Taqwa Solusi Islam Mengatasi Ekses
Modernisasi
Selasa,
02 Nopember 04 Oleh:
Taufiqqurrohman
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Hadirin
sidang Jum’at rahimakumullah.
Seiring pesatnya perkembangan Ilmu dan Tekhnologi, cepatnya kemajuan iptek dan
derasnya arus informasi yang melanda umat manusia dewasa ini, justru dari satu
sisi menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan-kerusakan tata nilai
kehidupan, kian meningkatnya kriminalitas dengan tindak kekerasan, judi,
penyalahgunaan obat terlarang, sarana dan prasarana kemaksiatan semakin mudah
didapatkan, dari panti-panti pijat sampai diskotik dan tempat-tempat hiburan
kelas tinggi, dari bioskop-bioskop yang ada di dalam rumah sampai foto-foto
porno dari artis-artis tak bermoral sampai bintang-bintang film yang bejat
akhlaqnya, membuat orang semakin nekat dan berani melakukan maksiat.
Kasus-kasus pembunuhan, pemerkosaan dan perzinaan, hampir terjadi setiap hari,
baik yang memenuhi halaman-halaman surat kabar ataupun yang menjadi
berita-berita aktual radio dan televisi.
Maka dalam salah satu pernyataannya Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (1) menyatakan bahwa: “Dalam dua tahun terakhir ini tercatat sebanyak
“dua juta” wanita melakukan ABORSI (pengguguran kandung) 750 ribu di antaranya
remaja belum menikah. “Dan kalau dibandingkan dengan angka kelahiran
pertahunnya maka jumlah “dua juta janin yang mati” karena aborsi tersebut
adalah amat sangat luar biasa. Dan jika ini terus diurut, maka jumlah yang akan
didapat tentunya akan jauh lebih besar lagi, sungguh penjagalan besar-besaran
terhadap cikal bakal umat manusia tengah merajalela, inilah gambaran betapa
telah hancurnya moral generasi muda kita, betapa karena mengejar nikmat dunia
-yang sekejap mata- kasih sayang seorang bunda berubah menjadi bara api panas
yang membakar anak-anaknya.
Inikah modernisasi yang kita idam-idamkan? Inikah globali-sasi yang kita
perjuangkan? kerusakannya jauh lebih kita rasakan dari pada kemaslahatan.
Jawabnya ialah: modernisasi dengan iptek yang melaju cepat tidak memberikan
makna kehi-dupan. Semua menduga modernisasi itu akan membawa kesejahteraan.
Mereka lupa dibalik itu ada gejala yang dinamakan The agony of modernisation,
yaitu azab sengsara karena modernisasi, seperti kian meningkatnya kriminalitas
dengan tindak kekerasan, pemerkosaan, judi, narkotika, kenakalan remaja,
prostitusi, bunuh diri, gangguan jiwa, dan berbagai kerusakan lingkungan hidup
dan tata nilai kehidupan.
Dan sekarang ini saudara-saudara, kita tengah berada di dalam era globalisasi
dan modernisasi tersebut, maka tak ada jalan keluar untuk lari dan selamat dari
fitnah ini, tidak ada petunjuk penyelesaian melainkan di ujungnya kesesatan
yang menambah kebinasaan, kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan
oleh Al-Islam, yaitu: Taqwa kepada Allah, sebagaimana yang dijanjikan di dalam
surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 4,
Allah berfirman:
وَمَنْ
يَتَّقِ
اللَّهَ
يَجْعَلْ
لَهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa
bertakwa kepada Allah (Maka Allah) akan mengadakan baginya jalan keluar dari
setiap kesulitan.
Juga firmanNya:
وَمَنْ
يَتَّقِ
اللَّهَ
يَجْعَلْ
لَهُ مِنْ
أَمْرِهِ
يُسْرًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan
mengadakan baginya kemudahan dalam setiap urusan.”
Kaum Muslimin sidang Jum’at yang berbahagia
Takwa adalah barometer keimanan seorang muslim. Dengan takwa mata hati akan
terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran serta menolak dan menjauhi
kemungkaran. Sebagai-mana firmanNya:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ
تَتَّقُوا
اللَّهَ
يَجْعَلْ لَكُمْ
فُرْقَانًا
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia menjadikan pembeda (antara al-haq dengan al-batil) bagimu.”
(Al-Anfal: 29).
