|
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
لَهُ مَا
فِي السَّمَوَاتِ
وَمَا فِي
اْلأَرْضِ
وَلَهُ الْحَمْدُ
فِي
اْلآخِرَةِ
وَهُوَ
الْحَكِيمُ
الْخَبِيرُ. يَعْلَمُ
مَا يَلِجُ
فِي
اْلأَرْضِ
وَمَا يَخْرُجُ
مِنْهَا
وَمَا
يَنْزِلُ
مِنَ السَّمَاءِ
وَمَا
يَعْرُجُ
فِيهَا
وَهُوَ
الرَّحِيمُ
الْغَفُورُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ
يُحْيِ
وَيُمِيْتُ
وَهُوَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيْرٌ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الْبَشِيْرُ
النَّذِيْرُ
وَالسِّرَاجُ
المُنِيْرُ،
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النََّاسُ،
لَقَدْ
قَالَ الله
ُعَزَّ
وَجَلَّ
فِيْ
كِتَابِِِهِ
الْكَرِيْمِ:
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اذْكُرُوا
نِعْمَةَ
اللهِ
عَلَيْكُمْ
هَلْ مِنْ
خَالِقٍ
غَيْرُ
اللهِ
يَرْزُقُكُمْ
مِنَ السَّمَاءِ
وَاْلأَرْضِ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ هُوَ
فَأَنَّى
تُؤْفَكُونَ
“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada
kalian. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada
kalian dari langit dan bumi? Tidak ada yang berhak diibadahi dengan
benar selain dia, maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)
Di dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta'ala
memerintahkan kepada seluruh manusia agar mereka mengingat nikmat-nikmat-Nya.
Karena yang demikian ini akan mendorong seseorang untuk bersyukur
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kaum muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati
Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Ketahuilah, bahwa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala akan menyebabkan terjaganya nikmat yang dikaruniakan kepada
seseorang dan menyebabkan datangnya nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa
Ta'ala yang lainnya. Namun sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnu
Al-Qayyim rahimahullahu, syukur itu tidak akan terwujud kecuali jika
terbangun di atas lima perkara. Yaitu dengan merendahkan dirinya kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencintai-Nya, mengakui bahwa nikmat
tersebut merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, memuji Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan lisannya, dan tidak menggunakan nikmat
tersebut untuk perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Oleh karena itu, sudah semestinya bagi kita untuk melihat kembali usaha
kita dalam mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena apabila salah satu dari lima perkara yang harus dipenuhi
tersebut tidak dilakukan, maka belum dikatakan orang tersebut telah
bersyukur.
Dengan demikian, bersyukur itu tidaklah cukup dengan
mengucapkan alhamdulillah atau dengan sekadar menyadari bahwa nikmat tersebut
datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan tidak cukup pula
meskipun kemudian dia tunjukkan dengan menghinakan diri serta tidak
menyombongkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akan tetapi
harus dilengkapi dengan mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
membuktikan cintanya tersebut dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut
di jalan yang diridhai-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitakan dalam
ayat-Nya, bahwa keridhaan-Nya hanya akan diberikan kepada
hamba-hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَإِنْ
تَشْكُرُوْا
يَرْضَهُ
لَكُمْ
“Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai
kalian (dari perbuatan syukur tersebut).” (Az-Zumar: 7)
Oleh karena itu, sudah semestinya bagi orang-orang yang
mengharapkan surga Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memperbaiki dirinya
dalam bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena kalau tidak
demikian, maka bisa jadi seseorang menyangka dirinya telah bersyukur
namun ternyata tidak demikian kenyataannya. Padahal Allah Subhanahu wa
Ta'ala sebagaimana dalam firman-Nya, telah membagi manusia menjadi dua
kelompok. Yaitu kelompok orang-orang yang bersyukur dan kelompok
orang-orang yang kufur, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
إِنَّا
هَدَيْنَاهُ
السَّبِيْلَ
إِمَّا
شَاكِرًا
وَإِمَّا
كَفُوْرًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus;
maka (manusia) ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan:
3)
Maka marilah kita berusaha melihat pada diri kita
masing-masing. Pada kelompok yang mana kita berada? Sudahkah kita
mensyukuri nikmat waktu, nikmat sehat, penglihatan, pendengaran, lisan
dan lain-lainnya dengan menggunakannya untuk beribadah di jalan Allah
Subhanahu wa Ta'ala? Sudahkah kita mensyukuri nikmat yang dikaruniakan-Nya
kepada kita, kemudahan dalam sarana transportasi dan komunikasi serta
yang semisalnya untuk digunakan di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala?
