Peristiwa Hari Akhir
Oleh: Abu Adam
Al-Khoyyat (Hartono)
Hadirin jamaah shalat Jum’at rahimakumullah
Hendaknya seorang Muslim
senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan
kepada kita semua, baik nikmat keimanan, kesehatan dan keluangan waktu sehingga
kita bisa melaksanakan kewajiban kita menunaikan shalat Jum’at. Dan hendaklah
kita berhati-hati agar jangan sampai menjadi orang yang kufur kepada nikmat
Allah. Allah berfirman:
لَئِنْ
شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ
وَلَئِنْ
كَفَرْتُمْ
إِنَّ
عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
“Jikalau kalian bersyukur pasti
kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmatKu),
maka sesungguhnya siksaku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).
Demikian pula kami wasiatkan
untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan dan waktu. Takwa,
sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk diamalkan.
Ketahuilah, wahai saudaraku rahimakumullah,
tatkala Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu bertanya kepada shahabat
Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu tentang takwa, maka berkatalah Ubay:
“Pernahkah Anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?” Kemudian Umar
menjawab: “Tentu” maka berkatalah Ubay: “Apakah yang Anda lakukan”, berkatalah
Umar: “Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu”. Lalu Ubay
berkata “Demikianlah takwa itu” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hal. 55).
Demikianlah takwa yang
diperintahkan oleh Allah dalam kitabNya yakni agar kita senantiasa waspada dan
hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan
kita, oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasarkan
ilmu.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Hendaklah kita bersegera
mencari bekal guna menuju pertemuan kita dengan Allah karena kita tidak tahu
kapan ajal kita itu datang. Dan Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ
يَا أُولِي
الْأَلْبَابِ
“Dan berbekallah, maka
sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai
orang-orang yang berakal.”
(Al-Baraqah:197).
Ketahuilah wahai saudaraku rahimakumullah.
Manusia setapak demi setapak
menjalani tahap kehidupan-nya dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan
alam akhirat. Tahap-tahap tersebut harus dijalani sampai akhirnya nanti kita
akan menemui alam akhirat tempat kita memperhitungkan amalan-amalan yang telah
kita lakukan di dunia. Maka tatkala kita mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi yang memberitakan tentang ahwal (keadaan) hari Akhir,
hendaklah hati kita menjadi takut, menangislah mata kita, dan menjadi dekatlah
hati kita kepada Allah.
Akan tetapi bagi orang yang
tidak memiliki rasa takut kepada Allah tatkala disebut kata Neraka, adzab, ash-shirat
dan lain sebagainya seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan mereka
tanpa makna sama sekali. Na-uzu billahi min dzalik. Mari kita perhatikan firman
Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 25-29.
وَأَمَّا
مَنْ أُوتِيَ
كِتَابَهُ
بِشِمَالِهِ
فَيَقُولُ
يَا
لَيْتَنِي
لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ،
وَلَمْ
أَدْرِ مَا
حِسَابِيَهْ،
يَا
لَيْتَهَا
كَانَتِ
الْقَاضِيَةَ،
مَا أَغْنَى
عَنِّي
مَالِيَهْ،
هَلَكَ عَنِّي
سُلْطَانِيَهْ
“Adapun orang-orang yang diberikan
kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata; “Wahai alangkah
baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui
apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya kematian itu
adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali
tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap
dari-padaku”.(Al-Haqqah 25-29)
Dalam ayat ini Al-Hafizh Ibnu
Katsir dalam tafsirnya juz IV hal 501, menerangkan bahwa ayat tersebut
menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Yaitu manakala diberi catatan
amalnya di padang pengadilan Allah dari arah tangan kirinya, ketika itulah dia
benar-benar menyesal, dia mengatakan penuh penyesalan: ‘Andai kata saya tidak
usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apakah hisab
(perhitungan) terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya) dan andaikata saya
mati terus dan tidak usah hidup kembali.
Coba perhatikan ayat
selanjutnya:
خُذُوهُ
فَغُلُّوهُ،
ثُمَّ
الْجَحِيمَ
صَلُّوهُ،
ثُمَّ فِي
سِلْسِلَةٍ
ذَرْعُهَا
سَبْعُونَ
ذِرَاعًا
فَاسْلُكُوهُ
“Peganglah dia lalu belenggulah
tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang
menyala-nyala kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh
hasta” (Al-Haqqah ayat 30-32).
Bagi kaum
beriman yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut, menjadi
tergetarlah hatinya, akan menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan
keluarlah keringat dingin di tubuh mereka, seakan mereka saat itu sedang
merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat
mendalam kepada Allah kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi
orang-orang yang celaka seperti ayat di atas.
Jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah.
Sesungguhnya manusia akan
dibangkitkan pada hari Kiamat dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk
mempertanggungjawab-kan diri mereka. Allah berfirman:
وَاسْتَمِعْ
يَوْمَ
يُنَادِ
الْمُنَادِ مِنْ
مَكَانٍ
قَرِيبٍ، يَوْمَ
يَسْمَعُونَ
الصَّيْحَةَ
بِالْحَقِّ
ذَلِكَ
يَوْمُ
الْخُرُوجِ
“Dan dengarkanlah pada hari
penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat, yaitu pada hari mereka
mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur)” (Qaf: 41-42).
