|
KHUTBAH
PERTAMA
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَه
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنِ،
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin yang mudah-mudahan senantiasa
dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Segala puji kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala, Rabb yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta. Kita senantiasa
memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala karena keagungan dan kesempurnaan-Nya,
serta karena keadilan hukum-hukum-Nya dan hikmah yang ada di balik
ketentuan-ketentuan-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita sentiasa menjaga diri kita dari adzab api
neraka. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih perintah yang
paling besar yaitu tauhid, dan larangan yang paling besar yaitu berbuat
syirik. Karena pentingnya hal ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan
tauhid sebagi perintah yang pertama di dalam Al-Qur`an. Yaitu di dalam
firman-Nya:
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اعْبُدُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
(Al-Baqarah: 21)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengiringkan
perintah tauhid ini dengan larangan yang pertama di dalam Al-Qur`an,
yaitu perbuatan syirik. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:
فَلاَ
تَجْعَلُوا
لِلَّهِ
أَنْدَادًا
وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ
“Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi
Allah padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22)
Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah,
Sungguh merupakan pemandangan yang sangat
memprihatinkan, ketika kita dapati ternyata banyak di antara kaum
muslimin yang masih melakukan perbuatan syirik ini. Di antara perbuatan
syirik yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah menjadikan
orang-orang yang sudah meninggal dunia sebagai perantara dalam meminta
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga iapun meminta dan berdoa
kepadanya. Sebagian mereka menganggap bahwa perbuatan yang mereka
lakukan bukanlah syirik. Karena mereka menyangka bahwa syirik adalah
beribadah kepada patung. Sementara mereka berdoa kepada orang yang
dianggap shalih yang telah meninggal dunia, dan itupun hanya sebatas
menjadikan mereka sebagai perantara. Tidak meyakini bahwa orang shalih
yang telah meninggal tersebut bisa menghilangkan kesulitan atau
mengabulkan apa yang mereka butuhkan. Bahkan mereka meyakini bahwa
Allah Subhanahu wa Ta'ala sajalah satu-satunya pencipta, penguasa dan
pengatur alam semesta.
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa orang-orang kafir di zaman Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah orang-orang yang mengingkari
bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu-satunya pencipta, penguasa,
dan pengatur alam semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan
tentang mereka dalam firman-Nya:
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ
مَنْ خَلَقَ
السَّمَوَاتِ
وَاْلأَرْضَ
لَيَقُولُنَّ
اللهُ
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:
‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan
menjawab: ‘Allah’.” (Luqman: 25)
Orang-orang musyrikin dahulu, juga bukan orang-orang
yang hanya beribadah pada patung saja. Mereka juga beribadah kepada
kuburan orang-orang yang dianggap shalih. Bahkan perbuatan syirik yang
pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah berupa peribadatan kepada
orang shalih yang telah meninggal dunia, sebagaimana yang tersebut
dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَقَالُوا
لاَ
تَذَرُنَّ
آلِهَتَكُمْ
وَلاَ
تَذَرُنَّ
وَدًّا
وَلاَ
سُوَاعًا
وَلاَ يَغُوثَ
وَيَعُوقَ
وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kalian
meninggalkan sesembahan-sesembahan yang kalian ibadahi dan jangan pula
sekali-kali kalian meninggalkan (sesembahan) Wadd, dan jangan pula
Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (Nuh: 23)
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa sahabat
Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma menerangkan berkaitan dengan
ayat tersebut: “Nama-nama yang disebutkan di dalam ayat tersebut adalah
nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh 'alaihissalam. Ketika mereka
meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh 'alaihissalam
untuk meletakkan pada majelis-majelis mereka patung/prasasti untuk
mengenang orang shalih tersebut. Dan (setan membisikkan) agar mereka
memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama orang shalih (yang
telah meninggal) tadi. Merekapun mengikuti bisikan setan tersebut. Pada
awalnya patung-patung tersebut tidak mereka ibadahi. Namun ketika
datang generasi setelah mereka dan juga setelah ilmu dilupakan,
akhirnya patung/prasasti tersebut diibadahi.”
