Alsofwah, Rabu, 17 Maret 04. Oleh: H. Hartono Ahmad Jaiz
Ayat Yang
paling Ditakuti Oleh Ulama
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
Betapa kurang ajarnya tingkah pemuda Yahudi Bani Qainuqa'
di Madinah. Pemuda-pemuda bejat akhlaqnya itu menarik-narik kain seorang
perempuan yang sedang berjual beli dengan mereka. Betapa sadisnya kebiadaban
Yahudi Bani Nadzir di Madinah yang ingin menjatuhkan batu besar ke diri
Rasulullah, Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Dan betapa liciknya
kemunafikan Yahudi Bani Quraiddhah yang mengadakan permufakatan rahasia dengan
kafir Quraisy ketika perang Khandaq, di mana kaum muslimin dipimpin Rasulullah
berada di dalam parit.
Bejatnya akhlaq, sadisnya tingkah dan liciknya hati
busuk, semuanya telah mewabah pada darah daging mereka orang-orang Yahudi Bani
Israel. Dan penyakit akhlaq yang sampai memuncak itu tentunya ada bibit-bibit
penyakitnya. Bukan sekadar kuman akhlaq yang ringan, tetapi kuman yang
berbahaya. Dan kuman itu tidak hanya sekali datang berlalu, namun sekali datang
dan datang lagi, bahkan senantiasa diusahakan datang. Apa itu? "Aklihimus
suht". Makanan mereka haram.
Di dalam Al-Quran ditegaskan oleh Allah:
وَتَرَى
كَثِيرًا
مِنْهُمْ
يُسَارِعُونَ
فِي
الْإِثْمِ
وَالْعُدْوَانِ
وَأَكْلِهِمُ
السُّحْتَ
لَبِئْسَ مَا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Dan engkau akan
melihat kebanyakan dari mereka (orang Yahudi) berlomba-lomba dengan dosa dan
permusuhan dan mema-kan yang haram. Sungguh buruklah apa yang mereka kerjakan”.
(Al-Maidah : 62).
Kenapa yang jadi bibit penyakitnya makanan haram? Jelas.
Mereka memiliki energi, tenaga untuk berbuat adalah karena makanan. Lantas,
mereka berbuat aneka usaha, arahnya adalah mencari makan. Jadi makanan di sini
ibarat terminal, tempat berangkat dan sekaligus tempat tujuan. Kalau makanan
itu sudah jelas-jelas haram dan itulah yang menjadi pangkal mereka berbuat,
maka kebaikan apa yang perlu mereka perjuangkan dengan modal makanan haram itu?
Tidak mungkin mereka memburu kebaikan dengan umpan yang dimiliki berupa modal
makanan haram. Maka tidak mungkin pula mereka berhati-hati untuk
memperhitungkan mana yang halal dan mana yang haram dalam memburu sasaran yang
tak lain adalah makanan pula. Ibarat orang yang memang sudah memakai baju kotor
untuk membengkel, mana mungkin ia menghitung-hitung mana tempat yang bersih dan
mana yang kotor. Toh tempat yang bersih ataupun kotor sama saja, bahkan lebih
perlu menyingkiri tempat yang bersih, karena nanti harus bertugas membersihkan
tempat itu kalau kena kotoran dari bajunya.
Singkatnya, dengan modal bekal makanan haram,
perbuatan-nya pun cenderung menempuh jalan haram, dan hasilnya pun barang
haram, kemudian dimakanlah hasil yang haram itu untuk bekal berbuat yang haram
lagi dan seterusnya.
Moral buruk dan makanan haram
".....Sungguh
buruklah apa yang mereka kerjakan!" Ini penegasan Allah Subhannahu wa
Ta'ala.
Perbuatan mereka itu jelas dicap sebagai keburukan. Namun bukan sekadar
mandeg/berhenti sampai perbuatan mereka itu saja sirkulasinya. Tidak. Dalam
contoh kasus ini, yang berusaha mencari makanan haram tentunya adalah orang
tua, penanggung jawab keluarga. Tetapi yang memakan hasilnya, makanan haram,
berarti seluruh keluarga yang ditanggung oleh pencari harta haram itu. Dan
ternyata, betapa bejatnya akhlaq/moral pemuda-pemuda alias anak-anak mereka
yang diberi makan dengan makanan haram itu. Pemuda-pemuda itu sampai begitu
lancangnya, menarik-narik kain perempuan di pasar saat berjual beli.
Mungkinkah pemuda-pemuda tersebut sebejat itu kalau mereka ditumbuhkan dengan
makanan halal, mereka lihat orang tuanya shaleh, lingkungannya baik-baik dan
terjalin ukhuwah/ persaudaraan dengan baik? Sebaliknya, mungkinkah dengan modal
makanan haram itu orang tua menunjukkan "baiknya" perbuatan jahat
mereka (yang sudah ketahuan memburu barang haram), menampakkan ketulusan hati
(yang sudah ketahuan rakus terhadap barang haram) dan menasihati dengan amalan
baik-baik (sedang dirinya jelas melanggar)? Tidak mungkin. Maka tumbuh dengan
suburlah generasi penerus mereka itu dengan pupuk-pupuk serba haram dan jahat.
Itulah.
Orang alim agama ada yang lebih parah
Sikap seperti itu sungguh parah. Tetapi, masih ada yang lebih parah.
Karena yang lebih parah ini bahkan menyangkut orang-orang pandai dan pemuka
agama, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala mengecamnya cukup diawali dengan bentuk
pertanyaan.
لَوْلَا
يَنْهَاهُمُ
الرَّبَّانِيُّونَ
وَالْأَحْبَارُ
عَنْ
قَوْلِهِمُ
الْإِثْمَ
وَأَكْلِهِمُ
السُّحْتَ
لَبِئْسَ مَا
كَانُوا
يَصْنَعُونَ
“Mengapa orang-orang alim
mereka, dan pendeta-pendeta mereka (Yahudi) tidak melarang mereka mengucapkan
perkataan dosa dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah
mereka kerjakan itu.” (Al-Maidah : 63).
Kita dalam hal diamnya para alim dan pemuka agama di
kalangan Yahudi itu bisa juga menduga-duga kenapa mereka tidak mencegah
perkataan dosa dan makan haram. Dugaan itu akan membuat perasaan bergetar,
kalau sampai mereka yang alim dan pemuka agama di kalangan Yahudi itu bahkan
antri ikut makan haram.
Maka ayat tersebut, bagi Ibnu Abbas (sahabat Nabi n yang ahli tafsir Al-Quran)
adalah celaan yang paling keras terhadap ulama yang melalaikan tugas mereka
dalam menyampaikan da'wah tentang larangan-larangan dan kejahatan-kejahatan.
Bahkan Ad-Dhohhaak berkata, tidak ada ayat dalam Al-Quran yang lebih aku takuti
daripada ayat ini.
Tidak kurang dari itu, bahkan cercaan Allah itu lebih penting untuk
disadari oleh ulama Islam, bukan sekadar cerita cercaan terhadap
pendeta-pendeta Yahudi.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَاسْتَغْفِرُوا
اللهَ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَل
لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن يَتَّقِ
اللهَ
يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا. سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.