Dzikrul Maut
Senin,
25 Oktober 04 Oleh:
Agus hasan Bashori, Lc
Maasyiral
Muslimin rahimakumullah
Tiada
kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini
melainkan kata-kata syukur kepada Allah yang telah mencurahkan kenikmatan-
kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa
syukur kita dengan melakukan perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Kemudian
tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah semuanya,
marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan
ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.
Kehidupan
seseorang di dunia ini dimulai dengan dilahirkan-nya seseorang dari rahim
ibunya. Kemudian setelah ia hidup beberapa lama, iapun akan menemui sebuah
kenyataan yang tidak bisa dihindari, kenyataan sebuah kematian yang akan
menjemput-nya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
كُلُّ
نَفْسٍ
ذَائِقَةُ
الْمَوْتِ
وَإِنَّمَا
تُوَفَّوْنَ
أُجُورَكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَمَنْ
زُحْزِحَ
عَنِ
النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ
فَقَدْ فَازَ
وَمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
إِلَّا
مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah
akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung dan kehidupan dunia
hanyalah kehi-dupan yang memperdaya-kan”. (Ali-Imran: 185)
Ayat
di atas adalah merupakan ayat yang agung yang apabila dibaca mata menjadi
berkaca-kaca. Apabila didengar oleh hati maka ia menjadi gemetar. Dan apabila
didengar oleh seseorang yang lalai maka akan membuat ia ingat bahwa dirinya
pasti akan menemui kematian.
Memang perjalanan menuju akhirat merupakan suatu perjalanan yang panjang. Suatu
perjalanan yang banyak aral dan cobaan, yang dalam menempuhnya kita memerlukan
perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Yaitu suatu perjalanan yang
menentukan apakah kita termasuk penduduk surga atau neraka.
Perjalanan
itu adalah kematian yang akan menjemput kita, yang kemudian dilanjutkan dengan
pertemuan kita dengan alam akhirat. Karena keagungan perjalanan ini, Rasulullah
telah bersabda:
لَوْتَعْلَمُوْنَ
مَا أَعْلَمُ
لَضَحِكْتُمْ
قَلِيْلاً
وَلَبَكَيْتُمْ
كَثِيْرًا.
“Andai saja
engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan
banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih)
Maksudnya apabila kita tahu hakekat kematian dan keadaan alam akhirat serta
kejadian-kejadian di dalamnya niscaya kita akan ingat bahwa setelah kehidupan
ini akan ada kehidupan lain yang lebih abadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ
وَأَبْقَى
Dan kehidupan akhirat
itu lebih baik dan lebih kekal. (Al-A’la: 17).
Akan tetapi kadang kita lupa akan
perjalanan itu dan lebih memilih kehidupan dunia yang tidak ada nilainya di
sisi Allah.
Jama’ah Jum’at yang berbahagia.
Marilah kita siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyempurnakan perjalanan
itu, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah. Dan marilah kita
perbanyak taubat dari segala dosa-dosa yang telah kita lakukan. Seorang penyair
berkata:
Lakukanlah bagimu taubat yang penuh pengharapan. Sebelum kematian dan sebelum
dikuncinya lisan. Cepatlah bertaubat sebelum jiwa ditutup. Taubat itu sempurna
bagi pelaku kebajikan.
Allah Subhannahu wa Ta'ala’ berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
تُوبُوا إِلَى
اللَّهِ
تَوْبَةً
نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya”.
(At-Tahrim: 8)
Ingatlah wahai saudaraku.
Di kala kita merasakan pedihnya kematian maka Rasulullah sebagai makhluk yang
paling dicintai oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala telah bersabda Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam :
لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
إِنَّ
لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.
“Tiada
sesembahan yang haq melainkan Allah, sesungguhnya di dalam kematian terdapat
rasa sakit”. (H.R. Bukhari)
Ingatlah
di kala nyawa kita dicabut oleh malaikat maut. Nafas kita tersengal, mulut kita
dikunci, anggota badan kita lemah, pintu taubat telah tertutup bagi kita. Di
sekitar kita terdengar tangisan dan rintihan handai taulan yang kita
tinggalkan. Pada saat itu tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari sakaratul
maut. Tiada daya dan usaha yang bisa menyelamatkan kita dari kematian.
