Mendambakan Para Alim Robbani
alsofwah, Jumat, 18 Juni 04
Oleh: Agus Hasan Bashori, Lc
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحِسَانِ
إِلَّى
يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Jamaah
Jum’at yang berbahagia.
Kini kita benar-benar sangat mendambakan hadirnya para Alim Robbani, karena
cahaya Islam di tengah kita semakin pudar, benang-benang iman bertambah kusut,
ulama-ulama gadungan semakin banyak yang gentayangan, serta derasnya arus
serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Islam tidak bisa diselamatkan
tanpa Alim Robbani, umat tidak bisa dibina tanpa Alim Robbani dan kemungkinan
tidak akan maju tanpa Alim Robbani. Alim Robbani sangat langka di negeri kita
ini, namun patut bagi kita mengenal siapa Alim Robbani itu !!
Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor menyimpulkan bahwa Alim Robbani adalah seseorang
yang mentarbiyah umat manusia dengan manhaj Allah Subhannahu wa Ta'ala, ia
membina mereka setahap demi setahap sampai berhasil membawa mereka kepada
pengikutnya yang tinggi yang diinginkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala
(Ma’alim Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah hal: 30).
Alim dalam istilah syar’i adalah orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya.
Sebutan Robbani adalah : Dinisbatkan kepada lafazh-lafazh “Rabb” dengan tujuan
pengkhususan terhadap ilmu Rabb yaitu ilmu syariat. Karena itu ditambah dengan
alif dan nun رباني
ini menurut Imam Sibawaih. Sebagian ahli nahwu berpendapat bahwa tambahan alif
dan nun untuk mubalaghah (memberi arti lebih) artinya sangat alim dan menguasai
ilmu syariat.
Al-Mubarrid berkata : Robbani dinisbatkan kepada lafadz tarbiyah (pendidikan) رَبِّ رُبُ رِبًا
فَهُوَ
رَبَّانِ = ditambahi
alif dan nun untuk mubalaghah artinya seorang guru yang sangat mendidik dan
benar-benar membimbing.
Imam Mujahid berkata: Rabbaniyyun adalah diatas Ahbaar, sedangkan ahbaar adalah
ulama.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّا
أَنْزَلْنَا
التَّوْرَاةَ
فِيهَا هُدًى
وَنُورٌ
يَحْكُمُ
بِهَا
النَّبِيُّونَ
الَّذِينَ
أَسْلَمُوا
لِلَّذِينَ
هَادُوا
وَالرَّبَّانِيُّونَ
وَالْأَحْبَارُ
بِمَا
اسْتُحْفِظُوا
مِنْ كِتَابِ
اللَّهِ
وَكَانُوا
عَلَيْهِ
شُهَدَاءَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk
dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara
orang-orang Yahudi oleh para nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh
orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta, disebabkan mereka diperintahkan
memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”.
(Al-Maidah : 44).
Abu Umar Az-Zauhid bertanya kepada Tsa’lab tentang makna Robbani. Maka Tsa’lab
menjawab: Saya dulu juga bertanya kepada Ibnul A’robiy. Maka jawabnya: “Jika
seorang itu menguasai ilmu (syar’i) lalu mengamalkan dan mengajarkannya maka
gelar ini diberikan kepadanya, itulah Robbani. Dan jika ia lepas dari salah
satu sifat tersebut maka kamu tidak lagi menyebutnya “Rabbani”
Jadi sungguh langka Alim Robbani di negeri ini pada jaman ini, padahal Allah
Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita dan ulama kita agar menjadi Rabbani.
Dalam firmanNya:
وَلَكِنْ
كُونُوا رَبَّانِيِّينَ
بِمَا
كُنْتُمْ
تُعَلِّمُونَ
الْكِتَابَ
وَبِمَا
كُنْتُمْ
تَدْرُسُونَ
“... Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan
Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Al-Imran : 79)
كونوا
ربانين Jadilah ulama
syariat yang mengamalkan dan mengajarkannya kepada manusia sesuai dengan manhaj
Allah. Manhaj yang benar ini adalah manhaj ulama salaf dalam belajar mengajar
beramal dan berda’wah.
Seorang Tabi’in besar Abu Abdir Rahman As Sulaimani memutuskan: Sungguh kami
balajar Al-Quran dari para shahabat seperti Utsman bin Affan (W 35 H) dan
Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu mereka bercerita kepada kami bahwa mereka
dulu jika belajar sepuluh ayat mereka tidak melewatinya untuk belajar sepuluh
ayat yang baru. Sebelum mereka mempelajari dan mengamalkannya. Maka kami juga
belajar ilmu dan pengamalannya sekaligus. Sesungguhnya Al-Qur’an sesudah kami
ini akan diwarisi oleh suatu kaum yang menirukan Al-Qur’an. Seperti layaknya
meminum air tidak akan melewati tenggorokan (tidak memahaminya)(HR. Ibnu Sa’ad
dalam Thabaqat dengan sanad shahih dan HR. Ibnu Abi Syaibah).
Begitulah, ulama Rabbani mengajarkan Al-Qur’an, mulai dari cara membacanya,
menghafalkan, menafsirkan dan mengamalkan-nya. Coba kita perhatikan di sekeliling
kita :
Banyak dari para hafizh sampai terbentuk banyak wadah untuk mereka seperti
Jam’iyyatul Qura’wal huffazh dan Jam’iyyah sema’an, namun apakah mereka telah
melaksanakan amanah Al-Qur’an seperti ulama Rabbani ? mereka kebanyakan membaca
Al-Qur’an hanya dalam pesta, festifal, musabaqah dan upacara-upacara. Istilah
Qurra’ dan Huffadz yang ada dalam Islam telah mereka zhalimi dan mereka kotori.
