Cinta Dan Benci Karena Allah
Alsofwah, Rabu, 17 Maret 04, Oleh: Ramaisha Ummu Hafidz
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Jamaah Jum’ah rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Azza wajalla, yang telah
menganugerakan rasa cinta dan benci dihati para makhlukNya. Dan hanya Dia
pulalah yang berhak mengatur kepada siapakah kita harus mencintai dan kepada
siapa pula kita membenci.
Jama’ah sidang Jum’ah
rahimakumullah
Cinta yang paling tinggi dan paling wajib serta yang paling bermanfaat mutlak
adalah cinta kepada Allah Ta’ala semata, diiringi terbentuknya jiwa oleh sikap
hanya menuhankan Allah Ta’ala saja. Karena yang namanya Tuhan adalah sesuatu
yang hati manusia condong kepadanya dengan penuh rasa cinta dengan
meng-agungkan dan membesarkannya, tunduk dan pasrah secara total serta
menghamba kepadaNya. Allah Ta’ala wajib dicintai karena DzatNya
sendiri,sedangkan yang selain Allah Ta’ala dicintai hanya sebagai konsekuensi dari
rasa cinta kepada Allah Ta’ala.
Jamah Jum’ah yang berbahagia.
Dalam Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda:
أَوْثَقُ
عُرَى
اْلإِيْمَانِ
الْحُبُّ فِي
اللهِ
وَالْبُغْضُ
فِي اللهِ.
(رواه الترمذي).
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan
benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Rasulullah
juga bersabda:
مَنْ
أَحَبَّ
لِلَّهِ
وَأَبْغَضَ
لِلَّهِ وَأَعْطَى
لِلَّهِ
وَمَنَعَ
لِلَّهِ فَقَدِ
اسْتَكْمَلَ
اْلإِيْمَانَ.
(رواه أبو
داود
والترمذي
وقال حديث
حسن).
“Barangsiapa yang mencintai
karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi
karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan
At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)
Jamaah Jum’ah yang berbahagia.
Dari dua hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan
kecintaan dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai
terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci
Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak
diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah
segala yang dicegah Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk
memberikan dan tidak memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia
diberi.
Jamaah Jum’ah yang dimuliakan
Allah.
Dalam pengertian menurut syariat, dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai
karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang –orang
yang beriman dan taat kepada Allah ta’ala karena keimanan dan ketaatan yang
mereka lakukan.
Sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah
mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang
mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya
dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan
kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan
dengan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لَا
تَجِدُ
قَوْمًا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ
يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
وَلَوْ
كَانُوا
آبَاءَهُمْ
أَوْ أَبْنَاءَهُمْ
أَوْ
إِخْوَانَهُمْ
أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah
dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara
ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)
Jamaah Jum’ah yang
berbahagia……
Jadi, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta pengikut mereka di seluruh
penjuru dunia adalah orang-orang yang lebih berhak untuk kita cintai (meskipun
kita tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka), dari pada orang-orang yang
dekat dengan kita seperti tetangga kita, orang tua kita, anak-anak kita
sendiri, saudara-saudara kita, ataupun saudara kita yang lain, apabila mereka
itu membenci, memusuhi dan menentang Allah dan RasulNya dan tidak melakukan
ketaatan kepada Allah dan RasulNya maka kita tidak berhak untuk mencintai
melebihi orang-orang yang berjalan di atas al-haq dan orang yang selalu taat
kepada Allah dan rasulNya. Demikian juga kecintaan dan kebencian yang tidak
disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada kitabullah dan sunnah
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Dan hal ini bermacam-macam jenisnya di
antaranya adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh harta kekayaan,
derajat dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran, kekeluargaan dan
lain-lain, tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah digariskan oleh
Allah Ta’ala
Jamaah Jum’ah yang berbahagia
...
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Bahwasannya seorang mukmin wajib
dicurahkan kepadanya kecintaan dan kasih sayang meskipun mendhalimi dan
menganggu kamu, dan seorang kafir wajib dicurahkan kepadanya kebencian dan
permusuhan meskipun selalu memberi dan berbuat baik kepadamu.”
Ma’asyiral Muslimin
rahimakumullah ...
Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyah, marilah
kita berlindung kepada Dzat yang membolak-balikkan hati, supaya hati kita
dipatri dengan kecintaan dan kebencian yang disyariatkan oleh Allah dan
RasulNya. Karena kadang orang-orang yang menentang Allah di sekitar kita lebih
baik sikapnya terhadap kita dari pada orang-orang yang beriman kepada Allah,
sehingga kita lupa dan lebih mencintai orang-orang kafir dari pada orang-orang
yang beriman. Naudzubilla min dzalik.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
...
Dalam pandangan ahlusunnah wal jamaah kadar kecintaan dan kebencian yang harus
dicurahkan terbagi menjadi tiga kelompok:
1.
Orang-orang yang dicurahkan
kepadanya kasih sayang dan kecintaan secara utuh. Mereka adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan RasulNya, melaksanakan ajaran Islam dan
tonggak-tonggaknya dengan ilmu dan keyakinan yang teguh . Mereka adalah
orang-orang yang mengikhlaskan segala perbuatan dan ucapannya untuk Allah
semata. Mereka adalah orang-orang yang tunduk lagi patuh terhadap
perintah-perintah Allah dan RasulNya serta menahan diri dari segala yng
dilarang oleh Allah dan Rasulnya. Mereka adalah orang-orang yang mencurahkan
kecintaan, kewala’an, kebencian dan permusuhan karena Allah ta’ala serta
mendahulukan perkataan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam atas yang lainnya
siapapun orangnya.
2.
Orang-orang yang dicintai dari
satu sisi dan dibenci dari sisi lainnya.
Mereka adalah orang yang mencampuradukan antara amalan yang baik dengan amalan
yang buruk, maka mereka dicintai dan dikasihani dengan kadar kebaikan yang ada
pada diri mereka sendiri, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar
kejelekan yang ada pada diri mereka. Dalam hal ini kita harus dapat
memilah-milah, seperti muamalah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam terhadap
seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Himar. Saat itu Abdulllah bin Himar
dalam keadaan minum khamr maka dibawalah dia kehadapan Rasulullah Shalallaahu
alaihi wasalam, tiba-tiba sorang laki-laki melaknatnya kemudian berkata:
“betapa sering dia didatangkan kehadapan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
dalam keadaan mabuk.” Rasulullah bersabda: “janganlah engkau melaknatnya.
Sesungguhnya dia adalah orang yang cinta kepada Allah dan RasulNya (Shohih
Al-Bukhari kitab Al-Hudud). Pada hal jama’ah yang berbahagia, dalam riwayat Abu
Dawud dalam kitab Al-Asyribah juz 4 yang dishahihkan oleh Al-Bani dalam shahih
Al-Jami Ash Shaghir hadits nomer 4967 Rasulullah n melaknat khamr, orang yang
meminumnya, orang yang menjualnya, orang yang memerasnya dan orang yang minta
diperaskan, orang yang membawanya dan orang yang dibawakan khamr kepadanya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ... adapun yang ketiga
3.
Orang–orang yang dicurahkan
kebencian dan permusuhan kepadanya secara utuh.
Mereka adalah orang yang tidak beriman kepada rukun iman dan orang yang
mengingkari rukun Islam baik sebagian atau keseluruhan dengan rasa mantap,
orang yang mengingkari asma’ wa sifat Allah ta’ala, atau orang yang meleburkan
diri dengan ahlu bida’ yang sesat dan menyesatkan, atau orang yang melakukan
hal-hal yang membatalkan keIslamannya. Terhadap orang ini wajib bagi kita untuk
membenci secara utuh, karena mereka adalah musuh Allah dan RasulNya Shalallaahu
alaihi wasalam.
Sidang Jumah yang dimuliakan
Allah
1. Memberitahukan kepada orang
yang dicintai bahwa kita mencintai karena Allah ta’ala. Diriwayatkan dari Abu
Dzar Radhiallaahu anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam bersabda:
إِذَا
أَحَبَّ
أَحَدُكُمْ
صَاحِبَهُ
فَلْيَأْتِ
فِيْ
مَنْزِلِهِ
فَلْيُخْبِرْهُ
أَنَّهُ
يُحِبُّهُ
فِي اللهِ تَعَالَى.
(رواه ابن
المبارك في
الزهد، 712).
“Apabila ada seorang dari
kalian mencintai temannya hendaklah dia datangi rumahnya dan mengkhabarinya
bahwa ia mencintainya (seorang teman tadi) kerena Allah Ta’ala.” (HR.Ibnul
Mubarok dalam kitab Az-Zuhdu, hal 712 dengan sanad shohih)
2. Saling memberi hadiah
Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah Radhiallaahu anhu:
تَهَادَوْا
تَحَابُّوْا.
