Seorang Teman, Peranan Dan Dampaknya
Bagi Seseorang
Selasa,
16 Maret 04 Oleh:
Fuad Iskandar
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Syukur kepada Allah adalah hal yang harus selalu kita lakukan karena dengan
bersyukur akan menambah nikmat-nikmatNya kepada kita, kemudian dari tempat ini
saya serukan kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk selalu
memelihara dan meningkatkan taqwallah, karena dengan taqwa inilah seseorang
akan bahagia baik di dunia dan terlebih lagi di akhirat.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Tidak ada seorang manusiapun di muka bumi ini yang dapat hidup tanpa bantuan
orang lain. Manusia adalah mahluk sosial yang pasti membutuhkan lingkungan dan
pergaulan.
Di dalam pergaulannya tersebut seseorang akan memiliki teman, baik itu
disekolahnya, di tempat kerjanya ataupun di lingkungan tempat tinggalnya.
Sehingga tidak ditampik lagi bahwa teman merupakan elemen penting yang
berpengaruh bagi kehidupan seseorang.
Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab
dan batasan-batasan di dalam pergaulan. Sebab betapa besar dampak yang akan
menimpa seseorang akbiat bergaul dengan teman-teman yang jahat dan sebaliknya
betapa besar manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang bergaul dengan
teman yang shalih.
Banyak di antara manusia yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan
kesesatan dikarenakan bergaul dengan teman teman yang jahat dan banyak pula di
antara manusia yang mereka mendapatkan hidayah disebabkan bergaul dengan
teman-teman yang shalih.
Di dalam sebuah hadits Rasullullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyebutkan
tentang peranan dan dampak seorang teman:
مَثَلُ
الْجَلِيْسِ
الصَّالِحِ
وَالْجَلِيْسِ
السُّوْءِ
كَمَثَلِ
حَامِلِ
الْمِسْكِ
وَنَافِخِ الكِيْرِ،
فَحَامِلِ
الْمِسْكِ
إِمَّا أَنْ
يُحْذِيْكَ
أَوْ
تُبْتَاعَ
مِنْهُ أَوْ
تَجِدُ رَائِحَةً
طَيِّبَةً
وَنَافِخُ
الكِيْرِ
إِمَّا أَنْ
يُحْرِقَ ثِيَابَكَ
أَوْ تَجِدُ
مِنْهُ رَائِحَةً
خَبِيْثَةً.
“Perumpamaan
teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jahat adalah seperti penjual
minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi tidak melewatkan
kamu, baik engkau akan membelinya atau engkau tidak membelinya, engkau pasti
akan mendapatkan baunya yang enak, sementara pandai besi ia akan membakar
bujumu atau engkau akan mendapatkan baunya yang tidak enak.” (Muttafaqun
‘Alaih).
Berdasarkan hadits tersebut dapat diambil faedah penting bahwasanya bergaul
dengan teman yang shalih mempunyai 2 kemungkinan yang kedua-duanya baik, yaitu:
Kita akan menjadi baik atau kita akan memperoleh kebaikan yang dilakukan teman
kita. Sedang bergaul dengan teman yang jahat juga mempunyai 2 kemungkinan yang
kedua-duanya jelek, yaitu:
Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan
teman kita.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Bahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjadikan seorang teman sebagai
patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang, oleh sebab itu Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam memerintahkan kepada kita agar memilah dan memilih
kepada siapa kita bergaul.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
اَلْمَرْءُ
عَلَى دِيْنِ
خَلِيْلِهِ
فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ
مَنْ
يُخَالِلُ.
“Seseorang berada di atas agama temannya, maka hendaknya
seseorang di antara kamu melihat kepada siapa dia bergaul.” (Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dengan Sanad yang saling menguatkan satu
dengan yang lain).
Dan dalam sebuah syair disebutkan:
عَنِ
الْمَرْءِ
لاَ تَسْأَلْ
وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ،
فَكُلُّ
قَرِيْنٍ
بِالْمُقَارِنِ
يَقْتَدِيْ.
Jangan
tanya tentang seseorang, tapi tanya tentang temannya, sebab orang pasti akan
mengikuti kelakukan temannya.
Demikianlah karena memang fitroh manusia cenderung ingin selalu meniru tingkah
laku dan keadaan temannya.
Para Salafusshalih sering menyampaikan kaidah bahwa:
اَلْقُلُوْبُ
ضَعِيْفَةٌ
وَالشُّبَهُ
خَطَّافَةٌ.
Hati
itu lemah, sedang syubhat kencang menyambar.