Qurra’ menurut pamahaman syara’ adalah ulama fuqaha’ yang benar-benar memahami
Al-Qur’an dan Sunnah.
Imam Adh Dhahhak Radhiallaahu anhu berkata:
Maksudnya adalah jadilah kalian ulama Robbaniyyun yang memahamkan Al-Kitab
kepada manusia, dan maknanya, hukum-hukumnya, perintah-perintah dan segala
larangannya, serta hafalkan lafadz-lafadznya!
Para Khotib, mubaligh dan Da’i juga banyak, namum kebanyakan mereka masih
bersifat sebagai da’i penghibur yaitu da’i pemusik (yang berda’wah menggunakan
alat-alat musik) dan da’i pelawak (yang menjadikan lawakan sebagai bumbu utama
dalam setiap waktunya).
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:
“Kamu duduk di maqom ini menasehati manusia kemudian kamu tertawa di tengah
mereka dan juga kamu kisahkan cerita lucu maka cara seperti itu tidak akan
selamat”.
Benar yang dikatakan oleh syaikh sebagai buktinya lihat masyarakat yang
menyukai kiyai-kiyai pelawak, apakah mereka mengerti dan mengamalkan Islam?
Apakah mereka memahami aqidah ahlussunnah yang benar dan bisa membedakan mana
yang sunnah mana yang bid’ah? Apakah mereka memiliki hati yang bergetar jika
disebut ayat-ayat Allah? Jawabannya tentu tidak. Mengapa? Karena mereka berguru
kepada kiyai pelawak yang jika membahas adzab kubur dan adzab neraka
pendengarnya akan terpingkal-pingkal karena asyik, senang dan gembira. Itu baru
membahas adzab neraka, belum lagi kalau bicara tentang pernikahan maka Allah
Maha mengetahui tentang penyimpangan mereka والعياذ
بالله منه.
Dan sebagai akibatnya mereka tidak menyukai ulama ahlussunnah yang mengisi
pengajian atau ceramah dengan serius sebagaimana sikap Rasulullah Shalallaahu
alaihi wasalam ketika khutbah atau khithabah. Sungguh telah jungkir balik
timbangan yang telah dipasang oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di
saat sekarang ini ولا
حول ولا قوة
إلا بالله .
Ma’asiral Muslimin rahimakumullah.
Kiyai penghibur lainnya adalah Kiyai dan pemusik yang menjalankan maksiat
sebagai media resmi dan sarana kebanggaan dalam berkhutbah. Da’i atau Kiyai
jenis ini mempunyai andil besar dalam menanamkan kemunafikan dan menyebarkan
kefasikan. Mengapa tidak ? Mereka yang telah gandrung di musiknya para da’i ini
baik musik kosidah, gambus, dangdut, pop, gending jawa atau musik jenis apa
saja hatinya akan berpaling dari Al-Qur’an dan akan berpaling dari As-Sunnah
dan akan berpaling dari Ashhabul Hadits. Padahal sebenarnya mereka mencintai
Al-Qur’an, As-Sunah dan Ahlus Sunnah, bahkan ini adalah nifak! tentu Ulama,
Kiyai, dan Da’i penghibur bukanlah Alim Robbani yang kita dambakan.
Ada lagi ulama yang serius dalam berda’wah, namun tidak berjalan di atas manhaj
Allah, manhaj yang shahih, mereka serius mengajak kepada bid’ah, mengajak untuk
membunuh Sunnah dan memadamkannya, ada yang mengajak kepada wirid-wirid bid’ah,
ada yang mengajak kepada upacara-upacara bid’ah, ada yang mengajak kepada
aqidah-akidah bid’ah. Mereka bukan ulama Rabbaniyyun yang bisa memuliakan
Islam. Tetapi merekalah yang membodohi umat dan mencoreng Islam dengan warna
hitam. والله
المستعان.
Padahal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
الْعُلَمَاءُ
وَرَثَةُ
اْلأَنْبِيَاءِ.
“Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Amhad dan At-Tirmidzi dihasankan oleh
Al-Hafidz dalam Fathul Bari).
Mereka adalah ulama Robbaniyyun yang mewarisi tugas Nabi yang telah termasuk
dalam surat Ali Imran: 164.
Tugas pertama adalah Tazkiyah, mensucikan akhlaq dan jiwa mereka dari syirik,
riya, dusta, khiyanat, sombong, hasad dan sebagainya) dan Tazkiyah ini tidak
bisa sempurna tanpa tarbiyah.
Tugas kedua adalah Ta’lim Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ta’lim ini tidak bisa
sempurna tanpa Tashfiyah yaitu membersihkan Islam dari ajaran yang telah mengotori
Islam. Tazkiyah dan Tashfiyah ialah tugas berat yang diemban oleh para Alim
Robbani yang kehadiran mereka yang sangat kita dambakan demi membimbing umat
manusia ke dalam jalan yang lurus Al-Kitab dan As-Sunnah.
نَفَعَنِي
اللهُ
وَإِيَّاكُمْ
بِهُدَى
كِتَابِهِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَل
لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ اللهَ
يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا. سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.