Bahaya Syirik Dan Keutamaan Tauhid
www.alsofwah.or.id Selasa, 16 Maret 04. Oleh Agus Hasan
Bashori
Khutbah pertama:
إِنَّ
الْحَمْدَ لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنْ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَّرَ الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحِسَانِ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Ibadallah ! Saya wasiatkan kepada
Anda sekalian dan juga kepada saya untuk selalu bertaqwa kepada Allah di mana
saja kita berada. Dan janganlah kita mati melainkan dalam Islam.
Telah banyak penjelasan
yang menerangkan makna taqwa. Di antaranya adalah pernyataan Thalq bin Habib:
إِذَا
وَقَعَتِ
الْفِتْنَةُ
فَأَطْفِئُوهَا
بِالْتَّقْوَى.
قَالُوْا:
وَما الْتَّقْوَى؟ قَالَ:
أَنْ
تَعْمَلَ
بِطَاعَةِ
الله عَلَى نُوْرٍ
مِنَ اللهِ
تَرْجُو
ثَوَابَ
اللهِ وَأنْ
تَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ تَخَافُ
عِقَابَ
اللهِ.
“Apabila terjadi fitnah,
maka padamkanlah dengan taqwa”. Mereka bertanya: “Apakah taqwa itu?” Beliau
menjawab: “Hendak-nya engkau melaksanakan keta’atan kepada Allah, di atas
cahaya Allah, (dengan) mengharap keridhaan-Nya; dan hendaknya engkau
meninggalkan kemaksiatan terhadap Allah, di atas cahaya Allah, (karena) takut
kepada siksaNya.
Ketaatan terbesar yang
wajib kita laksanakan adalah tauhid; sebagaimana kemaksiatan terbesar yang
mesti kita hindari adalah syirik.
Tauhid adalah tujuan
diciptakannya makhluk, tujuan diutusnya seluruh para rasul, tujuan
diturunkannya kitab-kitab samawi, sekaligus juga merupakan pijakan pertama yang
harus dilewati oleh orang yang berjalan menuju Rabbnya.
Dengarkanlah firman
Allah:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
(hanya) kepadaKu.” (Adz-Dzaariyaat: 56)
Juga firmanNya:
وَمَا
أَرْسَلْنَا
مِنْ
قَبْلِكَ
مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا
نُوحِي
إِلَيْهِ
أَنَّهُ لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنَا
فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan Kami
wahyukan kepadanya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah
kepadaKu.” (Al-Anbiya’: 25)
Demikian pula firmanNya:
الر
كِتَابٌ
أُحْكِمَتْ
آيَاتُهُ
ثُمَّ
فُصِّلَتْ
مِنْ لَدُنْ
حَكِيمٍ
خَبِيرٍ،
أَلَّا
تَعْبُدُوا
إِلَّا اللَّهَ
إِنَّنِي
لَكُمْ
مِنْهُ
نَذِيرٌ
وَبَشِيرٌ
“Alif laam Raa, (inilah)
satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, serta dijelaskan
(makna-maknanya) yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi
Maha Tahu. Agar kalian jangan beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku
(Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada kalian
daripadaNya.” (Hud: 1-2)
Allah juga berfirman:
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لآ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْبِكَ
وَلِلْمُؤمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Ketahuilah, bahwasanya
tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampunan
bagimu dan bagi kaum Mukminin (laki-laki dan wanita).”
Jama’ah sekalian rahimakumullah.
Kalau kedudukan tauhid sedemikian tinggi dan penting di dalam agama ini, maka
tidaklah aneh kalau keutamaannya juga demikian besar. Bergembiralah dengan nash-nash
seperti di bawah ini:
عَنْ
عُبَادَةْ
بِنْ الصَّامِتْ
رَضِىَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ:
سَمِعْتُ
رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَقُوْلُ:
مَنْ شَهِدَ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللهِ
حَرَّمَ
اللهُ عَلَيْهِ
النَّارَ.
Dari Ubadah bin Shamit
Radhiallaahu anhu , ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi
wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah
yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah
(niscaya) Allah mengharamkan Neraka atasnya (untuk menjilatnya).” (HR. Muslim No. 29)
Hadits lain, dari Utsman
bin Affan Radhiallaahu anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
عَنْ
عُثْمَانَ
قَالَ: قَالَ
رَسُولُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
مَنْ مَاتَ
وَهُوَ
يَعْلَمُ
أَنَّهُ لآ
إِلَهَ إِلاَّ
الله دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa yang meninggal dunia, sedangkan dia menge-tahui bahwa tidak
ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia (Allah) niscaya akan masuk Jannah.” (HR. Muslim No. 25)
Demikian juga sabdanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ,
kami petik sebagiannya:
وَعَنْ
أَبِي ذَرًّ
رَضِىَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ:
قَالَ
النَبِيُّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَقُولُ الله
عَزَّ وَجَلَ:
وَمَنْ
لَقِيَنِيْ
بِقُرِابِ
الأَرْضِ
خَطَايًا لاَ
يُشْرِكُ
بِيْ شَيْئًا
لَقَيْتُهُ بِمِثْلِهَا
مَغْفِرَةً.
