Akibat Dari Kemaksiatan Yang
Diremehkan
Jumat,
03 September 04
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
اْلأَكْبَرِ،
خَلَقَ الْكَوْنَ
وَدَبَّرَ،
خَلَقَ
اْلإِنْسَانَ
ثُمَّ
أَمَاتَهُ
ثُمَّ
أَقْبَرَ،
وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ
وَأَخْبَرَ،
وَأَنْزَلَ
الْقُرْآنَ
الْكَرِيْمَ
فِيْهِ
الْعِظَاتُ
وَالْعِبَرُ،
فَهَدَى
وَأَحَلَّ
وَأَمَرَ، وَنَهَى
وَحَرَّمَ
وَزَجَرَ،
فَقَالَ فِيْ سُوْرَةَ
الْكَوْثَرِ:
أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ،
بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمَـنِ
الرَّحِيْمِ:
إِنَّآ
أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ.
فَصَلِّ
لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ.
إِنَّ شَانِئَكَ
هُوَ
اْلأَبْتَرُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ،
صَدَقَ
وَعْدَهُ،
وَنَصَرَ
عَبْدَهُ،
وَأَعَزَّ
جُنْدَهُ،
وَهَزَمَ
اْلأَحْزَابَ
وَحْدَهُ،
وَهُوَ الْقَائِلُ
سُبْحَانَهُ:
يَوْمَ
يُسْحَبُونَ
فِي النَّارِ
عَلَى
وُجُوهِهِمْ
ذُوقُوا مَسَّ
سَقَرَ.
إِنَّا كُلَّ
شَىْءٍ
خَلَقْنَاهُ
بِقَدَرٍ.
وَمَآأَمْرُنَآ
إِلاَّ
وَاحِدَةٌ
كَلَمْحٍ
بِالْبَصَرِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَهُوَ
خَيْرُ الْبَشَرِ،
وَصَاحِبُ
الْحَوْضِ
الْكَوْثَرِ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ الْمُطَهَّرِ،
وَعَلَى مَنْ
صَاحَبَهُ
وَأَزَرَهُ
وَوَقَرَ،
وَعَلَى
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
فِيْ كُلِّ
أَثَرٍ، إِلَى
يَوْمِ
الْمَحْشَرِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
عِبَادَ
اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَاتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
Ibadallah!
Pertemuan kita pada hari ini, dimana kaum muslimin menampakkan syiar mereka
yang terbesar setelah Iedul Fitri dan Iedul Adha, mereka berkumpul di dalam
masjid-masjid untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala
Semua
itu telah mengingatkan kita, kepada abad-abad kejayaan Islam. Dimana kaum
muslimin berada dalam bimbingan sebuah khilafah. Dimana kaum muslimin memegang
peranan. Dunia dari batas timur dan barat menaruh hormat kepada agama kita.
Kaum muslimin menjadi orang-orang yang mulia, mempunyai izah dan harga diri,
penuh karamah dan siyadah, dinaungi oleh garis-garis besar haluan Al-Qur’an dan
Sunnah. Kehidupan para pemimpinnya tunduk dan hormat kepada keputusan ulama,
ulamanya patut menjadi Panutan. Rakyat pun bahagia, santosa dan sejahtera,
damai tentram lahir dan batin. Mendapatkan segala haknya sebagai rakyat, mulai dari
hak pelayanan, hak mendapatkan pendidikan, rasa aman, keadilan, dan
mengungkapkan pendapat dan nasehat kepada sang pemimpin.
Semua
itu mengingatkan abad-abad di mana orang ahlu dzimmah (selain Islam yang hidup
di negeri Islam) tunduk dan hormat kepada setiap muslim, tunduk dan taat kepada
hukum dan tatanan muamalat Islam. Tak seorang pun dari mereka yang berani
mengangkat bahu dan wajahnya. Mereka wajib membayar jizyah, dengan jaminan
penuh berupa rasa aman, bebas menjalankan peribadatan mereka di tempat-tempat
peribadatan mereka.
Akan
tetapi ya ma’asyiral muslimin, semua itu hanya tinggal kenangan, di sana sini
Ummat Islam dibantai, disiksa, diusir dibikin lapar setengah mati, semuapun
diam tanpa basa-basi, kalau dahulu kita dapat melarang ahlu dzimmah dari
berlatih kuda, maka pada hari ini, abad ini, mereka telah menaiki kepala-kepala
kita, yang dahulu mereka dapat hidup nyaman di negeri kita, sekarang merekalah
yang mencabik-cabik tubuh kita di pelbagai belahan dunia, ditetangga kita, di
dekat kita, bahkan mungkin di depan mata kita dan kitapun hanya bisa diam!
Berapa
banyak orang yang berani berpura-pura masuk Islam, kemudian menikahi anak kita,
akhwat kita, kemudian ternyata bulan madupun berubah menjadi bulan racun yang
mematikan!!
Kurang
puas dari itu semua ... dipaksalah anak kita, akhwat kita untuk murtad dari
agamanya, dipaksalah ia untuk menjadi seorang pelacur murahan, menjual murah
harga diri dan kehormatannya!!
Segalanya
terjadi tidak lain karena kita telah menjauhi ajaran Islam. Allah Subhannahu wa
Ta'ala berfirman:
وَمَنْ
أَعْرَضَ
عَنْ ذِكْرِي
فَإِنَّ لَهُ
مَعِيشَةً
ضَنْكًا
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu maka baginya
kehidupan yang sempit.” (Thaha 124)
Semuanya
terjadi karena kita selalu berbuat maksiat, jauh dari tunduk dan taat kepada
Allah. Karena harus kita akui bahwa Allah tiada akan menimpakan musibah kecuali
karena adanya maksiat. Dan tak akan mencabutnya kembali kecuali dengan adanya
taubat dan istighfar.
Kalau bukan karena maksiat kenapa Iblis dilaknat oleh Allah?! Dijauhkan dari
rahmatNya, diusir dari Surga dan alam malakutNya, dijadikan lemah dan hina.
Allah
berfirman:
قَالَ
فَاخْرُجْ
مِنْهَا
فَإِنَّكَ
رَجِيمٌ،
وَإِنَّ
عَلَيْكَ
اللَّعْنَةَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
“Keluarlah
dari Surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu
tetap menimpamu sampai hari kiamat” (Al-Hijr: 34-35)
Kalau
bukan karena maksiat apa sebabnya Allah menumpahkan air dari langit,
memuntahkannya ke bumi. Hingga mereka umat Nabi Nuh yang kafir dan durhaka itu
tenggelam dan binasa. Mati terkubur di dalam lumpur.
وَقَالَ
ارْكَبُوا
فِيهَا
بِسْمِ
اللَّهِ مَجْرَاهَا
وَمُرْسَاهَا
إِنَّ رَبِّي
لَغَفُورٌ
رَحِيمٌ،
وَهِيَ
تَجْرِي
بِهِمْ فِي
مَوْجٍ
كَالْجِبَالِ
وَنَادَى
نُوحٌ
ابْنَهُ
وَكَانَ فِي
مَعْزِلٍ يَا
بُنَيَّ
ارْكَبْ
مَعَنَا
وَلَا تَكُنْ
مَعَ الْكَافِرِينَ،
قَالَ سَآوِي
إِلَى جَبَلٍ
يَعْصِمُنِي
مِنَ
الْمَاءِ
قَالَ لَا عَاصِمَ
الْيَوْمَ
مِنْ أَمْرِ
اللَّهِ
إِلَّا مَنْ
رَحِمَ
وَحَالَ
بَيْنَهُمَا
الْمَوْجُ
فَكَانَ مِنَ
الْمُغْرَقِينَ.
Dan
Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah
diwaktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha
Penghampun lagi Maha Penyanyang.” Dan bahtera itu berlayar
membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya,
sedang anak itu berada ditempat yang jauh terpencil. “ Hai anakku naiklah ke
kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir. Anaknya
menjawab” Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari
air bah!
Nuh
berkata “ Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah saja
yang Maha Penyanyang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya: maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 41-43).
Kalau
bukan karena maksiat lantas apa yang menyebabkan Allah menghancurkan kaum Nabi
Hud Alaihissalam ditumpas habis tiada tersisa.
“Maka mereka mendustakan (Hud) lalu kami binasakan mereka karena sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah tetapi kebanyakan mereka
tidak beriman.” (Asy-Syu’ara’: 139).
Kalau bukan karena maksiat, kenapa kaum Tsamud harus menelan mentah-mentah
adzab yang sangat pedih?!
“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku
angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata, ‘Hai Shalih, datangkanlah
apa yang kamu ancamkan, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus
Allah’, karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-2 yg
bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (Al-A’raf: 77-78).
Kaumnya Nabi Luth pun hancur berkeping-keping karena maksiat pula tujuh kota
hancur berantakan, mereka diangkat setinggi-tingginya ke atas langit dengan
cepat lantas dibenturkan ke bumi sedang yang tadinya berada di atas berubah
menjadi di bawah lantas dihujani bebatuan dari sijjil.
“Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas
ke bawah (kami balikan) dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang
terbakar bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu dan siksaan itu tiadalah
jauh dari orang-orang yang zhalim.” (Hud: 82-83)
Negeri
Fir’aun dilanda taufan kencang, hama belalang, tersebarnya kutu, merejalelanya
kodok dan menyebarkan darah karena maksiat juga.
“Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah
sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka
adalah kaum yang berdosa.”
Kemudian
karena mereka tidak merubah sikapnya dalam berbuat maksiat kepada Allah, maka
lanjutnya:
Kemudian
Kami menghukum mereka maka kami tenggelam-kan mereka dilaut disebabkan
mendustakan ayat-ayat kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikannya.
(Al-A’raf: 133 dan 136).
Bangsa
Yahudi bertubi-tubi mendapatkan laknat dan adzab
Kadang mereka merasa puas setelah menyakiti NabiNya, bahkan mereka telah
membunuh beberapa nabi, maka pantas sekali kalau Allah merubah mereka menjadi
binatang yang paling keji didunia, mereka dirubah menjadi babi dan kera, karena
tabiat mereka memang seperti babi dan kera, menjadikan tak tahu balas budi dan
rakus, maka Allah mendatangkan kepada mereka bala tentara yang tidak mengasihi
mereka, menghancurkan segala yang ada, mereka akan selalu terusir dan selamanya
mereka tidak akan merasa tentram. Bahkan sampai akhir zamanpun selama mereka
tidak merubah sikap dan bertaubat, maka murka Allah itu akan selalu berulang
atas mereka.
Oleh karena itu ma’asyiral muslimin, segala musibah yang menimpa selama ini
tidak lain karena ulah tangan manusia sendiri. Allah berfirman:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ
فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
بِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِي
النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ
بَعْضَ
الَّذِي
عَمِلُوا
لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41).
Karena
ketidak adilan, karena korupsi, suap menyuap, narkoba yang selalu erat dengan
perzinaan, pelacuran dan pencurian, karena riba, salah memilih pendidikan,
karena ambisi, hasad, iri dan dengki, buruk sangka serta segala bentuk
kemak-siatan yang lainnya. Oleh karena itu ketetapan Allah (sunnatulah) pasti
berlaku sepanjang zaman.
Sunnatullah yang pertama:
“Barangsiapa
berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan kaffah, ridha, ikhlash
dan tulus dalam meniti jalannya para salafus shalih, membekali dirinya dengan
ilmu yang benar, niat yang kuat dan amal yang tepat, maka dialah yang akan
menuai segala kebaikan, kemuliaan, kejayaan dan kemenangan.”
Sedang
Sunnatullah yang kedua adalah:
“Barangsiapa yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah,
mengikuti trend orang-orang kafir, meninggalkan ilmu dan amal, pastilah menuai
kehancuran, kekacauan, kenistaan dan kebinasaan, dimanapun dia berada. Oleh
karena itu tiada jalan yang pas kecuali ajakan, seruan untuk kembali ke jalan
Allah dan tiada jalan yang pas kecuali ajakan, seruan untuk kembali kejalan
Allah dan Rasulnya, ajaran Allah dan Rasulnya, Bimbingan Allah dan Rasulnya.
Agar kita bahagia, sentosa dan menjadi ummat yang berjaya!!!
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَلَّ
اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ.
فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
مُعِيْدِ
الْجَمْعِ وَاْلأَعْيَادِ،
وَمُبِيْدِ
اْلأُمَمِ
وَاْلأَجْنَادِ
وَجَامِعِ
النَّاسِ
بَعْدَ
الرَّقَابِ،
إِنَّ اللهَ
لاَ يُخْلِفُ
الْمِيْعَادَ.
وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَلاَ
نِدَّ وَلاَ
مُضَادَ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمِّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الْمُتَفَضِّلَةُ
عَلَى
جَمِيْعِ
الْعِبَادِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
أَمَّا
بَعْدُ؛ عِبَادَ
اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ بِتَقْوَى
اللهِ،
فَاتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
Marilah kita selalu meningkatkan ketaqwaan kita,
marilah kita selalu mensyukuri nikmat karena dengan taqwa dan syukur akan
terbentang jalan keselamatan untuk kita, serta agar selalu berdo’a semoga Allah
selalu melimpahkan kepada kita kehidupan yang selamat di dunia dan akhirat.
Amin
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
فَاغْفِرْ
لَنَا
ذُنُوبَنَا
وَكَفِّرْعَنَّا
سَيِّئَاتِنَا
وَتَوَفَّنَا
مَعَ اْلأَبْرَارِ.
رَبَّنَا لاَ
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَّسِيْنَا
أَوْ
أَخْطَأْنَا،
رَبَّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ
عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى
الَّذِيْنَ
مِن قَبْلِنَا،
رَبَّنَا
وَلاَ
تُحَمِّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ، وَاعْفُ
عَنَّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنتَ
مَوْلاَنَا
فَانصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ، إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيتَآئِ ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ.
وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ.
أَقِيْمُوا
الصَّلاَةَ.
Oleh : Edi Kasdi