MEMPERBANYAK MENGINGAT MATI
Rabu,
02 Desember 09 Oleh: Izzudin
Karimi, Lc
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بلله مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
الله فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Dunia
tidak abadi, ia berujung dan berakhir, sama halnya dengan penghuninya, manusia.
Kontrak hidupnya juga terbatas. Selama-lamanya orang hidup, ia pasti berakhir
dengan kematian-nya. Ya, kematian adalah akhir dari yang hidup, termasuk
manusia. Tidak ada tempat berlari dan bersembunyi dari kematian. Orang bisa
saja berlari dari sesuatu dengan meninggalkannya di balik punggungnya kecuali
kematian, dia berlari darinya tetapi justru ia menghadang di depannya,
bersembunyi di balik benteng yang ko-koh. Mendaki langit dengan alat canggih
tidak bisa menghindarkan seseorang dari kematian. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala :
قُلْ إِنَّ
الْمَوْتَ
الَّذِي
تَفِرُّونَ
مِنْهُ
فَإِنَّهُ
مُلاَقِيكُمْ
ثُمَّ
تُرَدُّونَ
إِلَى عَالِمِ
الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُم
بِمَا
كُنتُمْ
تَعْمَلُونَ
"Katakanlah,
'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripada-nya, maka sesungguhnya kematian
itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan". (Al-Jumu'ah:
8).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
أَيْنَمَا
تَكُونُوا
يُدْرِككُّمُ
الْمَوْتُ
وَلَوْ
كُنتُمْ فِي
بُرُوجٍ
مُشَيَّدَةٍ
"Di mana saja kamu berada,
kematian akan mendapatkan kamu, ken-datipun kamu di dalam benteng yang tinggi
lagi kokoh."
(An-Nisa`: 78).
Ajal
kematian setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin
di dalam rahim ibunya dalam umur seratus dua puluh hari, kematian itu ditulis
bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya. Apabila ajal
ter-sebut tiba, maka ia tiba tepat waktu, tidak mungkin ditunda atau
disegerakan sesaat pun. Apabila ajal tiba, maka ia tiba di bumi mana pun orang
tersebut berada, tanpa dia ketahui.
وَمَاتَدْرِي
نَفْسٌ
بِأَيِّ
أَرْضٍ تَمُوتُ
"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (Luqman: 34).
Bahkan
mungkin yang bersangkutan tidak di bumi tetapi di udara atau di laut. Apabila
ajal tiba, maka ia tiba apa pun penye-babnya; sakit, kecelakaan lalu lintas,
dibunuh orang, tenggelam, bencana alam, dan lain-lain. Semua itu hanya penyebab
kematian, bahkan ada orang yang mati tanpa didahului oleh sebab; kata orang,
mati mendadak. Dia tidur, ternyata itu menjadi tidur panjangnya. Dia duduk di
meja kantor, ternyata dia tidak lagi berdiri tetapi di-angkat ke ranjang
pemandian. Semua itu penyebabnya hanya satu, kematian.
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Seandainya kematian adalah akhir segalanya, maka perkara-nya sangatlah mudah, ringan, dan remeh, akan tetapi tidak demi-kian, justru ia merupakan awal bagi babak kehidupan baru yang hanya memiliki dua kemungkinan yang tidak mungkin dirubah; kesengsaraan dan tangisan abadi atau kebahagiaan dan senyuman abadi, di mana kedua pilihan ini tergantung kepada apa yang kita tanam di alam dunia. Oleh karena itu, ketika seseorang didatangi ajalnya, dia merasa tidak mungkin selamat darinya, dia mengeta-hui seberapa jauh usaha menanam yang dilakukannya semasa hidup. Maka dalam kondisi tersebut dia pasti berharap diberi peluang dan kesempatan kedua guna menambal kelengahan dan memper-baiki yang rusak, akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang berlalu tidak mungkin diputar ulang dan penyesalan selalu datang di belakang.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَأَنفِقُوا
مِن
مَّارَزَقْنَاكُم
مِّن قَبْلِ
أَن يَأْتِيَ
أَحَدَكُمُ
الْمَوْتُ فَيَقُولَ
رَبِّ لَوْلآ
أَخَّرْتَنِي
إِلَى أَجَلٍ
قَرِيبٍ
فَأَصَّدَّقَ
وَأَكُن
مِّنَ
الصَّالِحِينَ
. وَلَن يُؤَخِّرَ
اللهُ
نَفْسًا
إِذَا جَآءَ
أَجَلُهَا
وَاللهُ
خَبِيرٌ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menang-guhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) sese-orang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Munafiqun: 10-11).