Juga Allah
berfirman dalam surat Al-Muthaffifin: 4-6.
أَلَا
يَظُنُّ
أُولَئِكَ
أَنَّهُمْ
مَبْعُوثُونَ،
لِيَوْمٍ
عَظِيمٍ،
يَوْمَ يَقُومُ
النَّاسُ
لِرَبِّ
الْعَالَمِينَ
“Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya
mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia
berdiri menghadap Tuhan semesta alam”.
Dan
manusia dibangkitkan dalam keadaan حُفَاةً
عُرَاةً
غُرْلاً (mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak
berkhitan), sebagaimana firman Allah:
كَمَا
بَدَأْنَا
أَوَّلَ
خَلْقٍ
نُعِيدُهُ
وَعْدًا
“Sebagaimana kami telah memulai
penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulangnya (mengembalikannya)” (Al-Anbiya:104).
Manusia
akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan
dalam keadaan demikian bercampur dan
berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi Shallallaahu alaihi
wa Salam menceritakan hal itu kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha maka berkatalah
ia: “Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat
kepada sebagian yang lain?”, kemudian Rasulullah berkata:
اْلأَمْرُ
أَشَدُّ مِنْ
أَنْ
يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ
إِلَى بَعْضٍ.
“Perkara pada hari itu lebih
keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari nomor 6027 dan
Muslih nomor 2859 dari hadits ‘Aisyah Radhiallaahu anha ).
Pada hari itu laki-laki tidak
akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang itu lari dari
bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah pada hari
itu. Sebagaimana firman Allah:
يَوْمَ
يَفِرُّ
الْمَرْءُ
مِنْ
أَخِيهِ، وَأُمِّهِ
وَأَبِيهِ،
وَصَاحِبَتِهِ
وَبَنِيهِ،
لِكُلِّ
امْرِئٍ
مِنْهُمْ
يَوْمَئِذٍ
شَأْنٌ
يُغْنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari
dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istrinya dan anak-anaknya.
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat
menyibukkan”. (Q.S. Abasa:
34-37).
Demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti,
mudah-mudahan menjadikan kita semakin takut kepada Allah.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ،
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
أَمَّا
بَعْدُ؛
Dari mimbar Jum’at ini kami sampaikan pula bahwasannya pada hari Akhir nanti
matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala sehingga bercucuran keringat
mereka sehingga sebagian mereka akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka
sendiri, akan tetapi hal itu tergantung dari apa yang telah mereka perbuat di
dunia.
Imam Muslim meriwayatkan
dalam hadits yang shahih nomor 2864 dari hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad
Radhiallaahu anhu , berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تُدْنَى
الشَّمْسُ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
مِنَ
الْخَلْقِ
حَتَّى
تَكُوْنَ
مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ
مِيْلٍ،
فَيَكُوْنُ
النَّاُس عَلَى
قَدْرِ
أَعْمَالِهِمْ
فِي الْعَرَقِ،
فَمِنْهُمْ
مَنْ
يَكُوْنُ
إِلَى كَعْبَيْهِ،
وَمِنْهُمْ
مَنْ
يَكُوْنُ
إِلَى رُكْبَتَيْهِ،
وَمِنْهُمْ
مَنْ
يَكُوْنُ
إِلَى
حَقْوَيْهِ،
وَمِنْهُمْ
مَنْ
يُلْجِمُهُ
الْعَرَقُ
إِلْجَامًا.
وَأَشَارَ
رَسُوْلُ
اللهِ بِيَدِهِ
إِلَى فِيْهِ.
“Matahari akan didekatkan pada
hari Kiamat kepada para makhluk sampai-sampai jarak matahari di atas kepala mereka
hanya satu mil, maka manusia mengeluarkan keringat tergantung amalan-amalan
mereka. Di antara mereka ada yang mengeluarkan keringat sampai mata kakinya dan
ada yang sampai lututnya, ada juga yang sampai pinggangnya dan ada yang
ditenggelamkan oleh keringat mereka.” Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberi isyarat dengan
tangannya ke mulutnya.
Dan seandainya ada yang
bertanya “bagaimana itu bisa terjadi sedangkan mereka berada pada tempat yang
satu?” Maka Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullaah menjawab pertanyaan tersebut
sebagai berikut: “Ada sebuah kaidah yang hendaknya kita berpegang kepada kaidah
itu, yaitu bahwa perkara ghaib, wajib bagi kita untuk mengimaninya dan
membenarkannya tanpa menanyakan bagaimananya, karena perkara tersebut berada
diluar jangkauan akal-akal kita, kita tidak mampu mengetahui dan
meng-gambarkannya.
Demikianlah sebagian peristiwa di hari Akhir dan masih banyak lagi peristiwa
yang akan kita alami yang hal itu akan menggetarkan hati bagi orang-orang
Mukmin dan menjadikan mereka semakin takut kepada Allah.