SYIRIK KECIL ADALAH DOSA BESAR
Rabu,
10 Maret 10 Oleh: Kholif
Mutaqin Djawari
KHUTBAH PERTAMA :
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بلله مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
الله فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إلهَ
إلا الله وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ فِي
النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at yang Dirahmati
Allah!
Sudah
kita maklumi bersama bahwasanya tidaklah Allah mengutus seorang rasul kecuali
Dia memerintahkan rasul tersebut agar mengajak kaumnya kepada tauhid, yakni
memurnikan ibadah dan penyembahan hanya kepada Allah semata. Perintah untuk
bertauhid ini secara otomatis mengandung konsekuensi logis berupa larangan
keras dari berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan selainNya. Oleh karena
itu hadirin sekalian, seluruh ulama sepa-kat bahwa tidak ada amalan yang paling
utama melebihi tauhid dan tidak ada dosa paling besar yang melebihi syirik.
Syirik merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar, merupakan amal
perbuatan yang terburuk, kezhaliman yang paling besar, dan syirik akbar yang
akan menjadi sebab hancurnya seluruh amalan seseorang. Begitu banyak ayat-ayat
dalam al-Qur`an yang menggambarkan kepada kita tentang buruknya perilaku syirik
ini. Di antaranya adalah ayat yang menjelaskan kepada kita bahwa syirik
merupakan dosa yang tidak terampuni, sebagaimana Firman Allah Subhanahu
Wata'ala :
إِنَّ اللهَ
لاَيَغْفِرُ
أَن يُشْرَكَ
بِهِ
وَيَغْفِرُ
مَادُونَ
ذَلِكَ لِمَن
يَشَآءُ
وَمَن
يُشْرِكْ
بِاللهِ
فَقَدِ
افْتَرَى
إِثْمًا
عَظِيمًا
"Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa`: 48).
Lalu Allah juga menjelaskan kepada kita semua, bahwa orang yang berbuat syirik
berarti dia berada dalam kesesatan yang sangat jauh. Allah Subhanahu Wata'ala
berfirman :
إِنَّ اللهَ
لاَيَغْفِرُ
أَن يُشْرَكَ
بِهِ
وَيَغْفِرُ
مَادُونَ
ذَلِكَ لِمَن
يَشَآءُ وَمَن
يُشْرِكْ
بِاللهِ
فَقَدْ ضَلَّ
ضَلاَلاً
بَعِيدًا
"Barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat
sejauh-jauhnya."
(An-Nisa`: 116).
Dan yang lebih mengerikan lagi, hadirin sekalian! Allah Subhanahu Wata'ala
telah memvonis haram masuk surga bagi para pelaku kesyirikan. Allah Subhanahu
Wata'ala berfirman :
إِنَّهُ مَن
يُشْرِكْ
بِاللهِ
فَقَدْ حَرَّمَ
اللهُ
عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ
النَّارُ
وَمَالِلظَّالِمِينَ
مِنْ أَنصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang
penolong pun."
(Al-Ma`idah: 72).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Setelah
kita memperhatikan penjelasan ayat-ayat di atas, maka sepantasnyalah kita semua
selalu waspada dan berhati-hati dari perbuatan syirik, baik syirik besar maupun
syirik kecil. Syirik besar insya Allah mayoritas kita kaum Muslimin
sudah maklum, seperti meminta dan berdoa kepada selain Allah, meyakini ada
pencipta dan pemelihara alam selain Allah, berkeyakinan bahwa selain Allah ada
yang berhak diibadahi, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Namun
jama'ah sekalian, syirik kecil terkadang lepas dari perhatian kita, atau
minimalnya kita kurang memberikan perhatian sesuai dengan porsinya dalam
masalah ini. Sehingga kalau kita mengamati di sekeliling kita, ternyata masih
ada saja sebagian saudara-saudara kita kaum Muslimin yang terjebak dalam syirik
kecil tanpa mereka sadari. Padahal syirik kecil ini merupakan salah satu hal
yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam dan dapat
menjadi wasilah atau perantara kepada syirik besar.
Jama'ah yang dirahmati Allah!
