Perjuangan
Menuju Masyarakat Tauhid
Selasa,
16 Maret 04 Oleh: Mulyono
Saudara-saudara
sekalian, sidang jamaah Jum’ah rahimakumullah
Dari mimbar yang kita muliakan ini, ijinkanlah khatib mengajak kepada diri
khotib sendiri, dan juga kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita selalu
bertaqwa kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Selalu bertaqwa dalam arti yang
sebenarnya dan selurus-lurusnya. Menjalan-kan secara ikhlas seluruh perintah
Allah Subhannahu wa Ta'ala, kemudian menjauhi segenap larangan-larangan Nya.
Marilah kita lebur hati dan jasad kita kedalam lautan Taqwa yang luasnya tak
bertepi. Marilah kita isi setiap desah nafas kita dengan sentuhan-sentuhan
Taqwa. Sebab, hanya dengan Taqwa ... InsyaAllah ... kita akan memperoleh
kebahagiaan hakiki di akherat yang abadi nanti atau kebahagiaan hidup di dunia
fana ini.
Kaum muslimin A’azzakumullah
Apabila kita mencermati kondisi lingkungan sekitar kita, pasti akan kita akan
prihatin. Kalau nurani kita masih bersih, pasti kita akan mengelus dada
menyaksikan babak demi babak kehidupan yang kini berkembang betapa tidak
saudara-saudaraku ... saat ini nyaris dalam seluruh sektor kaum muslimin
terpuruk. Dalam segi aqidah banyak sekali umat Islam yang menganut
keyakinan-keyakinan syirik, menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Perdukunan
merajalela, penyembahan terhadap ahli kubur masih dilakukan, pengagungan yang
berlebihan terhadap seorang tokoh masih banyak kita jumpai. Perilaku ini
menurut syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, termasuk kategori syirik (kitab
tauhid).
Kemudian dalam aspek politik, yang tampil hanyalah permainan yang keruh penuh
rekayasa, dan retorika semu. Dalam bidang ekonomi sistem keuangan riba’ yang
diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya adalah makin lebarnya
jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial
budaya kita disuguhi kebobrokan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita
menyaksikan beragam kemaksiatan seperti: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan,
kasus narkoba dan sebagainya.
Saudara-saudara sekalian kaum muslimin rahimakumullah
Menyimak keadaan yang kita sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah surat
Ar- Ruum ayat 41:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ
فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
بِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِي
النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ
بَعْضَ
الَّذِي
عَمِلُوا
لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُونَ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena ulah perbuatan
tangan nafsu manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Rasa-rasanya, firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami
sekarang ini.
Memang, jama’ah sekalian ..
Ummat dan bangsa ini sedang berada dalam bahaya besar. Kerusakan telah menyebar
dalam berbagai tempat dan waktu. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kanapa semua
ini bisa terjadi?
Dan bagaimana cara mengobatinya berdasarkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala ?
Pertanyaan pertama, yakni, kenapa kerusakan-kerusakan itu bisa terjadi,
jawabnya adalah karena ummat ini terputus dari tuntunan agamanya. Ya, sudah
sekian lama, ummat Islam ini jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Ada jarak
antara ummat di satu sisi dengan ajaran Islam di sisi lain, sehingga kehidupan
sehari-hari kaum muslimin sama sekali tidak mencerminkan ajaran agamanya.
Bahkan, adakalanya ummat Islam merasa asing terhadap nilai-nilai dien-nya
sendiri. Satu contoh kasus, misalnya masalah hijab bagi kaum wanita. Kaum wanita
yang menutup aurat malah dikatakan sebagai orang yang nyeleneh.
Padahal sebenarnya merekalah yang justru melaksanakan perintah Allah. Kondisi
ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
: بَدَأَ
اْلإِسْلاَمُ
غَرِيْبًا
وَسَيَعُوْدُ
غَرِيْبًا
كَمَا بَدَأَ
فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ.
“Islam
itu pada mulanya asing, dan nanti akan kembali menjadi asing seperti semula.
Maka beruntunglah orang yang asing.”
Saudara-saudara sekalian, jamaah jum’ah yang berbahagia.
Sekarang ini pun tengah menggejala dikalangan kaum muslimin sebuah paham yang
biasa disebut sebagai sekulerisme (‘ilmaniyah). Paham ini mengajarkan bahwa
kehidupan dunia harus dipisahkan dari masalah agama. Menurut mereka, dunia ya
dunia, jangan bawa masalah agama. Soal agama adalah soal pribadi. Oleh karena
itu, menurut paham ini, dalam masalah hubungan sesama manusia, seperti cara
bergaul, cara berpakaian maupun cara berekonomi cukup diserahkan pada rasio
atau akal manusia saja. Sehingga, merekapun menyombongkan diri dengan
meninggalkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala terutama yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari.
