka ia akan menanggung dosanya dan dosa
orang-orang yang mengerjakannya hingga hari qiamah tanpa dikurangi dari
dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
Hendaklah setiap Muslim yang merasa takut kepada Rabb-nya, selalu memperhatikan
perbuatan dan amalnya, akan kemanakah kakinya melangkah? Karena boleh jadi ia meletakkan kakinya dijalan yang salah tanpa disadari.
Marilah kita menanamkan tekad sebesar-besarnya untuk mengkaji, mendalami,
melaksanakan dan menda’wakan As-Sunnah disetiap lapangan kehidupan kita, agar
tidak ada lagi bid’ah-bid’ah yang menodai kehidupan kita, sehingga menghalangi
kaum Muslimin untuk meraih kejayaannya. Insya’ Allah.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل
لَّهُ مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ
أَجْرًا}. ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