Walaupun
syirik kecil ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam dan tidak
menyebabkan kekal di neraka, tetapi ia merupakan kaba`ir atau dosa
besar. Penamaan sebagai syirik kecil di sini hanyalah untuk membedakan jenis
syirik saja, bukan merupakan penggolongan sebagai dosa kecil. Jadi sekali lagi
perlu kita perhatikan dan kita tekankan melalui mimbar ini, bahwa syirik kecil
adalah termasuk salah satu dosa besar, bukan dosa kecil. Al-Imam adz-Dzahabi
rahimhullah di dalam kitabnya al-Kaba`ir telah menghimpun kurang lebih 70 an
jenis dosa besar. Dan beliau telah menempatkan syirik di dalam kitab tersebut
pada urutan yang pertama, dan masuk di dalamnya adalah syirik kecil. Oleh
karena itu tidak ada alasan bagi kita semua untuk bodoh dari syirik kecil ini,
tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberikan perhatian terhadap masalah
ini.
Selanjutnya Ma'asyiral Muslimin! Melalui mimbar ini khatib akan
menyebutkan beberapa contoh syirik kecil yang mungkin masih banyak terjadi di
tengah-tengah kita. Dengan harapan agar menjadi tambahan ilmu bagi kita yang
belum mengetahui, akan menjadi pengingat bagi kita yang lupa, dan memperkuat
ingatan bagi kita yang telah mengetahuinya.
Di antara contoh bentuk syirik kecil adalah riya` dalam beribadah, yaitu
seseorang melakukan suatu ibadah atau bentuk pendekatan diri kepada Allah namun
di samping itu dia bertujuan agar dilihat atau dipuji oleh sesama manusia. Ini
merupakan bentuk syirik yang tersembuyi (syirik khafi) yang sangat
dikhawatirkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam menimpa para sahabat
beliau. Bila para sahabat masih dikhawatirkan akan tertimpa hal ini, maka
bagaimanakah lagi dengan kita semua yang sangat jauh keimanannya dibandingkan
mereka. Sungguh kita harus sangat lebih takut jika hal ini menimpa kita semua.
Di antara caranya adalah dengan banyak berlindung kepada Allah dari syirik,
baik syirik yang kita ketahui maupun yang tidak kita sadari. Lalu kita harus
senantiasa memperbaiki niat dan keikhlasan kita dalam setiap amal perbuatan
yang kita lakukan, kita sadari penuh bahwa hanya Allah-lah yang paling berhak
mendapatkan segala bentuk peribadatan, sedangkan manusia sama sekali tidak
berhak, mereka semua sama sebagai hamba di hadapan Allah, maka janganlah
sekali-kali kita mencari muka dan pujian di hadapan manusia dalam ibadah yang
kita lakukan.
Di antara bentuk syirik kecil yang lain adalah bersumpah dengan menyebut selain
Allah. Berkenaan dengan ini, maka telah terdapat hadits Rasulullah Sallallahu
'Alahi Wasallam yang sangat jelas memberitahukan kepada kita bahwa hal itu
termasuk kekufuran atau kesyirikan. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam
bersabda :
مَنْ حَلَفَ
بِغَيِر الله
فَقَدْ
كَفَرَ أَوْ
أَشْرَكَ.
"Barang
siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau
telah syirik."
(Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Kemudian
contoh lain dari syirik kecil yaitu ucapan, "Atas kehendak Allah dan
kehendak anda (kehendak Fulan)," atau ucapan, "Kalau bukan karena
Allah dan fulan," "Ini adalah berkat pertolongan Allah dan
fulan," serta ucapan-ucapan semisal itu, yang intinya ada semacam
pensejajaran antara Allah dan manusia. Ucapan semacam ini adalah ucapan syirik,
oleh karena itu harus diluruskan. Yang benar dari ucapan di atas adalah,
"Atas kehendak Allah kemudian kehendak anda." Atau, "Kalau bukan
karena Allah kemudian karena anda," atau, "Berkat pertolongan Allah
kemudian per-tolongan anda" demikian seterusnya. Rasulullah Sallallahu
'Alahi Wasallam telah bersabda :
لاَ
تَقُوْلُوْا
مَا شَاءَ
الله ُ
وَشَاءَ فُلاَنٌ
ولكن
قُوْلُوْا
مَا شَاءَ
الله ُ ثُمَّ شَاءَ
فُلاَنٌ.
"Janganlah kalian semua
mengucapkan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan', tetapi katakanlah, 'Atas
kehendak Allah kemudian atas kehendak Fulan'." (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan
merupakan hadits shahih).
