|
الْحَمْدُ
لِلهِ عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ
جَعَلَ
الصَّلاَةَ
عَمُوْدَ
اْلإِسْلاَمِ
وَأَحَدَ
مَبَانِيْهِ
الْعِظَامِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ فِي رُبُوْبِيَّتِهِ
وَأُلُوْهِيَّتِهِ
وَأَسْمَائِهِ
وَصِفَاتِهِ
{تَبَارَكَ
اسْمُ
رَبِّكَ ذِي
الْجَلاَلِ
وَاْلإِكْرَامِ} [الرحمن: 78] وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَصَفِيُّهُ
وَخَلِيْلُهُ
مِنْ بَيْنِ
سَائِرِ
اْلأَنَامِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
الْبَرَرَةِ
اْلكِرَامِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Dan marilah kita selalu
menjalankan dan menjaga kewajiban-Nya yang paling besar setelah dua
kalimat syahadat, yaitu kewajiban shalat. Karena agung serta butuhnya
seseorang terhadap kewajiban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan untuk mengerjakannya tidak hanya sekali dalam sehari.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kita untuk
menjalankannya lima waktu dalam sehari semalam, pada waktu-waktu yang
tidak merugikan sedikit pun bagi aktivitas kita. Bahkan sangat membantu
dan menguntungkan kegiatan kita sehari-hari.
Hadirin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan ancaman
yang sangat keras bagi orang-orang yang meremehkan kewajiban shalat.
Tentu saja ini menunjukkan betapa besarnya kewajiban ini di sisi Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
فَخَلَفَ
مِنْ
بَعْدِهِمْ
خَلْفٌ
أَضَاعُوا
الصَّلاَةَ
وَاتَّبَعُوا
الشَّهَوَاتِ
فَسَوْفَ
يَلْقَوْنَ
غَيًّا. إِلاَّ
مَنْ تَابَ
وَآمَنَ
وَعَمِلَ
صَالِحًا
فَأُولَئِكَ
يَدْخُلُوْنَ
الْجَنَّةَ
وَلاَ
يُظْلَمُوْنَ
شَيْئًا
”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek)
yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka
mereka kelak akan menemui siksa yang sangat keras dan berlipat-lipat.
Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka
itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.”
(Maryam: 59-60)
Di antara hal yang juga menunjukkan betapa agungnya
keutamaan shalat, adalah apa yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari
dan Muslim rahimahumallah dalam Shahih keduanya, yaitu bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan shalat lima waktu dengan
sungai yang mengalir di depan pintu seorang muslim dan digunakan untuk
mandi sebanyak lima kali dalam sehari, sehingga akan menghilangkan
kotoran-kotoran yang melekat di badannya. Begitu pula shalat lima waktu,
akan menghapus dosa-dosa seorang muslim yang selalu menjalankan dan
menjaganya. Hanya saja dosa-dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil.
Adapun dosa-dosa besar seperti durhaka kepada orangtua, mencuri, riba,
memakan harta anak yatim, berdusta, menipu dalam jual beli dan
semisalnya, maka tidak akan terhapus kecuali dengan bertaubat kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka sungguh merupakan kenyataan yang sangat
mengherankan dan menyedihkan, ketika kita dapatkan sebagian kaum
muslimin tidak memerhatikan bahkan seolah-olah tidak tahu kewajiban
shalat lima waktu ini. Sehingga di mata mereka, shalat lima waktu
seperti amalan yang tidak ada nilainya. Padahal Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan bahwa orang yang tidak
mengerjakan shalat adalah bukan saudara kita seiman. Begitupula shalat
adalah perkara yang membedakan antara seorang muslim dengan orang
kafir. Hal ini disebutkan di dalam firman-Nya:
فَإِنْ
تَابُوا
وَأَقَامُوا
الصَّلاَةَ
وَآتَوُا
الزَّكَاةَ
فَإِخْوَانُكُمْ
فِي الدِّيْنِ
...
”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat
serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.”
(At-Taubah: 11)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
بَيْنَ
الرَّجُلِ
وَبَيْنَ
الشِّرْكِ
وَالْكُفْرِ
تَرْكَ الصَّلاَةِ
”Sesungguhnya (yang membedakan) antara seseorang dengan
kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Bahkan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan:
”Sungguh, Al-Kitab dan As-Sunnah serta ijma’ shahabat
telah menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat.”
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, orang yang sama sekali tidak mau
mengerjakan shalat dan tidak mau diingatkan untuk menjalankannya
dihukumi sebagai orang kafir yang keluar dari Islam. Sehingga sebagai
akibat dari hukum tersebut, kita tidak boleh lagi memakan daging hewan
sembelihannya. Tidak boleh pula kita menikahkan anak-anak perempuan
kita dengannya, serta tidak berhak baginya untuk menerima harta warisan
serta konsekuensi-konsekuensi lainnya. Begitu pula, sudah seharusnya
kita membencinya dan meninggalkan serta menjauhinya, selama dia tidak
mau menerima nasihat dan terus-menerus dalam keadaan demikian. Apabila
dia mati dan belum juga bertaubat, maka mayatnya tidak perlu dimandikan,
dikafani, dan dishalati serta tidak dikubur di pemakaman kaum muslimin.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah
memerintahkan kepada kita shalat lima waktu juga mewajibkan bagi kita
untuk menjalankannya secara berjamaah. Hal ini sebagaimana disebutkan
di dalam ayat-ayat-Nya dan hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bahkan dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa meninggalkan
kewajiban ini tanpa ada sebab yang syar’i adalah dosa besar. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
وَأَقِيمُوا
الصَّلاَةَ
وَآتُوا
الزَّكَاةَ
وَارْكَعُوا
مَعَ
الرَّاكِعِيْنَ
”Dan tegakkanlan shalat dan tunaikanlah zakat dan
rukuklah bersama-sama orang yang ruku'.” (Al-Baqarah: 43)
Maka tentu saja merupakan kenyataan yang
memprihatinkan, ketika kita dapatkan banyak di antara kaum muslimin
yang meremehkan kewajiban ini. Mereka mendengar adzan dikumandangkan,
namun tidak mau memenuhi panggilan adzan tersebut untuk segera menuju
ke masjid. Padahal dia dalam keadaan sehat dan kuat. Seakan-akan dia
mengatakan: ”Aku mendengar panggilan untuk menghadap-Mu ya Allah, namun
aku tidak akan memenuhinya.” Bahkan hal ini terjadi pada sebagian orang
yang bertempat tinggal di sekitar masjid. Rumah mereka di dekat masjid,
namun hatinya jauh dari masjid. Wal ‘iyadzubillah (Kita berlindung
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah
Sebagian yang lain dari kaum muslimin ada yang
berangkat ke masjid namun diiringi rasa malas. Mereka tidak segera
mempersiapkan diri untuk pergi ke masjid, namun menundanya sampai
menjelang atau saat iqamah dikumandangkan. Sehingga mereka terburu-buru
ketika menuju masjid. Hal ini tentu menyelisihi aturan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam adab berjalan ke masjid. Yaitu
berjalan dengan tenang tanpa melakukan gerakan yang tidak diperlukan,
ataupun melihat ke kanan dan kiri tanpa ada keperluan, dan menghadirkan
hati untuk menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka terluput
pula dari mereka keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menunggu shalat
di masjid. Yaitu malaikat akan memintakan ampun dan rahmat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuknya selama dia tidak terkena hadats. Hal ini
sebagaimana tersebut di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Padahal kami yakin bahwa apabila mereka dipanggil untuk
mendapatkan dunia, tentu mereka akan segera mendatanginya kapan saja
tanpa ada rasa malas. Begitu pula, mereka akan mau menunggunya tanpa
rasa bosan, meskipun harus antri dan memakan waktu berjam-jam. Yang
demikian ini tentu menunjukkan lemahnya iman, dan menunjukkan bahwa
dunia lebih mereka utamakan daripada akhirat.
Hadirin rahimakumullah
Selanjutnya ketahuilah bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya telah menjelaskan kepada
kita tentang aturan-aturan yang berkaitan dengan shalat berjamaah. Di
antaranya adalah kewajiban meluruskan dan merapatkan shaf. Banyak
hadits-hadits yang menunjukkan kewajiban ini. Di antaranya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَتُسَوُّوْنَ
صُفُوْفَكُمْ
أَوْ لَيُخَالِفَنَّ
اللهُ
بَيْنَ
وُجُوْهِكُمْ
”Sungguh luruskanlah shaf-shaf kalian, atau kalau tidak
demikian sungguh Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling
berpaling.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka sudah semestinya bagi imam dengan dibantu oleh
para makmum untuk memerhatikan kewajiban ini.
Hadirin rahimakumullah
Di antara aturan yang juga harus diperhatikan dalam
shalat berjamaah adalah tidak diperbolehkannya bagi seseorang untuk
berdiri sendiri di belakang shaf ketika sedang menjalankan shalat
berjamaah. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنَّ
النَّبِيَّ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَأَى
رَجُلاً
يُصَلِّي
خَلْفَ الصَّفِّ
وَحْدَهُ
فَأَمَرَهُ
أَنْ يُعِيْدَهَا
”Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat
seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf, maka beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengulanginya.”
(HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani rahimahullahu)
Dan di antara kewajiban yang juga harus diperhatikan
berkaitan dengan shalat berjamaah adalah kewajiban bagi makmum untuk
mengikuti gerakan imam. Sehingga tidak boleh baginya untuk mendahului
imam ketika ruku’, sujud, dan gerakan lainnya. Begitu pula tidak
mendahuluinya ketika mengucapkan takbir dan tidak terburu-buru
mengucapkan amin sebelum imam menyempurnakan bacaan Al-Fatihah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَمَا
يَخْشَى
أَحَدُكُمْ
إِذَا
رَفَعَ رَأْسَهُ
قَبْلَ
اْلإِمَامِ
أَنْ
يَجْعَلَ اللهُ
رَأْسَهُ
رَأْسَ
حِمَارٍ
أَوْ يَجْعَلَ
اللهُ
صُوْرَتَهُ
صُوْرَةَ
حِمَارٍ
”Tidakkah salah seorang dari kalian takut apabila
mengangkat kepalanya mendahului imam sehingga Allah akan mengubah
kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah akan mengubah tubuhnya
menjadi tubuh keledai?” (Muttafaqun 'alaih)
Hadirin rahimakumullah
Akhirnya, marilah kita berusaha untuk menjaga kewajiban
shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Karena shalat merupakan
penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Sehingga shalat adalah
tolok ukur yang menunjukkan tingkatan keislaman seseorang. Janganlah
kita menjadi orang-orang yang tertipu oleh godaan setan sehingga
melupakan kita dari menjalankan dan menjaga kewajiban-kewajiban-Nya.
Allah berfirman:
اسْتَحْوَذَ
عَلَيْهِمُ
الشَّيْطَانُ
فَأَنْسَاهُمْ
ذِكْرَ
اللهِ
أُولَئِكَ
حِزْبُ
الشَّيْطَانِ
أَلاَ إِنَّ
حِزْبَ
الشَّيْطَانِ
هُمُ
الْخَاسِرُوْنَ
”Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka
lupa dari mengingat Allah, mereka itulah golongan yang mengikuti setan.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang
merugi.” (Al-Mujadilah: 19)
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا
فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ
هُوَ اْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
وَلاَ عُدْوَانَ
إِلاَّ
عَلَى
الظَّالِمِيْنَ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, sebagai bekal yang akan kita bawa untuk kehidupan yang
sesungguhnya nanti di akhirat. Kehidupan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah janjikan bagi orang-orang yang bertakwa dengan kenikmatan surga
di sana. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan neraka sebagai tempat
untuk mengadzab hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى
”Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal
adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)
Hadirin rahimakumullah
Sesungguhnya keutamaan yang besar yang telah Allah
Subhanahu wa Ta’ala janjikan bagi orang-orang yang menjalankan
kewajiban shalat akan diperoleh apabila shalat tersebut dilakukan
dengan mencontoh tata cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yaitu dengan memerhatikan syarat-syarat, rukun-rukun dan kewajiban yang
berkaitan dengan shalat serta sunnah-sunnahnya. Begitu pula dilakukan
dengan penuh khusyuk yang di antara tandanya adalah tenangnya anggota
badan, hadirnya hati, dan memerhatikan serta merasa nikmat ketika
membaca ayat-ayat dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan khusyuk
adalah ruh shalat. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan
keberuntungan bagi orang-orang yang shalat apabila dilakukan dengan
khusyuk, sehingga orang yang melakukan shalat tanpa khusyuk tidak
termasuk orang-orang yang dijanjikan akan mendapatkan keberuntungan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ
هُمْ فِي
صَلاَتِهِمْ
خَاشِعُوْنَ
”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu
orang-orang yang khusyuk di dalam shalatnya.” (Al-Mu`minun: 1-2)
Hadirin rahimakumullah,
Sungguh berbahagialah orang-orang yang mencintai
shalat. Yaitu orang-orang yang merasakan shalat itu sebagai penyejuk
matanya. Dan menjadikannya seakan-akan kenikmatan surga bagi hatinya.
Sehingga ketika menjalankannya, dia merasa berat untuk keluar darinya.
Karena ketika menjalankannya, dia menjadikan shalat sebagai saat
beristirahat dari capainya urusan dunia. Dia merasa telah keluar dari
kesempitan kehidupan dunia yang seakan-akan merupakan penjara bagi
dirinya.
Dan sebaliknya, sungguh celakalah orang-orang yang
tidak mencintai dengan sebenar-benarnya kewajiban yang besar ini. Yaitu
orang-orang yang merasa sangat berat untuk menjalankannya. Sehingga dia
pun selalu menjalankannya di akhir waktunya, bahkan mungkin di luar
waktu. Ketika menjalankannya pun tidak memerhatikan rukun-rukunnya dan
ingin segera selesai serta keluar darinya. Itupun ketika dia
mengerjakannya dengan tidak menghadirkan hatinya. Bahkan yang hadir
saat itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan dunianya.
اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنْ جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلىَ
يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ
في كُلِّ
مَكاَنٍ. رَبِّ
اجْعَلْنَا
مُقِيْمَ
الصَّلاَةِ
وَمِنْ
ذُرِّيَّتِنَا. اللَّهُمَّ
إِنَّا
نَعُوْذُبِكَ
مِنْ قَلْبٍ
لاَ
يَخْشَعُ
وَدُعَاءٍ
لاَ
يُسْمَعُ وَمِنْ
نَفْسٍ لاَ
تَشْبَعُ
وَمِنْ
عِلْمٍ لاَ
يَنْفَعُ. رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْ
لَنَا مِنْ
لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنْتَ
الْوَهَّابُ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ ... اذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ،
وَاللهُ
يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُوْنَ.
|