MENGAPA HARUS BERILMU?
Rabu, 24
Februari 10 Oleh:
Zuhdi Amin, Lc.
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بلله مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ الله
فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Ma'asyiral Muslimin A'azzakumullah
Hidup
ini bukanlah semata-mata mementingkan urusan dunia, karena bagaimanapun juga,
urusan akhirat itu lebih penting dan harus didahulukan. Karena kehidupan dunia
itu terbatas oleh usia dan waktu, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang tidak
terbatas dan abadi selama-lamanya.
Dari
Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam
bersabda :
أَعْمَارُ
أُمَّتِيْ
مَا بَيْنَ
السِّتِّيْنَ
إِلَى
السَّبْعِيْنَ
وَأَقَلُّهُمْ
مَنْ
يَجُوْزُ
ذلِكَ.
"Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit dari mereka yang melebihinya." (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan al-Albani berkata, "Hasan Shahih").
Inilah
standar jatah hidup kita di dunia, meski ada di antara manusia yang berumur
lebih dari itu, namun jumlah mereka sangatlah sedikit. Intinya adalah, bahwa
seberapa pun panjangnya umur manusia, pada saatnya nanti pasti akan kembali
kepada Rabbnya.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
كُلُّ
نَفْسٍ
ذَآئِقَةُ
الْمَوْتِ
وَإِنَّمَا
تُوَفَّوْنَ
أُجُورَكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَمَنْ
زُحْزِحَ
عَنِ
النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ
فَقَدْ فَازَ
وَمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
إِلاَّ
مَتَاعُ الْغُرُور
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya ia akan beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran: 185).
Benar, kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan lagi sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kesenangan hakiki yang kekal abadi :
وَاْلأَخِرَةُ
خَيْرٌوَأَبْقَى
"Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A’la: 17).
Semua
amal perbuatan kita selama di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya, karena
amal tersebut merupakan tabungan akhirat.
Ali radiyallahu 'anhu berkata :
اِرْتَحَلَتِ
الدُّنْيَا
مُدْبِرَةً،
وَارْتَحَلَتِ
الْآخِرَةُ
مُقْبِلَةً،
وَلِكُلِّ
وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا
بَنُوْنَ،
فَكُوْنُوْا
مِنْ أَبْنَاءِ
الْآخِرَةِ،
وَلَا
تَكُوْنُوْا
مِنْ
أَبْنَاءِ
الدُّنْيَا،
فَإِنَّ
الْيَوْمَ
عَمَلٌ وَلَا
حِسَابٌ،
وَغَدًا
حِسَابٌ وَلاَ
عَمَلٌ.
"Dunia pergi berlalu, akhirat
datang menjelang, dan setiap dari keduanya memiliki anak-anak. Jadilah kalian
termasuk anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena
sesungguhnya hari ini hanya ada amal perbuatan dan tidak ada hisab
(perhitungan), sedangkan esok hanya ada hisab dan tidak ada amal
perbuatan." (Diriwayatkan
oleh al-Bukhari secara mu'allaq).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Setelah
mengetahui hakikat ini, hendaknya kita kembali kepada awal keyakinan kita akan
tujuan hidup yang sebenarnya, tujuan diciptakannya jin dan manusia, yakni
sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata'ala dalam FirmanNya
:
وَمَاخَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَاْلإِنسَ
إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56).
Benar,
inilah tujuan kita hidup di dunia, yaitu menyembah, beribadah dan mengabdi
kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Dan inti dari sikap penghambaan kita kepada
Allah Subhanahu Wata'ala adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala laranganNya.
Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah
Kita
tentunya memahami bahwa perintah Allah Subhanahu Wata'ala sangatlah banyak
sekali, sebagaimana laranganNya pun begitu banyak. Dan tidaklah Allah
memerintahkan kita kepada sesuatu melainkan karena ada kemaslahatan bagi kita
padanya, sebagaimana Dia tidak melarang kita dari sesuatu, kecuali karena ada
kemudaratan padanya. Oleh sebab itu, mengetahui perintah dan larangan adalah
suatu keniscayaan, sehingga kita bisa meraih segala kemaslahatan karena
menunaikan perintahNya dan kita dapat menghindari segala kemudaratan dengan
menjauhi laranganNya. Dan semua itu tidak akan tercapai kecuali dengan menuntut
ilmu. Dengan ilmu, seseorang bisa membedakan mana perintah sehingga ia bisa
melaksanakannya, dan mana yang merupakan larangan sehingga ia dapat
menjauhinya. Maka tidaklah mungkin bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang
taat apabila kita bodoh akan syariat. Bagaimana mungkin kita dapat menggapai
surga sedangkan kita tidak tahu bagaimana caranya. Untuk itulah kemudian Allah
Subhanahu Wata'ala dan RasulNya Sallallahu 'Alahi Wasallam mewajibkan kita
untuk menuntut ilmu. Dalam salah satu hadits shahih, Rasulullah Sallallahu
'Alahi Wasallam pernah bersabda :
طَلَبُ
الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
"Menuntut
ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah, no. 224).