Ajaran sekulerisme inilah yang menjadi tantangan kita dewasa ini. Hal ini
sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al-Misri dalam
kitabnya “Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Minal ‘ilmaniyah” (Sikap Ahlus Sunnah
terhadap Sekulerisme). Menurut beliau, cara hidup sekuler jelas sekali
bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Sekulerisme (‘ilmaniyah) berusaha
menegakkan kehidupan di dunia tanpa campur tangan agama, atau yang lazim
disebut La diniyyah . Sehingga tata kehidupan yang mereka bangun bukanlah tata
kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dengan kata lain,
sekulerisme berhukum dengan aturan-aturan selain Allah. Padahal Allah
Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
أَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُونَ وَمَنْ
أَحْسَنُ
مِنَ اللَّهِ
حُكْمًا لِقَوْمٍ
يُوقِنُونَ
Artinya:
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih
baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50).
Dalam tafsir Ibnu Katsir di sebutkan (tentang ayat ini): “Allah Subhannahu wa
Ta'ala mengingkari setiap orang yang keluar dari hukumNya yang jelas, yang
meliputi segala kebaikan dan melarang segala kejelekan, lalu berpaling kepada
pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang diletakkan oleh manusia
tanpa bersandar kepada syari’at Allah. Seperti sikap kaum jahiliyah dahulu yang
berhukum dengan hukum yang menampakkan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat
sendiri berdasarkan hawa nafsu mereka “. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2: 67)
Jama’ah jum’ah rahimakumullah ...
Padahal, tauhid yang merupakan fondasi agama Islam, merupakan sebuah keyakinan
yang menyandarkan seluruh aspek kehidupan hanya kepada Allah Subhannahu wa
Ta'ala. Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya “ Al-Firqotun
Naajiyah” (Golongan Yang Selamat) menyatakan bahwa yang dimaksud tauhid adalah
mengesakan Allah dengan beribadah. Di mana Allah Subhannahu wa Ta'ala
menciptakan alam semesta ini tidak lain hanyalah agar beribadah. Firman Allah:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan
Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka
menyembahKu.” (QS. Ad-Dzariyat: 56).
Di
dalam kitabnya yang lain, yakni yang berjudul “Hudz Aqidataka Minal Kitab was
Sunnah” Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menegaskan bahwa tauhid merupakan salah
satu syarat diterimanya amal seseorang. Artinya, tanpa keberadaan tauhid, amal
seberapa pun banyaknya tidak akan diterima Allah .
Demikianlah saudara sekalian, jama’ah rahimakumullah
Jelas sekali, bahwa kehidupan sekulerisme yang kini meng-gejala dengan
kebebasannya, amat bersebrangan dengan tauhid, fondasi ajaran agama kita. Oleh
karena itu kita semua harus waspada terhadap konsep hidup sekuler itu.
Kemudian, bagaimanakah solusinya, bagaimanakah menye-lesaikan serangkaian
problem-problem yang kita bicarakan tadi? Bagaimana agar kita bisa keluar dari
fitnah yang begitu banyak tersebut?
Saudara sekalian ...
Resepnya tidak ada lain kecuali kembali kepada Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Sunnah
Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dengan pemahaman salafus shalih.
Sebab, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah jalan satu-satunya menuju
keselamatan. Melalui langkah ini ada jaminan yang kuat bagi kita untuk
menyelesaikan berbagai kemelut yang menimpa kita. Ketika Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam dan sahabatnya di Mekkah, yakni di awal-awal
beliau menyampaikan wahyu, situasinya hampir sama dengan keadaan yang kita
hadapi saat ini. Yaa, hampir sama. Hanya bentuknya saja yang berbeda, namun
inti dan subtansinya tidak berbeda. Kalau dulu ada perzinaan, misalnya,
sekarangpun banyak perzinaan dengan berbagai model.
Oleh karena itu, untuk mengobati kondisi ummat yang seperti sekarang ini, tidak
bisa tidak, kita harus memulai sebagaimana Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam
membina ummat. Masalah tauhid, harus dibenahi terlebih dahulu, sebelum
urusan-urusan lainnya. Sebab, seperti itulah yang juga dilakukan para salafus
shalih. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
خَيْرُ
النَّاسِ
قَرْنِيْ
ثُمَّ
الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ
ثُمَّ
الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ.
“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian
orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Mutafaq
‘alaih).
Saudara-saudara sekalian
Sebagaimana saya sebutkan diatas, bahwa tauhid adalah fondasi agama Islam. Maka
kalau fondasi ini roboh, roboh pula bangunan Islam yang lain. Sebaliknya, kalau
tauhid ummat ini kuat berarti fondasi yang menopang seluruh bangunan Islam itu
pun kuat juga. Dengan demikian mengembangkan tauhid merupakan masalah yang
sangat strategis bagi upaya membangkitkan kembali ummat ini. Upaya-upaya untuk
membangun kembali umat Islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan
tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa fondasi. Sia-sia belaka. Oleh
karena itu, pembinaan tauhid harus menjadi program yang harus diprioritaskan
oleh seluruh kalangan kaum muslimin ini. Pembinaan tauhid sebagaimana yang
difahami salafus shalih harus disosialisasikan kepada seluruh ummat. Sehingga
mereka memahami jalan kehidupan yang benar, meninggalkan pola hidup yang
bengkok.
