Alsofwah. Selasa, 16 Maret 04. Oleh:
Iwan Sutedi
Antara Sunnah, Bidah Dan Taklid
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَشَّرَ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِى النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
Ikhwan fillah rahimakumullah.
Merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk menuntut ilmu
Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita dapat meghindari dan menolak syubhat di
dalam memahami dien Islam ini. Telah kita sepakati bersama bahwa hanya dengan
Al-Qur’an dan As-Sunnah kita dapat selamat dan tidak akan tersesat.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تَرَكْتُ
فِيْكُمْ
أَمْرَيْنِ
لَنْ تَضِلُّوْا
مَا تَمَسَّكْتُمْ
بِهِمَا،
كِتَابَ
اللهِ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّهِ.
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara,
jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya
yaitu: Kitabullah dan sunnah NabiNya”. (Hadist
Riwayat Malik secara mursal (Al-Muwatha, juz 2, hal. 999).
Syaikh Al-Albani mengatakan dalam bukunya At-Tawashshul
anwa’uhu wa ahkamuhu, Imam Malik meriwayatkan secara mursal, dan Al-Hakim dari
Hadits Ibnu Abbas dan sanadnya hasan, juga hadist ini mempunyai syahid dari
hadits jabir telah saya takhrij dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah no. 1761).
Adakah pilihan lain agar kita termasuk dalam orang-orang
yang selamat dan agar umat Islam ini memperoleh kejayaan lagi selain mengikuti
Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shalih? tentu
tidak ada, karena sebenar-benar ucapan adalah Kalamullah, sebaik-baik petunjuk
adalah sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan sebaik-baik generasi
adalah generasi sahabat yang telah Allah puji dan Allah ridhai.
Suatu kebahagiaan kiranya jikalau kita termasuk
dalam golongan yang selamat, golongan Tha’ifah Manshurah (kelompok yang
mendapat pertolongan) dari Allah.
Ikhwan fillah rahimakumullah
Kebanyakan ummat Islam, kini terjebak dalam taklid
buta. Terkadang suatu anjuran untuk mengikuti dan berpegang teguh pada
Al-Qur’an dan sunnah serta memalingkan jiwa dari selain keduanya dianggap
sebagai seruan yang mengajak kepada pelecehan pendapat para ulama dan
menghalangi untuk mengikuti jejak para ulama atau mengajak untuk menyerang
perkataan mereka. Padahal tidak demikian yang dimaksudkan, bahkan harus
dibedakan antara mengikuti Nabi semata dengan pelecehan terhadap pendapat para
ulama. Kita tidak boleh mengutamakan pendapat seseorang di atas apa yang telah
dibawa oleh beliau dan tidak juga pemikirannya, siapapun orang tersebut.
Apabila seseorang datang kepada kita membawakan suatu hadits, maka hal pertama
yang harus kita perhatikan adalah keshahihan hadits tersebut kemudian yang
kedua adalah maknanya. Jika sudah shahih dan jelas maknanya maka tidak boleh
berpaling dari hadits tersebut walaupun orang disekeliling kita menyalahi kita,
selama penerapannya juga benar.
Para Imam ulama salaf yang dijadikan panutan umat, mencegah para pengikutnya mengikuti pendapat
mereka tanpa mengetahui dalilnya. Di antara ucapan Abu Hanifah: “Tidak halal
bagi seseorang untuk mengambil
pendapat kami sebelum dia mengetahui
dari mana kami mengambilnya.” Kemudian:
“Bila saya telah berkata dengan satu pendapat yang telah
menyalahi kitab Allah ta’ala dan sunah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , maka
tinggalkanlah pendapatku.”
Sedangkan mayoritas ummat Islam sekarang ini mereka
berkata, “Ustadz saya berkata.”
Padahal sudah datang kepada mereka firman Allah dalam
surat Allah Hujarat ayat 1:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تُقَدِّمُوا
بَيْنَ
يَدَيِ
اللَّهِ
وَرَسُولِهِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mendahului Allah dan RasulNya.”
Ibnu Abbas berkata. “Hampir-hampir saja diturunkan
atas kalian batu dari langit. Aku mengataklan kepada kalian,” Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam bersabda, tetapi kalian mengatakan, Abu Bakar berkata, Umar
berkata.”
Firman Allah dalam surat Al A’raaf, 7 ayat 3:
اتَّبِعُوا
مَا أُنْزِلَ
إِلَيْكُمْ
مِنْ رَبِّكُمْ
وَلَا
تَتَّبِعُوا
مِنْ دُونِهِ
أَوْلِيَاءَ
قَلِيلًا مَا
تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat
sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padaNya).”
