|
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ
لَهُ أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ،
أَمَّا
بَعْدُ:
فَيَا
أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ
فَبِتَقْوَاهُ
يَجْعَلْ
لَكُمْ مِنْ
كُلِّ هَمٍّ
فَرَجًا
وَمِنْ
كُلِّ ضِيْقٍ
مَخْرَجًا {وَمَنْ
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَلْ
لَهُ مِنْ أَمْرِهِ
يُسْرًا}.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah ini, kami berwasiat kepada diri kami
pribadi dan seluruh hadirin untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Yaitu dengan menjaga diri-diri kita dari murka Allah Subhanahu
wa Ta’ala serta adzab-Nya. Dan hal ini tentu saja tidak akan terwujud
kecuali dengan kita menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu untuk melaksanakan perintah
bertakwa ini, kita harus memulainya dengan menuntut ilmu. Yaitu dengan
bersemangat dalam mempelajari ajaran Islam, agar kita mengetahui
perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemudian berusaha
sekuat kemampuan kita untuk mengamalkannya. Begitu pula agar kita
mengetahui larangan-larangan-Nya untuk kemudian kita menjauhi semuanya.
Sesungguhnya dengan bertakwa kepada-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
memberikan pertolongan pada musibah yang menimpa kita dan akan
memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang ada di hadapan
kita.
Hadirin rahimakumullah,
Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala paling besar
yang telah dikaruniakan kepada kita adalah nikmat Islam. Maka sudah
semestinya bagi kita untuk mensyukuri nikmat ini. Yaitu dengan
senantiasa berpegang teguh dengan ajaran yang ada di dalam agama ini.
Tidaklah bermanfaat pengakuan seseorang yang mengaku dirinya sebagai
muslim sementara aqidahnya adalah akidah jahiliyah. Begitu pula tidak
semestinya bagi seorang yang mengaku dirinya muslim, namun dia
mengada-adakan amalan ibadah baru atau menambah-nambahi tata cara ibadah
yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu wajib bagi kaum muslimin untuk benar-benar mengenal
agamanya. Yaitu dengan mempelajarinya dari ahlinya, dan tidak
menjadikan mayoritas orang, terlebih mereka adalah orang-orang awam,
sebagai tolok ukur untuk menilai benar dan tidaknya Islam seseorang.
Akan tetapi kita harus memahami agama Islam sebagaimana yang telah
disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para
sahabatnya. Bukan memahami Islam dengan pemahaman-pemahaman baru yang
menyimpang dari pemahaman para sahabat.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah,
Telah begitu banyak ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sampai kepada kita. Baik dengan
kita membacanya maupun mendengarkan dari bacaan saudara kita. Ini
berarti telah banyak perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
larangan-larangan-Nya yang telah sampai kepada kita. Namun sudahkah
kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang telah sampai kepada kita itu berpengaruh pada kepribadian
kita? Sudahkah hal itu mengubah dan memperbaiki diri-diri kita?
Hadirin rahimakumullah,
Sudah semestinya kita membaca dan mempelajari ayat-ayat
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Karena agama Islam adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melalui malaikat Jibril. Maka tidak mungkin kita akan mengetahui ajaran
Islam kecuali dengan mempelajari wahyu tersebut. Dan wahyu yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala turunkan tersebut adalah berupa Al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu tidak
boleh bagi kita untuk berpaling dari keduanya dan tidak mempelajarinya.
Karena kalau demikian, sungguh di akhirat kelak dia akan menjadi orang
yang menyesal. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentang
penyesalan orang-orang kafir kelak di akhirat di dalam firman-Nya:
وََقَالُوا
لَوْ كُنَّا
نَسْمَعُ
أَوْ نَعْقِلُ
مَا كُنَّا
فِي
أَصْحَابِ
السَّعِيْرِ
“Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, ‘Sekiranya
kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah
kami termasuk penghuni-penghuni neraka Sa’ir.” (Al-Mulk: 10)
Begitu pula sudah seharusnya, ayat-ayat Al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah sampai
kepada kita dan telah kita pelajari tersebut bisa mengubah keadaan
kita. Sehingga menjadikan kita menjadi orang yang senantiasa ikhlas dan
mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menjadikan kita sebagai orang yang
menjalankan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan rukun Islam
lainnya.Juga menjadikan kita sebagai orang yang berakhlak mulia seperti
berbakti kepada orangtua, menghormati tetangga, dan yang lainnya.