Adapun keyakinan mereka bahwa orang shalih yang telah
meninggal dunia tersebut sekadar dijadikan perantara, tanpa meyakini
bahwa mereka bisa menghilangkan musibah dan yang lainnya, adalah
keyakinan yang tidak berbeda dengan keyakinan orang-orang musyrikin di
zaman dahulu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang mereka di
dalam firman-Nya:
وَيَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ
اللهِ مَا
لاَ يَضُرُّهُمْ
وَلاَ
يَنْفَعُهُمْ
وَيَقُولُونَ
هَؤُلاَءِ
شُفَعَاؤُنَا
عِنْدَ
اللهِ
“Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang
tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula)
kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat
kepada Kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Dari ayat-ayat tersebut kita mengetahui bahwa perbuatan
menjadikan orang yang telah meninggal dunia sebagai perantara dalam
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah agama orang-orang
musyrikin. Bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Bahkan itu adalah agama Abu Jahl dan Abu Lahab serta orang-orang
musyrikin dahulu. Bahkan bisa jadi, orang-orang musyrikin zaman
sekarang lebih jelek dibandingkan orang-orang musyrikin di zaman
dahulu. Karena mereka meminta pertolongan kepada orang yang meninggal
dunia tersebut bukan hanya ketika dalam keadaan tenang saja. Bahkan
ketika ditimpa musibahpun mereka masih melakukan hal itu. Sementara
orang-orang musyrikin di zaman dahulu, ketika ditimpa bencana mereka
meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Meskipun ketika diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari
bencana, mereka kembali berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
beribadah kepada selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan di
dalam firman-Nya:
وَإِذَا
مَسَّكُمُ
الضُّرُّ
فِي
الْبَحْرِ
ضَلَّ مَنْ
تَدْعُونَ
إِلاَّ
إِيَّاهُ
فَلَمَّا
نَجَّاكُمْ
إِلَى
الْبَرِّ
أَعْرَضْتُمْ
وَكَانَ
الْإِنْسَانُ
كَفُورًا
“Dan apabila menimpa kalian (orang-orang kafir) suatu
bahaya di lautan, niscaya hilanglah seluruh yang kalian ibadahi kecuali
Allah, maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian pun
berpaling. Dan manusia itu adalah banyak mengingkari nikmat Allah.”
(Al-Isra`: 67)
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Yang sangat mengherankan adalah bahwa perbuatan syirik
ini justru dilakukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai tokoh
Islam. Akibat dari perbuatan mereka ini, syirik atau hal-hal yang akan
menyeret kepada perbuatan syirikpun menjadi lebih tersebar di kalangan
masyarakat. Masjid-masjid yang dibangun kuburan di dalamnya tersebar di
mana-mana. Begitu pula kuburan-kuburan yang dikeramatkan dibangun
sedemikian rupa sehingga menyerupai rumah atau bahkan masjid. Hal ini
adalah perkara yang tidak diajarkan oleh Islam, bahkan akan menyeret
pada perbuatan syirik.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana
tersebut dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan
Muslim, telah mengingatkan dalam sabdanya:
لَعْنَةُ
اللهِ عَلَى
اليَهُوْدِ
وَالنَّصَارَى
اتَّخَذُوْا
قُبُوْرَ
أَنْبِيَائِهِمْ
مَسَاجِدَ؛
يُحَذِّرُ
مَا
صَنَعُوْا
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melaknat Yahudi dan
Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat
beribadah.” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan (umatnya)
dari apa yang mereka lakukan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabatnya juga memerintahkan agar setiap kuburan yang tingginya
melebihi satu jengkal untuk diratakan, sehingga tingginya tidak lebih
dari satu jengkal. Sebagaimana tersebut dalam hadits:
أَلاَ
أَبْعَثُكَ
عَلَى مَا
بَعَثَنِي
عَلَيْهِ رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ؟
أَنْ لاَ
تَدَعَ
تِمْثَالاً
إِلاَّ طَمَسْتَهُ
وَلاَ
قَبْرًا
مُشْرِفًا
إِلاَّ
سَوَّيْتَهُ
“Maukah engkau aku utus dengan sesuatu yang aku diutus
dengannya oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? Jangan engkau
biarkan patung (makhluk yang bernyawa) kecuali engkau harus
menghilangkannya, dan (jangan engkau biarkan) kuburan yang tinggi
kecuali engkau ratakan (menjadi satu jengkal).” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk hati-hati dan
waspada terhadap orang-orang yang menyampaikan agama ini tanpa ilmu.
