Beriman Kepada Nabi Muhammad
Shallallaahu alaihi wa Sallam
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ
فِى النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
Jamaah
Jum’at rahimakumullah, marilah kita kenang, kita ingat kembali, dua
sifat agung yang merupakan pangkat dan keagungan khusus bagi umat Islam, bagi
hadirin jamaah Jum’at, khusus bagi kita yang beriman. Dua sifat itu adalah
syukur dan shabar.
Dari
saat yang mulia ini dan seterusnya sampai akhir hayat, marilah tetap kita sandang
dua sifat itu, “syukur dan shabar”. Dalam kesempatan kali ini, setelah mensyukuri
hidayah Iman, Islam dan Taqwa, marilah kita sedikit membahas “Syukur atas Iman
kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam, serta shabar dalam
menegakkan sunnah beliau.
1.
Iman kepada Nabi
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah dasar agama yang Maha Benar ini,
dienul Islam, sebagaimana sabda beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam:
بُنِيَ
الإِسْلاَمُ
عَلَى خَمْسٍ:
شَهَادَةِ
أَنْ لاَ
إِلَـهَ
إِلاَّ اللهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
...
“Artinya: Islam itu dibangun di atas
lima rukun, bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad
adalah hamba dan RasulNya ... (HR. Muslim I/45. Lihat
Al-Bukhari I/13).
Setelah
beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka beriman kepada Rasulullah
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah sebagai pondasi yang utama. Sebab
seluruh pondasi yang lainnya dibangun di atas keimanan pada Allah dan Rasul
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam. Sehingga orang yang tidak mengimani
Rasulullah dan hanya beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa saja, itu
tidaklah cukup, dan batal Iman yang demikian itutidak sah.
Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
وَالَّذِيْ
نَفْسُ
مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ، لاَ
يَسْمَعُ
بِيْ أَحَدٌ
مِنْ هَذِهِ
الأُمَّة
يَهُودِيٌّ
وَلاَ
نَصْرَا
نِيٌّ، ثُمَّ
يَمُوتُ
وَلَمْ
يُؤْمِنْ
بِالَّذِيْ
أُرْسِلْتُ
بِهِ إِلاَّ
كَانَ مِنْ
أَصْحَابِ
النَّارِ. (رواه
مسلم)
“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada
di tanganNya! Tidak seorangpun yang mendengar tentang aku dari umat (manusia)
ini, seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman
kepada yang aku diutus karenanya, kecuali ia termasuk menjadi penduduk Neraka”.
(HR. Muslim I/34).
Itulah
pentingnya beriman kepada Rasul yang merupakan pondasi agama dan amal-amal ibadah.
Sehingga tanpa mengimani Rasul alias ingkar kufur pada Rasul, maka gugurlah amal
kebaikan serta jauh dari rahmat Allah.
Allah
berfirman:
وَمَنْ
يَكْفُرْ
بِالْإِيمَانِ
فَقَدْ حَبِطَ
عَمَلُهُ
وَهُوَ فِي
الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima
hukum-hukum Islam) maka hapuslah amal-amalnya dan ia di hari akhirat termasuk
orang-orang yang merugi”. (Al-Maidah: 5)
وَمَنْ
يَعْصِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَإِنَّ لَهُ
نَارَ
جَهَنَّمَ
خَالِدِينَ
فِيهَا
أَبَدًا
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya”.(Al Jin, 23)
Bahkan
mereka akan ditimpa musibah dan adzab yang pedih, sebagaimana firman Allah
dalam Al-Qur’an surat An-Nur
: 63.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”.
Oleh sebab itu maka hendaklah
kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas hidayah Iman kita kepada Rasulullah
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam dengan bersabar dalam mengikuti dan
mentaati beliau.
2.
Siapakah Rasulullah
Muhammad itu?
Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Sallam adalah manusia biasa, bukan
malaikat dan bukan pula anak Tuhan atau lain-lainnya. Beliau secara manusiawi
sama dengan kita seluruh umat manusia.
Terbukti
beliau terlahir dari jenis manusia, ayahanda beliau serta ibunya adalah
Abdullah bin Abdul Muthallib, serta ibundanya bernama Aminah, keduanya dari
suku Quraisy di Makkah Mukarramah keturunan Nabiyullah Ismail bin Nabi Ibrahim ‘alaihimas
salam. Sebagai rahmat dan jawaban atas permohonan Abul Anbiya’ Ibrahim alaihis
salam yang tercantum dalam firman Allah:
رَبَّنَا
وَابْعَثْ
فِيهِمْ
رَسُولًا مِنْهُمْ
يَتْلُو
عَلَيْهِمْ
آيَاتِكَ
وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ
إِنَّكَ
أَنْتَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya
: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada
mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesunggu-hnya
Engkaulah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Baqarah: 129).
Allah
menegaskan agar beliau menyatakan tentang diri beliau, dengan firmanNya dalam surat
Al-Kahfi ayat 110 dan ayat-ayat yang lain:
قُلْ
إِنَّمَا أَنَا
بَشَرٌ
مِثْلُكُمْ
يُوحَى
إِلَيَّ
“Katakan,
sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku”(Al-Kahfi
: 110)
قُلْ
لَا أَقُولُ
لَكُمْ
عِنْدِي
خَزَائِنُ
اللَّهِ
وَلَا
أَعْلَمُ
الْغَيْبَ
وَلَا أَقُولُ
لَكُمْ
إِنِّي
مَلَكٌ إِنْ
أَتَّبِعُ
إِلَّا مَا
يُوحَى
إِلَيَّ قُلْ
هَلْ
يَسْتَوِي
الْأَعْمَى
وَالْبَصِيرُ
أَفَلَا
تَتَفَكَّرُونَ
“Katakan:
“Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa per-bendaharaan Allah ada padaku, dan tidak
(pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa
aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali yang diwahyukan kepadaku.
Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka
apakah kamu tidak memikirkan(nya)? (Al-An’aam: 50).
Rasulullah
juga berwasiat agar beliau tidak dihormati secara berlebihan, seperti orang-orang
Nashara menghormati Nabi Isa 'Alaihis Salam, beliau melarang ummatnya
menjadikan kuburan beliau sebagai tempat sujud, melarang menggelari beliau
dengan gelaran yang berlebihan atau memberikan penghormatan dengan berdiri
ketika beliau hadir.
Dari
sahabat Amr Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
وَلاَ
تُطْرُوْنِيْ
كَمَا
أَطْرَتِ
النَّصَارَى
ابْنَ
مَرْيَمَ
إِنَّمَا
أَنَا عَبْدٌ.
فَقُولُوا:
عَبْدُ اللهِ
وَرَسُوْلَهُ.
(رواه
البخاري)
“Janganlah
kamu memuji aku (berlebihan) sebagaimana orang Nasrani memuji Isa Ibnu Maryam. Sesungguhnya
saya hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan RasulNya”. (HR. Al-Bukhari)
Abu
Hurairah Radhiallaahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam
bersabda:
لاَ
تَجْعَلُواْ
بُيُوْتَكُمْ
قُبُوْرًا. وَلاَ
تَجْعَلُوْا
قَبْرِيْ
عِيْدًا (رواه
أبو داود).
“Janganlah
engkau jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (sepi dari ibadah) dan jangan
engkau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan” (HR.
Abu Dawud).
Dari
Abu Hurairah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ
تَتَّخِذُواْ
قَبْرِي
عِيْدًا،
وَلاَ تَجْعَلُوْا
بُيُوْتَكُمْ
قُبُوْرًا،
وَحَيْثُمَا
كُنْتُمْ
فَصَلُّوْا
عَلَيَّ
فَإِنَّ
صَلاَتَكُمْ
تَبْلُغُنِيْ.
(رواه أحمد)
“Jangan engkau jadikan
kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah engkau jadikan rumah-rumah
kamu sebagai kuburan dan dimanapun kamu berada (ucapkanlah do’a shalawat
kepadaku) karena sesungguhnya do’a shalawatmu sampai kepadaku”.
(Diriwayat-kan Imam Ahmad).
3. Cara
dan konsekwensi beriman kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala, artinya: “(Yaitu) orang-orang yang
mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam
Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang
ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi
mereka, segala yang baik dan mengharamkan mereka dari segala yang buruk dan
membuang bagi mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang
beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang
yang diturunkan kepadanya (al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung.”).
(Al-A’raf: 157).
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ.
Khutbah
kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
Jamaah
jum’at rahima kumullah dalam khutbah yang kedua ini:
Marilah
kita mempertebal Iman dan Taqwa kita kepada Allah juga memperdalam Iman kepada
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sekaligus melaksanakan konsekuensinya.
Yaitu
kita bersungguh-sungguh agar melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1.
Meyakini dengan penuh tanggung
jawab akan kebenaran Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam dan apa yang
dibawa oleh beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam sebagaimana Allah Subhanahu wa
Ta'ala menandaskan tentang ciri orang bertaqwa:
“Dan orang-orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka
itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Az-Zumar : 33).
2.
Ikhlas mentaati Rasul
Shallallaahu alaihi wa Sallam dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi
seluruh larangan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam . Sebagaimana
janji Allah :
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat
petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat
Allah) dengan terang” (An-Nuur: 54).
فَلَا
وَرَبِّكَ
لَا
يُؤْمِنُونَ
حَتَّى يُحَكِّمُوكَ
فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ
ثُمَّ لَا
يَجِدُوا فِي
أَنْفُسِهِمْ
حَرَجًا
مِمَّا
قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisaa’:
65).
3.
Mencintai beliau Shallallaahu
alaihi wa Sallam, keluarga, para sahabat dan segenap pengikutnya. Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallambersabda:
"Tidaklah beriman seseorang (secara sempurna)sehingga
aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim).
4.
Membela dan
memperjuangkan ajaran Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam serta berda’wah demi
membebaskan ummat manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari ke zhaliman menuju
keadilan, dari kebatilan kepada kebenaran, serta dari kemaksiatan menuju
ketaatan.Sebagaimana firman di atas:
“Maka orang-orang yang
beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang
yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung”. (Al-A’raaf: 157).
5.
Meneladani akhlaq dan kepemimpinan
Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam setiap amal dan tingkah laku, itulah
petunjuk Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
nama Allah”. (Al-Ahzab:21).
6.
Memuliakan dengan banyak
membaca shalawat salam kepada beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam
terutama setelah disebut nama beliau.
“Merugilah seseorang jika disebut namaku padanya
ia tidak membaca shalawat padaku.” (HR. At-Tirmidzi)
7.
Waspada dan berhati-hati
dari ajaran-ajaran yang menyelisihi ajaran Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa
Sallam seperti waspada dari syirik, tahayul, bid’ah, khurafat, itulah
pernyataan Allah:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi ajaran
Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An-Nur:
63).
8. Mensyukuri hidayah keimanan kepada Allah dan RasulNya dengan menjaga persatuan
umat Islam dan menghindari perpecahan dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan
As-Sunnah Ash-shahihah. Itulah tegaknya agama:
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang
agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah
agama dan janganlah kamu berpecah belah karenanya”.
(Asy-Syura: 13)
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ الْخَيْرِ
كُلِّهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا لَمْ
نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَأَرْخِصْ
أَسْعَارَهُمْ
وَآمِنْهُمْ
فِيْ
أَوْطَانِهِمْ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