Menjaga Diri Dan Keluarga dari Api Neraka
Alsofwah. Oleh:
Agus Hasan Bashori Lc
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيْئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ أَنَّ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَآ أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آَمَنُو
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَا تِهِ
وَلاَ تَمُو
تُنَّ إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ.
يَآ أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مَنْ نَفْسِ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءَ،
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَاءَ
لُونَ بِهِ
وَالأرْحَامِ,
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَآ أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آَمَنُوا
اتَّقُواْ
اللهَ
وَقُولُواْ
قَوْلاً
سَدِيْدَا,
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُو
بَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمَا.
أَمَّابَعْدُ:
فَإِنْ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ,
وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُخَدَثَا
تُهَا وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ
فِى النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحِسَانِ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Saudara-saudara
seiman rahimakumullah.
Marilah kita selalu mengulangi ucapan rasa syukur kepada Allah karena
nikmat-nikmat-Nya yang telah tercurahkan kepada kita semua sehingga kesehatan
jasmani dan rohani masih menghiasi kita. Semoga rasa syukur yang kita panjatkan
ini, menjadi kunci lebih terbukanya pintu-pintu karunia-Nya. Allah Subhannahu
wa Ta'ala berfirman:
وَإِذْ
تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ
وَلَئِنْ
كَفَرْتُمْ
إِنَّ
عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, maka akan Kami tambahkan bagimu dan jika kamu
mengingkarinya, sesungguhnya siksaanKu itu sangat pedih”. (Ibrahim: 7)
Kami peringatkan juga para jamaah dan diri ini agar senantiasa menjaga
ketaqwaan, agar mengakar kuat dan kokoh di lubuk hati yang paling dalam. Sebab
itulah modal yang hakiki untuk menyongsong kehidupan abadi, agar hari-hari kita
nanti bahagia.
Ikhwani
fiddin rahimakumullah.
Seorang muslim seyogyanya menjadikan kampung akhirat sebagai target utama yang
harus diraih. Tidak meletakkan dunia dan gemerlapannya di lubuk hatinya, namun
hanya berada di genggaman tangannya saja, sebagai batu loncatan untuk mencapai
nikmat Jannah yang langgeng. Jadi, jangan sampai kita hanya duduk-duduk santai
saja menanti perjalanan waktu, apalagi tertipu oleh ilusi dunia.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
اعْلَمُوا
أَنَّمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
لَعِبٌ وَلَهْوٌ
وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرٌ
بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ
فِي
الْأَمْوَالِ
وَالْأَوْلَادِ
كَمَثَلِ
غَيْثٍ
أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ
نَبَاتُهُ
ثُمَّ
يَهِيجُ
فَتَرَاهُ
مُصْفَرًّا
ثُمَّ
يَكُونُ
حُطَامًا
وَفِي
الْآخِرَةِ
عَذَابٌ شَدِيدٌ
وَمَغْفِرَةٌ
مِنَ اللَّهِ
وَرِضْوَانٌ
وَمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
إِلَّا
مَتَاعُ
الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwasanya kehidupan dunia hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan akhirat (nanti) ada adzab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu”.(Al-Hadid: 20)
Ibnu Katsir
berkata (dengan ringkas): “Allah Subhannahu wa Ta'ala membuat permisalan dunia
sebagai keindahan yang fana dan nikmat yang akan sirna. Yaitu seperti tanaman
yang tersiram hujan setelah kemarau panjang, sehingga tumbuhlah tanaman-tanaman
yang menakjubkan para petani, seperti ketakjuban orang kafir terhadap dunia,
namun tidak lama kemudian tanaman-tanaman tersebut menguning, dan akhirnya
kering dan hancur”.
Misal ini mengisyaratkan bahwa dunia akan hancur dan akhirat akan
menggantikannya, lalu Allah pun memperingatkan tentangnya dan menganjurkan
untuk berbuat baik. Di akhirat, hanya ada dua pilihan: tempat yang penuh dengan
adzab pedih dan hunian yang sarat ampunan dan keridhaan Allah bagi hamba-Nya.
Ayat ini diakhiri dengan penegasan tentang hakikat dunia yang akan menipu orang
yang terkesan dan takjub padanya.
Topik utama kita kali ini menekankan pentingnya pendidikan anak yang termasuk
salah satu unsur keluarga, agar dia selamat dunia dan akhirat. Anak bagi orang
tua merupakan buah perkawinan yang menyenangkan. Dibalik itu, anak adalah
amanat yang dibebankan atas orang tua. Tidak boleh disia-siakan dan di
sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik kondisi titipan agar
tidak rusak. Sebab orang tua kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
كُلُّكُمْ
رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ
مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap
kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya”.(Hadits
shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar)
Anak
terlahir dalam keadaan fitrah. Kewajiban orang tua merawatnya agar tidak
menyimpang dari jalan yang lurus, dan selamat dari api neraka. Selain itu, anak
yang shalih akan menjadi modal investasi bagi kedua orang tuanya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا
وَقُودُهَا
النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ
غِلَاظٌ
شِدَادٌ لَا
يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا
أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat yang
kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(At-Tahrim: 6)
Ali Radhiallaahu anhu berkata dalam menafsiri ayat ini: “Didik dan ajarilah
mereka”. Adh-Dhahak dan Muqatil berujar: “Wajib atas seorang Muslim untuk
mendidik keluarganya seperti kerabat, budak perempuan dan budak laki-lakinya
tentang perintah dan larangan Allah”.
Hadirin
jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Maka, mulai sekarang hendaknya para orang tua sadar terhadap kewajiban mereka
untuk mendidik anak-anak mereka agar menjadi hamba Allah yang taat. Memilihkan
pendidikan anak yang kondusif untuk perkembangan iman dan otaknya. Bukannya
membiarkan anak-anak mereka begitu saja tanpa pengawasan terhadap bacaan yang
mereka gemari, apa saja yang suka mereka saksikan dan aktivitas yang mereka
gandrungi. Kelalaian dalam hal ini, berarti penyia-nyiaan terhadap amanat
Allah.
Ingatlah
akibat yang akan menimpa kita dan keluarga kita yang tersia-siakan pendidikan
agamanya! Nerakalah balasan yang pantas bagi orang-orang yang melalaikan
kewajibannya. Termasuk anak kita yang malang.!!!
Sesungguhnya neraka itu terlalu dalam dasarnya untuk diukur, tiada daya dan
upaya bagi mereka untuk meloloskan diri dari siksanya. Kehinaan dan
kerendahanlah yang selalu menghiasi roman muka mereka. Keadaan seperti ini tak
akan kunjung putus, jika tidak ada sedikitpun iman dalam dada mereka. Alangkah
besarnya kerugian mereka. Begitu banyak penderitaan yang harus mereka pikul.
Inilah kerugian nyata dan hakiki, ketika orang tercampakkan ke dalam lubang
neraka Jahanam.
Untuk
menegaskan tentang kedahsyatan siksa neraka, kami kutip firman Allah Subhannahu
wa Ta'ala :
كُلَّمَا
نَضِجَتْ
جُلُودُهُمْ
بَدَّلْنَاهُمْ
جُلُودًا
غَيْرَهَا
لِيَذُوقُوا
الْعَذَابَ
“Setiap kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain
supaya mereka merasakan adzab”. (An-Nisaa’: 56).
Dan juga sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang menunjukkan tentang
siksaan neraka yang paling ringan, yaitu siksa yang ditimpakan atas Abu Thalib
yang artinya:
Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda:
“Penduduk neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib. Dia memakai 2
terompah dari api neraka (yang berakibat) otaknya mendidih karenanya”. (HR.
Muttafaqun ‘Alaih).