“Dan barangsiapa yang menemuiKu dengan
(membawa) dosa sepenuh bumi sekalipun, namun dia tidak menye-kutukan Aku dengan
sesuatu apapun, pasti Aku akan menemuinya dengan membawa ampunan yang semisal
itu.” (HR. Muslim
No. 2687)
Demikian pula tidak akan
aneh, bila lawan tauhid, yaitu syirik; juga memiliki banyak bahaya yang
mengerikan, dimana sudah seharusnya kita benar-benar merasa takut terhadapnya.
Diantara bahaya syirik itu adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits
Jabir:
عَنْ
جَابِرٍ
رَضِىَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ:
جَاء
أَعْرَابِيٌّ
إِلَى
النَّبِي
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
فَقَالَ: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ مَا
الْمُوْجِبَتَانِ
؟ فَقَالَ:
مَنْ مَاتَ
لاَ يُشْرِكُ
بِاللهِ شَيْئًا
دَخَلَ
الْجَنَّةَ
وَمَنْ مَاتَ
يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئًا
دَخَلَ
النَّارَ.
“Seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi
wasallam , lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang
pasti itu?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan
tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, niscaya dia akan masuk Jannah.
Dan barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan
sesuatu, niscaya dia akan masuk Neraka”. (HR. Muslim No. 93)
Firman Allah:
إِنَّ
اللَّهَ لَا
يَغْفِرُ
أَنْ
يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ
مَا دُونَ
ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) syirik dan Dia
mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki”. (An-Nisa: 48,116)
Firman Allah:
ذَلِكَ
هُدَى
اللَّهِ
يَهْدِي بِهِ
مَنْ يَشَاءُ
مِنْ
عِبَادِهِ
وَلَوْ
أَشْرَكُوا لَحَبِطَ
عَنْهُمْ مَا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Dan seandainya mereka
berbuat syirik, pastilah gugur amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88).
Firman Allah:
مَا
كَانَ
لِلْمُشْرِكِينَ
أَنْ
يَعْمُرُوا
مَسَاجِدَ
اللَّهِ
شَاهِدِينَ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ
بِالْكُفْرِ
أُولَئِكَ
حَبِطَتْ
أَعْمَالُهُمْ
وَفِي النَّارِ
هُمْ
خَالِدُونَ
“Tidaklah pantas
orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, (sedangkan) mereka
mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia
amalan-amalan mereka, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17).
Maka merupakan musibah
jika seseorang jahil (bodoh) terhadap perkara tauhid dan perkara syirik, dan
lebih musibah lagi jika seseorang telah mengetahui perkara syirik namun dia
tetap melakukannya. Dengan ini hendaklah kita terpacu untuk menam-bah/menuntut
ilmu sehingga bisa melaksanakan tauhid dan menjauh dari syirik dan pelakunya.
وَ
اللهَ
نَسْأَلُ
أَنْ
يَرْزُقَنَا
عِلْمًا نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً،
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصِحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُّضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِمًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
Hadirin jama’ah Jum’at Arsyadakumullah,
Tatkala kita
membicarakan masalah syirik, janganlah kita menganggap bahwa syirik itu hanya
ada di kalangan orang-orang Yahudi, Nashrani, Hindu, Budha, Konghuchu dan
lain-lain. Sedangkan kaum Muslimin sendiri dianggap sudah terbebas dari dosa
ini. Padahal tidaklah demikian. Banyak juga kalangan kaum Muslimin yang
tertimpa dosa sekaligus penyakit ini, baik sadar maupun tidak. Karena makna
atau pengertian syirik adalah: mempersekutukan peribadatan kepada Allah; yakni
memberikan bentuk-bentuk ibadah yang semestinya hanya dipersembahkan kepada
Allah, namun dia berikan kepada selain-Nya. Baik itu kepada para malaikat,
nabi, orang shalih, kuburan, patung, matahari, bulan, sapi dan lain sebagainya.
Sedangkan bentuk-bentuk ibadah (yang dipersembah-kan) kepada selain Allah itu
bisa berupa: Do’a, berkurban, nadzar, puncak kecintaan, puncak rasa takut dan
lain-lain.
Saudara-saudaraku fillah, pada khutbah
kedua di sini, sengaja kami ringkaskan
sebagian keutamaan tauhid sebagaimana yang telah dibahas pada khutbah yang
pertama:
1.
Diharamkannya
Neraka itu bagi kaum Muwahhidin (Ahli Tauhid). Kalaupun mereka masuk Neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya.
2.
Dijanjikannya mereka untuk masuk Jannah.
3.
Diberikan kepada mereka ampunan dari segala dosa.
Sedangkan di antara
bahaya-bahaya syirik adalah:
1.
Diancamnya orang yang melakukan syirik akbar untuk masuk Neraka
dan kekal di dalamnya.
2.
Tidak akan diampuni dosanya itu selama ia belum bertaubat.
3.
Gugurlah amal perbuatannya.
4.
Syirik adalah perbuatan dzalim yang terbesar.
Inilah yang dapat kami
berikan. Fa’tabiru ya ulil albab.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلَّونَ عَلَى
الَّنِبْيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
أَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا
بِالإِيْمَانِ
وَلاَ تَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ
لِلَّذِيْنَ
آمَنُواْ
رَبَّنَا
إِنَّكّ
رَؤُوْفُ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ
بَيْنَنَا وَبَيْنَ
قَوْمِنَا
بِالْحَقِّ
وَأَنْتَ
خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا
نًافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلاً
مُتَقَبِلاً. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِى
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يِوْمِ
الدِّيْنِ