SEHAT JASMANI DAN ROHANI DENGAN PUASA
Rabu,
05 Mei 10 Oleh: Izzudin Karimi, Lc.
KHUTBAH PERTAMA :
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بلله مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
الله فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صلى
الله عليه و
سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ، وَعَلَى
أله
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kita
semua sudah memaklumi bahwa tujuan Allah menciptakan kita semua, manusia adalah
demi beribadah kepadaNya, bukan karena Allah diuntungkan dengan ibadah
tersebut. Dia Mahakaya, tidak memerlukan apa pun dari kita meskipun itu ibadah
dan ketaatan, akan tetapi kewajiban ibadah tersebut adalah demi kemaslahatan
dan kebaikan diri kita sendiri. Kitalah sebenarnya yang memerlukannya, karena
jika tidak, maka apa yang membedakan kita dengan hewan? Ini harus diyakini oleh
setiap Muslim, karena dengan keyakinan yang demikian, dia akan terlecut untuk
taat dan beribadah, karena dia sendirilah yang akan menikmati buahnya hari ini
atau esok.
Ini
juga berarti bahwa tidak ada ibadah apa pun yang diperin-tahkan atau dianjurkan
oleh Allah kecuali ia menyimpan kebaikan-kebaikan dan
kemaslahatan-kemaslahatan. Ini pasti, baik kemaslahatan tersebut bersifat murni
maupun bersifat dominan. Hal ini kita ketahui karena peletak syariat tidak
hanya sekali atau dua kali menjelaskannya, baik secara global ataupun detail
ditambah daya pikir dan nalar yang merupakan kemampuan kita sebagai manusia,
kalaupun misalnya peletak syariat tidak menjelaskan sementara daya pikir dan
nalar kita tidak mampu menangkap, tidak berarti bahwa ia kosong dari
kemaslahatan sama sekali, ia tetap mengandung kemaslahatan, hanya saja daya
pikir dan nalar kita terbatas untuk dapat menangkapnya, karena dasar kita
sebagai manusia memang penuh dengan keterbatasan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Salah
satu ibadah yang sarat dengan kebaikan dan kemasla-hatan adalah shaum
(puasa). Kemaslahatan puasa ini tidak terbatas pada tempat dan waktu, ia
menembus segala masa. Karenanya, hikmah Allah menuntut diberlakukannya puasa
kepada semua umat, umat ini dan umat-umat sebelumnya. Firman Allah Ta’ala :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ
عَلَى
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183).
Ya,
ketakwaan yang merupakan target dari puasa adalah induk dari segala bentuk
kebaikan. Pertanyaannya, kebaikan-kebaikan apakah yang mungkin diraih dengan
puasa di mana targetnya adalah takwa?
Pertama : Keikhlasan
Puasa
mendidik keikhlasan, kebersihan, dan ketulusan niat beribadah. Ini sangat
penting, karena ia merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah oleh Allah
Ta'ala . Karena puasa adalah menahan, meninggalkan, dan tidak melakukan
sesuatu, maka salah satu cirinya adalah kerahasiaan. Kita tidak mengetahui, si
ini puasa atau tidak, kalau yang bersangkutan tidak berbicara. Ibadah rahasia
lebih dekat kepada keikhlasan, oleh karena itu dalam hadits qudsi Allah
berfirman :
يَتْرُكُ
طَعَامَهُ
وَشَرَابَهُ
وَشَهْوَتَهُ
مِنْ
أَجْلِيْ.
اَلصِّيَامُ
لِيْ وَأَنَا
أَجْزِي بِهِ.
"Dia
meninggalkan makannya, minumnya, dan nafsunya demi Aku. Puasa itu untukKu dan
Aku yang akan membalasnya."
(HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no.
871).
