|
الْـحَمْدُ
لِلهِ
الَّذِي
فَرَضَ
عَلَى الْعِبَادِ
أدَاءََ
الْأمَانَةِِ،
وَحَرَّمَ
عَلَيْهِمْ
الـْمَكْرَ
وَالْـخِيَانَةَ
وَأشْهَدُ
أنْ لاَ
إلَهَ إلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
شَهَادَةَ
مَنْ يَرْجُوْ
بِهاَ
النَّجَاةَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ،
وأشْهَدُ
أنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
ورَسُوْلُهُ
الَّذِي خَتَمَ
اللهُ بِهِ
الرِّسَالَةَ
صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
الـْمَوْصُوْفُوْنَ
بِالْعَدَالَةِ
وسَلَّمَ
تَسْلِيْمَا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah ini kami berwasiat pada diri kami
pribadi dan seluruh hadirin untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Yaitu agar kita menjaga dan membentengi diri dari kemarahan
serta siksa Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan hal ini adalah dengan
menjalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita serta dengan
menjauhi segala larangan-Nya.
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang mudah-mudahan
senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Di antara bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan menjalankan dan menjaga amanah yang
dipikulnya. Baik amanah yang berkaitan dengan kewajiban kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala seperti shalat, berwudhu, membayar zakat dan yang
lainnya, maupun yang berkaitan dengan kewajiban kepada sesama manusia.
Sehingga seseorang perlu memahami bahwa amanah itu sangat luas
cakupannya. Dan amanah yang diemban oleh setiap orang tidak selalu sama
dengan yang lainnya. Namun semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya
di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala nanti atas pelaksanaan amanah yang
dipikulnya.
Hadirin rahimakumullah,
Perlu diketahui, bahwa menjalankan amanah dan
menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik
tangan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan tentang beratnya
amanah di dalam firman-Nya:
إِنَّا
عَرَضْنَا
اْلأَمَانَةَ
عَلَى السَّمَوَاتِ
وَاْلأَرْضِ
وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ
أَنْ
يَحْمِلْنَهَا
وَأَشْفَقْنَ
مِنْهَا
وَحَمَلَهَا
اْلإِنْسَانُ
إِنَّهُ
كَانَ
ظَلُومًا
جَهُولاً
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu
menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta
gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh.”
(Al-Ahzab: 72)
Di dalam ayat tersebut kita mengetahui, bahwa
makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat besar tidak
bersedia menerima amanah yang ditawarkan kepada mereka. Yaitu amanah
yang berupa menjalankan syariat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan
melalui utusan-Nya. Mereka enggan untuk menerima amanah tersebut bukan
karena ingin menyelisihi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bukan pula karena mereka
tidak berharap balasan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat besar
dengan menjalankan amanah tersebut. Akan tetapi mereka menyadari betapa
beratnya memikul amanah. Sehingga mereka khawatir akan menyelisihi
amanah tersebut yang berakibat akan terkena siksa Allah Subhanahu wa
Ta'ala yang sangat pedih. Hanya saja, manusia dengan berbagai
kelemahannya, memilih untuk menerima amanah tersebut. Sehingga kemudian
terbagilah manusia menjadi tiga kelompok.
Kelompok yang pertama adalah orang–orang yang menampakkan
dirinya seolah-olah menjalankan amanah. Yaitu dengan menampakkan
keimanannya namun sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka itulah yang
disebut orang–orang munafik.
Kelompok kedua adalah orang-orang yang dengan
terang-terangan menyelisihi amanah tersebut. Yaitu mereka tidak mau
beriman baik secara lahir maupun batin. Mereka adalah orang-orang kafir
dan musyrikin.
Sedangkan kelompok ketiga adalah orang-orang yang
menjaga amanah yaitu orang-orang yang beriman baik secara lahir maupun
batin.