Ataukah justru sarana tersebut digunakan untuk bermaksiat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ingatlah, bahwa nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala
yang dikaruniakan kepada kita sangat banyak dan kita akan dimintai
pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, marilah kita
mensyukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jangan
mengkufurinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
mencontohkan kepada umatnya dan menganjurkan umatnya untuk mensyukuri
nikmat. Tersebut di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam
Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Shahih keduanya, melalui
jalan sahabat Anas radhiyallahu 'anhu: Bahwasanya Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam melewati sebiji kurma ketika sedang berjalan, maka
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَوْلاَ
أَنْ
تَكُوْنَ
مِنَ
الصَّدَقَةِ
لَأَكَلْتُهَا
“Kalaulah bukan (karena aku takut) kurma tersebut dari
shadaqah, sungguh aku akan memakannya.”
Dari satu hadits ini saja, kita bisa mengetahui betapa
besarnya perhatian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap nikmat
Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga tidak membiarkan meskipun hanya
sebiji kurma untuk dibuang dan rusak tanpa dimanfaatkan. Kalau kita
bandingkan dengan keadaan sebagian kita, akan kita dapatkan perbedaan
yang sangat jauh. Makanan yang dibuang sia-sia merupakan pemandangan
yang mungkin setiap hari dijumpai di sebagian rumah kita. Baik karena
berlebihan dalam memasaknya atau membelinya yang kemudian menjadi rusak
dan busuk sehingga kemudian dibuang sia-sia. Padahal terkadang makanan
tersebut bukanlah makanan yang murah harganya atau mudah
mendapatkannya. Sementara di sekitar rumahnya banyak orang-orang fakir
miskin yang tidak memiliki makanan. Sudah semestinya bagi kita semua
untuk berusaha memperbaiki dirinya dalam bersyukur kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Saudara-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Ketahuilah, bahwa seseorang apabila tidak mensyukuri
nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia akan berada pada satu dari
dua keadaan. Kemungkinan yang pertama, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
mengambil nikmat tersebut darinya dan kemungkinan yang kedua, nikmat
tersebut akan terus bersamanya namun akan menambah beratnya siksa di
akhirat kelak. Maka tentunya kita semua tidak ingin terjatuh pada salah
satu dari kedua keadaan tersebut.
وَلاَ
يَحْسَبَنَّ
الَّذِينَ
كَفَرُوا
أَنَّمَا
نُمْلِي
لَهُمْ
خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ
إِنَّمَا
نُمْلِي
لَهُمْ لِيَزْدَادُوا
إِثْمًا
وَلَهُمْ
عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka,
bahwa dibiarkannya mereka (terus mendapat nikmat) adalah lebih baik
bagi mereka. Sesungguhnya Kami membiarkan mereka hanyalah supaya
bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka nantinya adzab yang
menghinakan.” (Ali ‘Imran: 178)
اللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلى
ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ. وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ،
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ،
مَالِكُ
يَوْمِ الدِّيْنِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
بَعَثَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَقِّ
رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن
وَحُجَّةً
عَلَى
الْمُعَانِدِيْنَ
وَمِنَّةً
عَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحَابَتِهِ
أَجمَعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِِإِحْسَانٍ
إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنِ، أَمَّا
بَعْدُ:
أيُّهَا
النََّاسُ،
يَقُوْلَُ
اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ
فِيْ
كِتَابِِِهِ
الكَرِيْم:
فَاذْكُرُونِي
أَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوا
لِي وَلاَ
تَكْفُرُونِ
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, dan bersyukurlah
kalian kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.”