Begitu pula mengubah diri kita sehingga menjadi orang yang menjauhi
riba, judi, dan perbuatan maksiat lainnya. Karena kalau tidak demikian,
maka justru ayat dan hadits yang kita dengar dan pelajari akan menjadi
hujjah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengadzab kita –wal
‘iyadzubilllah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ
تَكُنْ
آيَاتِي
تُتْلَى
عَلَيْكُمْ
فَكُنْتُمْ
بِهَا
تُكَذِّبُوْنَ
"Bukankah telah dibacakan kepada kamu sekalian
ayat-ayat-Ku, akan tetapi kalian selalu mendustakannya?"
(Al-Mukminun: 105)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالْقُرْآنُ
حُجَّةٌ
لَكَ أَوْ
عَلَيْكَ
“Dan Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah
bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk (mengadzab) kamu.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Sebagaimana bumi ini akan tandus dan tidak bisa
ditanami jika tidak tersirami air, maka begitu pula hati kita akan
sakit atau bahkan mati -wal ’iyadzubillah (kita berlindung kepada
allah)- apabila tidak ditundukkan untuk menerima dan menjalankan
perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu semestinya kita harus berusaha untuk
memenuhi setiap panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sampai kepada kita melalui
ayat-ayat-Nya dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena yang demikian itu akan menjadikan hidupnya hati kita sehingga
akan senantiasa mendapat petunjuk dan kemudahan dalam mengamalkan
syariat-Nya. Dan yang demikian ini akan mengantarkan kita pada
kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana
firman-Nya:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
اسْتَجِيْبُوا
لِلهِ
وَلِلرَّسُوْلِ
إِذَا دَعَاكُمْ
لِمَا
يُحْيِيْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah
dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi
kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24)
Dan sebaliknya, janganlah kita menyerupai orang-orang
kafir yang tidak mau mendengarkan panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menyerupai orang-orang
munafik yang mendengarkan dengan telinganya namun hatinya tidak mau
menerima. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan mereka adalah
sejelek-jelek orang di muka bumi ini, dalam firman-Nya:
وَلاَ
تَكُوْنُوا
كَالَّذِيْنَ
قَالُوْا سَمِعْنَا
وَهُمْ لاَ
يَسْمَعُوْنَ. إِنَّ
شَرَّ
الدَّوَابِّ
عِنْدَ
اللهِ الصُّمُّ
الْبُكْمُ
الَّذِيْنَ
لاَ
يَعْقِلُوْنَ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
(munafik) vang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak
mendengarkan. Sesungguhnya sejelek-jelek makhluk di sisi Allah ialah
orang-orang yang memiliki pendengaran namun seperti orang yang tuli,
yang memiliki lisan namun seperti orang yang bisu, yang tidak mengerti
apa-apa.” (Al-Anfal: 21-22)
Saudara-saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah,
Di hadapan kita ada ajaran yang sempurna dan mulia.
Yaitu ajaran Islam yang berisi aturan-aturan yang akan mengantarkan
kita pada kehidupan yang penuh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Maka karena alasan apa seseorang berpaling darinya?
Sungguh barangsiapa ingin mencari aturan lainnya maka
dia tidak akan dapatkan kecuali aturan yang hina dan penuh kekurangan.
Oleh karena itu marilah kita menjadi orang-orang yang senantiasa
menerima dan mengamalkan setiap kebenaran yang sampai kepada kita.