Dua kelompok pertama yang kita sebutkan tadi akan
diadzab dengan adzab yang sangat pedih. Sedangkan kelompok yang ketiga
yaitu mereka yang beriman secara lahir dan batin, merekalah orang-orang
yang akan mendapatkan ampunan serta rahmat dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Hal ini sebagaimana tersebut dalam ayat berikutnya dalam
firman-Nya:
لِيُعَذِّبَ
اللهُ
الْمُنَافِقِينَ
وَالْمُنَافِقَاتِ
وَالْمُشْرِكِينَ
وَالْمُشْرِكَاتِ
وَيَتُوبَ
اللهُ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَكَانَ
اللهُ غَفُورًا
رَحِيمًا
“Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki
dan perempuan serta orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan
sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab:
73)
Hadirin rahimakumullah,
Amanah yang berkaitan dengan menjalankan syariat Allah
Subhanahu wa Ta'ala atau ibadah ini, harus dilakukan dengan memenuhi
dua syarat. Kedua syarat tersebut sesungguhnya merupakan realisasi dari
dua kalimat syahadat yang selalu kita ucapkan. Kedua syarat tersebut,
yang pertama adalah ikhlas dan yang kedua adalah harus dilakukan sesuai
dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk hanya
mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dalam menjalankan
peribadatan kepada-Nya. Hal ini ditandai dengan istiqamahnya kita dalam
beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala baik ketika sendirian maupun
ketika bersama orang lain. Sehingga kita tidak menjadi orang yang taat ketika
dilihat orang lain namun bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
ketika sendirian. Janganlah kita lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengetahui segala perbuatan dan mengetahui seluruh yang ada di dalam
hati kita. Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
أَوَلاَ
يَعْلَمُونَ
أَنَّ اللهَ
يَعْلَمُ
مَا
يُسِرُّونَ
وَمَا
يُعْلِنُونَ
“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui
segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?”
(Al-Baqarah: 77)
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Sedangkan untuk menjalankan syarat yang kedua, wajib
bagi kita untuk berilmu dulu sebelum beramal. Sehingga kita tidak boleh
seenaknya sendiri atau sekedar ikut-ikutan dalam tata cara peribadatan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita harus melakukannya dengan aturan
dan tata cara yang telah ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Karena kalau tidak demikian, maka akan berakibat tidak
diterimanya amalan kita. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam memerintahkan seseorang untuk mengulangi wudhunya
karena ada bagian anggota wudhu yang tidak terkena air. Begitu pula
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan seseorang untuk
mengulangi shalatnya karena tidak thuma’ninah ketika menjalankannya.
Semua ini menunjukkan bahwa ibadah itu telah ditentukan
aturannya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga kita harus
senantiasa mengingat bahwa shalat, puasa, membayar zakat, menunaikan
haji dan yang lain-lainnya dari bentuk-bentuk ibadah adalah amanah yang
kita harus menjalankannya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun amanah yang berhubungan dengan muamalah, yaitu
yang berkaitan dengan menjalankan kewajiban kepada sesama manusia,
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kita untuk menjalankannya
dalam firman-Nya:
إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُكُمْ
أَنْ
تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ
إِلَى
أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk
menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa`: 58)
Sedangkan cara untuk menjalankan amanah ini, adalah
dengan kita senantiasa menginginkan agar orang lain mendapatkan
kebaikan sebagaimana kita menginginkan kebaikan itu pada diri kita. Hal
ini sebagaimana sabda nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
لاَ
يُؤْمِنُ
أحَدُكُمْ
حَتَّى
يـُحِبَّ لِأَخِيْهِ
مَا
يُـحِبُّ
لِنَفْسِهِ
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian
sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya
sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sehingga seseorang yang bermuamalah dengan orang lain,
semestinya melihat dan bercermin pada dirinya. Baik dalam hal jual
beli, sewa-menyewa, bekerja pada pihak lain atau instansi tertentu, dan
yang lainnya. Yaitu dia tidak ingin memperlakukan saudaranya dengan
perlakuan yang tidak baik sebagaimana dia tidak ingin perlakuan
tersebut menimpa dirinya.
Oleh karena itu seseorang yang menjual barang,
misalnya, maka dia harus menjualnya dengan menjaga amanah. Tidak boleh
bagi seorang penjual untuk mengkhianati pembelinya dengan berbuat
curang dalam menimbang atau menakar. Dan tidak boleh baginya untuk
berbuat dzalim dengan meninggikan harga karena si pembeli tidak
mengetahui harga atau dengan menyembunyikan kerusakan atau cacat yang
ada pada barang tersebut. Begitu pula sebaliknya, tidak boleh bagi
pembeli untuk mengkhianati penjual dengan berdusta untuk mengurangi
harga yang sesungguhnya. Atau dengan menunda-nunda pembayaran barang
yang dibelinya padahal dia memiliki kemampuan untuk membayarnya.