Dengan ucapan ini, maka kita terhindar dari kesyirikan dan sekaligus kita tidak
lupa mengucapkan terima kasih atas jasa atau bantuan yang diberikan oleh orang
lain kepada kita, sehingga dua tujuan dapat tercapai sekaligus.
Contoh lain dari syirik kecil adalah tathayyur, yaitu merasa sial atau
naas karena melihat jenis burung tertentu, dan termasuk juga binatang lain
secara umum, merasa sial dengan angka tertentu, hari dan tanggal tertentu, dan
lain sebagainya. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda, dari
Ibnu Mas'ud secara marfu' :
اَلطِّيَرَةُ
شِرْكٌ،
الطِّيَرَةُ
شِرْكٌ،
وَمَا مِنَّا
إِلَّا, ولكن
الله عَزَّ
وَجَلَّ
يُذْهِبُهُ
بِالتَّوَكُّلِ.
"Thiyarah adalah syirik,
thiyarah adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun dari kita, kecuali (terbersit
dalam dirinya sesuatu dari hal itu), akan tetapi Allah ‘'Azza Wajalla
menghilangkannya dengan tawakal."
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan ia menyatakan shahih dan menjadikan
perkataan yang akhir adalah perkataan Ibnu Mas'ud).
Demikian juga Ma'asyiral Muslimin, termasuk syirik kecil yaitu
memakaikan gelang dari benang dan lainnya kepada anak-anak dengan tujuan untuk
menolak bahaya atau bala, memakai dan menggantungkan jimat tertentu untuk
mencegah pengaruh ain, untuk mendatangkan keberuntungan dan yang semisal dengan
ini semua. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan bentuk kesyirikan
kepada Allah karena mengotori tawakal kita, mencemari tauhid kita kepada Allah.
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam telah bersabda tentang orang yang memakai
jimat :
مَنْ عَلَّقَ
تَمِيْمَةً فَقَدْ
أَشْرَكَ.
"Barangsiapa yang
menggantungkan jimat, maka dia telah syirik." (HR. Ahmad, lihat Silsilah
al-Ahadits ash-Shahihah, no. 492) .
Satu hal yang patut untuk digaris bawahi dalam masalah jimat ini adalah bahwa
ia termasuk dalam kategori syirik kecil, jika pema-kainya berkeyakinan bahwa
jimat tersebut hanya merupakan sebab atau sarana saja. Adapun jika dia
menggantungkan diri secara mut-lak dan berkeyakinan bahwa jimat tersebutlah
yang dapat memberi-kan perlindungan dengan sendirinya, maka pemakainya telah
terjerumus dalam syirik akbar, na'udzubillah min dzalik.
Semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita semua dari segala bentuk
kesyirikan, syirik yang besar maupun yang kecil, syirik yang terang maupun yang
tersembunyi. Amin ya Rabbal 'alamin. Barakallahu li wa lakum.
بَارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah!
Ibnu
Mas'ud radiyallahu 'anhu pernah berkata, "Seorang mukmin melihat suatu
dosa seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan takut jika gunung itu
menimpanya." Demikianlah selayaknya kita menyikapi dosa, janganlah kita
melihat besar kecilnya dosa, jangan kita memandang apakah ini syirik besar atau
syirik kecil, tetapi lihatlah kepada siapa kita sedang bermaksiat. Dengan
kesadaran seperti ini, maka insya Allah kita akan senantiasa waspada dan
berhati-hati, senantiasa merasa dalam pengawasan Allah Subhanahu Wata'ala
sehingga akan hilang dari diri kita sikap meremehkan dosa, yang mana ini
merupakan indikasi seorang fajir, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas'ud
dalam kelanjutan ucapan beliau di atas. Beliau mengatakan, "Adapun orang fajir,
maka ia memandang dosa bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya lalu beliau
berisyarat "begini", yakni menggerakkan tangannya di depan hidung
untuk mengusir lalat. Ini merupakan isyarat bahwa ia meremehkan dosa
sebagaimana ia meremehkan seekor lalat yang terbang di hadapan hidungnya. Kita
memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita semua sebagai hamba-hambaNya yang
bertakwa, yang selalu memelihara diri dari dosa, lebih-lebih dosa syirik baik
besar maupun kecil.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ
مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at
Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar
S.Pd.I )