Membangun Generasi Rabbani
Senin,
29 Nopember 04, Oleh: Mulyana
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
أَنْزَلَ عَلَى
عَبْدِهِ
آيَاتٍ
بَيِّنَاتٍ
لِيُخْرِجَ النَّاسَ
بِهَا مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى النُّوْرِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
أَيـُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوا اللهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى
فِيْ كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ،
Pergantian
generasi merupakan sunnatullah yang pasti akan terjadi pada suatu kaum atau
bangsa. Apakah pergantian itu lebih baik atau lebih buruk dari generasi
sebelumnya tergantung pada kesungguhan dalam mempersiapkan pengkaderan generasi
yang akan datang. Jika dipersiapkan dengan baik dan sungguh-sungguh insya Allah
akan menghasilkan suatu generasi yang lebih baik. Begitu pula sebaliknya jika
asal-asalan akan menghasilkan suatu generasi yang lebih buruk dari generasi
pendahulunya.
Jika kita perhatikan kondisi pada akhir-akhir ini, jelas terlihat adanya gejala
demoralisasi di masyarakat. Kejahatan dan kekerasan hampir menjadi konsumsi
kita setiap hari di surat kabar dan televisi. Perzinahan, aborsi dan kasus
kecanduan narkoba menduduki peringkat tertinggi yang terjadi pada generasi
muda. Selain itu arus informasi yang masuk hampir tanpa batas, seperti
mode/gaya hidup orang barat, telah diadopsi tanpa filter (saringan) dan
dijadikan sebagai suatu kebiasaan dan kebanggaan.
Fenomena ini hendaknya dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita. Apakah
selama ini kita menjaga diri, keluarga dan masyarakat di sekitar kita agar
tidak terkena dampak demoralisasi. Ataukah selama ini kita lupa dan
melalaikannya. Padahal Allah dengan jelas memberikan perintah kepada kita dalam
firmanNya,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا
“Hai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”.
(At-Tahrim: 6).
Hadirin rahimakumullah
Kita harus mewaspadai gejala ini, sebab jika tidak, akan menimbulkan preseden
buruk bagi generasi yang akan datang. Kita bisa membayangkan seperti apa
jadinya generasi yang akan datang jika generasi sekarang seperti ini. Dan
inilah yang Allah gambarkan sebagai generasi yang buruk, suatu generasi yang
akan membawa pada kehancuran dan kesesatan. Allah berfirman,
فَخَلَفَ
مِنْ
بَعْدِهِمْ
خَلْفٌ
أَضَاعُوا
الصَّلَاةَ
وَاتَّبَعُوا
الشَّهَوَاتِ
فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ
غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan
menemui kesesatan”. (Maryam: 59).
Pada
ayat ini Allah menjelaskan bahwa ada dua karakter utama dari generasi yang
buruk yaitu adla’ush-shalah (menyia-nyiakan shalat) dan ‘wattaba’usy-syahwat
(memperturutkan hawa nafsu).
Karakter pertama dari generasi yang buruk adalah menyia-nyiakan shalat. Shalat
merupakan tiang agama dan amalan yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat
yang memiliki fungsi langsung berkaitan dengan komunikasi seorang hamba dengan
Rabb-nya. Dalam suatu hadits Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amalan yang
pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika ia (shalatnya itu) baik,
maka baik pula seluruh amalnya. Sebaliknya jika jelek maka jelek pulalah
seluruh amalnya”. (HR. Muslim).
Dari hadits ini menunjukkan bahwa shalat merupakan amalan utama yang akan
mempengaruhi perbuatan yang lain. Dan secara psikologis orang yang selalu
melaksanakan shalat dengan baik akan mempunyai benteng pertahanan dari
perbuatan-perbuatan yang keji dan munkar, hal ini akibat adanya ikatan batin
yang kuat antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
إِنَّ
الصَّلَاةَ
تَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
perbuatan keji dan munkar”. (Al-Ankabut: 45).
Maka
jelaslah suatu kaum atau generasi yang menyia-nyiakan shalat tidak akan
mempunyai benteng yang kuat dari perbuatan yang keji dan munkar, sehingga akan
cenderung melakukan kemaksiatan.