(Al-Baqarah: 152)
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Ketahuilah, bahwa nikmat yang paling besar yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala karuniakan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat
ber-Islam dan memahaminya dengan pemahaman yang benar. Yaitu
memahaminya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Karena seseorang
yang telah mendapatkan nikmat tersebut berarti dia telah mengikuti
satu-satunya jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang
akan mengantarkan dirinya pada kebahagiaan yang selamanya. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمُ
اْلإِسْلَامَ
دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu
jadi agama bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)
Saudara-saudaraku seiman yang semoga senantiasa
dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Besarnya nikmat ber-Islam dan memahaminya dengan
pemahaman yang benar tersebut akan dirasakan oleh seseorang, ketika dia
melihat bagaimana keadaan orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat
ini. Betapa banyak orang-orang yang tersesat sehingga mengikuti akidah
orang-orang kafir dan musyrikin. Betapa banyak orang-orang yang
menyimpang karena mengikuti aturan-aturan yang diada-adakan oleh
pemimpinnya atau pendiri kelompoknya sendiri. Begitu pula, betapa
banyak orang-orang yang tersesat karena hanya mengikuti kebiasaan atau
tradisi masyarakatnya yang mengada-adakan amal ibadah yang tidak pernah
dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabatnya. Maka, orang-orang yang benar-benar mengikuti ajaran Islam
dan memahaminya dengan pemahaman yang benar, sungguh dirinya telah
diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari berbagai bentuk
kesesatan.
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
Besarnya nikmat Islam dan hidayah memahami agama Islam
dengan benar juga akan dirasakan manakala seseorang mengetahui janji
Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi orang-orang yang mendapatkan nikmat ini
dan ancaman-Nya bagi orang-orang yang tidak mendapatkannya. Sebagaimana
dalam firman-Nya:
إِنَّ
الْمُتَّقِينَ
فِي مَقَامٍ
أَمِينٍ. فِي
جَنَّاتٍ
وَعُيُونٍ. يَلْبَسُونَ
مِنْ
سُنْدُسٍ
وَإِسْتَبْرَقٍ
مُتَقَابِلِينَ. كَذَلِكَ
وَزَوَّجْنَاهُمْ
بِحُورٍ
عِينٍ. يَدْعُونَ
فِيهَا
بِكُلِّ
فَاكِهَةٍ
آمِنِينَ. لاَ
يَذُوقُونَ
فِيهَا
الْمَوْتَ
إِلاَّ الْمَوْتَةَ
اْلأُولَى
وَوَقَاهُمْ
عَذَابَ
الْجَحِيمِ. فَضْلاً
مِنْ
رَبِّكَ
ذَلِكَ هُوَ
الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam
tempat yang aman. (Yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air.
Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk)
berhadap-hadapan. Demikian pula Kami berikan kepada mereka bidadari. Di
dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari
segala kekhawatiran). Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya
kecuali mati di dunia dan Allah memelihara mereka dari adzab neraka.
Sebagai karunia dari Rabbmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan
yang besar.” (Ad-Dukhan: 51-57)
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan balasan bagi
orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat Islam di dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا
يَتَمَتَّعُونَ
وَيَأْكُلُونَ
كَمَا
تَأْكُلُ
اْلأَنْعَامُ
وَالنَّارُ مَثْوًى
لَهُمْ
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan
mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan neraka Jahannam
adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)
Maka marilah kita berusaha untuk mensyukuri nikmat yang
paling besar ini. Meskipun nikmat yang lainnya pun tidak boleh
disepelekan. Namun nikmat mengikuti agama Islam merupakan nikmat yang
paling besar dan tidak bisa dikalahkan oleh nikmat apapun. Sekalipun
dibandingkan dengan orang mendapatkan nikmat dunia dan seisinya, namun
tidak mendapatkan nikmat Islam. Marilah kita bersungguh-sungguh dalam
mempelajari dan mengamalkannya. Tidak sekadar mengikuti kebanyakan atau
keumuman orang. Tidak pula dengan mengandalkan semangat tanpa dilandasi
ilmu. Namun harus didasarkan kepada Al-Qur`an dan hadits Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam serta memahami keduanya dengan bimbingan
para ulama yang mengikuti jalan generasi terbaik umat ini. Yaitu
jalannya para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena mereka
adalah orang-orang yang telah mempelajari agama ini dari lisan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengetahui bagaimana
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempraktikkan agama ini.
Dengan demikian kita akan diselamatkan dari berbagai
ajaran yang menyimpang dan selanjutnya mendapatkan janji Allah
Subhanahu wa Ta'ala, yaitu kenikmatan surga pada kehidupan yang
selamanya nanti. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِه
أَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
ِِ
|