Bahkan
lebih dari itu, ilmu adalah kebutuhan kita sebagai jalan menuju surga.
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :
مَنْ سَلَكَ
طَرِيْقًا
يَلْتَمِسُ
فِيْهِ عِلْمًا
سَهَّلَ الله لَهُ
بِهِ
طَرِيْقًا
إِلَى
الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang menempuh
jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju
surga." (HR.
Muslim, no. 2699).
Kaum Muslimin Hafizhakumullah
Sungguh
teramat beruntung orang yang memiliki ilmu yang luas, sehingga ia mampu berbuat
lebih baik, lebih benar, dan lebih banyak daripada yang lain. Sebaliknya, orang
yang kurang ilmu, maka ia akan sering kali salah dalam ucapan maupun
perbuatannya. Maka, menjadi sebuah kewajiban bagi setiap manusia yang ingin bahagia
dunia dan akhirat untuk senantiasa menuntut ilmu.
Dalam
salah satu hikmahnya, imam asy-Syafi'i rahimhullah pernah bertutur :
مَنْ أَرَادَ
الدُّنْيَا
عَلَيْهِ
بِالْعِلْمِ
وَمَنْ
أَرَادَ
الْآخِرَةَ
عَلَيْهِ
بِالْعِلْمِ.
"Barangsiapa
yang menginginkan kesuksesan dunia maka dia harus memiliki ilmu, dan
barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat maka ia juga harus
berilmu." (Majmu’
Syarh al-Muhadz-dzab, karya an-Nawawi dan Mawa'izh al-Imam asy-Syafi’i,
karya Shalih Ahmad asy-Syami).
Banyak
sekali dampak yang akan dirasakan jika seseorang kurang ilmu. Di antaranya, ia
bisa bertindak salah. Karena itu, kalau kita ragu, tidak mengetahui sebuah
perkara secara jelas, maka bertanyalah, agar jangan sampai bertindak keliru.
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :
إِنَّمَا
شِفَاءُ
الْعِيِّ
السُّؤَالُ.
"Sesungguhnya obat kebodohan
hanyalah bertanya." (HR.
Abu Dawud, no. 336 dan Ibnu Majah, no. 572).
Mengapa
ada orang yang akhlak dan bicaranya sangat bagus? Hal itu bisa terjadi karena
ilmu yang dikuasainya sangat dalam, wawasannya luas, dan pengalamannya banyak.
Akibatnya, setiap dia bertindak dan berkata, selalu baik dan benar, meski
kadang kala terlihat kecil.
Sedangkan
orang yang kurang ilmu, cirinya adalah bila bicara sepanjang apa pun, tidak ada
hal yang bermanfaat yang dibicarakannya. Seorang ayah, misalnya, kalau kurang
ilmu, wawasan, dan pengalamannya, maka dalam mendidik anak cenderung akan lebih
sering marah, karena pilihan tindakan yang bijak terbatas. Berbeda dengan orang
yang sebaliknya, ia akan memilih tindakan yang terbaik, dengan cara terbaik
agar tidak ada siapa pun yang terluka oleh perkataan dan sikapnya.
Demikian pula halnya dalam beribadah, orang yang berilmu akan dapat merealisasikan kehidupan yang sementara ini agar memiliki nilai ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Dia mengetahui mana amal perbuatan dan ucapan yang harus didahulukan dan mana yang mesti dikesampingkan, sebagaimana dia mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang harus ditinggalkan. Keleluasaan hidup hanyalah bagi orang yang beriman dan berilmu. Bukankah Allah Subhanahu Wata'ala telah berjanji akan meninggikan orang yang beriman dan berilmu di antara manusia beberapa derajat?
