Bersungguh-Sungguh
Di Dunia, Sukses Di Akhirat
www.alsofwah.or.id Rabu, 08 September 04. Oleh: Sulikan Sariyun
Bacaan Khutbah Pertama :
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
الَّذِيْ
خَلَقَ
اْلإِنْسَانَ
وَسَائِرَ
الْمَخْلُوْقَاتِ
وَالَّذِيْ
عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ
مَا لَمْ
يَعْلَمْ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
اَلْمَلِكُ
الْحَقُّ
الْمُبِيْنُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَشْرَفُ
اْلأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ
اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى
وَطَاعَتِهِ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ.
Jama'ah Jum'ah yang berbahagia ...
Salah satu bacaan penting dalam shalat adalah
surat Al-Fatihah. Sekurang-kurangnya 17 kali ummat Islam membacanya setiap
hari. Di antara kalimat penting dalam Al-Fatihah adalah:
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.
Lagi-lagi kita ikrar kepada Allah untuk beribadah hanya kepadaNya, kita tidak
bergeser sedikitpun dari kondisi ini. Seluruh hidup, kita baktikan kepada Allah
semata. Janji kita ini senada dengan tujuan penciptaan manusia. Allah
berfirman:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
Dan
tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepadaKu. (QS.
Adz Dzariyat 56)
Hadirin yang mulia ...
Yang paling penting dari itu semua adalah,
bagaimana membuktikan janji-janji yang selalu kita ucapkan dan kita ulang-ulang
setiap hari itu?
Kita khawatir jika nanti apa yang kita ucapkan, dengan kenyataannya jauh
berbeda, bila demikian apa bedanya dengan orang-orang munafiq?
Berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , bahwa tanda-tanda
orang munafiq itu ada tiga, jika bicara bohong, jika bersumpah khianat, jika
janji mengingkari. Begitulah rambu-rambu yang disampaikan Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam. Karenanya kita harus benar-benar mengabdikan
seluruh hidup kita untuk Islam, hidup dalam Islam dan untuk Islam, yang
pertama-tama harus kita lakukan adalah memahami tujuan hidup itu sendiri. Kita
harus tahu dan yakin bahwa hidup ini memang untuk beribadah, bukan untuk
main-main. Allah menciptakan dunia seisinya ini punya tujuan. Tidak ada yang
sia-sia dan tidak ada yang tidak berguna.
أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا
خَلَقْنَاكُمْ
عَبَثًا
وَأَنَّكُمْ
إِلَيْنَا
لَا
تُرْجَعُونَ،
فَتَعَالَى اللَّهُ
الْمَلِكُ
الْحَقُّ لَا
إِلَهَ إِلَّا
هُوَ رَبُّ
الْعَرْشِ
الْكَرِيمِ
Apakah
kamu mengira bahwa kami menciptakan kalian sia-sia dan bahwa kalian tidak akan
dikembalikan kepada Kami?, Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenarnya, Tiada
Tuhan selain Dia, yang mempunyai arsy yang mulia. (QS. Al-Mukminun 115-116)
Jamaah
yang berbahagia ...
Karena Allah Subhannahu wa Ta'ala menciptakan kita
tidak main-main,maka kita juga harus serius dalam hidup ini. Pengabdian dan
ketaatan kita kepada Allah tidak boleh asal-asalan. Beribadah kepada Allah
harus dijadikan prioritas. Jangan sampai ibadah hanya dijadikan kegiatan
sampingan.
Manfaat dari ibadah ini bukan untuk Allah,tetapi semata-mata untuk kita
sendiri. Allah tidak butuh apa-apa dari kita. Jika seluruh jin dan manusia
sejak diciptakan hingga sekarang patuh dan tunduk kepada Allah,tidak sedikitpun
menambah kekuasaanNya, begitu pula sebaliknya, jika semua makhluk ingkar kepada
Allah, tidak sedikit pun mengurangi kebesaran Allah Subhannahu wa Ta'ala .
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ،
مَا أُرِيدُ
مِنْهُمْ مِنْ
رِزْقٍ وَمَا
أُرِيدُ أَنْ
يُطْعِمُونِ،
إِنَّ
اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو
الْقُوَّةِ
الْمَتِينُ.
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia,
melainkan agar mereka mengabdi kepadaKu. Aku tidak menghendaki rizki sedikit
pun dari mereka dan Aku tidak menginginkan mereka memberi makan kepadaKu.
Sesungguhnya Allah. Dialah Maha Pemberi rizki, Yang memeliki Kekuatan lagi
Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat 56-58).
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Setelah memahami bahwa hidup ini sepenuhnya
untuk ibadah, maka kita harus mengerti pula arti kedudukan dunia, dimana kita
hidup di dalamnya.Allah menjelaskan dalam firmanNya:
وَمَا
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
إِلَّا لَعِبٌ
وَلَهْوٌ
وَلَلدَّارُ
الْآخِرَةُ
خَيْرٌ
لِلَّذِينَ
يَتَّقُونَ
أَفَلَا
تَعْقِلُونَ
Dan tidaklah kehidupan dunia ini, melaikan
main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat lebih baik bagi
orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahami. (QS. Al-An’am 32).
Ayat ini menginformasikan kepada kita bahwa ada kehidupan yang lebih serius
dari pada kehidupan dunia, kehidupan itu lebih panjang dan lebih baik. Itulah
kehidupan akhirat. Di sanalah hakekat kehidupan yang sebenarnya. Karenanya kita
harus menyikapi kehidupan dunia ini sebagai tempat investasi atau menabung. Di
dunia ini kita menanam, sedang buahnya nanti kita nikmati di akhirat, Jika
dunia ini sudah dapat dinikmati, ketahuilah bahwasanya itu hanyalah percikan
saja. Karena dunia ini tempat bertanam maka kita harus kerja keras semasa masih
diberi kehidupan, jika kita menanam jagung,jangan harap memetik padi, jika kita
menanam kebaikan sudah barang tentu kita akan menuai kebaikan yang berlipat
ganda . Begitu juga sebaliknya.
Adapun mereka yang tidak memahami hidup atau arti hidup di dunia ini, akan
memanfaatkan kesempatan yang ada hanya sekedar untuk makan dan bersenang-senang
saja. Mereka mengira bahwa dunia ini satu-satunya kehidupan.
وَقَالُوا
إِنْ هِيَ
إِلَّا
حَيَاتُنَا
الدُّنْيَا
وَمَا نَحْنُ
بِمَبْعُوثِينَ
Dan
mereka berkata. Hidup adalah kehidupan kita di dunia ini saja dan kita
sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (QS. Al-An’am: 29).
Hadirin yang mulia ...
Mereka tidak mempunyai harapan kecuali balasan
di dunia ini. Jika mereka berbuat baik, mereka mengharapkan imbalan di dunia
saja. Itulah sebabnya kematian bagi mereka adalah akhir segala-galanya.
وَقَالُوا
مَا هِيَ
إِلَّا
حَيَاتُنَا
الدُّنْيَا
نَمُوتُ
وَنَحْيَا
وَمَا يُهْلِكُنَا
إِلَّا
الدَّهْرُ
وَمَا لَهُمْ
بِذَلِكَ
مِنْ عِلْمٍ
إِنْ هُمْ
إِلَّا
يَظُنُّونَ
Dan
mereka berkata: kehidupan dunia ini tidak lain kecuali kehidupan di dunia saja,
kita mati dan hidup, dan tidak ada yang bisa membinasakan kita kecuali waktu,
dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentamg itu, Mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah 24).
Hadirin yang mulia ...
Karena pandangan mereka tentang kehidupan dunia
seperti itu maka semasa hidupnya hanya dipakai untuk mengejar kesenangan hidup
saja. Kesenangan menjadi tujuan hidupnya. Hedonisme atau hura-hura menjadi
ideologinya. Allah menggambarkan kehidupan mereka dalam firmannya:
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا
يَتَمَتَّعُونَ
وَيَأْكُلُونَ
كَمَا
تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ
وَالنَّارُ
مَثْوًى
لَهُمْ
Dan
orang-orang kafir bersenang-senang dan makan bagaikan makanannya binatang
ternak. Dan Nerakalah tempat tinggal mereka. (QS. Muhammad 12)
Sebagian di antaranya mereka ada yang senang kepada perhiasan hingga menjadi
hamba perhiasan.
Binasalah hamba dinar, binasalah budak dirham, binasalah hamba-hamba sutera
atau perhiasan. (HR. Al-Bukhari)
Hadirin yang mulia ...
Perbedaan orang kafir dengan orang beriman
dalam meman-dang kehidupan dunia itu amat jauh, orang kafir memandangnya
sebagai satu-satunya kehidupan. Sedangkan orang mukmin memandangnya sebagai
jembatan menuju kehidupan yang hakiki. Orang kafir memandangnya dunia ini
sebagai tempat untuk bersenang-senang dan melampiaskan segala keinginan,
sementara orang mukmin memandang dunia ini tempat menanam. Buah tanaman itu
tidak harus dinikmati sekarang, tetapi ditunggu pada kehidupan akhirat nanti.
Hadirin yang berbahagia
Perbedaan cara pandang ini tentu saja
menimbulkan cara bersikap dan berperilaku. Orang beriman tidak mungkin berbuat culas,
malas dan maksiat. Sebab mereka tahu dan betul-betul yakin, bahwa setiap
amalnya dilihat dan dihitung oleh Allah, sedikit atau banyak pasti ada
balasannya.