Firman
Allah Subhanahu Wata’ala :
حَتَّى إِذَا
جَآءَ
أَحَدَهُمُ
الْمَوْتَ قَالَ
رَبِّ
ارْجِعُونِ .
لَعَلِّي
أَعْمَلُ
صَالِحًا
فِيمَا
تَرَكْتُ
كَلآ إِنَّهَا
كَلِمَةٌ
هُوَ
قَآئِلُهَا
وَمِن وَرَآئِهِم
بَرْزَخٌ
إِلَى يَوْمِ
يُبْعَثُونَ
"(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata, 'Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat
amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak.
Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (Al-Mu`mi-nun: 99-100).
Dari
Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata :
جَاءَ رَجُلٌ
إِلَى
النَّبِيِّ
صلى الله عليه
وسلم فَقَالَ:
يَا رَسُوْلَ
الله، أَيُّ الصَّدَقَةِ
أَعْظَمُ
أَجْرًا؟
قَالَ: أَنْ تَصَدَّقَ
وَأَنْتَ
صَحِيْحٌ
شَحِيْحٌ، تَخْشَى
الْفَقْـرَ
وَتَأْمُلُ
الْغِنَى، وَلَا
تُمْهِلْ
حَتَّى إِذَا
بَلَغَتِ
الْحُلْقُوْمَ،
قُلْتَ: لِفُلَانٍ
كذا،
وَلِفُلَانٍ
كذا، وَقَدْ
كَانَ لِفُلَانٍ.
"Telah
datang seorang laki-laki kepada Nabi, dia berkata, 'Ya Rasu-lullah, sedekah
apakah yang paling besar pahalanya?' Rasulullah menjawab, 'Kamu bersedekah
dalam keadaan sehat, mencintai harta, takut miskin, dan berharap kaya, jangan
menunda-nunda sehingga ketika nyawa sampai di kerongkongan kamu berkata, 'Untuk
fulan ini, untuk fulan ini,' padahal ia telah menjadi miliknya'." (Muttafaq alaihi. Mukhtashar
Shahih al-Bukhari, no. 680 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 538).
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Agar
penyesalan seperti ini tidak terjadi pada kita, maka yang mesti kita lakukan
adalah memanfaatkan detik-detik umur dengan mengisinya dengan kebaikan, karena
itulah satu-satunya bekal bagi kita di perjalanan panjang, di mana awalnya
adalah kematian. Di sinilah letak pentingnya seorang Muslim selalu mengingat
kema-tian. Ya, dengan mengingat kematian, lebih-lebih memperbanyak-nya,
mendorong seorang Muslim untuk berbekal, karena dia me-nyadari dirinya akan
mati.
Karena hikmah inilah, maka Rasulullah mengajak kita mem-perbanyak mengingat kematian.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :
أَكْثِرُوْا
ذِكْرَ
هَاذِمِ
اللَّذَّاتِ
يَعْنِي
الْمَوْتَ.
"Perbanyaklah
mengingat pemutus kenikmatan, yakni kematian." (HR. at-Tirmidzi, no. 2308 dan Ibnu Majah, no.
4258, dishahih-kan oleh Syu'aib al-Arna`uth dalam Tahqiq Riyadh
ash-Shalihin, hadits no. 579).
Memperbanyak
mengingat mati berarti memperbanyak amal kebaikan. Orang yang tidak beramal
baik atau dia berbuat buruk berarti tidak ingat dirinya akan mati. Imam
ad-Daqqaq berkata, "Barangsiapa memperbanyak mengingat mati, dia
dikaruniai tiga perkara: Menyegerakan taubat, hati yang qana'ah, dan semangat
beribadah." (At-Tadzkirah, al-Qurthubi 1/23). Lalu faktor-faktor
apa sajakah yang membantu seorang Muslim agar dia tidak melupakan kematian?