Sehingga pengaruh kejelekan akan lebih mudah mempenga-ruhi kita dikarenakan
lemahnya hati kita.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Merupakan sikap yang diajarkan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menjauhi para
penyeru bid’ah, para pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa’) dan orang-orang fasik
yang terang-terangan menampakkan dan menyerukan kefasikannya ini merupakan
salah satu tindakan preventif terhadap bahaya lingkungan pergaulan dan agar
umat terhindar dari pengaruh kemaksiatan tersebut.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Seorang teman memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, janganlah ia
menyebabkan kita menyesal pada hari kiamat nanti dikarenakan bujuk rayu dan
pengaruhnya sehingga kita tergelincir dari jalan yang haq dan terjerumus dalam
kemak-siatan.
Renungkanlah baik-baik firman Allah berikut ini:
وَيَوْمَ
يَعَضُّ
الظَّالِمُ
عَلَى يَدَيْهِ
يَقُولُ يَا
لَيْتَنِي
اتَّخَذْتُ
مَعَ
الرَّسُولِ
سَبِيلًا،
يَا
وَيْلَتَى
لَيْتَنِي
لَمْ
أَتَّخِذْ
فُلَانًا
خَلِيلًا،
لَقَدْ
أَضَلَّنِي
عَنِ
الذِّكْرِ
بَعْدَ إِذْ
جَاءَنِي
وَكَانَ
الشَّيْطَانُ
لِلْإِنْسَانِ
خَذُولًا
“Dan ingatlah hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua
tangannya seraya berkata: Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama-sama Rasul.
Kecelakaan besar bagiku! Kiranya dulu aku tidak mengambil si fulan sebagai
teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran sesudah
Al-Quran itu datang kepadaku. Dan adalah syetan itu tidak mau menolong
manusia.” (Al-Furqan: 27-29).
Lihatlah
bagaimana Allah menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang fasik
dan pelaku maksiat sebagai teman-temanya ketika di dunia sehingga di akhirat
menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi baginya, karena di akhirat
adalah hari hisab bukan hari amal sedang di dunia adalah hari amal tanpa hisab.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ.
فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
kedua
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
حَمْدًا
كَثِيْرًا كَمَا
أَمَرَ
فَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
عَنْهُ
وَحَذَّرَ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ، الواحد
القهار،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
سَيِّدُ
اْلأَبْرَارِ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى
فِيْ
كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ:
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia
Pada khutbah yang kedua ini saya ingatkan pula kepada para orang tua hendaklah
mereka memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya sebab setiap kita
adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap
apa yang dipimpinnya dan orangtua adalah pemimpin terhadap istri dan
anak-anaknya.
Ingatlah bagaimana wasiat agung Lukman Al-Hakim di dalam surat Luqman ayat
13-19 ketika mewasiatkan kepada anaknya di antaranya agar mengikuti dan
menempuh jalan orang-orang yang kembali kepada Allah. Merekalah para nabi,
syuhada dan shalihin, merekalah uswah dan qudwah dalam segenap aspek kehidupan
kita.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Jadikanlah orang-orang shalih yang bermanhaj dan ber-aqidah Ahlus Sunnah wal
Jama’ah sebagai teman akrab kita, merekalah sebaik-baik teman dan sebaik-baik
persahabatan, adapun selain itu adalah persahabatan yang semu. Maha benar Allah
yang menyebutkan dalam kitabNya:
الْأَخِلَّاءُ
يَوْمَئِذٍ
بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ
عَدُوٌّ
إِلَّا
الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi
sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zukhruf: 67).
Jmaah
Jum’at yang berbahagia
Saya akan menutup khutbah ini dengan apa yang dinasehatkan oleh seorang bijak
tentang hakekat seorang teman:
Saudaraku, Teman sejatimu adalah yang selalu mendorongmu untuk berbuat
kebajikan dan mencegahmu dari berbuat kejelekan walaupun engkau jauh dan engkau
tidak bergaul dengannya dan musuh sejatimu adalah yang mendorongmu berbuat
kejelekan dan tidak mencegahmu dari berbuat dosa walaupun ia dekat denganmu dan
engkau selalu bergaul dengannya.
Semoga Allah selalu memberikan taufik kepada kita dan menyelamatkan kita dari
kejelekan lingkungan dan pergaulan serta menganugerahkan kepada kita lingkungan
dan pergaulan yang mendorong kita untuk selalu taat kepada Allah dan RasulNya.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ الْخَيْرِ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا لَمْ
نَعْلَمْ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الشَّرِّ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ
مَا سَأَلَكَ
بِهِ عِبَادُكَ
الصَّالِحُوْنَ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
شَرِّ مَا
اسْتَعَاذَ
بِكَ مِنْهُ
عِبَادُكَ
الصَّالِحُوْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ
|
YAYASAN AL-SOFWA |