Allah
Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
وَجَاءَتْ
سَكْرَةُ
الْمَوْتِ
بِالْحَقِّ
ذَلِكَ مَا
كُنْتَ
مِنْهُ
تَحِيدُ
“Dan datanglah
sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”.
(Qaaf: 19)
Allah
juga berfirman:
أَيْنَمَا
تَكُونُوا
يُدْرِكْكُمُ
الْمَوْتُ
وَلَوْ
كُنْتُمْ فِي
بُرُوجٍ
مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu
berada, kematian akan mendapatkan-mu, kendatipun kamu berada di benteng yang
kuat”. (An-Nisaa’: 78)
Jamaah
Jum’at yang berbahagia.
Cukuplah
kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadi-kan hati bersedih, cukuplah
kematian menjadikan air mata berlinang. Perpisahan dengan saudara tercinta.
Penghalang segala kenikmatan dan pemutus segala cita-cita.
Marilah
kita tanyakan kepada diri kita sendiri, kapan kita akan mati ? Di mana kita
akan mati ?
Demi
Allah, hanya Allah-lah yang mengetahui jawabannya, oleh karenanya marilah kita
selalu bertaubat kepada Allah dan jangan kita menunda-nunda dengan kata nanti,
nanti dan nanti.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا
التَّوْبَةُ
عَلَى
اللَّهِ لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ
السُّوءَ
بِجَهَالَةٍ
ثُمَّ
يَتُوبُونَ
مِنْ قَرِيبٍ
فَأُولَئِكَ
يَتُوبُ
اللَّهُ
عَلَيْهِمْ
وَكَانَ
اللَّهُ
عَلِيمًا
حَكِيمًا،
وَلَيْسَتِ
التَّوْبَةُ
لِلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ
السَّيِّئَاتِ
حَتَّى إِذَا
حَضَرَ
أَحَدَهُمُ
الْمَوْتُ
قَالَ إِنِّي
تُبْتُ
الْآنَ
“Sesungguhnya taubat di
sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejelekan lantaran
kejahilannya, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah
yang diterima oleh Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang
mengerjakan kejelekan (yang) hingga apabila datang kematian kepada seseorang di
antara mereka, mereka berkata: Sesungguhnya aku bertaubat sekarang”.
(An-Nisaa’: 17-18)
Sidang
Jum’at yang berbahagia.
Marilah
kita tanyakan kepada diri kita. apa yang menjadikan diri kita terperdaya dengan
kehidupan dunia, padahal kita tahu akan meninggalkannya. Perlu kita ingat bahwa
harta dan kekayaan dunia yang kita miliki tidak akan bisa kita bawa untuk
menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya amal shalihlah yang akan kita bawa
nanti di kala kita menemui Allah.
Maka
marilah kita tingkatkan amalan shaleh kita sebagai bekal nanti menuju akhirat
yang abadi.
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
أَقُولُ قَوْ
لِي هَذَا
وَاسْتَغْفِرُوا
اللهَ اِنَّهُ
هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمْ
تَسْلِمًا.
أما بعد:
Marilah
kita mencoba merenungi sisa-sisa umur kita, muhasabah pada diri kita
masing-masing. Tentang masa muda kita, untuk apa kita pergunakan. Apakah untuk
melaksanakan taat kepada Allah ataukah hanya bermain-main saja ? Tentang harta
kita, dari mana kita peroleh, halalkah ia atau haram ? Dan untuk apa kita
belanjakan, apakah untuk bersedekah ataukah hanya untuk berfoya-foya? Dan terus
kita muhasabah terhadap diri kita dari hari-hari yang telah kita lalui.
Perlu kita ingat, umur kita semakin berkurang. Kematian pasti akan menjemput
kita. Dosa terus bertambah. Lakukanlah taubat sebelum ajal menjemput kita.
Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخَوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ لِلَّذِيْنَ
آمَنُواْ
رَبَّنَا
إِنَّكّ
رَؤُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ بَيْنَنَا
وَبَيْنَ
قَوْمِنَا
بِالْحَقِّ وَأَنْتَ
خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا
نًافِعًا وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلاً
مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانِ
إِلَى يِوْمِ
الدِّيْنِ
وَآَخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
للهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ.
|
YAYASAN AL-SOFWA |