Kemudian salah satu penyakit umat Islam sekarang
ini disamping taklid buta adalah banyaknya para pelaku bid’ah. Dan di antara sebab-sebab
yang membawa terjadinya bid’ah adalah:
1. Bodoh
tentang hukum agama dan sumber-sumbernya
Adapun sumber-sumber hukum Islam adalah Kitabullah,
sunnah RasulNya dan ijma’ dan Qiyas. Setiap kali zaman berjalan
dan manusia bertambah jauh dari ilmu yang haq, maka semakin sedikit ilmu dan tersebarlah
kebodohan. Maka tidak ada yang mampu untuk menentang dan melawan bi’dah kecuali
ilmu dan ulama. Apabila ilmu dan ulama telah tiada dengan wafatnya mereka,
bi’dah akan mendapatkan kesempatan dan berpeluang besar untuk muncul dan
berjaya dan tokoh-tokoh bid’ah bertebaran menyeret umat ke jalan sesat.
2. Mengikuti hawa nafsu dalam masalah hukum
Yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sumber
segalanya dengan menyeret/membawa dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk
mendukungnya, dalil-dalil tersebut dihukumi dengan hawa nafsunya. Ini adalah
perusakan terhadap syari’at dan tujuannya.
أَفَرَأَيْتَ
مَنِ
اتَّخَذَ
إِلَهَهُ هَوَاهُ
وَأَضَلَّهُ
اللَّهُ
عَلَى عِلْمٍ
وَخَتَمَ
عَلَى
سَمْعِهِ
وَقَلْبِهِ
وَجَعَلَ
عَلَى
بَصَرِهِ
غِشَاوَةً
فَمَنْ يَهْدِيهِ
مِنْ بَعْدِ
اللَّهِ
أَفَلَا
تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan
ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk
sesudah Allah (membiar-kan sesat) Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?...” (Al-Jatsiyah: 23).
3. Fanatik buta terhadap pemikiran-pemikiran orang tertentu
Fanatik buta terhadap pemikiran orang-orang tertentu
akan memisahkan antara seorang muslim dari dalil dan al-haq. Inilah keadaan
orang-orang yang fanatik buta pada zaman kita sekarang ini, Mayoritas terdiri
dari pengikut sebagian madzhab-madzab, sufiyyah dan quburiyyun (penyembah-penyembah
kuburan), yang apabila mereka diseru untuk mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah,
mereka menolaknya. Dan mereka juga menolak apa-apa yang menyelisihi pendapat
mereka. Mereka berhujah dengan madzab-madzab, syaikh-syaikh, kiyai-kiyai,
bapak-bapak nenek moyang mereka. Ini adalah pintu dari sekian banyak
pintu-pintu masuknya bid’ah ke dalam agama Islam ini.
4. Ghuluw (berlebih-lebihan)
Contoh dari point ini adalah madzab khawarij dan
syi’ah. Adapun khawarij, mereka ghuluw berlebihan dalam memahami
ayat-ayat peringatan dan ancaman. Mereka berpaling dari ayat-ayat raja’
(pengharapan), janji pengampunan dan taubat sebagaimana Allah Subhannahu wa
Ta'ala berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ لَا
يَغْفِرُ
أَنْ
يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ
مَا دُونَ
ذَلِكَ لِمَنْ
يَشَاءُ
yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni
dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa
yang dikehendakiNya ...” (An-Nisa’: 48,116).
5. Tasyabuh dengan kaum kuffar
Tasyabbuh (menyerupai) kaum kuffar adalah sebab yang paling menonjol
terjatuhnya seorang kedalam bid’ah. Hal ini pulalah yang terjadi di zaman kita
sekarang ini. Karena mayoritas dari kalangan kaum Muslimin taqlid kepada
kaum kuffar pada amal-amal bid’ah dan syirik. Seperti perayaan-perayaan ulang
tahun (maulid) dan mengadakan hari-hari atau minggu-minggu khusus dan perayaan
serta peringatan bersejarah (menurut anggapan mereka) seperti: peringatan
Maulid Nabi. Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan yang lainnya adalah meyerupai
peringatan-peringatan kaum kuffar.
مَنْ
تَشَبَّهَ
بِقَوْمٍ
فَهُوَ
مِنْهُمْ.
“Barangsiapa yang menyerupai
suatu kaum maka dia termasuk mereka”. (Abu Dawud).
6. Menolak bid’ah dengan bid’ah yang semisalnya atau
bahkan yang lebih rusak
Contohnya ialah kaum Murji’ah, Mu’tazilah,
Musyabibhah dan Jahmiyyah. Kaum Murji’ah memulai bid’ahnya dalam mensikapi
orang-orang yang dizamannya, mereka berkata: “Kita tidak menghakimi mereka dan
kita kembalikan urusannya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala ”. Hingga akhirnya
mereka sampai pada pendapat bahwa maksiat tidak me-mudharat-kan iman,
sebagaimana tidak berfaedah ketaatan yang disertai
kekufuran. Al-Baghdadi berkata: “Mereka dinamakan Murji’ah karena mereka
memisahkan amal dari keimanan.”
Demikianlah, para ahlul bid’ah menjadikan kebid’ahan-kebid’ahan
yang mereka lakukan sebagai satu amalan ataupun suatu sunnah, sedangkan yang
benar-benar sunnah mereka jauhi. Padahal sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam telah bersabda:
مَنْ عَمِلَ
عَمَلاً
لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa mengajarkan suatu amalan
yang tidak ada keterangannya dari kami (Rasulullah),
maka dia itu tertolak.” (Hadist riwayat Muslim).