Karakter kedua dari generasi yang buruk adalah memper-turutkan hawa nafsu. Ke
mana hawa nafsunya condong, ke situlah ia berjalan. Generasi seperti ini tidak
memperdulikan apakah sesuatu yang ia lakukan halal atau haram, dosa atau berpahala,
yang terpenting bagi mereka tercapai semua yang diinginkannya. Dalam hal
berpakaianpun yang penting mode atau sedang trend, tidak peduli apakah pakaian
tersebut menutupi aurat atau malah mempertontonkan aurat. Generasi seperti ini
hanya akan membawa kesesatan hidup di dunia dan di akhirat. (fana’udzu billah)
Hadirin rahimakumullah
Oleh karena itu, persiapan pembentukan generasi yang akan datang mutlak suatu
keharusan yang tidak bisa dibantah lagi. Sehingga perlu dipersiapkan dengan
sebaik-baiknya, baik yang berkaitan dengan akidahnya, pendidikannya,
muamalahnya, juga yang berkaitan dengan akhlaknya, sehingga pergantian generasi
yang berlangsung menghasilkan generasi baru yang lebih baik daripada
pendahulunya.
Banyak teladan yang bisa kita ikuti dari para nabi dalam mempersiapkan generasi
yang akan datang. Sebagai contoh, dalam Al-Qur’an diungkapkan bahwa para nabi
pun mempersiapkan masalah peralihan generasi ini dengan sebaik-baiknya. Kita
bisa lihat pada surat Al-Baqarah ayat 132 dan 133, Allah berfirman:
وَوَصَّى
بِهَا
إِبْرَاهِيمُ
بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ
يَا بَنِيَّ
إِنَّ
اللَّهَ
اصْطَفَى
لَكُمُ
الدِّينَ
فَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ،
أَمْ كُنْتُمْ
شُهَدَاءَ
إِذْ حَضَرَ
يَعْقُوبَ
الْمَوْتُ
إِذْ قَالَ
لِبَنِيهِ
مَا
تَعْبُدُونَ
مِنْ بَعْدِي
قَالُوا
نَعْبُدُ
إِلَهَكَ
وَإِلَهَ
آبَائِكَ
إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ
إِلَهًا
وَاحِدًا
وَنَحْنُ لَهُ
مُسْلِمُونَ
“Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub.
(Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini
bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam’. Adakah
kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata
kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab:
‘Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan
Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya’.”
Kita lihat di sini, bahwa akhlak dan akidah generasi pengganti para nabi itu
sama. Ada persamaan ideologi dan idealisme antara generasi pendahulu dengan
generasi berikutnya. Kata ‘wawashsha’ dalam ayat 132 di atas berarti berwasiat,
mendidik atau mengajarkan. Ini menunjukkan bahwa upaya mempersiapkan gene-rasi
pengganti supaya lebih baik daripada generasi pendahulunya dilakukan melalui
proses pendidikan dan pembinaan. Dan, nilai-nilai atau ideologi yang
diwasiatkan atau diwariskan oleh generasi pendahulu itu tidak lain adalah
nilai-nilai dan ideologi Islam. Kata ‘bi ha’ dalam ayat ini menunjukkan
pengertian pada kalimat sebelum-nya (pada ayat 131), yaitu keislaman.
Kemudian, dalam ayat 132 ini digunakan kata ‘isthafa’ yang mengandung arti ada
kesadaran untuk memberikan alternatif terbaik. ‘isthafa’ ini bukan sekadar
memberikan pilihan, atau disuruh memilih, tetapi mengajarkan, memilih, dan
memberikan alternatif terbaik. ‘Innallaha isthafa lakum ad-diina’ (sesungguhnya
Allah telah memilihkan agama ini buat kalian). Jika kata-kata ‘diin’ (agama)
disertai alif-lam (ini disebut alif-lam ma’rifat), maka kalimat ini menunjukkan
kekhususan terhadap agama yang dimaksud, yaitu Islam. Ini berbeda dengan kata
‘diin’ (tanpa alif-lam), yang berarti agama dalam arti luas. Jadi, yang
dimaksud ‘ad-diin’ dalam ucapan Ibrahim ini adalah jelas diinul Islam. Sehingga
pada akhir ayat ini dinyatakan: “fa la tamutunna illa wa antum muslimuun” (maka
janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam). Ini menunjukkan,
bahwa bukan kematiannya yang perlu kita takuti, tetapi yang harus ditakuti
adalah mati tidak dalam keadaan Islam. Jika mati pun dilarang kecuali dalam
keadaan Islam, maka apalagi pada waktu hidup. Inilah yang berkaitan dengan
islamiyyatul hayah atau Islamisasi kehidupan, baik ekonomi kita, pendidikan,
politik, ataupun teknologi dan lain-lainnya.
