Penyimpangan Pemikiran, Kesesatan Dan
Perpecahan
Alsofwah, Oleh: Adni Kurniawan
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِيْ
النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Saudara-saudaraku,
sidang Jum’at rahimani wa rahimakumullah
Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan takutlah terhadap hari
perjumpaan denganNya yang akan tiba, sesung-guhnya taqwa adalah sebaik-baik
bekal tatkala menghadapNya.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah:
197).
Ma'asyirol
Muslimin rahimakumullah.
Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memerintahkan kepada kaum
muslimin agar tidak berpecah belah, dan bersatu padu sebagaimana FirmanNya:
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ
اللَّهِ
جَمِيعًا
وَلَا
تَفَرَّقُوا
Dan berpeganglah kamu
sekalian pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran:
103)
Dan tentulah persatuan kaum muslimin adalah di atas al-haq (kebenaran), yaitu
Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyah As- Shahihah, menurut pemahaman para
sahabat generasi pertama dan terbaik dari ummat Muhammad Shalallaahu alaihi
wasalam di atas inilah kaum muslimin diwajibkan menyatukan langkah, merapikan
barisan, dan mengem-balikan segala perselisihan. Allah berfirman:
فَإِنْ
تَنَازَعْتُمْ
فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى
اللَّهِ
وَالرَّسُولِ
Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kem-balikanlah ia kepada
Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya). (An-Nisa’: 59).
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ
مِنْكُمْ فَسَيَرَى
اخْتِلاَفًا
كَثِيْرًا،
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِيْ
وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الْمَهْدِيِّيْنَ.
Barangsiapa
yang hidup (lama) di antara kamu niscaya dia akan melihat perselisihan yang
banyak, karena itu, berpegang teguhlah pada Sunnahku dan sunnah khulafa’ur
rasyidi yang (mereka itu) mendapat petunjuk. (HR. Nasa’i dan At Tirmidzi, ia
berkata hadist hasan shahih)
Hadist di atas menjelaskan bahwa, ummat Islam akan ber-selisih, hingga timbul
perpecahan dikalangan kaum muslimin. Serta menjelaskan jalan keluar dari
perselisihan, jalan menuju persatuan, yaitu dengan berpegang teguh pada jalan
Rasulullah n dan para sahabatnya. Hanya inilah jalan keselamatan bagi kaum
muslimin di dunia dan akhirat kelak. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
وَإِنَّ
هَذِهِ
الْمِلَّةَ
سَتَفْتَرِقُ
عَلَى
ثَلاَثٍ
وَسَبْعِيْنَ:
ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ
فِي النَّارِ
وَوَاحِدَةٌ
فِي الْجَنَّةِ،
وَهِيَ
الْجَمَاعَةُ.
Dan
sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, 72 di
Neraka, dan satu di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah. (HR. Ahmad dan selainnya.
Al-Hafidz menggolong-kannya sebagai hadist hasan)
كُلُّهُمْ
فِي النَّارِ
إِلاَّ
مِلَّةً وَاحِدَةً،
مَا أَنَا
عَلَيْهِ
وَأَصْحَابِيْ.
Semua
golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu), apa-apa yang aku
dan para sahabatku berada di atasnya. (HR. At-Tirmidzi, dan di hasankan oleh
Al-Albaniy dalam Shahihul Jami’ 5219)
Perlisihan, perpecahan, dan munculnya berbagai macam kesesatan dan
penyimpangan, sebagian besar awal mulanya timbul dari kekeliruan dalam
penggunaan akal pikiran, dari tujuan penciptaannya. Hal ini terdiri dari dua
macam, pertama, yaitu sikap terlampau bebas dalam menggunakan akal untuk
menghukumi permasalahan-permasalahan dien dengan mengabaikan nash (Al-Qur’an dan
As-Sunnah As-Shahihah), dan yang kedua, yaitu membunuh akal pikiran dalam
memahami nash, sehingga timbul sikap taqlid (ikut-ikutan) dalam dien Islam dan
fanatisme golongan (ta’ashub). Namun dalam kesempatan kali ini hanya
penyimpangan jenis pertama yang akan dibahas.
