Membelakangi Al-Quran, Masalah Besar
Jumat,
24 September 04 Oleh: H. Hartono
Ahmad Jaiz
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ فِي
النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
Al-Qur’an
adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW lewat
Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam. Menjadi kewajiban bagi ummat
Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam
di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi
wasalam. Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu
bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi
iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus
dibuktikan dengan amal. Sedang membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah
ibadah.
Meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum
tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu.
Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun
merupakan masalah besar. Sehingga Nabi Muhammad n pun mengeluhkan akan ada
diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran; bahkan keluhan Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam itu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa
Ta'ala :
وَقَالَ
الرَّسُولُ
يَا رَبِّ
إِنَّ قَوْمِي
اتَّخَذُوا
هَذَا
الْقُرْآنَ
مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak
diperhatikan." (terjemah Q.S.Al-Furqon ayat 30).
Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad
Shalallaahu alaihi wasalam yang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis, hingga
Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shalallaahu
alaihi wasalam menangis? Nabi Shalallaahu alaihi wasalam lah yang sangat
mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan:
Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam membaca
Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim: “ Ya Tuhanku
sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia,
maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha
Pengam-pun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim/ 14:36). Dan seterusnya. Dan berkata
Isa p: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguh-nya mereka adalah
hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maaidah: 118). Lalu Nabi
Muhammad n mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Alllah, ummatku ummatku”
dan beliau menangis. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: Hai Jibril, temuilah
muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang
menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi n dan menanyainya. Maka
Rasulullah n memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang
Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu
katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku
tidak menjadikanmu sedih.” (HR Muslim dengan Syarah An-Nawawi no 346---202452).
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemu-kakan bahwa sikap Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam itu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam sempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap
kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya.
Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh
manusia melebihi Nabi Muhammad n yang menganjurkan:
اِرْحَمُوْا
مَنْ فِي
اْلأَرْضِ
يَرْحَمْكُمْ
مَنْ فِي
السَّمَاءِ [
الترمذي، حسن
صحيح في تحفة
الأحوذي رقم 1930].
“Sayangilah
orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah)Yang di langit.
(Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jami’ut Tirmidzi
--Tuhfatul Ahwadzi-- nomor 1930).
Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang
dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk
dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad n
hingga betapa besar semangat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam agar kerabatnya
yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa
cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman nabi Shalallaahu
alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu
wa Ta'ala menegurnya:
إِنَّكَ
لَا تَهْدِي
مَنْ
أَحْبَبْتَ
وَلَكِنَّ
اللَّهَ
يَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ
وَهُوَ
أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak
akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi
petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh : 56).
Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam yang tiada
bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri
(Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) yang memang tidak mau masuk
Islam. Demikian pula kasih sayang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam masih
dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada
Allah Subhannahu wa Ta'ala, lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak
menggubris Al-Quran.
Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa
tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi
wasalam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah
wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata:
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِقَوْمِيْ
فَإِنَّهُمْ
لاَ
يَعْلَمُوْنَ.
[رواه البخاري
و مسلم].
Ya
Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguh-nya mereka tidak
mengetahui. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah
itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap
kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan
keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah
yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi n tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu.
Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi
Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya, yang artinya:
وَمَنْ
أَظْلَمُ
مِمَّنْ
ذُكِّرَ
بِآيَاتِ
رَبِّهِ
فَأَعْرَضَ
عَنْهَا
وَنَسِيَ مَا
قَدَّمَتْ
يَدَاهُ
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah
diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan
melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?" (QS Al-Kahfi :
57)
Lima golongan yang membelakangi Al-Quran
Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi
Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam sendiri dilakukan oleh kaumnya. Kaumnya itu
bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang
ada ketika Nabi Muhammad n diutus dan sesudah itu.
Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredi-kat menjadikan
Al-Quran di belakang punggungnya itu?
Menurut Ibnu Qoyim ada 5 jenis atau 5 macam orang yang termasuk berpaling dari
Al-Qur’an.
Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah:
Setelah
kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita
melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut?
Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia
adalah demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita
tahu, Allah adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga
kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit, sampai model pakaian untuk
muslimah, misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih
"sudi" menunjuki, lewat Al-Quran. Maka pantas kalau Nabi Muhammad
Shalallaahu alaihi wasalam mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya
yang berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai
terlalu zhalim. Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut
"disayangi tapi malah tak tahu diri". Lebih-lebih kalau sampai berani
mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap berpalingnya itu. Sikap semacam itu
lebih dahsyat lagi hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat
pula, yang artinya:
قُلْ
أَتُعَلِّمُونَ
اللَّهَ
بِدِينِكُمْ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
فِي
السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي
الْأَرْضِ
وَاللَّهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمٌ
"Katakanlah (kepada mereka):
"Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal
Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu." (terjemah QS Al-Hujurat : 16).
Usaha Mengikis
Sikap berpaling dari Al-Quran yang telah dikeluhkan oleh
Nabi dan dikecam oleh Allah itu, bisa dikikis dengan berbagai usaha. Nan jauh
di desa-desa pelosok sana, betapa banyak masjid, musholla dan langgar yang
setiap malamnya untuk bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat mereka tetap
tinggi, walau lampu-lampu yang menerangi kadang-kadang sangat sederhana, bahkan
minyaknya pun tersendat-sendat. Sudahkah kita menyumbangkan sesuatu untuk
mereka? Kitab-kitab Mushaf Al-Quran yang mereka baca pun sudah rusak. Sudahkah
kita pikirkan? Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang
dan banyak berjajar kitab Al-Qurannya, tekunkah kita membaca Al-Quran dan
ber'iktikaf di masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita
manjakan, apa saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu
secara benar-benar tentang Al-Quran?
Mungkin, seribu pertanyaan akan ditujukan pada kita, dalam
saringan: apakah kita termasuk golongan orang-orang yang membelakangi Al-Quran
tersebut atau tidak. Termasuk penyokong, pendukung bahkan pelopor yang
membelakangi Al-Quran atau tidak. Dan seberapa usaha kita untuk mengikis sikap
membelakangi Al-Quran itu. Semuanya akan dinilai. Dan Al-Quran pun menjadi
saksi di akherat nanti. Itulah yang perlu kita sadari sejak kini.
Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada
umumnya terhindar dari golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari
Al--Quran itu. Amien.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Bacaan Khutbah Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَل
لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن يَتَّقِ
اللهَ
يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى
رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.
|
YAYASAN AL-SOFWA |