Ayat selanjutnya, Al-Baqarah ayat 133, mengungkapkan tentang bagaimana
perhatian (kekhawatiran) Nabi Ya’qub terhadap anak-anaknya (generasi pengganti)
dalam hal akidah dan ideologi mereka. Dalam ayat ini Allah menggambarkan,
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia
ber-kata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggal-ku?”
Inilah yang dikatakan pewarisan keyakinan, akidah dan ideologi serta prinsip
hidup (manhajul hayah) yang harus kita persiapkan bagi generasi penerus kita.
Dan jawaban mereka (generasi putra-putra Nabi Ya’qub) sesuai dengan akhlak dan
akidah generasi pendahulunya. Seperti kelanjutan ayat tadi, “Mereka menjawab:
‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan
Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya’.”
Inilah contoh proses regenerasi yang dipersiapkan, yang tidak semata-mata
berkaitan dengan masalah materi, tetapi juga berkaitan dengan manhajul
hayahnya, prinsip hidupnya.
Dari teladan di atas jelas terlihat bahwa dalam mempersiap-kan generasi diawali
dari keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pertama bagi pertumbuhan seorang
anak menjadi faktor terpenting yang mempengaruhi watak dan perkembangan
psikologisnya. Keluarga yang penuh barakah, sakinah, dan diliputi oleh mawaddah
wa rahmah (ketulusan cinta dan kasih sayang) merupakan lingkungan yang baik
dalam membentuk generasi rabbani. Dan, inilah sebetulnya tujuan utama dari
pernikahan sebagaimana yang Allah firmankan,
وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ
خَلَقَ
لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ
أَزْوَاجًا
لِتَسْكُنُوا
إِلَيْهَا
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ
مَوَدَّةً
وَرَحْمَةً
إِنَّ فِي
ذَلِكَ
لَآيَاتٍ
لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
(Ar-Ruum: 21).
Hadirin rahimakumullah
Generasi Rabbani adalah generasi yang baik, penuh dengan keridhaan dan kasih
sayang Allah serta hidupnya selalu dihiasi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dalam surat Al-Furqaan, Allah menyebutkan mereka sebagai ‘ibaddurrahmaan’,
yakni hamba yang disayangi dan dikasihi Allah. Generasi Rabbani sebagai seorang
muslim adalah tumpuan dan harapan yang akan membawa kemajuan Islam dan tegaknya
kalimatullah di bumi ini.
Dalam surat Al-Maidah ayat 54 Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا مَنْ
يَرْتَدَّ
مِنْكُمْ
عَنْ دِينِهِ
فَسَوْفَ
يَأْتِي
اللَّهُ
بِقَوْمٍ
يُحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّونَهُ
أَذِلَّةٍ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
أَعِزَّةٍ
عَلَى
الْكَافِرِينَ
يُجَاهِدُونَ
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَلَا
يَخَافُونَ
لَوْمَةَ
لَائِمٍ
ذَلِكَ
فَضْلُ
اللَّهِ يُؤْتِيهِ
مَنْ يَشَاءُ
وَاللَّهُ
وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang
murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang mu’min dan bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah
karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha
Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui”.
Dari ayat ini bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa karakteristik dari generasi
rabbani yang pertama adalah ‘yuhibbu-hum wa yuhibbuunahu’, mereka mencintai
Allah, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, tidak mau terlibat
dalam kebobrokan-kebobrokan mental generasinya, mempunyai hati yang bersih, dan
Allah pun mencintai mereka. Karakter kedua yaitu adzillatin ‘alal mu’minin
a’izzatin ‘alal kafirin, rendah hati terhadap orang mu’min dan keras terhadap
orang kafir. Dan karakter yang ketiga adalah mereka bergerak dan berjuang di
jalan Allah dan mereka tidak khawatir atau takut terhadap celaan orang-orang
yang suka mencela. Karena mereka menyadari bahwa itu merupakan suatu resiko
dalam perjuangan.
Inilah generasi rabbani yang merupakan sosok muslim yang ideal. Mudah-mudahan
kita bisa membimbing dan mendidik keturunan dan keluarga kita agar menjadi
generasi-generasi rabbani yang akan meneruskan perjuangan dan tegaknya diinul
Islam. Sebab jika tidak maka tunggulah kehancurannya.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ اللهَ
يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى
رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.
|
YAYASAN AL-SOFWA |