Sidang Jum’at rahimakumullahu ...
Syari’at Islam telah memuliakan akal, bukankah Islam telah mengharamkan khamr,
sebagai sarana perusak akal, juga dengan tidak adanya pembebanan syari’at pada
orang yang kurang waras, demikian pula terhadap anak kecil, dikarenakan belum
sempurna-nya akal pikiran, serta tidak dihisab perbuatan orang yang tidak sadar
atau lupa. Bahkan mujtahid yang berijtihad kemudian salah ia mendapat suatu
ganjaran, dan dimaafkan kesalahannya.
Akal pikiran adalah anugrah yang tak ternilai yang juga merupakan amanah dari
Allah agar manusia merenungi ayat-ayatNya, baik yang tertuang kedalam kitabNya,
agar mereka memahaminya untuk kemudian tunduk-patuh dan mengerjakan apa yang
diperintahkan, maupun yang terbentang luas di hamparan semesta, agar mereka
merasakan kebesaran dan kekuasaan penciptanya, serta mengambil hikmah dan
pelajaran yang teramat banyak dari keduanya.
Namun banyak dari manusia telah mendurhakai Rabb mereka, dengan melanggar
amanah. Akal pikiran yang seharusnya digunakan untuk memahami perkataan Allah
dan RasulNya untuk kemudian mematuhinya, telah dipergunakan untuk menentang
keduanya, atau mencari jalan agar dapat lari dari perintah yang dibebankan di
atas pundak-pundak mereka. Keadaan menjadi berbalik, bukan lagi Al-Qur’an dan
As-Sunnah As Shahihah yang menghakimi akal, tetapi pemikiran manusialah sebagai
hakimnya, ia menjadi pemutus antara yang haq dan yang batil juga pembatal
syari’at.
Lahirlah aqlaniyyun! Mereka yang memuja akal pikiran mereka, di atas syari’at
yang telah digariskan Allah dan RasulNya. Mereka hidup dalam daerah, masa, dan
bahasa yang berbeda, dengan pemikiran yang beraneka, namun mereka sepakat dalam
satu ide, yang mereka hiasi dengan perkataan yang indah, yang mereka tampakkan
atau yang disiratkan, yaitu: Apabila ada nash (Al-Qur’an dan As Sunnah)
bertentangan dengan akal, maka dahulukanlah akal, atau palingkanlah ia sampai
sesuai dengan akal.! Nau’udzu billahi min dzalik.
Inilah pangkal perpecahan dan kesesatan umat Islam menjadi golongan-golongan,
dari akal yang menyimpang, lagi ditunggangi hawa nafsu, tidak mau mengikuti
Al-Qur’an dan As-Sunnah As-Shahihah dengan pemahaman yang benar. Masing-masing
kelompok datang dengan ide-ide dan kemauannya masing-masing. Sehingga
luluh-lanta dan berkepinglah umat ini dari jalan yang lurus. Dan besarnya
penyimpangan suatu kelompok (firqah) adalah dari seberapa banyak penyimpangan
pemikirannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah As Shahihah secara menyeluruh.
Sidang
Jum’at rahimakumullah ...
Seandainya akal pikiran manusia mampu untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan
kepada cahaya, dan menuntun mereka ke Surga dan ridlaNya, tentulah Allah tidak
perlu mengutus para rasul Shalallaahu alaihi wasalam dan menurunkan kitabNya
bersama mereka.
Akal hanyalah bagian dari anggota tubuh manusia yang memiliki kemampuan sangat
terbatas, sebagaimana anggota tubuh manusia lainnya . Mata manusia, contohnya,
tidak mungkin mampu untuk melihat wujud benda- benda teramat kecil atau teramat
jauh, demikian pula akal manusia tidak mungkin sanggup memikirkan hal-hal yang
di luar jangkauan kemampuannya. Dan suatu pemi-kiran pada asalnya adalah
pengolahan dari data-data yang diterima indra manusia yang kemampuannya
terbatas, seperti mata, telinga, dan kulit. Bahkan kemampuan akal untuk
mengolah data juga terbatas. Dengan demikian, tentulah pemikiran yang merupakan
hasil dari keseluruhan proses tadi juga terbatas, oleh ruang waktu. Sehingga
bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas dipakai untuk menolak Al-Qu’an dan
Sunnah As-shahihah yang berdasar dari ilmu Allah yang tidak terbatas oleh ruang
dan waktu?. Alangkah dzalimnya dan bodohnya manusia yang seperti ini!.