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Pertama : Ziarah kubur
Ia merupakan faktor penting yang mengingatkan seseorang akan mati, penziarah
akan menyadari bahwa dirinya akan menyu-sul dalam waktu yang tidak jauh,
nasibnya akan sama dengan orang-orang yang diziarahinya. Keadaan ini membuatnya
bersiap diri sebaik mungkin untuk menghadapinya.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, berkata :
زَارَ
النَّبِيُّ
صلى الله عليه
وسلم قَبْرَ
أُمِّهِ
فَبَكَى،
وَأَبْكَى
مَنْ حَوْلَهُ،
فَقَالَ صلى
الله عليه
وسلم :
اِسْتَأْذَنْتُ
رَبِّيْ فِي
أَنْ
أَسْتَغْفِرَ
لَهَا،
فَلَمْ
يَأْذَنْ
لِيْ، وَاسْتَأْذَنْتُهُ
فِي أَنْ
أَزُوْرَ
قَبْرَهَا،
فَأَذِنَ
لِيْ،
فَزُوْرُوا
الْقُبُوْرَ،
فَإِنَّهَا
تُذَكِّرُ
الْمَوْتَ.
"Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berziarah ke kuburan ibunya. Beliau menangis
se-hingga membuat orang-orang yang bersamanya menangis pula. Beliau Sallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda : “Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun
buat ibuku tetapi Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk berziarah
ke kuburnya dan Dia mengizinkanku. Maka berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan
mati." (HR.
Muslim. Mukhtashar Shahih Muslim, no. 495).
Imam
al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, 1/28 berkata, "Para ula-ma berkata,
'Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dari-pada ziarah kubur,
lebih-lebih jika hati tersebut membatu."
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Kedua : Melihat sakaratul maut dan merenungkannya.
Sakaratul maut adalah saat-saat yang berat bagi seorang Muk-min, karena inilah
momen yang menentukan baginya, apakah dia meraih husnul khatimah atau
sebaliknya su`ul khatimah. Marilah kita menyimak gambaran sakaratul maut yang
dipaparkan oleh al-Qur`an. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
كَلآ إِذَا
بَلَغَتِ
التَّرَاقِيَ
ز. وَقِيلَ
مَنْ رَاقٍ .
وَظَنَّ
أَنَّهُ
الْفِرَاقُ .
وَالْتَفَّتِ
السَّاقُ
بِالسَّاقِ .
إِلَى رَبِّكَ
يَوْمَئِذٍ
الْمَسَاقُ
"Sekali-kali
jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sam-pai ke kerongkongan, dan
dikatakan (kepadanya), 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?' Dan dia yakin bahwa
sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertautnya betis
(kiri) dan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau." (Al-Qiyamah: 26-30).
Setelah
itu renungkanlah sakaratul maut yang dialami oleh Rasulullah seperti yang
dijelaskan dalam dua hadits berikut,
Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, ia berkata :
...فَجَعَلَ
يُدْخِلُ
يَدَيْهِ فِي
الْمَاءِ فَيَمْسَحُ
بِهِمَا
وَجْهَهُ،
يَقُوْلُ: لَا
إله إِلَّا
الله، إِنَّ
لِلْمَوْتِ
سَكَرَاتٍ.
ثُمَّ نَصَبَ
يَدَهُ،
فَجَعَلَ
يَقُوْلُ:
اللهم فِي
الرَّفِيْقِ
الْأَعْلَى.
حَتَّى
قُبِضَ
وَمَالَتْ
يَدُهُ.
"...
lalu Rasulullah memasukkan tangannya ke dalam air dan me-ngusap wajahnya.
Beliau bersabda, 'La ilaha illallah, sesungguhnya maut itu mempunyai sekarat.'
Kemudian beliau menegakkan tangan-nya dan bersabda, 'Ya Allah di ar-Rafiqil
a'la.' Sampai Rasulullah wafat dan tangannya terkulai." (HR. al-Bukhari. Mukhtashar
Shahih al-Bukhari, no. 1626).
Dari
Anas Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata :
لَمَّا
ثَقُـلَ
النَّبِيُّ
صلى الله عليه
وسلم جَعَلَ
يَتَغَشَّاهُ،
فَـقَـالَتْ
فَاطِمَةُ
رضي الله
عنها:
وَاكَرْبَ
أَبَاهُ،
فَقَالَ
لَهَا: لَيْسَ
عَلَى
أَبِيْكَ كَرْبٌ
بَعْدَ
الْيَوْمِ.
