SEMUA BID'AH ITU SESAT
Rabu, 26 Mei 10 Oleh: Drs. Hartono Ahmad Jaiz
(Editor: Abdurrahman Nuryaman)
KHUTBAH PERTAMA :
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى مُحَمّدٍ
وَعَلى آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ.
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ:
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Bid'ah menurut bahasa berasal dari kata بَدَعَ, yang memiliki makna dasar: Apa yang
diadakan (dibuat) tanpa ada contoh yang mendahului.
Pecahan kata ini disebutkan dalam
al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
بَدِيعُ
السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرضِ.
"Allah
Pencipta langit dan bumi"
(Al-Baqarah: 117).
Kata
بَدِيعُ artinya: Yang menciptakan
tanpa ada contoh sebelumnya. Maka maksud ayat di atas adalah, Allah menciptakan
langit dan bumi tanpa didahului suatu contoh apa pun.
Bid'ah menurut Syariat,
sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah,
"Apa yang menyelisihi atau menyimpang dari Al-Kitab, atau As-Sunnah, atau Ijma'
As-Salaf ash-Shalih, baik dalam masalah akidah maupun ibadah." (Majmu'
al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 18/346).
Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-I'tisham
menjelaskan, "Bid'ah adalah, sebuah istilah mengenai cara (ajaran) dalam
Agama, yang dibuat-buat, yang menyerupai Syariat, yang dimaksudkan untuk
dijalankan demi mempermantap (mendapat pahala lebih) dalam beribadah kepada
Allah."
Ibtida'
(mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh yang mendahului) itu ada dua macam:
Pertama:
Ibtida' dalam adat dan kebiasaan yang bersifat duniawi,
seperti penemuan-penemuan penciptaan yang baru, yang merupakan kebutuhan hidup
manusia. Semua itu pada dasarnya adalah boleh, sebab adat, hukum dasarnya
adalah diperbolehkan, selama tidak ada dalil yang melarangnya. Hal itu karena
urusan duniawi adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi
wasallam :
أَنْتُمْ
أَعْلَمُ
بِأَمْرِ
دُنْيَاكُمْ.
"Kalian lebih tahu dengan urusan
dunia kalian." (HR. Muslim No. 2363).
Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tidak
diutus untuk mengajarkan manusia bagaimana cara bertani, beliau bukan diutus
untuk mengajarkan bagaimana membuat pesawat, akan tetapi beliau diutus untuk
menyeru umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah.
Intinya, bid'ah (penemuan baru) dalam
kaitan duniawi hukum dasarnya adalah boleh, dan sebaliknya, bid'ah dalam Agama
hukumnya adalah haram.
Kedua: Ibtida'
dalam masalah Agama, ini hukumnya diharamkan. Sebab pada dasarnya, Agama itu adalah
wahyu, yakni harus ditetapkan dengan dalil. Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
مَنْ
أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا
هذا مَا
لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa membuat-buat ajaran
baru dalam Agama kami ini, apa yang bukan darinya, maka ajaran tersebut
tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan dalam riwayat yang lain :
مَنْ
عَمِلَ
عَمَلًا
لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa melakukan suatu amal
yang tidak didasari oleh Agama kami, maka amalan tersebut tertolak".
(HR Muslim).
Intinya, bid'ah (penemuan baru) dalam
kaitan duniawi hukum dasarnya adalah boleh, dan sebaliknya, bid'ah dalam Agama
hukumnya adalah haram. Allah tidak boleh diibadahi kecuali dengan ibadah yang
disyariatkan, bahkan ibadah yang disyariatkan sekalipun apabila dilakukan
dengan tatacara yang tidak disyariatkan juga tidak boleh.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah
Bid'ah dalam Agama ada dua macam:
Pertama:
Bid'ah Qauliyah I'tiqadiyah, yaitu, bid'ah dalam
bentuk ucapan yang bersifat keyakinan, seperti: Perkataan-perkataan golongan
Jahmiyah, Mu'tazilah, Syi'ah dan semua kelompok-kelompok yang akidahnya sesat.
Sebagai contoh:
1. Golongan
Khawarij mengatakan, "Orang Muslim yang melakukan dosa besar adalah kafir,
dan dia pasti kekal dalam neraka."
2. Golongan Syi'ah
berkeyakinan bahwa imam-imam mereka adalah ma'shum (tidak mungkin
melakukan kesalahan), berkeyakinan bahwa al-Qur`an yang ada di tangan kaum
Muslimin saat ini tidak lengkap karena dalam pandangan mereka masih ada yang
kurang yaitu ayat-ayat tentang hak kewalian Ali bin Abi Thalib radhiallahu
‘anhu yang dikenal dengan, Mushhaf Fathimah. Dan masih banyak lagi
pandangan-pandangan kufur yang mereka yakini.
3. Tariqat Wihdatul
Wujud berpandangan bahwa Allah menyatu dengan makhluk.
4. Ada lagi golongan
yang berkata, "Allah di setiap tempat."
5. Kemudian muncul
perempuan pendusta yang mengaku dirinya sebagai titisan malaikat Jibril.
6. Ada lagi yang
berkeyakinan bahwa tidak ada surga dan neraka.
7. Dan begitu
banyak, hingga tak mungkin disebut satu persatu dalam khutbah yang ini.
Kedua: Bid'ah pada
ibadah-ibadah seperti melakukan ibadah karena Allah yang tidak disyariatkan,
atau disyariatkan tetapi dilaksanakan dengan tatacara yang tidak disyariatkan.
Bid'ah pada ibadah yang bersifat amalan,
ada beberapa macam:
a. Bid'ah pada
asal ibadah, yaitu membuat-buat atau mengada-adakan amalan ibadah yang tidak
ada dasarnya dalam syariat. Seperti mengada-adakan shalat yang memang tidak
disyariatkan, atau berpuasa yang memang tidak ada tuntunannya, atau hari raya
(perayaan keagamaan) yang memang tidak disyariatkan, seperti peringatan maulid,
peringatan isra` mi'raj dan sebagainya.
b. Bid'ah dengan
cara menambah-nambahkan atas amal ibadah yang disyariatkan. Seperti menambah
raka'at jadi lima pada shalat Dhuhur atau pada shalat Ashar, umpamanya.
c. Bid'ah dengan
melaksanakan ibadah yang disyariatkan tetapi dengan cara yang tidak
disyariatkan. Misalnya melakukan dzikir-dzikir yang disyariatkan tetapi dengan
bersama-sama dan dengan suara yang keras. Dan umpamanya memaksakan diri dalam
beribadah, sampai batas keluar dari sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wasallam.
d. Bid'ah dengan
mengkhususkan waktu yang tidak disyariatkan untuk melakukan ibadah yang
disyariatkan. Seperti yang terjadi di masyarakat, yaitu, mengkhususkan pada
hari pertengahan Sya'ban dan malamnya dengan puasa dan shalat malam.
Padahal shiyam dan qiyam disyariatkan tetapi mengkhususkan pada
waktu-waktu tertentu seperti ini, harus berdasarkan dalil, dan di sini tidak
ada dalil.
Jama'ah Jum'at yang Dirahmati Allah
Imam Asy-Syatibi membagi bid'ah ditinjau
dari segi ada dan tidaknya dalil yang dijadikan sandaran dalam beramal, menjadi
dua bagian: Pertama, bid'ah hakikiyah, dan kedua, bid'ah idhafiyyah.
Pertama,
Bid'ah Hakikiyah, adalah suatu bid'ah yang sama sekali tidak didasarkan
pada dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, bahkan lebih bersifat melawan atau
menyelisihi ketentuan dalil yang ada. Tegasnya, dalil yang dijadikan dasar atau
sandaran dalam melakukan amalan bid'ah tersebut tidak ada.
Contoh Bid'ah Hakikiyah di antaranya:
a. Dari Abdullah
bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata :
بَيْنَمَا
النَّبِيُّ
صلى الله عليه
وسلم يَخْطُبُ
إِذَا هُوَ
بِرَجُلٍ
قَائِمٍ فَسَأَلَ
عَنْهُ
فَقَالُوْا:
أَبُوْ
إِسْرَائِيْلَ
نَذَرَ أَنْ
يَقُوْمَ وَلَا
يَقْعُدَ
وَلَا
يَسْتَظِلَّ
وَلَا يَتَكَلَّمَ
وَيَصُوْمَ.
"Ketika Nabi Muhammad sallallahu
‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, tiba-tiba ada seseorang berdiri, maka
Rasulullah bertanya tentang perihalnya, lalu mereka menjawab, 'Dia adalah Abu
Isra`il, dia telah bernadzar untuk tetap berdiri, tidak duduk, tidak berteduh,
tidak berbicara, dan berpuasa'."
Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
مُرْهُ
فَلْيَتَكَلَّمْ
وَلْيَسْتَظِلَّ
وَلْيَقْعُدْ
وَلْيُتِمَّ
صَوْمَهُ.
"Perintahkan kepadanya, hendaklah
dia berbicara, berteduh, duduk, dan supaya menyempurnakan puasanya." (HR.
Al -Bukhari, no. 6704).
b. Pemotongan
kepala kerbau yang kemudian ditanam pada lubang galian tanah, sebagai tumbal.
c. Melakukan pecah
telur bagi penganten yang sedang dipertemukan, karena adanya kepercayaan
tertentu, sebagaimana yang ditemukan di tengah-tengah masyarakat.
d. Melakukan
terobosan di bawah keranda (mayat) bagi ahli waris, sewaktu mayat sudah siap
akan diberangkatkan ke pemakaman.
Di samping itu masih ada berbagai acara
lain yang sama sekali tidak ada dalam Islam, bahkan termasuk kemusyrikan yang
merupakan dosa yang paling besar, namun dihidup-hidupkan kembali atas nama
menghidupkan budaya lokal, padahal sudah terkubur.
Kedua, Bid'ah
Idhafiyyah adalah suatu bid'ah yang pada hakikatnya didasarkan pada dalil
Al-Qur`an atau As-Sunnah, tetapi cara melakukan amalan yang diamalkan dengan
dalil yang dimaksud, tidak didapatkan di dalam ajaran Islam. Contoh bid'ah
idhafiyyah adalah, seperti berjabat tangan seusai shalat berjama'ah, dzikir
berjama'ah setelah shalat, dan sebagainya.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah
Hukum Bid'ah dalam Agama dengan segala bentuknya adalah haram.
Syaikh Shalih bin Fauzan dalam bukunya, al-Bid'ah,
ta'rifuha, ahwa`uha, hal. 7 mengatakan, "Semua bid'ah dalam Agama,
hukumnya haram dan sesat, karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
الْأُمُوْرِ
فَإِنَّ
كُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
"Hendaklah kalian menjauhi
ajaran-ajaran Agama yang dibuat-buat, karena sesungguhnya tiap-tiap ajaran yang
dibuat-buat itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu adalah sesat."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadits ini dengan sangat jelas
mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat, maka itu artinya semua bid'ah itu
haram.
Di antara bid'ah yang ada, ada yang bisa
mengantarkan pelakunya kepada kekufuran, seperti: thawaf pada kubur
untuk bertaqarrub, atau mempersembahkan sembelihan dan nadzar
untuk kubur. Dan di antaranya termasuk sarana kemusyrikan, seperti membangun
bangunan di atas kubur, serta shalat dan berdoa di kuburan, kecuali dengan tata
cara yang diajarkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah
Sesungguhnya telah sangat jelas dari
ayat, hadits dan perkataan para ulama mutaqaddimin maupun mutakhkhirin.
Dan sangat jelas pula bahwa semua bid'ah, baik yang berbentuk keyakinan atau
yang berbentuk ibadah amaliyah, semuanya adalah sesat yang wajib ditinggalkan
oleh semua kaum Muslimin.
بَارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ.
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Mudah-mudahan khutbah ini mengingatkan
kita, agar selalu berusaha meninggalkan apa yang dilarang Allah, termasuk di
antaranya adalah bid'ah. Ingatlah selalu bahwa amal yang sedikit tetapi sesuai
dengan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam adalah jauh lebih baik
daripada banyak beramal ibadah, tetapi campur aduk dengan bid'ah, sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radhiallahu ‘anhu.
Dan sebagai akhir khutbah ini mari kita
camkan baik-baik hadits berikut ini, yang diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa`i,
dan Ad-Darimi, dan hadits ini adalah hasan.
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu
‘anhu beliau berkata :
خَطَّ
لَنَا
رَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه وسلم
خَطًّا،
ثُمَّ قَالَ:
هذا سَبِيْلُ
اللهِ، ثُمَّ
خَطَّ
خُطُوْطًا
عَنْ
يَمِيْنِهِ وَعَنْ
شِمَالِهِ، ثُمَّ
قَالَ: هذه
سُبُلٌ
مُتَفَرِّقَةٌ
عَلَى كُلِّ
سَبِيْلٍ
مِنْهَا
شَيْطَانٌ
يَدْعُوْ
إِلَيْهِ.
"Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wasallam pernah membuat suatu garis (lurus di tengah) untuk kami, kemudian
beliau bersabda, 'Ini adalah Jalan Allah', kemudian beliau membuat garis-garis
di kanannya dan di kirinya, kemudian beliau bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan
yang saling berselisih, yang pada setiap jalan tersebut ada seekor setan yang
mengajak mengikuti jalan-jalan tersebut."
(HR. Ahmad dan al-Bukhari).
Kemudian beliau membaca (Firman Allah) :
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَتَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
ذَالِكُمْ
وَصَّاكُمْ
بِهِ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
"Dan bahwasanya inilah jalanKu yang
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (Al-An'am:
153).
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
اللهم
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا وَإِن
لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
. رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا .وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالـَمِينَ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرُ.
Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi
Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I