Hadirin rahimakumullah,
Tidak boleh pula bagi seorang yang menyewakan tempat,
kendaraan, dan yang lainnya untuk berkhianat kepada orang yang menyewa
miliknya itu. Misalnya menipu orang yang menyewa dengan meninggikan
biaya sewanya, atau menyewakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang
dia tawarkan. Dan sebaliknya, tidak boleh bagi orang yang menyewa untuk
menipu sehingga biaya sewanya lebih murah dari biaya yang semestinya,
atau dia menggunakan barang sewaannya dengan tidak hati-hati sehingga
berakibat rusaknya barang tersebut. Begitu pula orang yang bekerja pada
sebuah perusahaan. Tidak boleh baginya untuk datang dan pulang
seenaknya, tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, atau
melakukan kesibukan lain di tempat kerjanya sehingga melalaikan dia
dari tugas utamanya.
Saudara-saudaraku yang semoga dirahmati Allah Subhanahu
wa Ta'ala,
Termasuk dari menjaga amanah adalah yang berkaitan
dengan pendidikan. Seorang pengajar harus berusaha menjaga amanah yang
dipikulnya. Dia harus berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi anak
didiknya. Karena terkadang anak didik lebih banyak melihat kepada sikap
dan tingkah laku pengajar daripada apa yang disampaikan kepada mereka.
Begitu pula dia berusaha menyampaikan ilmu yang bermanfaat dengan cara
yang mudah dipahami oleh anak didiknya serta tidak memaksakan diri
untuk menyampaikan pelajaran yang belum dikuasainya yang berakibat
dirinya akan terjatuh pada perbuatan “berbicara tanpa ilmu”. Terutama
yang terkait dengan masalah agama. Semuanya harus dilakukan dengan
menjaga amanah.
Hadirin rahimakumullah,
Termasuk menjaga amanah adalah yang berkaitan dengan
tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan
pemeliharaannya. Semakin banyak atau semakin luas lingkup kekuasaannya
maka semakin besar tanggung jawabnya. Maka seorang penguasa bertanggung
jawab atas warga negaranya dan seorang pemimpin bertanggung jawab
terhadap bawahannya. Begitu pula seorang suami bertanggung jawab atas
keluarganya, dan seterusnya.
Sudah semestinya bagi pemimpin rumah tangga untuk
memelihara keluarganya dari hal-hal yang membahayakan mereka baik yang
berkaitan dengan urusan dunia apalagi akhiratnya. Terlebih pada saat
kerusakan dan kemaksiatan tersebar di mana-mana. Sebagaimana setiap
orang tentu akan lebih berusaha menjaga hartanya ketika dia mendengar
bahwa pencurian dan yang semisalnya tengah merajalela. Bahkan menjaga
keluarga dan anak-anaknya dari kerusakan yang ada di sekitarnya
semestinya lebih diutamakan dari menjaga harta. Karena melalaikan
kewajiban ini akan menyebabkan munculnya generasi mendatang yang akan
berbuat kerusakan di muka bumi ini. Juga karena setiap orangtua
tentunya tidak menginginkan dirinya masuk ke dalam surga sementara
anak-anaknya diadzab di api neraka. Oleh karena itu, semestinya kita
berusaha menjaga amanah ini, sehingga mudah-mudahan Allah Subhanahu wa
Ta'ala menyelamatkan kita semua dan keluarga kita dari api neraka serta
mengumpulkan kita dan keluarga kita di dalam surga-Nya. Sebagaimana
tersebut dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ
آمَنُوا
وَاتَّبَعَتْهُمْ
ذُرِّيَّتُهُمْ
بِإِيْمَانٍ
أَلْحَقْنَا
بِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا
أَلَتْنَاهُمْ
مِنْ
عَمَلِهِمْ
مِنْ شَيْءٍ
كُلُّ
امْرِئٍ
بِمَا
كَسَبَ
رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman dan yang keturunan mereka
mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan keturunan mereka dengan
mereka di dalam surga dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala
amal mereka.” (Ath-Thur: 21)
وَفَّقَنـِيَ
اللهُ
وَإِيَّاكُمْ
لِأَدَاءِ
الْأمَانَةِ
وَحَمَانَا
جَمِيْعًا
مِنَ
الْإِضَاعَةِ
وَالْـخِيَانَةِ
وَغَفَرَ
لَنَا وَلِوَلِدِيْنَا
وَلِـجَمِيْعِ
الْـمُسْلِمِيْنَ،
إِنَّهُ
هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْـحَمْدُ
لِلهِ
الَّذِي
وَعَدَ مَنْ
حَفِظَ
الْأمَانَةَ
وَرَعَاهَا
أَجْرًا
جَِزيْلاً،
وَتَوَعَّدَ
مَنْ
أَضَاعَهَا
وَأَعَدَّ
لَهُ
عَذَابًا
وَبِيْلا،
أَحْمَدُهُ
عَلَى
جَزِيْلِ
نِعَمِهِ،
أَشْكُرُهُ
عَلَى
تَتَابُعِ
إِحْسَانِهِ،