"Ketika
sakit Rasulullah semakin berat, beliau pingsan. Fatimah berkata, 'Betapa berat
bebanmu wahai ayahku.' Rasulullah menjawab, 'Setelah hari ini ayahmu tidak akan
memikul beban berat itu'." (HR.
al-Bukhari. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1628).
Sekarang
marilah kita lihat potret sakaratul maut orang-orang zhalim seperti yang
dipaparkan oleh al-Qur`an di dalam Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَلَوْتَرَى
إِذِ
الظَّالِمُونَ
فِي غَمَرَاتِ
الْمَوْتِ
وَالْمَلاَئِكَةُ
بَاسِطُوا
أَيْدِيهِمْ
أَخْرِجُوا
أَنفُسَكُمُ
"Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam
tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil
berkata), 'Keluar-kanlah nyawamu". (Al-An'am: 93).
Jika
manusia mengetahui dahsyatnya sakaratul maut, dia pas-ti akan berlari
menghindar darinya, akan tetapi ke manakah tempat berlari?
وَجَآءَتْ
سَكْرَةُ
الْمَوْتِ
بِالْحَقِّ
ذَلِكَ
مَاكُنتَ
مِنْهُ
تَحِيدُ
"Dan
datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari
daripadanya."
(Qaf: 19).
Gambaran
sakaratul maut seperti ini, belum cukupkah untuk dapat membangunkan kita dari
kelalaian panjang, agar kita menga-dakan persiapan untuk menghadapinya? Semoga
gambaran di atas sudah cukup membangunkan kita.
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Lalu apa setelah itu? Alam kubur dengan kesempitan dan kegelapannya, lebih dari itu adalah fitnahnya yang tidak ringan, ia mendekati atau menyamai fitnah Dajjal lalu kubur itu menjadi kubangan neraka atau taman surga.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَا مِنْ
شَيْءٍ لَمْ
أَكُنْ
أُرِيْتُهُ
إِلَّا
رَأَيْتُهُ
فِي
مَقَامِيْ،
حَتَّى الْجَنَّةَ
وَالنَّارَ،
فَأُوْحِيَ
إِلَيَّ:
أَنَّكُمْ
تُفْتَنُوْنَ
فِي
قُبُوْرِكُمْ
-مِثْلٌ أَوْ
قَرِيْبٌ لَا
أَدْرِيْ
أَيُّ ذلك
قَالَتْ أَسْمَاءُ-
مِنْ
فِتْنَةِ
الْمَسِيْحِ
الدَّجَّالِ،
يُقَالُ مَا
عِلْمُكَ
بهذا
الرَّجُلِ؟
فَأَمَّا
الْمُؤْمِنُ
أَوِ
الْمُوْقِنُ
-لَا أَدْرِي
بِأَيِّهِمَا
قَالَتْ
أَسْمَاءُ–
فَيَقُوْلُ:
هُوَ
مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ
الله،
جَاءَنَا
بِالْبَيِّنَاتِ
وَالْهُدَى،
فَأَجَبْنَا
وَاتَّبَعْنَا،
هُوَ
مُحَمَّدٌ،
ثَلَاثًا،
فَيَقُوْلُ:
نَمْ
صَالِحًا،
قَدْ عَلِمْنَا
إِنْ كُنْتَ
لَمُوْقِنًا
بِهِ. وَأَمَّا
الْمُنَافِقُ
أَوِ
الْمُرْتَابُ
-لَا أَدْرِي
أَيُّ ذلك
قَالَتْ
أَسْمَاءُ–
فَيَقُوْلُ:
لَا أَدْرِي،
سَمِعْتُ
النَّاسَ
يَقُوْلُوْنَ
شَيْئًا
فَـقُـلْتُهُ.