Ibnu Katsir berkata pada tafsir ayat ini: “Karena barangsiapa yang bertakwa
kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan meninggalkan
larangan-laranganNya niscaya diberi taufik (bimbingan) untuk mengetahui yang
hak dari yang batil.
Namun sayang, tidak semua orang yang mengaku Islam ..itu beriman, sebagaimana
tidak semua orang yang beriman…itu bertakwa. Kata takwa atau “takut kepada
Allah” sering kita dengar bahkan sering meluncur dari lidah kita, seakan
menjadi bahasa yang datar tanpa makna. Takut kepada Allah tidak lagi menjadi
rasa, tetapi hanya sekedar menjadi bahasa.
Sebagian besar umat manusia, termasuk umat Islam dewasa ini sudah kehilangan
rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman yang dahsyat bagi orang-orang
yang maksiat, kepada kemungkinan-kemungkinan bahwa diri kita terjerembab dalam
azab dunia lebih-lebih siksa kubur dan azab akhirat. Namun justru sebaliknya,
sebagian di antara kita cenderung takut kepada orang-orang yang dikeramatkan,
jin, setan dan lain-lain.
Diterangkan di dalam kitab Fathul Majid halaman 301 sampai 303 dan Al-Qaulus
Sadid halaman 116 sampai 117, diterangkan bahwa: Takut semacam ini adalah
termasuk dosa besar, tercela bahkan termasuk syirik akbar yang mengeluarkan
seseorang dari agama Islam.
Adapun seseorang yang melakukan amalan haram atau meninggalkan amalan wajib
karena takut kepada manusia, hal ini termasuk syirik ashghar yang meniadakan
kesempurnaan tauhid.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu
Majah yang dishahihkan oleh Al-Albani di dalam shahihul jami’ halaman 1814.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
لاَ
يَحْقِرَنَّ
أَحَدُكُمْ
نَفْسَهُ أَنْ
يَرَى
أَمْرًا
لِلَّهِ
عَلَيْهِ
فِيْهِ مَقَالاً
ثُمَّ لاَ
يَقُوْلُهُ
فَيَقُوْلُ اللهُ
مَا مَنَعَكَ
أَنْ
تَقُوْلَ
فِيْهِ فَيَقُوْلُ
رَبِّ
خَشِيْتُ
النَّاسَ
فَيَقُوْلُ
وَأَنَا
أَحَقُّ أَنْ
يُخْشَى.
Yang
artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian menghinakan dirinya, yaitu
jika ia melihat satu perkara yang menjadi hak Allah dan menjadi kewajibannya
untuk dibicarakan, kemudian dia tidak membicarakannya. Maka Allah akan bertanya
(padanya di hari Kiamat) ‘Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya’ Kemudian
dia akan menjawab, ‘Rabbku, aku takut kepada manusia’. Maka Allah berkata,
‘Hanya Akulah yang paling berhak engkau takuti’.”
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.
Oleh karena itu, di dalam surat Ali Imran ayat 175 Allah berfirman:
إِنَّمَا
ذَلِكُمُ
الشَّيْطَانُ
يُخَوِّفُ
أَوْلِيَاءَهُ
فَلَا
تَخَافُوهُمْ
وَخَافُونِ
إِنْ
كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ
Yang
artinya; “Sesungguhnya itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu
dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu
takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu jika kamu orang-orang yang
beriman.”
Ya ... jika kita memang beriman kepada kebesaran Allah, kalau benar kita
bertauhid kepada keesaan Allah, mengapa kita perlu ragu bahwa suatu saat nanti
Allah akan membangkitkan kita setelah kematian, lalu menghisab amal perbuatan
kita sekecil apapun kebaikan dan kejahatan yang pernah kita lakukan di dunia
ini. Lalu terhadap orang-orang yang tidak beriman dan bertakwa, Allah akan
memberikan kitab amalannya dari sebelah kiri, maka mereka termasuk orang-orang
yang merugi. Na’udzu billah min dzalik.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat .
ثُمَّ
فِي
سِلْسِلَةٍ
ذَرْعُهَا
سَبْعُونَ
ذِرَاعًا
فَاسْلُكُوهُ
“Kemudian masukkanlah ia ke dalam rantai yang panjangnya tujuh
puluh hasta.” (Al-Haqqah:32).