Ihwan fillah rahimakumullah
Oleh karena itu jika kita mempelajari seluk beluk
taqlid, kemudian kita pelajari hakekat kebid’ahan niscaya kita tahu bahwa
ternyata antara bid’ah dan taqlid mempunyai hubungan yang sangat erat sekali.
Jika kita perhatikan perbuatan bid’ah niscaya kita akan mengetahui bahwa
pelakunya adalah seorang muqallid. Dan kalau kita melihat seorang muqallid,
niscaya kita lihat bahwa dia tenggelam dalam kebid’ahan, kecuali bagi mereka
yang dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Berikut ini ada beberapa sebab yang
menunjukkan bahwa taqlid itu mempunyai hubungan yang erat dengan bid’ah.
Muqallid tidak bersandar dengan dalil dan tidak mau
melihat dalil; jika dia bersandar pada dalil, maka dia tidak lagi dinamakan muqallid.
Demikian pula mubtadi’, diapun dalam melakukan kebid’ahan tidak berpegang
dengan dalil karena kalau berpegang dengan dalil maka ia tidak lagi dinamakan
dengan mubtadi’ karena asal bid’ah adalah mengadakan sesuatu hal yang
baru tanpa dalil atau nash.
Taqlid dan bid’ah adalah tempat ketergelinciran
yang sangat berbahaya yang menyimpangkan seseorang dari agama dan aqidah.
Karena dua hal tersebut akan menjauhkan pelakunya dari nash Al-Qur’an dan
As-Sunnah yang merupakan sumber kebenaran.
Taqlid dan bid’ah merupakan sebab utama tersesatnya
umat terdahulu. Allah Subhannahu wa Ta'ala menceritakan dalam Al-Qur’an tentang
Bani Isra’il yang meminta Musa Alaihissalam untuk menjadikan bagi mereka satu
ilah dari berhala, karena taqlid kepada para penyembah berhala yang pernah
mereka lewati.
FirmanNya:
وَجَاوَزْنَا
بِبَنِي
إِسْرَائِيلَ
الْبَحْرَ
فَأَتَوْا
عَلَى قَوْمٍ
يَعْكُفُونَ
عَلَى
أَصْنَامٍ
لَهُمْ
قَالُوا يَا
مُوسَى
اجْعَلْ
لَنَا
إِلَهًا
كَمَا لَهُمْ
آلِهَةٌ
قَالَ
إِنَّكُمْ
قَوْمٌ
تَجْهَلُونَ،
إِنَّ
هَؤُلَاءِ
مُتَبَّرٌ
مَا هُمْ
فِيهِ
وَبَاطِلٌ
مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Dan kami seberangkan
Bani Israil keseberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada satu kaum
yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah
untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah
(berhala)!. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui
(sifat-sifat Ilah)! “sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang
dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al- A’raf: 138-139).
Sekalipun Nabi Musa Alaihissalam melarang dan
mencerca mereka dan mereka mengetahui bahwa arca itu hanyalah bebatuan yang
tidak memberi manfaat dan mudlarat, tetapi mereka tetap membikin patung anak
sapi dan menyembahnya.
Hal ini disebabkan karena taqlid yang sudah menimpa
diri mereka. Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahaya taqlid dan hubungannya
yang sangat erat dengan kebid’ahan bahkan dengan kesyirikan dan kekufuran. Hal
inilah yang merupakan sebab kesesatan Bani Isra’il dan umat lainnya, termasuk
sebagian besar ummat Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam .
Terakhir adalah bagaimana cara kita untuk keluar dari
bid’ah ini
Jalan keluar dari bid’ah ini telah di gariskan oleh
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dalam banyak hadits. Dan satu di
antaranya adalah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman
para Salafus Shahih, , karena mereka adalah orang yang paling besar
cintanya kepada Allah dan RasulNya, paling kuat ittiba’nya, paling dalam
ilmunya, dan paling luas pemahamannya terhadap dua wahyu yang mulia tersebut.
Dengan cara ini seorang muslim mampu berpegang teguh dengan agamanya dan bebas
dari kotoran yang mencemari dan terhindar dari semua kebid’ahan yang menyesatkan.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan taufiq
dan hidayahNya kepada kita semua dan kepada saudara-saudara kita yang
terjerumus dan bergelimang di dalam kebid’ahan. Mudah-mudahan pula Allah
menambah ilmu kita, menganugrahkan kekuatan iman dan takwa untuk bisa tetap
istiqomah di atas manhaj yang hak dan menjalani sisa hidup di jaman yang penuh
fitnah ini dengan bimbingan syari’at Muhammadiyah (syariat yang dibawa oleh
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam ), sampai kita bertemu Allah dengan
membawa bekal husnul khatimah.
Amin ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَل
لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ اللهَ
يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ
أَجْرًا}.
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى
رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.