Janganlah kita tertipu dengan mereka yang berdalih dalam rangka
mencintai orang shalih. Padahal yang mereka lakukan adalah perkara yang
dilarang dalam Islam, yaitu berlebih-lebihan terhadap orang shalih yang
akan menyeret pada perbuatan syirik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi
peringatan bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِه
أَجْمَعِيْنَ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
وَلاَ
عُدْوَانَ
إِلاَّ
عَلَى
الظَّالِمِيْنَ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah Subhanahu wa
Ta'ala,
Marilah kita berusaha untuk senantiasa mempelajari
agama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengamalkannya. Karena ilmu adalah
cahaya. Barangsiapa mencarinya maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
mudahkan jalannya menuju surga. Sedangkan kebodohan adalah kegelapan
yang akan menyeret seseorang ke dalam kesesatan di dunia dan
kesengsaraan di akhirat.
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah dikatakan beriman
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan mentauhidkan-Nya.
Sementara itu tidaklah seseorang dikatakan bertauhid kecuali dengan
berlepas diri dari syirik. Sehingga apabila seseorang belum
meninggalkan syirik, maka ibadah dan kebaikan sebanyak apapun yang
dilakukannya tidak akan ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:
وَقَدِمْنَا
إِلَى مَا
عَمِلُوا مِنْ
عَمَلٍ
فَجَعَلْنَاهُ
هَبَاءً
مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan
(yaitu amalan orang-orang yang tidak beriman), lalu Kami jadikan amal
itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah Subhanahu wa
Ta'ala,
Ketahuilah bahwa tauhid adalah makna yang terkandung
dalam dalam kalimat Laa ilaaha illallah yang senantiasa kita ucapkan.
Sehingga orang yang telah menyatakan dirinya bersaksi dengan kalimat
ini, harus mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yaitu dengan
mengarahkan seluruh bentuk ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan harus meninggalkan segala peribadatan kepada selain-Nya.
Karena kalau dia berbuat syirik, maka seluruh ibadah yang dilakukan
baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, membaca Al-Qur`an dan
yang lainnya, akan gugur dan tidak ada manfaatnya. Hal ini sebagaimana
terekam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَلَوْ
أَشْرَكُوا
لَحَبِطَ
عَنْهُمْ
مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am:
88)
Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,
Tauhid inilah yang tidak diterima oleh orang-orang
kafir Quraisy ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu
diutus kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan jawaban
mereka ketika diperintah untuk mengucapkannya di dalam firman-Nya:
أَجَعَلَ
اْلآلِهَةَ
إِلَهًا
وَاحِدًا إِنَّ
هَذَا
لَشَيْءٌ
عُجَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu
saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”
(Shad: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir Quraisy
tidak mau mengucapkannya karena mereka mengetahui makna kalimat ini.
Yaitu, mereka harus meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Hal inilah yang tidak mau mereka terima.
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Maka sungguh sangat memprihatinkan, ketika ada seorang muslim
yang tidak mengetahui makna Laa ilaaha illallah. Apa kelebihannya dari
kafir Quraisy, apabila dia mengucapkan kalimat yang agung ini namun
tidak mengetahui maknanya? Maka dari itu, wajib bagi kita semuanya
untuk memahami dan mengamalkan kandungan kalimat Laa ilaaha illallah
ini. Janganlah kita menyangka bahwa kalimat ini cukup dan sudah
bermanfaat dengan hanya diucapkan saja dan tidak perlu dipahami
maknanya. Bukankah dahulu orang-orang munafiq juga mengucapkannya di
hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? Namun di mana akhir
keberadaan mereka? Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa mereka
nantinya akan dimasukkan ke dasar api neraka. Nas`alullah as-salamah
(Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari terkena
api neraka).
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Akhirnya, marilah kita menjauhi dan berlepas diri dari
perbuatan syirik, sebagai bentuk pengamalan kita dari kalimat yang
agung ini. Begitu pula, marilah kita berusaha menjalankan
perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang lainnya dan menjauhi
seluruh larangan-Nya sehingga kita akan semakin sempurna dalam
menjalankan kalimat tauhid ini.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan
pertolongan kepada kita semua agar dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya
yang bertakwa untuk kemudian mendapatkan kenikmatan surga yang
dijanjikan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَالحَمْدُ
للهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ.
|