Tentang arti (فاسلكوه):
Ibnu Katsir mengemukakan perkataan Ibnu Juraij bahwa Ibnu Abbas berkata: Besi
rantai itu dimasukkan dari arah duburnya, lalu keluar melalui mulutnya,
kemudian para pesakitan ini ditata dalam besi rantai tersebut seperti belalang
yang ditusuk berjajar dengan kayu ketika dipanggang dengan api.
Syaikh Al-Allamah Abdur Rahman bin Nasir As-Sa’di seorang tokoh ulama dari
Saudi yang wafat pada tahun 1376 H, dalam tafsirnya Taisir Al-Karim Ar-Rahman
fi Tafsir Kalam Al-Mannan, juz II , tentang ayat tersebut menerangkan bahwa:
Mata rantai itu berasal dari Neraka Jahim yang panasnya mencapai puncak panas.
Kemudian artinya ialah: susunlah para pesakitan (orang-orang tidak beriman) ini
ke rantai tersebut dengan cara: rantai tersebut dimasukkan melalui duburnya
hingga keluar dari mulutnya kemudian gantunglah padanya.
Maka orang sengsara ini terus menerus disiksa dengan siksaan yang sedemikian
mengerikan ini, betapa dahsyat siksaan itu terhadap dirinya, betapa menyesalnya
dia dengan penghinaan yang sedemikian rupa, sesungguhnya sebab yang
menjadikannya sampai pada kedudukan demikian ialah karena:
إِنَّهُ
كَانَ لَا
يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ
الْعَظِيمِ
“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) tidak beriman kepada Allah
Yang Maha Besar.” (Al-Haqqah: 33).
Ia tidak menunaikan apa yang menjadi hak Allah, tidak bertaqwa dan tidak
beribadah kepadanya (Tafsir Ibnu Katsir IV/536).
Ia kafir kepada Rabbnya, menentang RasulNya dan menolak kebenaran yang dibawa
oleh RasulNya tersebut. (Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, juz II).
Sidang
Jum’at rahimakumullah.
Maka demikianlah, orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah tidak hanya akan
mendapatkan kesengsaraan hidup di dunia berupa kegelisahan hati, gangguan jiwa
dan lain-lain, walaupun mereka berlimpahkan harta dan kemewahan. Tetapi mereka
juga akan diazab dan disiksa dengan siksa akhirat yang teramat dahsyat.
Sedangkan sebaliknya orang-orang yang bertaqwa kepada Allah selain akan
diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Dan dimudahkan dalam segala
urusan dunianya, mereka juga dijanjikan Surga sebagai tempat kemenangan.
Sebagaimana firmanNya:
إِنَّ
لِلْمُتَّقِينَ
مَفَازًا،
حَدَائِقَ
وَأَعْنَابًا،
وَكَوَاعِبَ
أَتْرَابًا،
كَأْسًا دِهَاقًا،
لَا
يَسْمَعُونَ
فِيهَا
لَغْوًا
وَلَا
كِذَّابًا،
جَزَاءً مِنْ
رَبِّكَ عَطَاءً
حِسَابًا
“Sesungguhnya untuk orang-orang yang bertakwa ada tempat
kemenangan (Surga), kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang
sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman), di dalamnya mereka tidak
mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta sebagai
balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (An-Naba’: 31-36).
Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah.
Maka hanya kepada Allahlah kita menghadapkan wajah, menyandarkan segala harapan
seraya berdoa semoga Ia mencurah-kan limpahan rahmat, taufiq dan hidayahNya
kepada kita, untuk bertakwa hanya kepadaNya, melaksanakan semua perintahNya dan
menjauhi segala laranganNya, berpegang teguh kepada KitabNya dan sunah-sunah
RasulNya dengan pemahaman para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan
salafus shalih, sehingga kita selamat dari segala fitnah dunia berupa
kehancuran moral dan berbagai kesengsaraan dari akibat buruk modernisasi dan
globa-lisasi serta tergolong orang-orang yang memperoleh kemenangan di sisiNya
dan selamat dari azab dan siksa akhirat yang maha dahsyat. Amin.
يَآ
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آَمَنُوا
اتَّقُواْ
اللهَ
وَقُولُواْ
قَوْلاً
سَدِيْدًا،
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْازًا
عَظِيْمَا.
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
أَقِيْمُوا
الصَّلاَةَ.
|
YAYASAN AL-SOFWA |