"Tidak
ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku kecuali aku melihatnya di
tempatku (sekarang ini) bahkan surga dan neraka. Diwahyukan kepadaku bahwa kalian
akan diuji di kubur kalian -seperti atau mirip, aku tidak tahu mana yang
diucapkan Asma`- fitnah al-Masih Dajjal. Dikatakan, 'Apa yang kamu ketahui
tentang laki-laki ini?' Maka orang Mukmin atau orang yang yakin, -aku tidak
tahu mana yang dikatakan Asma`-, dia menjawab, 'Dia adalah Muhammad Rasulullah,
dia datang kepada kami dengan (membawa) penjelasan dan petunjuk. Lalu kami
menjawab ajakannya dan mengi-kutinya, dia Muhammad.' Sebanyak tiga kali. Maka
dikatakan ke-padanya, 'Tidurlah dengan baik, kami tahu kamu meyakininya.'
Adapun orang munafik atau orang yang bimbang, -aku tidak tahu mana yang
dikatakan Asma`-, maka dia menjawab, 'Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang
mengatakan sesuatu, maka aku menirukannya". (HR. al-Bukhari dari Asma` binti Abu
Bakar. Mukh-tashar Shahih al-Bukhari, no. 75).
Ketiga : Melihat orang-orang mati
Melihat orang-orang mati menyadarkan kita akan kematian. Sekarang si ini dan si
itu, lalu siapa tahu besok adalah giliran kita? Orang yang berbahagia adalah
orang yang mengambil pelajaran dari orang lain.
Imam
al-Qurthubi di at-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah
(1/61-63) menyebutkan beberapa peristiwa kematian yang mengandung banyak
pelajaran. Ada seorang calo di ambang ajal, dikatakan kepadanya,
"Ucapkanlah la ilaha illallah." Dia menjawab, "3 ½ , 4 ½
," dan dia pun mati dengan ucapannya itu. Ada seorang pemabok, ketika ajal
menjemput dikatakan kepadanya, "Hai fulan ucapkanlah la ilaha
illallah." Dia menjawab, "Ayo minum. Beri aku minum." Dan
dia mati dalam kondisi itu. Begitulah orang-orang dengan ambisi dan keinginan
dunia semata, itulah yang me-reka ingat, sampai-sampai pada saat ajal
menjemput, mereka masih disibukkan dengan urusan dunia mereka.
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Sudah terlalu sering kita mendenar berita, bahkan hampir se-tiap hari, tentang kematian yang tiba-tiba; pesawat terbang jatuh, kapal laut terhempas ombak, gempa tiba-tiba mengguncang bumi dan meruntuhkan bangunan, lalu longsor dan sebagainya, yang semuanya dengan begitu mudah mengambil hidup orang-orang yang mungkin tak pernah mengiranya akan terjadi. Khatib berta-nya, "Adakah mereka mengetahui dan menyadari bahwa hidup mereka akan berakhir dengan cara tersebut?" Itulah kematian. Ada-kah kita mengambil pelajaran? Semoga.
بَارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ
وَجَعَلَنَا
الله مِنَ
الَّذِيْنَ
يَسْتَمِعُوْنَ
الْقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ
أَحْسَنَهُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ
الله لِيْ
وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Faktor Keempat : Memahami hakikat kehidupan dunia dan
hakikat kehidupan Akhirat.
Dengan pemahaman yang benar terhadap dunia, seseorang bisa
mengambil sikap yang benar pula terhadapnya, dia tidak akan tertipu dan terlena
olehnya, sebaliknya dia juga tidak mencampak-kannya mentah-mentah seolah-olah
ia adalah musuh besar yang tidak ada kebaikannya sama sekali.
Untuk
memahami hakikat dunia kita perlu melihatnya melalui Firman Allah dan sabda
Rasulullah yang shahih; padanya terdapat keterangan yang lebih dari cukup. Dari
ayat-ayat dan hadits-hadits tentang dunia, maka khatib bisa simpulkan bahwa
kehidupan dunia hanyalah sementara, ibarat bayangan sebuah pohon, kebahagiaan
dan kesengsaraannya tidak abadi, remeh tidak berarti apa pun di hadapan Allah,
ia indah dan menarik, oleh karena itu banyak orang tertipu olehnya, akan tetapi
apa pun keadaannya yang penting bagi seorang Muslim kehidupan dunia adalah
kehidupan beramal, maka dia pun mengambil darinya sekedar untuk bisa
menopangnya ber-amal demi alam Akhirat dan tidak terbersit di dalam benaknya
untuk hidup lama. Inilah petunjuk Rasulullah kepada Abdullah bin Umar. Dari
Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, ia berkata :
أَخَذَ
رَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه وسلم بِمَنْكِبِيْ
فَقَالَ: كُنْ
فِي
الدُّنْيَا كَأَنَّكَ
غَرِيْبٌ
أَوْ عَابِرُ
سَبِيْلٍ. وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ
يَقُوْلُ:
إِذَا أَمْسَيْتَ
فَلَا
تَنْتَظِرِ
الصَّبَاحَ، وَإِذَا
أَصْبَحْتَ
فَلَا
تَنْتَظِرِ
الْمَسَاءَ،
وَخُذْ مِنْ
صِحَّتِكَ
لِمَرَضِكَ
وَمِنْ
حَيَاتِكَ
لِمَوْتِكَ.
"Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menepuk pundakku seraya bersabda, 'Jadilah kamu di
dunia seperti orang asing atau orang lewat.' Ibnu Umar berkata, 'Apabila kamu
mendapatkan waktu sore, maka jangan menunggu pagi. Apabila kamu mendapatkan
waktu pagi, maka jangan menung-gu sore, manfaatkan sehatmu sebelum sakitmu dan
hidupmu sebelum matimu'."
(HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1998).
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Sebaliknya
kekeliruan pandang terhadap dunia membuatnya lengah dan lalai dari kematian,
dia menumpuk dan berlomba dalam perkara dunia, dia memiliki harapan panjang
tetapi ternyata garis ajal lebih pendek daripada harapannya. Firman Allah
Subhanahu Wata’ala :
أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ
. حَتَّى
زُرْتُمُ
الْمَقَابِرَ
"Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur". (At-Takatsur: 1-2).
Dari
Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata :
خَطَّ
النَّبِيُّ
صلى الله عليه
وسلم خُطُوْطًا،
فَقَالَ: هذا
الْأَمَلُ وَ
هذا أَجَلُهُ،
فَبَيْنَمَا
هُوَ كذلك
إِذْ جَاءَهُ
الْخَطُّ
الْأَقْرَبُ.
"Nabi
membuat beberapa garis, beliau bersabda, 'Ini adalah harapan (hidup) dan ini
adalah ajalnya. Ketika dia dalam kondisi tersebut tiba-tiba garis pendek
mendatanginya".
(HR. al-Bukhari, no. 6418).
Yang
dimaksud dengan garis pendek adalah ajal.
Setelah kita mengetahui bagaimana kehidupan dunia dan bagaimana menyikapinya
lalu bagaimana kehidupan akhirat? Ke-hidupan akhirat adalah kehidupan yang
sesungguhnya, Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَإِنَّ
الدَّارَ
اْلأَخِرَةَ
لَهِيَ الْحَيَوَانُ
"Dan sesungguhnya Akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan."
(Al-Ankabut: 64).
Simaklah
perbandingan akhirat dengan dunia seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah di
mana beliau bersabda :
وَالله، مَا
الدُّنْيَا
فِي
الْآخِرَةِ
إِلَّا
مِثْلُ مَا
يَجْعَلُ
أَحَدُكُمْ
إِصْبَعَهُ
هذه
-وَأَشَارَ
يَحْيَى
بِالسَّبَابَةِ-
فِي الْيَمِّ
فَلْيَنْظُرْ
بِمَ يَرْجِعُ.
"Demi
Allah, dunia dibandingkan dengan akhirat tidak lain seperti salah seorang
darimu mencelupkan jarinya ini dan Yahya memberi isyarat dengan telunjuknya ke
laut. Lihatlah air yang menempel di jarinya." (HR. Muslim dari al-Mustaurid bin
Syaddad, Mukh-tashar Shahih Muslim no. 2082).
Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
اللهم إِنَّ
الْعَيْشَ
عَيْشُ
الْآخِرَةِ.
"Ya
Allah, sesungguhnya kehidupan adalah kehidupan akhirat." (HR. al-Bukhari dari Anas,
Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1167).
Di penghujung khutbah ini tidak lupa khatib menyampaikan shalawat dan salam
kepada Nabi Muhammad yang telah membawa kita ke jalan yang Allah Subhanahu
Wata’ala ridhai.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
( Dikutip dari buku : kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar Z)