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إلَهَ
إلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
حَثَّ عَلَى
أَدَاءِ الْأَمَانةِ
وَحَذَّرَ
مِنْ
الْـخِيَانَةِ،
صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وعَلَى
آلِهِ
وأَصْحَابِهِ
وسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا،
أَمّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Karena dengan bertakwa kepada-Nya, maka Allah Subhanahu wa
Ta'ala akan memudahkan segala urusan kita. Sebagaimana tersebut dalam
firman-Nya:
وَمَنْ
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَلْ
لَهُ مِنْ أَمْرِهِ
يُسْرًا
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya
Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala di samping
menyebutkan di dalam firman-Nya perintah untuk menjalankan amanah, juga
menyebutkan kepada kita larangan untuk berbuat khianat. Sebagaimana
tersebut dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تَخُونُوا اللهَ
وَالرَّسُولَ
وَتَخُونُوا
أَمَانَاتِكُمْ
وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kalian
mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang
kalian dalam keadaan mengetahui.” (Al-Anfal: 27)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan kepada
kita dalam ayat-Nya bahwa mengkhianati amanah adalah sifat orang-orang
Yahudi, yang kita dilarang untuk meniru akhlak mereka. Hal ini
sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
وَمِنْهُمْ
مَنْ إِنْ
تَأْمَنْهُ
بِدِينَارٍ
لاَ
يُؤَدِّهِ
إِلَيْكَ
إِلاَّ مَا
دُمْتَ
عَلَيْهِ
قَائِمًا
”Dan di antara mereka (orang-orang Yahudi) ada orang
yang jika kamu memercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya
kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.” (Ali ‘Imran: 75)
Begitu pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
memberitakan kepada kita bahwa mengkhianati amanah adalah sifat
orang-orang munafik. Sebagaimana dalam sabdanya
آيَةُ
الْـمُنَافِقِ
ثَلاَثٌ: إِذَا
حَدَّثَ
كَذَبَ،
وَإِذَا
وَعَدَ أَخْلَفَ،
وَإِذَا
اؤْتُمِنَ
خَانَ.
“Tanda-tanda orang munafiq ada tiga: Jika berbicara
berdusta, bila berjanji tidak menepati janjinya, dan apabila diberi
amanah mengkhianatinya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullahu disebutkan:
وَإِنْ
صَامَ
وَصَلَّى
وَزَعَمَ
أَنَّهُ مُسْلِمٌ
"Meskipun dia shalat dan puasa serta mengaku
dirinya muslim."
Hadirin rahimakumullah,
Maka sudah semestinya bagi kita untuk berusaha menjaga
amanah yang telah kita terima. Baik yang berkaitan dengan kewajiban
kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maupun kepada sesama manusia.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita
sebagai orang-orang yang bisa mengamalkan ilmu yang telah sampai kepada
kita dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah kita
dengar. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita
sebagai orang-orang yang senantiasa menjaga amanah yang ada di
pundak-pundak kita.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الـْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنْ
جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَـهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلىَ
يَوْمَ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالـْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّينِ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
المُوَحِّدِينَ. اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْـمُسْلِمِينَ
فِي كُلِّ
مَكانٍ. اللَّهُمَّ
إِنَّا
نَعُوْذُبِكَ
مِنْ قَلْبٍ
لاَ
يَخْشَعُ
وَدُعَاءٍ
لاَ
يُسْمَعُ وَمِنْ
نَفْسٍ لاَ
تَشْبَعُ
وَمِنْ
عِلْمٍ لاَ
يَنْفَعُ. اللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْـحَقَّ
حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ
وَأَرِنَا
اْلبَاطِلَ
بَاطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْلَنَا
مِنْ لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنْتَ
الْوَهَّابُ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
العِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُونَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْـمُرْسَلينَ
وَالْـحَمْدُ
لِلهِ ربِّ
الْعَالَمِينَ.
|