(رواه البخاري
في الأدب
المفرد 120
والبيهقي، 6/169،
وسنده حسن).
“Saling memberi hadiahlah kalian,
niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Adabul
Mufrod, hal 120 dan Baihaqi 6/169 dengan sanad hasan)
3. Saling mengunjungi
Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah .
يَا
أَبَا
هُرَيْرَةَ!
زُرْ غِبًّا
تَزْدَدْ
حُبًّا. (رواه
الطبراني
والبيهقي، سنده
صحيح).
“Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah
engkau dengan baik tidak terlalu sering dan terlalu jarang, niscaya akan
bertambah sesuatu dengan kecintaan.” (HR.Thabrani dan Baihaqi dengan sanad yang
shahih)
4. Saling menyebarkan salam.
لاَ
تَدْخُلُوْنَ
الْجَنَّةَ
حَتَّى
تُؤْمِنُوْا
وَلاَ تُؤْمِنُوْا
حَتَّى
تَحَابُّوْا،
أَوَلاَ
أَدُلُّكُمْ
عَلَى شَيْءٍ
إِذَا
فَعَلْتُمُوْهُ
تَحَابَبْتُمْ،
أَفْشُوا
السَّلاَمَ
بَيْنَكُمْ.
(رواه مسلم، 2/35).
“Tidaklah kalian masuk Surga sehingga
kalian beriman, tidakkah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai,
Maukah kamu aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kalian melakukan-nya
akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim 2/35).
5. Meninggalkan dosa-dosa.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
مَا
تَوَادَّ
اثْنَانِ فِي
اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ أَوْ
فِي
اْلإِسْلاَمِ
فَيَفْرُقُ
بَيْنَهُمَا
إِلاَّ
بِذَنْبٍ
يُحْدِثُهُ
أَحَدُهُمَا.
(رواه البخاري
في الأدب
المفرد ص 84 وهو
حديث حسن).
“Tidaklah dua orang yang saling
mencintai karena Allah atau karena Islam kemudian berpisah kecuali salah satu
dari ke duanya telah melakukan dosa.” (HR. Al-Bukhari dalam kitabnya Al-Adab
AlMufrad hal.84)
6. Meninggalkan perbuatan
ghibah (membicarakan sesuatu tentang saudaranya di saat tidak ada, dan jika
saudaranya tersebut mendengarkan dia marah-marah atau tidak suka) Allah
berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا
مِنَ
الظَّنِّ
إِنَّ بَعْضَ
الظَّنِّ
إِثْمٌ وَلَا
تَجَسَّسُوا
وَلَا يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ
بَعْضًا
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ
أَنْ
يَأْكُلَ
لَحْمَ
أَخِيهِ
مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوهُ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
إِنَّ
اللَّهَ
تَوَّابٌ
رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah
sebagian kamu menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain,sukakah salah seorang
di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentunya kamu
merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Penerima tubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat:12)
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
Jama’ah Jum’at yang berbahagia
...
Kewajiban saling mencintai dijalan Allah bukanlah suatu perintah yang tidak
membawa hasil apa-apa. Tetapi Allah memerintahkan sesuatu itu pasti ada buahnya
dan hasilnya. Buah dan hasil dari saling mencintai di jalan Allah di antaranya
adalah:
1.
Mendapatkan kecintaan Allah.
2.
Mendapatkan Kemuliaan dari
Allah.
3.
Mendapatkan naungan Arsy Allah
di hari kiamat, pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
4.
Merasakan manisnya iman.
5.
Meraih kesempurnaan iman.
6.
Masuk Surga
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang tunduk patuh hanya kepada
Allah. Semoga kecintaan dan kebencian kita selalu sesuai dengan apa yang telah
disyariatkan oleh Allah dan RasulNya n. Apalagi yang kita harapkan kecuali
mendapatkan kecintaan dari Allah, mendapatkan kemuliaan dari Allah, mendapatkan
naungan ‘Arsy Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, meraih
manisnya Iman, mendapatkan kesempurnaan iman dan masuk ke dalam SurgaNya yang
tinggi. Semoga Allah selalu memberkahi dan merahmati kita. Amiin.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيْرٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ.