Jahil Terhadap Dien Adalah Musuh Kita
Oleh:
Richana Widayani - alsofwah
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الْمَلِكِ
الدَّيَّانِ
الْكَرِيْمِ
الْمَنَّانِ
الرَّحِيْمِ
الرَّحْمَنِ،
أَحْمَدُهُ
سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى
حَمْدًا
يَدُوْمُ
عَلَى الدَّوَامِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ،
وَأَتُوْبُ
إِلَيْهِ
مِنَ الذُّنُوْبِ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
لاَ نَبِيَّ
بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
مَحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
صَلاَةً
وَسَلاَمًا
دَائِمَيْنِ
مَتُلاَزِمَيْنَ
عَلَى
مَمَرِّ
اللَّيَالِيْ
وَالزَّمَانِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
Saudara-saudara sidang Jum’at
rahimakumullah
Dienul Islam, sebelum memfardhukan syiar-syi’arnya lebih dulu memperbaiki
bagian dalam (fikrah/hati) pemeluknya. Dienul Islam sebelum memperbaiki sisi
luarnya (lahiriyah), lebih dulu memperhatikan akarnya. Rukun Islam dan
syiar-syiarnya yang dhohir adalah tiang Islam seperti shalat yang difardhukan
pada malam isra, 12 tahun setelah bi’tsah (masa kenabian), puasa setelah 15
tahun, zakat sesudah 15 tahun dan haji sesudah 23 tahun dari bi’tsah. Apa
rahasia semua ini?
Beliau Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melakukan usaha yang sangat
melelahkan dalam nenancapkan akar-akar (pondasi) keimanan, memperbaiki jiwa
pemeluk Islam, mengkokohkan tauhid, menjelas-kan makna kalimat laailaha
illallah, mempertautkan hati para shahabat dan mengukuhkan ikatan dengan Sang
Penciptanya, dan memperbaiki bathiniyah mereka. Dan yang menciptakan fitrah ini
mengetahui bahwa yang dhohir harus ditegakkan di atas yang bathin, syiar-syiar
ibadah harus ditegakkan berdasarkan ilmu.
Suatu pelajaran berharga dari hikmah turunnya wahyu pertama adalah “IQRO”. Maka
dari sini, jelaslah bahwa yang dida’wahkan oleh Islam yang pertama kali adalah
belajar dan menyingkirkan kebodohan. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah:
اَلْجَهْلُ
وَالظُّلْمُ
هُمَا
أَصْلُّ كُلِّ
شَرٍّ.
“Kebodohan dan kezhaliman adalah
pangkal dari segala keburukan”. Umar bin Khathab berkata:
لاَ
يَعْرِفُ
اْلإِسْلاَمَ
مَنْ لاَ
يَعْرِفُ
الْجَاهِلِيَّةَ.
“Seseorang tidak bisa mengenal Islam
apabila dia tidak mengerti jahiliyah”.
Wahai saudara-saudaraku ...
Perkataan ini berlaku untuk sejarah kapanpun dan manusia manapun. Sejauh mana
kita mengenal jahiliyyah, sejauh itu pulalah kita mengenal Islam.
Kita dapat mengerti definisi jahiliyah dalam Al-Qur’an. Yang pertama kita harus
tahu bahwa lafazh jahiliyah merupakan istilah Al-Qur’an. Semua istilah
Al-Qur’an digunakan secara khusus, dengan menggunakan lafazh tertentu, yang
dikhususkan dengan pengertian tertentu pula.
Sebagaimana lafazh
Demikian pula jahiliyah, Jahil menurut bahasa adalah lawan dari kata ilmu atau
lawan dari kata sopan santun, tetapi apabila Al-Qur’an menyebutkan jahiliyah,
maka jahiliyah tersebut bermakna tertentu. Antara lain:
·
Tidak mengetahui hakekat Uluhiyyah
Dan Kami seberangkan Bani Isra’il keseberang lautan itu, maka setelah mereka sampai
kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka. Bani Isra’il berkata:
“Hai musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka
mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini
adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Allah)”. (QS. Al-A’raf:138)
·
Terjebak dalam perbuatan yang menyalahi perintah Allah
dan yang diharamkanNya. “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai
dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan
daripadaku tipudaya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan
mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33).
·
Berhias dan bertingkah laku menyalahi perintah Allah.
Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah
yang dahulu. (QS. Al-Ahzab:33).
·
Berhukum dengan selain hukum yang ditetapkan Allah.
Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki. Dan hukum siapakah yang lebih
baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Al-Maidah: 50).
Saudara
seiman rahimakumullah ...
Kondisi semacam ini banyak terjadi di perbagai belahan dunia Islam. Bahkan
semangat di negeri ini untuk mendalami keduniaan mendapat perhatian besar dan
digalakkan. Sebenarnya masing-masing kita bisa menggambarkan betapa
ketidaktahuan umat Islam akan ajaran diennya dewasa ini telah sampai pada
‘titik’ yang sangat mengkhawatirkan. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala telah
mengecam manusia yang semacam ini dalam firmanNya:
وَعْدَ
اللَّهِ لَا
يُخْلِفُ
اللَّهُ
وَعْدَهُ
وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا
يَعْلَمُونَ،
يَعْلَمُونَ
ظَاهِرًا مِنَ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ
هُمْ
غَافِلُونَ
Janji Allah, yang Allah
tidak akan menyelisihi janjiNya. Tetapi kebanyakan menusia tidak mengerti,
mereka (hanya) mengetahui secara lahir (saja) dari kehidupan dunia, mereka
lalai terhadap akhirat. (QS. Ar Ruum: 6-7).
Imam Ibnu Katsir dalam menafsiri ayat yang ketujuh mengatakan: ”Maksudnya
kebanyakan manusia seakan tidak punya ilmu kecuali ilmu dunia dengan segala
ragamnya. Dalam masalah ini mereka cendekia tetapi mereka lalai (bodoh)
terhadap perkara-perkara dien dan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka di
akherat. Mereka dalam hal ini bagai orang dungu yang tak punya nalar dan akal
pikiran!”.
Demi Allah, wahai saudara-saudaraku ...
Kebodohan adalah sumber penyimpangan. Dapat kita ketahui tragedi penyimpangan
dalam sejarah Islam.
Bila penyimpangan yang dilakukan Iblis merupakan penyim-pangan perdana dalam
sejarah, maka penyimpangan yang dilakukan oleh kaum khawarij tercatat sebagai
yang pertama dalam sejarah umat Nabi Muhammad n.
Ketika itu Dzil Khuwaisharah At-Tamimi berkata kepada Rasulullah Shalallaahu
alaihi wasalam: “Berbuat adillah hai Muhammad, sesungguhnya engkau tidak
berbuat adil”.
Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membagi
ghanimah (rampasan perang) hunain kepada para sahabat yang ikut pada peristiwa
peperangan hunain. Maka muncullah protes itu, sampai sahabat Umar bin Khathab
Radhiallaahu anhu berkata: “Bagaimana kalau orang ini saya bunuh ya
Rasulullah?”, lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Dari jenis
orang ini, akan muncul suatu kaum yang keluar dari Islam sebagaimana melesatnya
anak panah dari busurnya…!”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Jelas bahwa protes yang semacam itu adalah penentangan terang-terangan terhadap
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang lahir dari sikap takabur dan
mengikuti hawa nafsu serta kebodohan.
Saudaraku seiman...
Telah kami sebutkan bahwa syi’ar-syi’ar ibadah harus ditegakkan berdasarkan
ilmu, demikian pula amal harus didasari ilmu jika tidak akibatnya akan
terjerumus ke dalam bid’ah, syirik yang akan membuat sia-sianya amal.