يَرْفَعِ
اللهُ
الَّذِينَ ءَامَنُوا
مِنكُمْ
وَالَّذِينَ
أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ
وَاللهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ
خَبِيرُُ
"Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan."
(Al-Mujadilah: 11).
Hadirin yang Dimuliakan Allah
Inilah
beberapa poin penting yang bisa saya sampaikan, semoga menjadi pendorong
semangat bagi orang-orang yang bercita-cita mulia meraih kejayaan dunia dan
akhirat.
Semoga
kita tidak terlena dalam gelimang kebodohan, karena kebodohan adalah lambang
kejumudan dan jalan kebinasaan.
Carilah ilmu selama hayat masih dikandung badan; karena yang mencari saja belum tentu mendapatkan, apalagi yang tidak mencari. Yang mendapatkan belum tentu bisa paham, apalagi yang tidak mendapatkan. Yang telah paham belum tentu bisa mengamalkan, apalagi yang tidak paham. Dan yang mengamalkan pun belum tentu bisa tepat dan benar, apalagi yang tidak mengamalkan. Artinya: Orang yang jauh dari ilmu, maka ia sangat jauh dari kebenaran dalam beramal.
Jika kita ingin sukses dan bahagia di dunia maupun di akhirat kelak, maka janganlah ada yang menghalangi kita untuk segera mencari dan mencari ilmu, karena ia adalah jalan yang menyam-paikan kita kesana.
بَارَكَ الله
لِيْ وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ
وَجَعَلَنَا
اللهُ مِنَ
الَّذِيْنَ
يَسْتَمِعُوْنَ
الْقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ
أَحْسَنَهُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِـرُ
الله لِيْ
وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ
كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Ma'asyiral Muslimin A'azzakumullah
Pada
khutbah yang kedua ini, khatib hanya ingin mengingatkan tiga hal yang semoga
dapat memberikan manfaat bagi kehi-dupan kita sekarang dan selanjutnya:
Yang
pertama: Jangan
pernah bosan ataupun jenuh untuk selalu mencari dan mendalami ilmu, karena ilmu
adalah cahaya yang dengannya jalan kehidupan seseorang menjadi terang benderang,
sehingga ia mengetahui ke arah mana ia akan berjalan. Rasulullah Sallallahu
'Alahi Wasallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ
الله بِهِ
خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ
فِي
الدِّيْنِ.
"Barangsiapa
yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia dalam
masalah agama."
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Yang
kedua: Perangilah
segala kebodohan yang ada pada diri kita semampu yang dapat kita usahakan,
karena tidaklah seseorang binasa dan celaka, melainkan karena ia bodoh akan
agama. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman tentang Musa ‘alaihissalam :
قَالَ
أَعُوذُ
بِاللَّهِ
أَنْ أَكُونَ
مِنَ
الْجَهِلِينَ
"Musa berkata, 'Aku
berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang
jahil'."
(Al-Baqarah: 67).
Yang
ketiga: Janganlah
sekali-kali kita berbuat ataupun berucap, kecuali didasari dengan ilmu, karena
Allah Subhanahu Wata'ala telah berfirman :
وَلاَتَقْفُ
مَالَيْسَ
لَكَ بِهِ
عِلْمٌ إِنَّ
السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ
كُلُّ
أُوْلاَئِكَ
كَانَ عَنْهُ
مَسْئُولاً
"Dan janganlah kamu mengikuti
apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Al-Isra`: 36).
Dalam menafsiri ayat ini Qatadah mengatakan :
لاَ تَقُلْ
رَأَيْتُ
وَلَمْ تَرَ،
وَسَمِعْتُ
وَلَمْ
تَسْمَعْ،
وَعَلِمْتُ
وَلَمْ
تَعْلَمْ،
فَإِنَّ الله
عزّ وجلّ
سَائِلُكَ
عَنْ ذِكْرِ
كُلِّهِ.
"Janganlah kamu mengatakan,
aku telah melihat, padahal kamu tidak melihat, aku telah mendengar, padahal
kamu tidak mendengar, aku mengetahui, padahal kamu tidak mengetahui, karena
sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala akan mempertanyakan kesemuanya itu."
Akhirnya,
marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala, agar menjadikan kita
termasuk hamba-hambaNya yang berilmu dan beramal.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at
Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar
S.Pd.I )