PH01035U

Daftar Isi

Pentingnya

SHOLAT BERJAMA’AH

 

 

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {الجاثية 37-36}، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 

فَيَا عِبَادَ اللهِ! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَا تِهِ وَلاَ تَمُوْ تُنَّ إِلاَّ وَأَنْـتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَدْ فَازَ الْمُتَّـقُوْن، وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jama’ah jum’ah rohimani wa rohimakumullah…

Sholat jama’ah lima waktu adalah syiar islam yang tak boleh kita abaikan dan kita lalaikan begitu saja. Dengan makmurnya sholat jama’ah di masjid-masjid, nampaklah persatuan dan kekuatan umat islam, hingga musuh-musuh islam menjadi gentar. Hendaklah kita menjaga shalat wajib 5 waktu dengan berjama’ah di masjid karena Rasulullah ’alaihi shalatu wasallam memerintahkan kita menjaganya. Beberapa hal yang menunjukkan akan pentingnya sholat lima waktu berjama’ah adalah:

1. Perintah Alloh untuk RUKUK bersama orang-orang yang rukuk. Rukuk bersama orang-orang yang rukuk artinya sholat berjama’ah. Perintah untuk shalat berjama’ah. Sebagaimana firman Alloh ’aza wajalla:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' [QS. Al Baqarah: 43].

2. Perintah Alloh untuk sholat BERJAMA’AH meski dalam medan perang. Dalam sholat khauf, jama’ah dibagi menjadi 2 kelompok dan bergantian (1 rekaat 1 rekaat) sholat di belakang Nabi, sebagian sholat, sebagian menyandang senjata. Tidak cukup HANYA Sebagian umat islam saja yang melaksanakan sholat berjama’ah. Dalam keadaan aman, maka lebih ditekankan lagi untuk menjaga sholat wajib dengan berjama’ah.

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata [QS. An Nisa': 102].

3. Rosululloh sholallohu ’alaihi wasalaam TIDAK memberi KERINGANAN/ijin kepada Abdullah bin Ummi Maktum yang BUTA (buta, rumah jauh dari masjid, tanpa penuntun, tua, banyak pepohonan dan binatang melata) untuk sholat sendiri di  rumah (karena masih mendengar adzan). Bagi kita yang sehat dan segar bugar, tentu ndak ada alasan dan keringanan untuk sengaja sholat di rumah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ. فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ.

 Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, dia berkata, ''Seorang lelaki buta mendatangi Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, "Ya Rasulullah! Tidak ada orang yang menuntun saya ke masjid?" Dia meminta keringanan kepada Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam agar diperbolehkan shalat di rumah. Maka Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan baginya. Ketika orang itu akan berpaling pulang, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memanggilnya, "Apakah kamu bisa mendengar panggilan shalat? Dia menjawab, "Ya." Kata Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam, " Kalau begitu, penuhilah panggilan adzan tersebut !”. [HR. Muslim, An Nasa’i]. Dalam riwayat lain, Nabi bersabda:

مَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً

“Aku tidak menemukan keringanan untukmu.” [Hasan Shahih, HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah]

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia...

4. Rosululloh sholallohu ’alaihi wasalaam berkeinginan MEMBAKAR rumah yang di dalamnya ada laki-laki yang tidak menghadiri sholat jama’ah. Beliau tidak mengancam membakar rumah-rumah orang yang meninggalkan sholat malam, atau meninggalkan puasa senin kamis, akan tetapi membakar rumah orang-orang yang meninggalkan sholat berjama’ah. Tidak CUKUP Nabi sholallohu ’alaihi wasalaam dan Beberapa Sahabat saja yang melaksanakan sholat jama’ah, menunjukkan begitu pentingnya sholat berjama’ah.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أخَالِفَ إلَى رِجَالٍ فَأحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ . متفق عليه.

Demi Allah yang jiwaku ada ditangan-Nya, rasanya aku ingin menyuruh mengumpulkan kayu bakar, dan kuperintahkan mengumandangkan adzan untuk mendirikan shalat, kemudian aku instruksikan seseorang untuk mengimami jama`ah shalat. Selanjutnya aku berbalik menuju orang-orang yang tidak shalat berjama`ah, lalu aku bakar mereka bersama rumah-rumah mereka. [HR. Bukhari, Muslim]

"Kalau sekiranya tidak karena istri-istri dan anak-anak berada di dalam rumah mereka, niscaya aku bakar rumah mereka." [HR. Ahmad]

5. Peringatan Nabi terhadap orang yang meninggalkan shalat jama’ah yang akan dikunci mati hatinya oleh Alloh. Bukti bahwa meninggalkan sholat jama’ah bukan perkara sepele, melainkan perkara besar yang nyata peringatan bagi orang yang meninggalkannya.

لِيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدَعِهِمُ الْجَمَاعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهَ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُو نُنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

“Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari perbuatan meninggalkan shalat jamaah, atau nanti Allah benar-benar akan mengunci mati hati mereka, kemudian mereka akan menjadi orang-orang yang lalai.” [HR. Ibnu Majah]

6. Pada jaman Nabi sholallohu ’alaihi wasalaam orang yang paling BERAT mengerjakan sholat jama’ah, terutama Isa’ dan Subuh adalah orang-orang munafik (karena hari gelap, sehingga tidak ada yang tahu kalau tidak hadir). Maka dari itu alangkah baiknya kalau kita menjaga sholat berjama’ah agar terhindar dari sifat ini.

Di dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud   mengatakan:

لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيضٌ إِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلَاةَ

"Sesungguhnya kami telah menyaksikan, bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah (di masa kami) kecuali orang munafiq yang telah jelas kemunafikannya, atau orang sakit. Padahal ada di antara yang sakit berjalan dengan diapit oleh dua orang untuk mendatangi shalat berjamaah". [HR. Muslim]

أَثْقَلُ اَلصَّلاَةِ عَلَى اَلْمُنَافِقِيْنَ: صَلاَةُ العِشَاءِ, وَصَلاَةُ الفَجْرِ, وَلَو يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْ هُمَا وَلَو حَبْوًا.

"Shalat yang paling berat menurut orang-orang munafiq adalah shalat Isya’ dan shalat Shubuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang terkandung pada keduanya, niscaya mereka akan  datang untuk melakukannya (secara berjamaah) sekalipun dg merangkak". [HR. Ibnu Majah, Ahmad, Bukhari, Muslim]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُوْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَنَحْنُ لَهُ تَابِعُوْنَ.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.  أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia....

 

Telah kami sampaikan akan pentingnya menjaga shalat wajib dengan berjama’ah, maka dari itu marilah kita berusaha dan terus berusaha untuk menghadirinya. Dan telah sampai kepada kita hadits-hadits dari Nabi ‘alaihi shalatu wasallam tentang berbagai keutamaan menghadiri shalat wajib berjama’ah seperti PAHALANYA yang berlipat ganda 25 atau 27 kali lipat. Dan banyak sekali keutamaan lainnya seperti ditambah derajatnya, dihapus kesalahannya, malaikat bersholawat untuknya, mendapatkan cahaya di akhirat, setiap langkah kaki dihitung sedekah, disediakan hidangan di surga, mendapatkan pahala seperti pahala haji, dll.

Dari Utsman bin Affan, diaberkata, "Rasulullah Shalallohu ’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

”Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya secara berjamaah, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala beribadah setengah malam. Barang siapa yang mengerjakan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah, maka dia mendapat pahala seperti pahala beribadah semalam." [HR. Muslim]

بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Nabi Shalallohu ’alaihi wasallam, beliau bersabda, "Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang suka berjalan di malam yang gelap menuju ke masjid-masjid, yaitu mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat nanti." [Abu Daud, Shahih]

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلَاةٌ عَلَى أَثَرِ صَلَاةٍ لَا لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِي عِلِّيِّينَ

Dari Abu Umamah, bahwasanya Rasulullah Shalallohu ’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk megerjakan shalat wajib di (masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji. Barang siapa yang keluar untuk mengerjakan shalat sunah Dhuha, dan dia tidak berupaya, kecuali untuk menunaikannya, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Suatu shalat keshalat lainnya, di mana antara keduanya tidak diselingi dengan perkataan sia-sia, maka pahalanya tercatat di surga 'Illiyyiin. " [HR. Abu Daud, Ahmad. Hasan]

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah Shalallohu ’alaihi wasallam bersabda, "Shalat seseorang yang berjamaah mengungguli shalat yang dilakukan di rumah atau di pasar sebanyak 27 derajat. Hal itu karena apabila seseorang berwudhu dengan baik, lalu pergi ke masjid hanya dengan keperluan dan maksud unluk shalat, maka tidaklah ia melangkah kecuali diangkat satu derajat untuknya dan dihapus dosanya pada tiap-tiap langkah tersebut sampai ia memasuki masjid. Apabila ia telah memasuki masjid, maka dia dihitung sama melakukan shalat selama dia menunggu pelaksanaan shalat. Sedang para malaikat mendo'akannya selama ia berada di majelis shalatnya. Para malaikat mengucapkan doa "Allahumarhamhu, Allahummaghfirlahu, Allahumma tub alaihi, maa lam yudzi fihi, maa lam yuhdits fiihi" {Ya Allah! Berikan rahmat kepadanya! Ya Allah, ampunilah dia! Ya Allah, terimalah taubatnya, selama dia belum berbuat keji dan berhadats' di dalamnya." [HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud]

 

Jama’ah jum’ah rohimani wa rohimakumullah...

 

 

Dari Abdulloh bin Abbas ra dari Rosululloh shallallahu 'alaihi wassallam beliau bersabda:

مَنْ سَمِعَ النَّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ, فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.

”Barangsiapa mendengar seruan adzan namun ia tidak mendatanginya, maka tidak ada sholat baginya kecuali ada UDZUR.”[Shahih. HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim]

'Ali bin Abu Thalib ra berkata: "Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid." Beliau ditanya, "Siapakah tetangga masjid itu?" Beliau menjawab, "Orang yang mendengar adzan. " Beliau ra juga berkata, "Barangsiapa mendengar seruan adzan kemudian ia tidak datang, maka shalatnya tidak akan melewati kepalanya (tidak diterima), kecuali jika ia punya udzur." [Al Kabair]

Imam Syafi’i berkata: ”Serupalah apa yang saya sebutkan dari kitab dan sunnah, bahwa tidak halal meninggalkan bersholat setiap sholat fardhu dalam berjama’ah”. ”Maka saya tidak meringankan bagi orang yang sanggup kepada sholat jama’ah, bahwa meninggalkan mengerjakannya, selain dari karena ’udzur” (Al Umm).

Udzur yang dibolehkan diantaranya ialah: Sakit yang memberatkan, Tidak aman, Sedang menahan/ingin buang hajat, Saat makanan telah dihidangkan, Sedang safar dan takut tertinggal, Habis makan makanan yang berbau tidak sedap, Hujan lebat, Sedang sibuk mengurusi jenazah, dll.

Mengingat begitu pentingnya shalat wajib 5 waktu berjama’ah ini, sampai-sampai para imam ahli hadits membuat bab khusus dalam kitabnya disamping bab keutamaan shalat berjama’ah, seperti: Imam Bukhari, kitab Shalat Jama’ah dan Keimaman, bab Wajibnya shalat berjama’ah. Imam Muslim, kitab Masjid dan Tempat Sholat, bab Keutamaan Shalat Berjama’ah dan Ancaman Bagi yang Meninggalkannya. Imam an Nasa’i, kitab Keimaman, bab Teguran Keras Meninggalkan Sholat Jama’ah. Imam Abu Daud, kitab Shalat, bab Teguran Keras Meninggalkan Sholat Jama’ah. Imam Ibnu Majah, kitab Masjid dan Berjama’ah, bab Teguran Keras dari Meninggalkan Shalat Berjama’ah. Imam al Baihaqi, kitab Shalat, bab Teguran Keras dari Meninggalkan Shalat Jama’ah Tanpa Udzur. Imam Ibnu Khuzaimah, kitab Shalat, bab Teguran Keras dari Tidak Menghadiri Shalat Jama’ah. Dan bab-bab lainnya yang menekankan untuk shalat berjama’ah.

 

Jama’ah jum’ah yang berbahagia...

Dibolehkan seorang wanita datang ke masjid, dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurot, dan tidak memakai wewangian.

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ.

Dari Ummu Salamah ra. bahwa Rosululloh bersabda: ”Sebaik-baik tempat sholat bagi kaum wanita adalah di dalam ruangan rumahnya”. [Al Hakim, Al Mustadrak I/209]

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menghalangi kaum wanita itu pergi ke masjid- masjid Alloh, akan tetapi hendaklah mereka itu pergi tanpa memakai wangi-wangian.” [HR. Abu Daud, Ahmad]
لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid, akan tetapi sebenarnya rumah rumah mereka itu lebih baik bagi mereka." [HR. Abu Daud, Ahmad]

 

Dari Musa bin Yasar, dari Abu Hurairah ra, bahwa pernah seorang wanita berpapasan dengannya dan bau semerbak menerpanya. Maka Abu Hurairah pun berkata, "Wahai hamba Allah, apakah kamu hendak ke masjid?" Dia menjawab, "Ya." Abu Hurairah berkata kepadanya, "Pulanglah dulu, kemudian mandi! Karena saya mendengar Rasulullah sholallohu ’alaihi wassalam bersabda:

مَا مِنِ امْرَأَةٍ تَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ تَعَصَّفَ رِيْحُهَا فَلاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهَا صَلاَةً حَتَّى تَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهَا فَتَغْتَسِلَ.

 'Bila seorang wanita ke masjid sementara bau wewangian menghembus dari tubuhnya, maka Allah tidak akan menerima shalatnya hingga dia pulang, lalu mandi, (baru kemudian shalat ke masjid)". (HR. Al Baihaqi)

 

Semoga kita diberikan kemudahan untuk dapat menghadiri sholat berjama’ah, sehingga mendapatkan berbagai macam keutamaan dan dijauhkan dari berbagai macam keburukan. Amiin... Wallohu A’lam...

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لله رَبِ الْعَالَمِيْنَ.

www.subuh4rokaat.wordpress.com