تَرَكْتُ
فِيْكُمْ
شَيْئَيْنِ
لَنْ تَضِلُّوْا
بَعْدَهُمَا،
كِتَابَ
اللهِ
وَسُنَّتِيْ.
“Telah aku tinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat
darimu setelah berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.” (Dishahihkan
Al-Albani dalam kitab Al-Jami’, diambil dari kitab Al-Firqatun Naajiyah)
Dalam hadits yang disebutkan, Ibnu Mas’ud berkata:
خَطَّ
رَسُوْلُ
اللهِ n
خَطًّا
بِيَدِهِ
ثُمَّ قَالَ:
هَذَا سَبِيْلُ
اللهِ
مُسْتَقِيْمًا.
وَخَطَّ
خُطُوْطًا
عَنْ
يَمِيْنِهِ
وَشِمَالِهِ،
ثُمَّ قَالَ:
هَذِهِ
السُّبُلُ
لَيْسَ
مِنْهَا
سَبِيْلٌ إِلاَّ
عَلَيْهِ
شَيْطَانٌ
يَدْعُوْ
إِلَيْهِ.
ثُمَّ قَرَأَ
قَوْلَهُ
تَعَالَى:
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَ
تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ
بِهِ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membuat garis dengan tangannya, seraya
bersabda kepada kami: “Ini jalan Allah yang lurus.” Dan beliau membuat
garis-garis banyak sekali dikanan kirinya, seraya bersabda: “Ini jalan-jalan
yang tak satu pun terlepas dari intaian syetan untuk menyesatkan”. Kemudian
beliau membaca ayat 153 surat Al-An’am: “Dan bahwa yang Kami perintahkan ini
adalah jalanKu yang lurus. Maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan yang lain. Karena jalan-jalan lain itu mencerai beraikan kamu dari
jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”
(HR.Ahmad dan Nasa’i, Shahih)
Saudara sekalian, sidang jama’ah jum’ah rahimakumullah
Kalau kita meneladani Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam maka yang pertama
kali beliau serukan adalah masalah tauhid. Sebelum membicarakan hal-hal lain,
beliau selama kurang lebih 13 tahun di Mekkah menda’wahkan konsep pengesaan
Allah Subhannahu wa Ta'ala ini kepada sahabat-sahabat beliau. Dengan tauhid
beliau membangun ummat.
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ،
أَقُولُ قَوْ
لِي هَذَا
وَاسْتَغْفِرُوا
اللهَ اِنَّهُ
هُوَ
الْغَفُورُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah
Pada khutbah kedua ini, kembali saya mengajak kepada diri saya sendiri dan
jama’ah sekalian. Marilah kita bertaqwa dengan taqwa yang sebenar-benarnya
kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Marilah kita mempelajari Islam ini dari
landasannya yang paling asasi yakni tauhid. Marilah kita hidupkan budaya
mempelajari tauhid dalam kehidupan beragama kita sebelum yang lain-lainnya.
Sebagai ringkasan dari khutbah yang pertama, bisa saya simpulkan bahwa kondisi
ummat yang carut marut sekarang ini; banyaknya kesyirikan dan bid’ah,
merebaknya budaya sekulerisme (kehidupan tanpa tuntunan agama), meggejalanya
berbagai fitnah hanya bisa di atasi dengan kembali kepada sumber ajaran kita
yang murni yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Sementara itu berdasarkan Al-Qur’an dan
Sunnah dengan pemahaman salafus shalih itu, langkah awal dalam membangun
masyarakat adalah dengan menanamkan tauhid. Sebab yang diseru Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam pertama kali di Mekkah adalah tauhid, sebelum
menyeru masalah-masalah lain.
Oleh karena itu, jama’ah sekalian, sudah waktunya meraih kembali jalan
kebenaran tersebut. Sudah lama kita terperosok dalam lubang kebodohan. Kita
terlalu sering mengulang kesalahan serupa. Solusinya adalah kita pelajari
kembali Islam ini dari masalah tauhid. Semoga Allah membimbing kita semua.
Amin.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَّمْ
تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانَا
صِغَارًا. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ
الْخَيْرِ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا مِنْهُ
وَمَا لَمْ
نَعْلَمْ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الشَّرِّ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنْ
خَيْرِ مَا
سَأَلَكَ
بِهِ
عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ شَرِّ
مَا
اسْتَعَاذَ
بِكَ مِنْهُ
عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرُ.
|
YAYASAN AL-SOFWA |