Seandainya akal pikiran yang menjadi patokan kebenaran maka tentu akan timbul
perselisihan tanpa akhir dari umat ini. Sebagaimana telah dijelaskan. Tidak
akan terwujud persatuan, sedangkan Islam memerintahkan umatnya agar bersatu
padu.
Dengan demikian, akal pikiran hanyalah untuk memahami, dan mencari hikmah
perkataan Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam ,
jika ia mampu maka akan menemukannya, dan bukan sebagai penentang, jika
ternyata tidak mendapatkan hikmah atau tujuan-nya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala telah menantang kemampuan akal pikiran manusia,
untuk membuat satu
وَإِنْ
كُنْتُمْ فِي
رَيْبٍ
مِمَّا نَزَّلْنَا
عَلَى
عَبْدِنَا
فَأْتُوا
بِسُورَةٍ
مِنْ
مِثْلِهِ
وَادْعُوا
شُهَدَاءَكُمْ
مِنْ دُونِ
اللَّهِ إِنْ
كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
Dan jika kamu (tetap)
dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami
(Muhammad), buatkanlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS.
Al-Baqarah: 23)
Juga sebagai bukti kebenaran perkataan Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya
Shalallaahu alaihi wasalam , adalah kesesuaian berita yang ada di dalamnya
dengan keadaan dunia setelahnya, dan juga dengan ilmu pengetahuan modern,
Subhanallah. Islam telah mengajarkan pengetahuan modern tatkala dunia masih
kuno dan terbelakang. Dan banyak sekali buku yang membahas kesesuaian agama Islam
dengan sains modern, di antaranya adalah buku Al-Qur’an, Bibel dan Sains modern
yang ditulis oleh Dr. Maurice Bukaille, yang kemudian beliau masuk Islam karena
keindahan ajarannya, dan tingkat keilmiahannya yang teramat tinggi dan tidak
mungkin dimiliki melainkan oleh dien yang benar. Mudah-mudahan cukup sebagai
peringatan dan pelajaran Wallahu Ta’ala a’lam bis-shawab.
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ،
أَقُولُ قَوْ
لِي هَذَا
وَاسْتَغْفِرُوا
اللهَ اِنَّهُ
هُوَ
الْغَفُورُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
الله
وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمْ
تَسْلِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛
Hadirin
sidang Jum’at rahimakumullah
Demikianlah, sesungguhnya di negeri-negeri kaum mus-limin telah tersebar
musuh-musuh sunnah, sejak dahulu sampai saat ini, mereka berhukum dengan akal
dan menolak nash, baik banyak maupun sedikit. Berhati-hatilah dari mereka dan
tipuan yang mereka hiasai dengan perkataan yang indah dan memukau!
Mereka faham teori-teori buatan manusia bahkan yang dibuat oleh orang-orang
kafir, berupa filsafat dan semisalnya, namun mereka jahil (bodoh) terhadap
Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena tidak mendalaminya. Mereka sesat dan
menyesatkan! Maka kem-balilah! Kepada para ulama yang melangkah di atas
petunjuk, yang menunjuki jalan ummat dengan cahaya dari Allah dan RasulNya
serta meniti jejak langkah salafus shaleh (para sahabat). Semoga Allah
Subhannahu wa Ta'ala senantiasa membimbing langkah-langkah kita di atas
jalanNya yang lurus, yang ditempuh oleh NabiNya Shalallaahu alaihi wasalam dan
para sahabatnya yang mendapatkan ridhaNya...
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانَا
صَغِيْرًا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.