Kedua : Muraqabah
Puasa
mendidik sikap merasa diawasi dan dilihat oleh Allah. Karena puasa bersifat
rahasia, maka mungkin saja seseorang menyendiri di tempat sepi lalu dia makan
atau minum tanpa seorang pun mengawasi dan mengetahui, akan tetapi hal itu
tidak dilakukannya, karena puasa mendidiknya bahwa Allah mengawasi dan
melihatnya. Dari sinilah, maka satu hadits Nabi berkata :
اَلصَّوْمُ
جُنَّةٌ
"Puasa itu adalah perisai." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 871 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 571).
Perisai
dari dosa-dosa, karena apabila terbetik suatu dosa di benak pelaku puasa, maka
dia menyadari bahwa dia berpuasa dan ada yang mengawasi. Inilah derajat ihsan
seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam ketika
menjawab pertanyaan Jibril :
أَنْ
تَعْبُدَ
الله
كَأَنَّكَ
تَرَاهُ فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ
فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
"Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, kalaupun kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 47, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 2).
Kenyataan
membuktikan bahwa kuantitas dosa dan kemaksiatan menurun tajam di masa puasa,
hal ini tidak lain karena dampak positif dari puasa.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Ketiga : Kesabaran
Puasa
mendidik kesabaran dan menahan diri. Sesuatu yang disukai oleh jiwa untuk
dihindari, maka hal itu cukup memberatkan, walaupun untuk sementara waktu, akan
tetapi demi tujuannya yang mulia, hal itu kita lakukan. Dengan meninggalkan
perkara-perkara yang pada dasarnya dibolehkan, kita dididik meninggalkan
perkara-perkara yang tidak dibolehkan, maka beruntunglah pelaku puasa yang
memahami hal ini dan merealisasikannya dalam hidupnya, sehingga puasanya tidak
seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam :
مَنْ لَمْ
يَدَعْ
قَوْلَ
الزُّوْرِ
وَالْعَمَلَ
بِهِ
فَلَيْسَ لله
حَاجَةٌ فِي
أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ
وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 876)
Puasa
memiliki pengaruh besar dalam mengontrol emosi sese-orang, seperti yang sudah
kita sadari bersama, bahwa emosi yang tidak terkontrol, sering menjadi biang
persoalan yang menyulitkan, maka dari itu Nabi menganjurkan pelaku puasa agar
tidak meladeni orang yang mencela dan mencacinya. Sabda Nabi Sallallahu 'Alahi
Wasallam :
وَإِذَا
كَانَ يَوْمُ
صَوْمِ
أَحَدِكُمْ، فَلاَ
يَرْفُثْ
وَلاَ
يَصْخَبْ،
فَإِنْ سَابَّهُ
أَحَدٌ، أَوْ
قَاتَلَهُ
فَلْيَقُلْ:
إِنِّي
امْرُؤٌ
صَائِمٌ
"Apabila di hari salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata kotor dan gaduh, jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaknya dia berkata, 'Aku sedang berpuasa." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 877 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 571)
Puasa
juga memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengontrol nafsu seseorang, oleh
karena itu Nabi menyarankan para pemuda yang belum mampu menikah untuk
berpuasa, supaya tidak diperbudak oleh nafsu yang menjerumuskannya ke dalam
perkara haram.
