Menghadapi Kenakalan Anak Dalam Rumahtangga
Alsofwah.
Oleh: Nafisah Amron
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا. يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
Hadirin
jamaah jum’ah yang dirahmati Allah. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad
Shallallaahu alaihi wa Salam guna menyempurnakan keutamaan Akhlak.
Termasuk
dalam urusan penyempurnaan akhlak adalah memberi perlakuan yang baik kepada
anak, seperti mendidik, berlaku sabar dalam menghadapi kenakalannya maupun
sabar dalam memberi bimbingan sejak masih dalam kandungan sampai mereka dewasa.
Selama ini sebagian orang tua bersikap reaksioner atas semua tindakan anak,
mereka memandang anak sebagai orang dewasa dalam bentuk mini dan semua semua
yang dilakukan harus sesuai dengan kelakuan orang tua. Maka jika anak nakal yang
dilakukan oleh orang tua biasanya adalah mengurung, mengajar, mengisolasi dari
pergaulan, mengurangi uang saku dan sebagainya. Mengapa orang tua tidak
bertanya kepada diri sendiri ada apa dengan anak saya, apa yang kurang dari
diri saya. Tidak mengherankan jika sekarang orang tua banyak yang mengeluh
karena anaknya terlibat dan akrab dengan narkoba, diskotik, minum-minuman keras
serta pergaulan bebas. Orang tua selama ini hanya mampu memberikan ruang dan
memenuhi kebutuhan fisiknya sedangkan kebutuhan psikisnya terabaikan. Bagaimana
tidak terabaikan jika mereka hanya dirawat dan dididik oleh pembantu yang
kurang pendidikannya sekalipun ayah ibunya seorang doktor. Bukankah sayang jika
permata hati kita nantinya hanya generasi yang penuh dengan daging tambun sedangkan
hatinya keropos dari nilai-nilai dan ruh agama maupun ilahiyah. Padahal anak
sesuai dengan fitrahnya merupakan amanat Allah yang harus dijaga, dipelihara,
dan dirawat dengan kesabaran disertai dengan tawakkal untuk tetap berdo’a
semoga diberi anak-anak yang shalih, bukan cuma cerdas dan berprestasi di
sekolah semata akan tetapi mampu menjadi qurratu a’yun di masa depan.
Sesuai
dengan firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 74:
وَالَّذِينَ
يَقُولُونَ
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan
kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan anak-anak yang jadi permata hati dan
jadikanlah kami pemimpin yang bertaqwa”.
Hadirin jamaah
Jum’ah yang berbahagia.
Tidak mengherankan jika Allah selalu berpesan bahwa anak-anak adalah perhiasan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam adalah sebaik-baik contoh dalam
memperlakukan anak. Bagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak
cucu-cucunya bermain, mengajarkan cinta kepada anak-anak kepada para
sahabatnya.
Diriwayatkan
oleh Abu Hurairah ia berkata: “Pernah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
menciumi Hasan putra Ali dimana pada saat itu ada Aqra’ Ibnu Habis Attamimy duduk.
Dia lalu berkata, “Saya mempunyai sepuluh orang anak tidak pernah satupun dari
mereka saya cium”. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam melihat kepadanya
dan berkata:
مَنْ لاَ
يَرْحَمُ لاَ
يُرْحَمُ.
“Siapa yang tidak merahmati tidak
dirahmati (oleh Allah)” (HR. Al-Bukhari dan muslim).
Mencium
anak-anak merupakan salah satu wujud kasih sayang orang tua kepada anak
sekaligus merupakan contoh riil agar anak tidak mencium kepada orang lain yang
bukan mahramnya. Pengalaman orang tua sering mencium anaknya sampai mereka
dewasa tidak akan menjadikan anak-anak mencium orang lain apalagi sampai
berbuat zina karena mereka sendiri telah merasa kecukupan dengan kasih sayang
dari orang tua insya Allah mereka akan menjadikan anak-anak yang diharapkan.
Apa yang sudah
dicontohkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menegaskan bahwa:
1. Wajib bagi orang tua
menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya.
2. Kewajiban tersebut wajar karena
Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anak-anaknya. Jadi yang pertama
hukumnya wajib, kedua karena orang tua senang mendidik anak-anaknya. Inilah
modal utama bagi pendidikan dalam keluarga itu dilaksanakan dan apa tujuannya,
serta kapan mulainya.