Berkata Fudhail bin Iyadh: “Sesungguhnya amal yang dikerjakan dengan ikhlas
tetapi tidak benar tidak akan diterima begitu juga jika amal itu ikhlas namun
tidak benar, ikhlas hendaklah amal itu hanya untuk Allah dan benar hendaklah
tegak berdasarkan sunnah”.
Dari perkataan Fudhail bin Iyadh dapat kita jabarkan lagi, sesungguhnya ibadah
(amal) dalam Islam mempunyai dua syarat mutlak untuk bisa diterima di sisi
Allah azza wa jalla. Yang keduanya harus dipadukan tidak boleh diambil sebagian
dan ditinggalkan sebagian. Adapun dua syarat yang dimaksud adalah:
·
Ikhlas ; adalah memfokuskan tujuan ibadah (amal) hanya
kepada Allah semata tidak memalingkan kepada selainNya sekecil apapun. Syarat
ini berkaitan erat dengan niat yaitu dorongan awal dari dikerjakannya semua
amal.
Sesungguhnya setiap amal itu disesuaikan dengan niatnya dan setiap orang akan
diganjar sesuai dengan niatnya pula. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
·
Mutaba’ah ; yaitu mengikuti sunnah Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam . Seseorang yang mau beramal dalam Islam harus
menyelaraskan amalnya dengan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
Sebab jika tidak demikian akan menjerumuskan ke dalam kubangan bid’ah. Bid’ah
adalah suatu cara dalam dien yang diciptakan untuk menandingi syari’at dengan
maksud untuk dipraktekkan dalam ibadah.
Banyak sekali orang yang mengerjakan ibadah dengan ikhlas tetapi sungguh sayang
mereka bodoh, tidak berilmu, tidak faham dengan sunnah sehingga sia-sia
amalnya. Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu berkata:
قَصَمَ
ظَهْرِيْ
رَجُلاَنِ؛
عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ
وَجَاهِلٌ
مُتَنَسِّكٌ.
“Dua orang
yang membuat lemah punggungku, orang berilmu yang merusak dan orang bodoh yang
rajin beribadah.”
Akibat
lain dari kebodohon terhadap dien adalah terperosok ke dalam penghambaan kepada
selain Allah. Ketika Adi bin Hatim menghadap Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam , di lehernya tergantung salib dari perak, kemudian Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam membacakan ayat:
اتَّخَذُوا
أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا
مِنْ دُونِ
اللَّهِ
Mereka menjadikan
orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (QS.
At-Taubah: 31)
Maka jawab Adi bin Hatim: “Sesungguhnya mereka tidak menyembahnya!” Sabda Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam : “Benar, tetapi sesungguhnya mereka mengharamkan
yang halal, dan menghalalkan yang haram, lalu mereka mengikuti, itulah ibadah
kepada mereka”. (HR. At-Tirmidzi).
Dari kisah ini nampak ketidaktahuan Adi bin Hatim tentang hakekat ibadah, Adi
mengira bahwa ibadah hanya ruku’ dan sujud, tetapi dibantah oleh Rasulullah,
bahwa ketaatan atas ketentuan selain yang diputuskan oleh Allah juga termasuk
ibadah.
Berkata Imam Sufyan Ats Tsauri: “Bid’ah itu lebih dicintai iblis dari pada
kemaksiatan, karena orang yang berbuat maksiat mempunyai keinginan untuk
bertaubat dari nya.”
Sedang perbuatan bid’ah yang salah dianggap hasanah dan ibadah, mana mungkin
orang ini bertaubat dari kesalahannya, kalau kesalahan itu dianggap hasanah.
Sehingga ahlul bid’ah lebih dicintai oleh iblils la’natullah, naudzubillah.
Orang seperti ini akan bertaubat bila diberi ilmu dan hidayah oleh Allah. Kita
berdo’a semoga kita semua senantiasa ditunjuki ke jalan yang lurus. Amiiin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَلَّ
اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل
لَّهُ مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ لَهُ
أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ رَبِّكَ
رَبِّ الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.