Karena orang yang menolak kebenaran yang telah sampai kepadanya akan
terkena ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu akan dipalingkan
hatinya dari menerima kebenaran berikutnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
فَلَمَّا
زَاغُوْا
أَزَاغَ
اللهُ
قُلُوْبَهُمْ
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah
memalingkan hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا
فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ
هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ
لِلهِ
الَّذِي
وَعَدَ
الْمُطِيْعِيْنَ
لَهُ
وَلِرَسُوْلِهِ
أَجْرًا عَظِيْمًا
وَأَعَدَّ
لِلْمُعْرِضِيْنَ
عَنْهُ
وَعَنْ
رَسُوْلِهِ
عَذَابًا
أَلِيْمًا. أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَكَفَى
بِاللهِ عَلِيْمًا
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
غُفِرَ لَهُ
مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
وَمَا
تَأَخَّرَ
وَهَدَاهُ
صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada khutbah yang kedua ini kembali kami mengingatkan
untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan marilah kita
berusaha menghindari hal-hal yang akan menjauhkan dan mencegah kita
dari menerima ajaran-ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ada beberapa hal yang bisa mencegah seseorang dari
mendapatkan hidayah serta petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di
antaranya adalah kesombongan. Hal ini sebagaimana terjadi pada iblis
ketika diperintah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk sujud kepada
nabi Adam ‘alaihissalam, namun karena kesombongannya dia menolak seraya
mengatakan: “aku lebih baik dari Adam”. Oleh karena itu semestinya kita
berusaha menghilangkan sifat ini, yaitu dengan berupaya melembutkan
hati agar tunduk kepada kebenaran. Sungguh terkadang seseorang sangat
lembut sikapnya ketika bergaul dengan orang lain namun sangat keras
hatinya untuk menerima kebenaran.
Hadirin rahimakumullah,
Di antara perkara yang akan mencegah seseorang dari
menerima ajaran Islam adalah mengikuti hawa nafsu. Yaitu lebih
mendahulukan hawa nafsu dari mengikuti perintah-perintah Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyebutkan di dalam firman-Nya:
وَمَنْ
أَضَلُّ
مِمَّنِ
اتَّبَعَ
هَوَاهُ بِغَيْرِ
هُدًى مِّنَ
اللهِ إِنَّ
اللهَ لاَ
يَهْدِى
الْقَوْمَ
الظَّالِمِيْنَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang
mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah
sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zhalim.” (Al-Qashash: 50)
Hadirin rahimakumullah …..
Di antara perkara yang juga menghalangi seseorang dari
menerima kebenaran adalah taklid atau fanatik buta terhadap pendapat
seseorang ataupun madzhab tertentu meskipun dia tahu bahwa pendapat tersebut
bertentangan dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Begitu pula fanatik buta terhadap kebiasaan nenek moyangnya, sehingga
dia tidak mau menerima petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya
karena menyelisihi kebiasaan masyarakatnya. Yang demikian ini
sesungguhnya merupakan sifat dan perbuatan orang-orang musyirikin
dahulu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا
قِيْلَ
لَهُمُ
اتَّبِعُوْا
مَا أَنْزَلَ
اللهُ
قَالُوا
بَلْ
نَتَّبِعُ
مَا أَلْفَيْنَا
عَلَيْهِ
آبَاءَنَا
أَوَلَوْ
كَانَ
آبَاؤُهُمْ
لاَ
يَعْقِلُوْنَ
شَيْئًا
وَّلاَ
يَهْتَدُوْنَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:
"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan
mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
sesuatupun dan tidak mendapat petunjuk?" (Al-Baqarah: 170)
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنْ جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلىَ
يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِميْنَ
في كُلِّ
مَكانٍ. اللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ
وَأَرِنَا
اْلبَاطِلَ
بَاطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْلَنَا
مِنْ لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنْتَ
الْوَهَّابُ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ ... اذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ وَاللهُ
يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُوْنَ.
|