Dengan penjelasan di atas, kita sudah sedikit banyak paham tentang tempat
kembalinya orang yang mendurhakai Allah.
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
أَقُوْلُ قَوْلِي
هَذَا
وَاسْتَغْفِرُا
اللهَ اِنَّهُ
هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّخِيْمَ.
Khutbah Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهَ
وَسَلَّمْ
تَسْلِمًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
Dari mimbar
ini kami ingatkan kembali, marilah kita mulai dengan memberikan perhatian yang
besar terhadap Tarbiyatul Aulad, yaitu proses pendidikan anak kita.
Al-Qur’an telah mengulas tentang sejarah seorang ayah yang mendidik anaknya
untuk mengenal kebaikan. Itulah Luqman, yang dimuliakan Allah Subhannahu wa
Ta'ala dengan pencantuman perkataannya ketika mendidik keturunannya dalam
Al-Qur’an. Secara luas itu termaktub dalam surat (QS. Luqman 12-19).
Dalam
surat tersebut, Luqman memulai mengajari anaknya dengan penanaman kalimat
tauhid yang hakikatnya memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja, dilanjutkan
dengan kewajiban berbakti dan taat kepada orang tua selama tidak menyalahi
syariat. Wasiat berikutnya adalah berkaitan dengan penyemaian keyakinan tentang
hari pembalasan, penjelasan kewajiban menegakkan shalat. Setelah itu amar
ma’ruf dan nahi mungkar yang berperan sebagai faktor penting untuk memperbaiki
umat, tak lupa beliau singgung, beserta sikap sabar dalam pelaksanaannya.
Berikutnya beliau mengalihkan perhatiannya menuju adab-adab keseharian yang
tinggi. Di antaranya larangan memalingkan wajah ketika berkomunikasi dengan
orang lain, sebab ini berindikasi jelek, yaitu cerminan sikap takabur. Beliau
juga melarang anaknya berjalan dengan congkak dan sewenang-wenang di muka bumi
sebab Allah Ta'ala tidak menyukai orang-orang yang sombong. Beliau juga
mengarahkan anaknya untuk berjalan dengan sedang tidak terlalu lambat ataupun
terlalu cepat. Sedang nasehat yang terakhir berkaitan erat dengan perintah
untuk merendahkan suara, tidak berlebih-lebihan dalam berbicara.
Demikianlah wasiat Luqman terhadap anaknya, yang sarat dengan mutiara yang
sangat agung dan berfaedah bagi buah hatinya untuk meniti jalan kehidupan yang
dipenuhi duri, agar bisa sampai ke akhirat dengan selamat.Cukuplah kiranya
kisah tadi sebagai suri tauladan bagi para pemimpin keluarga. Memenuhi
kebutuhan sandang dan pangan yang memang penting. Namun ingat, kebutuhan
seorang anak terhadap ilmu dan pengetahuan lebih urgen (mendesak).
Jamaah
Jum’at yang berbahagia.
Orang tua wajib memenuhi kebutuhan ruhani sang anak, jangan sampai gersang dari
pancaran ilmu dien. Perkara ini jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan
kebutuhan jasmani karena berhubungan erat dengan keselamatannya di dunia dan
akhirat. Hal itu dapat terealisir dengan pendidikan yang berkesinambungan di
dalam maupun di luar rumah. Masalahnya, model pendidikan yang ada saat ini
hanya menelorkan generasi-generasi yang materialistis, gila dunia. Karena itu
kita harus menengok dan menggali metode-metode pendidikan yang dipakai Salafus
Shalih yang ternyata telah terbukti dengan membuahkan insan-insan yang cemerlang
bagi umat ini.!
إِنَّ
اللهَ
وَمَلآَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِي يَآ
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ آَمَنُواْ
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمَا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُونَا
بِالإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ لِلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَآ
إِنَّكَ رَءُوفُ
رَّحِيْمٌ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدِيْنَا
وَاْرحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا.
رَبَّنَآ ءَاتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.