Cinta kepada
anak seringkali menyebabkan orang tua membanggakan anaknya. Mereka sering
dengan semangat meluap-luap menceritakan anaknya kepada tamunya atau
kawan-kawannya. Terutama mengenai kecerdasannya, kelucuannya, kepintarannya,
keberaniannya dan kegemasannya. Kadang-kadang cerita ini menjemukan orang yang
mendengarkannya. Sebaliknya tak ada orang yang ingin menceritakan kepada
tamunya bahwa anaknya bodoh, nakal, penakut dan sebagainya.
Anak sering
pula menyebabkan orang tua lupa kepada Allah dan RasulNya. Saking sibuknya
mengurus anak-anaknya, mereka bekerja mati-matian mencari uang agar semua
permintaan anaknya dapat terpenuhi. Kadang-kadang permintaan yang tidak masuk
akalpun dipenuhi, demi cintanya kepada anak. Sayang anak tidak jarang
menyebabkan orang tua korupsi dan mencuri.
Kadang-kadang karena merasa anak-anaknya kuat, cerdas, juara kelas, pemberani,
maka orang tua merasa hidupnya akan aman. Oleh karena itu mereka mulai
meninggalkan Tuhan. Seringkali orang tua membela anaknya yang berbuat salah
sampai orang tua lupa bahwa membela yang salah adalah pelanggaran aturan Allah.
Orang tua
dapat juga menjadi budak anaknya, dikala ia merasa wajib memenuhi segala
keinginan anaknya. Kewibawaan orang tua telah hilang, karena ia kalah dan
dibentuk oleh anaknya karena terlambat atau tidak mampu memenuhi permintaan
anaknya. Seperti tidak berani membangunkan anaknya untuk shalat Subuh karena
takut anaknya kaget atau marah.Ayat Al-Qur’an berikut dapat menjadi renungan
untuk kita seperti yang tertera dalam Surat Saba’ ayat 37:
وَمَا
أَمْوَالُكُمْ
وَلَا
أَوْلَادُكُمْ
بِالَّتِي
تُقَرِّبُكُمْ
عِنْدَنَا
زُلْفَى
إِلَّا مَنْ
آمَنَ وَعَمِلَ
صَالِحًا
فَأُولَئِكَ
لَهُمْ جَزَاءُ
الضِّعْفِ
بِمَا
عَمِلُوا
وَهُمْ فِي
الْغُرُفَاتِ
آمِنُونَ
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan
(pula) anak-anak kamu yang mendekatkan diri kalian kepada Kami sedikit pun,
tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih.”
Hadirin
jamaah Jum’ah yang di berkati Allah.
Berdasarkan ayat tadi bagi orang tua mendidik anak adalah kewajaran, karena
kodratnya; selain itu karena cinta. Mengingat uraian di atas, maka secara
sederhana tujuan pendidikan anak di dalam keluarga ialah agar anak itu menjadi
anak yang shalih. Anak seperti itulah yang patut dibanggakan. Tujuan lain
adalah sebaliknya, yaitu agar anak itu kelak tidak menjadi musuh bagi orang
tuanya.
Anak yang
saleh dapat mengangkat nama baik orang tuanya, karena anak adalah dekorasi
keluarga dan mendo’akan orang tuanya kelak. Bila tidak mendo’akan orang tua,
keshalihannya telah cukup merupakan bukti amal baik bagi orang tuanya.
Pada suatu
waktu orang tua amat susah karena anaknya nakal. Orang tua yang menduduki
posisi terhormat dimasyarakat akan jatuh wibawanya karena anaknya yang nakal.
Seorang pemimpin masyarakat bila anaknya terlibat kenakalan khas remaja masa
kini, misalnya terlibat masalah jual beli obat-obatan terlarang akan jatuh
martabatnya dimata masyarakat. Bahkan mungkin saja orang tua akan dipecat dari
jabatannya hanya karena kenakalan anaknya.
Kapankah
sebaiknya kita mulai mendidik anak? Jawabannya tidak lain adalah semenjak masih
dalam masa konsepsi. Bahkan dalam Islam dimulai semenjak memilih pasangan
hidup, kemudian saat hamil, saat lahir, saat anak-anak sampai dewasa.
Mengenalkan mereka dengan asma-asma Allah, tentang tauhid, tentang akhlaq dan
sebagainya.
Lalu
bagaimana jika cara tersebut sudah dilaksanakan dan anak-anak tetap saja nakal?
Sabar, tawakkal dalam menghadapinya adalah obat terbaik sambil tetap berdo’a
memohon kepada Allah agar kenakalannya tidak membawa madlarat bagi dirinya
sendiri, orang tuanya dan masyarakatnya.
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِجَمِيْعِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ.
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغفر
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ
الْخَيْرِ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ
وَأَرْخِصْ
أَسْعَارَهُمْ
وَآمِنْهُمْ
فِيْ أَوْطَانِهِمْ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ.