|
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
جَعَلَ
تَحْقِيْقَ
اْلأَمْنِ
مَقْرُوْنًا
بِاْلإِيْمَانِ
الْخَالِصِ
مِنَ
الشِّرْكِ
وَالطُّغْيَانِ،
فَقَالَ
تَعَالَى: {الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
وَلَمْ
يَلْبِسُوْا
إِيْمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ
أُولَئِكَ
لَهُمُ
اْلأَمْنُ وَهُمْ
مُّهْتَدُوْنَ}.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ:
فَأُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ
فَإِنَّ
مَنِ
اتَّقَاهُ
وَقَاهُ،
وَمَنْ
سَارَ عَلَى
نَهْجِهِ
نَجَاهُ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala yaitu dengan bersemangat dalam mempelajari perintah-perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larangan-larangan-Nya, untuk kemudian
kita jalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita dan kita
jauhi seluruh larangan-Nya. Dengan bertakwa kepada-Nya kita akan dijaga
dari siksa-Nya dan dengan bertakwa kita akan mendapat keberuntungan di
dunia dan di akhirat.
Hadirin rahimakumullah,
Suasana yang aman dan tentram adalah suasana yang
diidam-idamkan oleh setiap orang. Bahkan kebutuhan seseorang terhadap
hal tersebut lebih diutamakan daripada kebutuhannya terhadap makanan
dan minuman. Karena orang yang cemas, khawatir dan penuh ketakutan
tidak akan bisa merasakan enaknya makanan dan minuman sebagaimana
mestinya.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
رَبِّ
اجْعَلْ
هَذَا
بَلَدًا
آمِنًا
وَّارْزُقْ
أَهْلَهُ
مِنَ
الثَّمَرَاتِ
“Wahai Rabb-ku, jadikanlah kota Makkah ini sebagai kota
yang aman dan berikanlah rizki kepada penduduknya dari berbagai hasil
tanaman.” (Al-Baqarah: 126)
Hadirin rahimakumullah,
Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lebih
mendahulukan untuk meminta kehidupan yang aman dibanding meminta rizki.
Maka jelaslah bahwa kebutuhan terhadap kehidupan yang aman dan nyaman
di muka bumi ini merupakan kebutuhan yang sangat diutamakan. Oleh
karena itu pula, kita dapati seluruh negara di muka bumi ini berusaha
untuk mewujudkannya. Mereka telah berusaha dengan berbagai upaya.
Beberapa teori dan sistem telah mereka terapkan untuk menciptakan
keamanan dan ketentraman bagi masyarakat di wilayahnya, namun ternyata
tidak memberikan hasil sebagaimana mereka inginkan.
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Apa sesungguhnya upaya yang harus dilakukan untuk
mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram? Apakah dengan
cara otoriter yang dilakukan oleh pihak penguasa, yaitu dengan
memaksakan kehendaknya kepada masyarakat dan menyingkirkan segala upaya
yang ingin menghalanginya? Ataukah dengan cara menjadikan keinginan
mayoritas orang sebagai tolok ukur kebenaran dan memberikan keleluasaan
kepada setiap orang untuk berbuat sesuai seleranya masing-masing?
Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya kehidupan yang aman dan tentram tidak akan
terwujud dalam sebuah masyarakat kecuali kalau mereka kembali kepada
agama Islam. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus
Rasul yang membawa ajaran Islam ini sebagai rahmat untuk seluruh alam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ
إِلاَّ
رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad)
kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam.” (Al-Anbiya`: 107)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu pula ajaran-ajaran yang ada di dalam agama
Islam, sangat besar peranannya dalam mewujudkan hal tersebut. Kenyataan
di dalam sejarah juga menunjukkan hal yang demikian. Masyarakat di
jazirah Arab sebelum datangnya Islam adalah masyarakat yang hidup dalam
keadaan saling bermusuhan. Yang kuat menyakiti yang lemah. Mereka juga
memiliki kebiasaan melakukan praktik-praktik sihir perdukunan yaitu
dengan meminta tolong kepada setan dari kalangan jin untuk
menyelesaikan urusan mereka. Hal yang demikian ini tentu akan membuat
kehidupan menjadi tidak aman dan nyaman. Begitu pula yang kita dapatkan
sebagian masyarakat di sekitar kita yang masih meminta perlindungan
kepada jin, kita dapatkan mereka hidup dalam keadaan diliputi rasa
khawatir dan takut. Karena memang cara-cara tersebut akan membuat jin
semakin menakut-nakuti manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan
tentang orang-orang Arab jahiliah dalam firman-Nya:
وَأَنَّهُ
كَانَ
رِجَالٌ
مِّنَ
اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ
بِرِجَالٍ
مِّنَ
الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ
رَهَقًا
“Dan sesungguhnya dahulu orang laki-laki dari kalangan
manusia meminta perlindungan kepada laki-laki dari kalangan jin. Maka
mereka (laki-laki dari kalangan jin) menambahkan rasa takut (kepada
manusia).” (Al-Jin: 6)
Namun setelah datangnya Islam, keadaan di jazirah Arab
menjadi berubah. Akidah yang benar membuat para sahabat menjadi orang-orang
yang saling mencintai di antara mereka. Iman kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjadikan mereka menjadi orang-orang yang meminta perlindungan
hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, menyerahkan urusan hanya
kepada-Nya dan menjauhi segala yang diibadahi kepada selain-Nya. Begitu
pula keyakinan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,
menjadikan mereka jauh dari keinginan-keinginan berbuat jahat kepada
sesama. Hal ini menjadikan mereka hidup dalam keadaan penuh keamanan
dan ketentraman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu pula ajaran Islam yang lainnya, akan mewujudkan
kehidupan masyarakat yang aman dan tentram. Misalnya, kewajiban shalat
dan zakat. Dua kewajiban yang sering disebutkan secara beriringan ini
sangat besar peranannya dalam mewujudkan kehidupan yang aman. Allah
Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang hikmah diwajibkannya shalat
dalam firman-Nya:
إِنَّ
الصَّلاَةَ
تَنهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan keji dan
munkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Adapun zakat, maka kewajiban ini akan menumbuhkan rasa
kasih sayang antara yang kaya dan yang miskin, serta menghilangkan rasa
permusuhan di antara mereka.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara ajaran Islam yang sangat besar peranannya dalam
mewujudkan kehidupan yang aman dan tentram adalah kewajiban untuk
berbaiat (berjanji taat) kepada penguasa yang muslim, dengan menaatinya
dalam perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul -Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
أَطِيْعُوا
اللهَ
وَأَطِيْعُوا
الرَّسُوْلَ
وَأُولِي
اْلأَمْرِ
مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasulullah serta pemimpin di antara kalian.” (An-Nisa`: 59)
Oleh karena itu, agama ini melarang pemeluknya untuk
memberontak terhadap penguasa muslim yang sah. Karena yang demikian ini
akan menimbulkan kemudaratan (kejelekan) yang sangat besar. Bahkan
wajib bagi kaum muslimin untuk menghormati penguasanya, mencintai serta
mendoakan kebaikan untuknya ataupun menasihatinya ketika terjatuh dalam
kesalahan dengan cara yang baik. Namun tidak boleh bagi kita untuk
menasihatinya dengan cara menyebutkan kesalahan-kesalahannya melalui
mimbar-mimbar di depan massa ataupun dengan tulisan-tulisan yang
disebarkan ke khalayak. Cara yang benar adalah dengan diam-diam, tidak
di muka umum. Karena demikian petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam hal ini, dan cara ini lebih memungkinkan untuk diterimanya
nasihat daripada kalau disampaikan di depan umum. Kemudian apabila
nasihat itu diterima, maka itulah yang kita harapkan. Namun apabila
tidak, maka telah selesai kewajiban kita.
Selanjutnya kita harus bersabar dengan berbagai
kesalahan penguasa selama dia masih menjalankan shalat. Karena
demikianlah ajaran agama kita. Dan ini pula yang akan mewujudkan
kehidupan aman dan tentram. Begitupula ajaran-ajaran Islam yang
lainnya, seperti jihad, penegakan hukum had dan lain-lain, sangat besar
fungsinya dalam mewujudkan kehidupan yang aman dan tentram.
Akhirnya mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, baik masyarakat maupun
pemerintahnya, untuk bisa mempelajari Islam dengan benar dan
mewujudkannya dalam kehidupan kita, sehingga akan terwujud kehidupan
yang aman dan tentram.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا
فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ
هُوَ اْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ،
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
مَالِكِ
يَوْمِ الدِّيْنِ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
بَعَثَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَقِّ
رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْن
وَحُجَّةً
عَلَى الْمُعَانِدِيْنَ
وَمِنَّةً
عَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحَابَتِهِ
أَجمَعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنِ... أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوا
اللهَ {وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
مَعَ
الْمُتَّقِيْنَ} (البقرة
: 194)
عِبَادَ
اللهِ،
وَكَمَا
أَنَّ
اْلإِسْلاَمَ
يُحَقِّقُ
اْلأَمْنَ
مِنْ
مَخَاوِفِ
الدُّنْيَا
فَهُوَ
كَذَلِكَ
يُحَقِّقُ
اْلأَمْنَ
مِنْ
مَخَاوِفِ
يَوْمِ
الْقِيَامَةِ. قَالَ
تَعَالَى: {الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
وَلَمْ
يَلْبِسُوْا
إِيْمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ
أُولَئِكَ
لَهُمُ
اْلأَمْنُ
وَهُمْ
مُّهْتَدُوْنَ} (الأنعام: 82)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kembali kita mengingatkan kepada hadirin untuk bertakwa
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
bersama orang-orang yang bertakwa, menolong mereka dan menjaga mereka
dari berbagai kejelekan yang akan menimpa mereka.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Agama Islam sebagaimana akan mewujudkan kehidupan
masyarakat yang aman dan tentram di dunia, juga akan mewujudkan
kehidupan yang membahagiakan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
وَلَمْ
يَلْبِسُوْا
إِيْمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ
أُولَئِكَ
لَهُمُ اْلأَمْنُ
وَهُمْ
مُّهْتَدُوْنَ.
“Orang-orang yang beriman yang tidak mencampuradukkan
keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka akan mendapatkan kehidupan
yang aman dan mereka akan mendapatkan hidayah.” (Al-An’am: 82)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ
الْمُتَّقِيْنَ
فِي
جَنَّاتٍ
وَعُيُوْنٍ. ادْخُلُوْهَا
بِسَلاَمٍ
آمِنِيْنَ. وَنَزَعْنَا
مَا فِي
صُدُوْرِهِمْ
مِّنْ غِلٍّ
إِخْوَانًا
عَلَى
سُرُرٍ
مُّتَقَابِلِيْنَ. لاَ
يَمَسُّهُمْ
فِيْهَا
نَصَبٌ
وَّمَا هُمْ
مِّنْهَا
بِمُخْرَجِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mereka berada
di taman-taman surga yang ada di dalamnya sungai-sungai. (Dikatakan
kepada mereka), ‘Masuklah kalian ke surga dengan penuh keselamatan dan
keamanan.’ Kami hilangkan pada dada-dada mereka rasa dendam, mereka
saling bersaudara duduk di atas dipan-dipan saling berhadapan. Mereka
tidak merasa lelah di dalam surga dan mereka tidak akan dikeluarkan
darinya.” (Al-Hijr: 45-48)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Maka jelaslah bahwa dengan kembali kepada ajaran Islam
kita akan mendapatkan kehidupan yang aman dan tentram, jauh dari
ketakutan. Akan tetapi perlu diketahui pula bahwa yang dimaksud dengan
kembali kepada Islam adalah kembali secara utuh dan menyeluruh. Bukan
sekedar kembali pada sebagian ajarannya saja namun meninggalkan ajaran
yang lainnya. Sebagaimana didengung-dengungkan oleh sebagian kaum
muslimin yang mengajak untuk kembali kepada Islam namun hanya mengajak
kepada diterapkannya hukum Islam pada masalah-masalah tertentu saja
atau yang hanya mengajak kepada shalat dan keutamaan-keutamaan amalan
saja. Namun mereka menyepelekan perkara yang lebih penting yaitu
mengajak kaum muslimin untuk berakidah dengan akidah yang benar. Akidah
yang tidak dicampuri syirik serta mengajak kaum muslimin untuk beribadah
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang tidak dicampuri dengan bid’ah. Semestinya kita harus
kembali kepada Islam secara keseluruhan, namun tentunya dengan
mendahulukan perkara yang lebih penting dari perkara yang penting
lainnya, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيًّ
وَعَنْ
جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلىَ
يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ. اللَّهُمَّ
اجْعَلْ
هَذَا
الْبَلَدَ
آمِنًا
مُطْمَئِنًّا
وَسَائِرَ
بِلاَدِ
الْمُسْلِمِيْنَ،
اللَّهُمَّ
احْفَظْ
وُلاَةَ أُمُوْرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَوَفِّقْهُمْ
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
مِنَ
اْلأَقْوَالِ
وَاْلأَفْعَالِ
يَا حَيُّ
يَا
قَيُّوْمُ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ ... اذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ،
وَاللهُ
يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُوْنَ.
|