فَمَنْ
يَعْمَلْ
مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ
خَيْرًا
يَرَهُ،
وَمَنْ
يَعْمَلْ
مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ
شَرًّا يَرَهُ.
Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat
(balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya
ia akan melihat (balasan)nya. (Al-Zalzalah 7-8)
Karenanya seorang muslim tidak mungkin mau menjual agamanya untuk dunianya. Tak
hendak menukar akhiratnya demi kenikmatan dunia yang sifatnya sesaat. Mereka
lebih mengorban-kan kenikmatan dunia dari pada kehilangan akhirat?
أَرَضِيتُمْ
بِالْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
مِنَ
الْآخِرَةِ
فَمَا
مَتَاعُ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
فِي
الْآخِرَةِ
إِلَّا قَلِيلٌ
Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai
ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini
(dibandingkan) dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit (tidak sebanding).
(QS. At-Taubah 38).
Akan tetapi semua perjuangan kita itu bukan semata-mata untuk kehidupan di
dunia, bahkan itu semua kita peruntukkan bagi bekal kehidupan di akhirat.
Jamah Jum’ah yang mulia ...
Selain mengerti dan memahami arti dan posisi
kehidupan dunia, kitapun harus selalu ingat mati. Kematian itu sebuah
kepastian. Setiap yang hidup pasti mati. Itulah sebabnya kita tak perlu takut
mati, yang kita takuti adalah kehidupan setelah mati.
Firman Allah:
كُلُّ
مَنْ
عَلَيْهَا
فَانٍ،
وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُو
الْجَلَالِ
وَالْإِكْرَامِ.
Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan
tetap kekal Dzat TuhanMu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman:
26-27)
Hadirin ...
Jika kita sudah tahu tujuan hidup, memahami
arti dan posisi kehidupan dunia ini, tahu dan meyakini pula kepastian mati,
maka tiada jalan lain kecuali pasrah diri kepada ilahi. Kita siap diatur dan
mentaati seluruh peraturan Islam tanpa reserve. Untuk itu kita perlu
mempelajari dan mengerti syari’at Islam. Kita harus tahu seluk beluk ajarannya,
agar tidak meraba-raba lagi. Kita berjalan di atas sebuah kepastian, yaitu
jalan keselamatan. Jika sudah kita temukan jalan ini, tak perlu lagi tengok
kanan, tengok kiri. lurus berjalan saja mengikuti rel ini.
Hadirin ...
Meskipun tekat dan komitmen kita sudah bulat,
bukan berarti tantangan sudah selesai. Justru di sini tantangan dan cobaan akan
datang silih berganti. Syaitan tidak pernah rela kita berada dalam bimbingan
iman. Syaitan adalah musuh bebuyutan manusia, yang tidak senang masuk Neraka
sendirian. Mereka akan menggalang kekuatan untuk mempengaruhi manusia. Tidak
tanggung-tanggung mereka membuat konspirasi untuk menghabisi ummat Islam atau
ummat Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam .
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya:
Sesungguhnya syaithan duduk pada beberapa jalan
untuk menggoda anak cucu Adam. Dia duduk di jalan Islam, lalu ia berkata:
Engkau masuk Islam, dan engkau tinggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu?
Lalu manusia membantahnya dan tetap dalam Islam. Kemudian syetan duduk pada
jalan hijrah..? Akankah engkau tinggalkan tanah airmu? Lantas manusia
membantahnya dan tetap berhijrah.
Syaitan pun duduk di jalan jihad, dan berkata: Engkau akan Jihad? Padahal
perjuangan ini menghilangkan harta dan jiwa. Engkau berperang kemudian engkau
mati atau terbunuh, lalu nanti istrimu dinikahi orang dan hartamu
dibagi-bagikan?. Tetapi manusia membantahnya dan terus berjihad. Kemudian
Rasulullah bersabda “ Barangsiapa yang melakukan demikian, kemudian mati maka
adalah hak Allah untuk memasukkan ke dalam Surga.” (HR. Ahmad dan An-Nasai dari
Sabrah bin Fakih).
Hadirin yang berbahagia ...
Demikian khutbah ini kami sampaikan, semoga
Allah Subhannahu wa Ta'ala memberikan kekuatan kepada kita sehingga betul-betul
faham makna hidup, teriring kebahagiaan di dunia sampai akhirat kelak.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَلَّ
اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
وَقُلْ رَبِّ
اغْفِرْ
وَارْحَمْ وَأَنْتَ
خَيْرُ
الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah
Kedua :
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل
لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.