Dari Abdullah bin Mas'ud radiyallahu 'anhu ia berkata :
كُنَّا مَعَ
النَّبِيِّ
صلى الله عليه
و سلم فَقَالَ
رَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه و سلم : يَا
مَعْشَرَ
الشَّبَابِ،
مَنِ
اسْتَطَاعَ
مِنْكُمُ
الْبَاءَةَ
فَلْيَتَزَوَّجْ،
فَإِنَّهُ
أَغَضُّ
لِلْبَصَرِ،
وَأَحْصَنُ
لِلْفَرْجِ،
وَمَنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ،
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ،
فَإِنَّهُ
لَهُ وِجَاءٌ
"Suatu
ketika kami bersama Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam lalu beliau bersabda :
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaknya
dia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan
lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka hendaknya dia
berpuasa, karena puasa merupakan perisai baginya “. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Mukhtashar
Shahih al-Bukhari, no. 878 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 794)
Keempat : Kedermawanan
Puasa
mengajarkan kedermawanan. Rasa lapar dan haus mengingatkan pelaku puasa
terhadap saudara-saudaranya yang selalu lapar, karena memang tidak mempunyai
apa yang cukup untuk dimakan. Dalam kondisi tersebut, apabila dia mempunyai
kelebihan rizki, niscaya dia akan menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Di
sinilah muncul empati sosial terhadap penderitaan lapar yang dirasakan sebagian
orang lalu diikuti dengan tindakan nyata. Inilah salah satu bentuk keteladanan
yang ditunjukkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam
Dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu, ia berkata :
كَانَ
رَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه و سلم
أَجْوَدَ النَّاسِ،
وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا
يَكُوْنُ فِي
رَمَضَانَ
حِيْنَ
يَلْقَاهُ
جِبْرِيْلُ،
وَكَانَ
جِبْرِيْلُ
يَلْقَاهُ
فِي كُلِّ
لَيْلَةٍ
مِنْ
رَمَضَانَ،
فَيُدَارِسُهُ
الْقُرْآنَ،
فَلَرَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه و سلم
حِيْنَ
يَلْقَاهُ
جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ
بِالْخَيْرِ
مِنَ
الرِّيْحِ
الْمُرْسَلَةِ
"Rasulullah
Sallallahu 'Alahi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih
dermawan di Bulan Ramadhan pada saat Jibril menemui beliau, Jibril menemui Nabi
setiap malam pada Bulan Ramadhan lalu membacakan al-Qur`an kepada beliau.
Ketika ditemui Jibril, Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam benar-benar lebih
dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus'." (HR. Al-Bukhari Mukhtashar Shahih
al-Bukhari, no. 6)
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Selain
puasa mendidik empat perkara di atas kepada pelakunya, ia juga memberikan
kebahagiaan kepadanya, tidak tanggung-tanggung kebahagiaan ini diraih pada saat
di mana ia benar-benar dibutuhkan.
Pertama : Kebahagiaan terhadap puasa sebagai kaffarat (pelebur) dosa-dosa. Hal ini seperti dalam kaffarat zhihar, membunuh karena salah, melanggar sumpah, begitu pula dalam haji; haji tamattu' atau qiran yang tidak mampu menyembelih hadyu, dia berpuasa, muhrim (orang yang sedang berihram) yang membunuh binatang buruan atau mencukur rambut sebelum waktunya, salah satu kaffaratnya adalah puasa.
Dosa
menyebabkan kecemasan dan ketakutan karena akibatnya yang buruk, manakala
disediakan peleburnya, berarti kecemasan tersebut akan teratasi, pelakunya pun
tenang dan berbahagia, sama halnya dengan peminum racun yang membahayakan,
ketika penawarnya ditemukan, dia akan senang sekali. Nabi Sallallahu 'Alahi
Wasallam bersabda :
فِتْنَةُ
الرَّجُلِ
فِي أَهْلِهِ
وَمَالِهِ
وَوَلَدِهِ
وَجَارِهِ
تُكَفِّرُهَا
الصَّلَاةُ
وَالصَّوْمُ
وَالصَّدَقَةُ.
"Fitnah (pelanggaran) seseorang kepada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dilebur dengan shalat, puasa dan sedekah." (HR. al-Bukhari dari Hudzaifah bin al-Yaman. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 310).
Kedua : Kebahagiaan terhadap puasa
sebagai pemberi syafa'at. Ini terjadi di Hari Kiamat di mana segala hubungan di
antara manusia terputus, tidak ada bantuan dan pertolongan, padahal ia sangat
dibutuhkan. Dalam kondisi tersebut, puasa hadir sebagai pemberi syafa'at. Nabi
Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :
اَلصِّيَامُ
وَالْقُرْآنُ
يَشْفَعَانِ
لِلْعَبْدِ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ.
يَقُوْلُ الصِّيَامُ:
أَيْ رَبِّ،
مَنَعْتُهُ
الطَّعَامَ
وَالشَّهَوَاتِ
بِالنَّهَارِ
فَشَفِّعْنِيْ
فِيْهِ.
وَيَقُوْلُ
الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ
النَّوْمَ
بِاللَّيْلِ
فَشَفِّعْنِيْ
فِيْهِ.
"Puasa dan al-Qur`an akan memberi syafa'at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, 'Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa'at kepadanya.' Al-Qur`an berkata, 'Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa'at kepadanya”. (HR. Ahmad no. 6626 dari Ibnu Umar. Al-Haitsami dalam Majma' az-Zawa`id, 3/181 berkata, "Rawi-rawinya adalah rawi hadits shahih.")
Ketiga : Kebahagiaan di saat berbuka,
lebih dari itu adalah kebahagiaan terhadap puasa yang dengannya seorang Muslim
bertemu Allah. Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :
لِلصَّائِمِ
فَرْحَتَانِ
يَفْـَرحُهُمَا،
إِذَا
أَفْطَرَ
فَرِحَ
وَإِذَا
لَقِيَ رَبَّهُ
فَرِحَ
بِصَوْمِهِ.
"Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang dinikmatinya. Apabila dia berbuka puasa dia berbahagia dan apabila dia bertemu Rabb-nya, dia berbahagia dengan puasanya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 877 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 571)
Keempat : Kebahagiaan terhadap puasa
sebagai pengantar ke Surga dan pelindung dari Neraka. Lebih dari itu disediakan
pintu khusus di Surga yang bernama Rayyan, hanya orang-orang yang berpuasalah
yang dipanggil darinya.
عَنْ سَهْلٍ
رضي الله عنه
عَنِ
النَّبِيِّ
صلى الله عليه
و سلم قَالَ :
إِنَّ فِي
الْجَنَّةِ
بَابًا
يُقَالُ لَهُ
الرَّيَّانُ،
يَدْخُلُ
مِنْهُ
الصَّائِمُوْنَ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ،
لاَ يَدْخُلُ
مِنْهُ
أَحَدٌ
غَيْرُهُمْ
يُقَالُ أَيْنَ
الصَّائِمُوْنَ
فَيَقُوْمُوْنَ،
لاَ يَدْخُلُ
مِنْهُ
أَحَدٌ
غَيْرُهُمْ،
فَإِذَا
دَخَلُوْا أُغْلِقَ،
فَلَمْ
يَدْخُلْ
مِنْهُ
أَحَدٌ.
"Dari
Sahal radiyallahu 'anhu dari Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam , beliau bersabda
:”Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang dikenal dengan ar-Rayyan, darinya
orang-orang yang berpuasa masuk Surga pada Hari Kiamat, selain mereka tidak
masuk darinya. Dikatakan, 'Di mana orang-orang yang berpuasa?' Lalu mereka
berdiri, tidak seorang pun masuk bersama mereka, jika mereka masuk, maka ia
ditutup, maka tidak seorang pun masuk darinya”. (HR. al-Bukhari, Mukhtashar
Shahih al-Bukhari, no. 872).
بَارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ
وَجَعَلَنَا
الله مِنَ
الَّذِيْنَ
يَسْتَمِعُوْنَ
الْقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ
أَحْسَنَهُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
الله لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِجَمِيْعِ
الْمُسْلِمِيْنَ
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
الله
قَالَ الله
تعالى :((
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
))
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Di
khutbah pertama telah kita ketahui bersama bahwa puasa mendidik ketakwaan dan
memberi kebahagiaan kepada pelakunya. Adakah keterkaitan antara ketakwaan
dengan kebahagiaan? Erat sekali. Ketakwaan adalah modal utama kebahagiaan,
karena ketakwaan berarti berbuat baik dengan dilandasi iman, sementara
kebahagiaan adalah hilangnya ketakutan dan kesedihan. Ini hanya diraih oleh
orang yang bertakwa. Firman Allah Ta'ala :
فَمَنِ
اتَّقَى
وَأَصْلَحَ
فَلاَخَوْفٌ
عَلَيْهِمْ
وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ
"Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka besedih hati." (Al-A'raf: 35)
Dari
ayat ini seorang penyair berkata :
وَلَسْتُ
أَرَى
السَّعَادَةَ
جَمْعَ مَالٍ
ولكن التَّقِيَّ
هُوَ
السَّعِيْدُ
“Menurutku
kebahagiaan bukan dengan harta yang banyakAkan tetapi orang yang bertakwalah
orang yang berbahagia”
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Di
samping kebaikan-kebaikan puasa di atas, di mana semua itu kembali kepada sisi
rohani, puasa juga mempunyai kebaikan-kebaikan dari sisi jasmani, makanan di
satu sisi dibutuhkan oleh tubuh, karena ia bermanfaat baginya, akan tetapi di
sisi lain ia bisa menjadi sumber penyakit bagi tubuh, lebih-lebih apabila ia
tidak terkontrol dengan baik. Berapa banyak penyakit berbahaya diakibatkan oleh
makanan ; darah tinggi yang dipicu oleh lemak dan kolesterol yang terkandung di
dalam makanan, penyakit gula yang dipicu oleh asupan gula yang terlalu tinggi
ke dalam tubuh, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit lainnya yang dipicu
oleh makanan. Nabi telah memperingatkan hal tersebut, beliau bersabda :
مَا مَلَأَ
أدمي وِعَاءً
شَرًّا مِنْ
بَطْنٍ.
"Manusia tidak mengisi bejana yang lebih buruk
daripada perutnya."
(HR. at-Tirmidzi no. 2385. Dia berkata, "Hadits hasan shahih")
Di
sinilah peran puasa sebagai kontrol dan penyeimbang ma-kanan, sehingga ia bisa
meminimalkan sisi buruknya dan mengoptimalkan sisi baiknya. Dengan puasa,
aliran darah di dalam tubuh menurun, karena pemicunya yaitu makanan, untuk
sementara dihentikan dan ini sangat membantu penderita penyakit darah tinggi.
Tubuh manusia tidak ubahnya seperti mesin, khususnya perut, yaitu usus-usus dan jaringan pencernaan, kalau mesin memerlukan waktu rehat demi kebaikannya, maka tubuh juga demikian, dengan puasa, kita telah memberikan hak istirahat kepadanya, ia pun mem-bersihkan dirinya dari endapan sisa-sisa makanan, lemak, dan lain-lainnya yang mungkin tertinggal di dalam usus, dan pada saat ia dibutuhkan untuk bekerja, maka ia pun bekerja dalam kondisi fres.
Puasa
juga bermanfaat membantu perokok menghentikan rokok. Kita semua mengetahui
bahwa rokok sangat membahayakan penghisapnya dan orang-orang di sekitarnya,
bahkan produsennya pun telah menulis bahayanya di bungkusnya, ia memicu
berbagai penyakit berat. Hal ini sudah tidak menjadi perdebatan lagi, di
samping ia sama dengan membuang-buang harta. Selama puasa, kurang lebih empat
belas jam perokok bisa tidak merokok. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka
mampu tidak merokok, hanya saja nafsulah yang telah mengalahkan mereka.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Melihat
kebaikan-kebaikan puasa di atas, khatib teringat Firman Allah Ta'ala :
وَأَن
تَصُومُوا
خَيْرُُ
لَّكُمْ إِن
كُنتُمْ
تَعْلَمُونَ
"Dan
berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 184).
Juga sabda Nabi :
اَلصَّوْمُ
جُنَّةٌ
"Puasa adalah perisai."
Perisai
dari apa? Nabi tidak menjelaskannya secara langsung. Ucapan seperti ini
menunjukkan keumuman. Jadi ia adalah perisai dari dosa, maksiat, neraka,
penyakit, dan hal-hal yang tidak diingin-kan lainnya.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at
Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar
S.Pd.I )