|
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
أَنزَلَ
عَلَى عَبْدِهِ
الْكِتَابَ
وَلَمْ
يَجْعَل
لَّهُ
عِوَجَا . قَيِّماً
لِّيُنذِرَ
بَأْساً
شَدِيداً مِن
لَّدُنْهُ
وَيُبَشِّرَ
الْمُؤْمِنِينَ
الَّذِينَ
يَعْمَلُونَ
الصَّالِحَاتِ
أَنَّ
لَهُمْ
أَجْراً
حَسَناً . مَاكِثِينَ
فِيهِ
أَبَداً . وَيُنذِرَ
الَّذِينَ
قَالُوا
اتَّخَذَ اللَّهُ
وَلَداً. مَّا
لَهُم بِهِ
مِنْ عِلْمٍ
وَلَا
لِآبَائِهِمْ
كَبُرَتْ
كَلِمَةً
تَخْرُجُ
مِنْ أَفْوَاهِهِمْ
إِن
يَقُولُونَ
إِلَّا
كَذِباً (الكهف:١-٥
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَه
مَن
يَهْدِ
اللَّهُ
فَهُوَ
الْمُهْتَدِ
وَمَن
يُضْلِلْ
فَلَن
تَجِدَ لَهُ
وَلِيّاً مُّرْشِداً
(الكهف:١٧
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
إِلَى
النَّاسِ
كَافَةً
بَشِيْرًا َونَذِيْرًا
وَدَاعِيًا
إلَى اللهِ
بإذِنِهِ
وَسِرَاجًا
مُنِيْرًا -صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ- وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Jama’ah Jum’at yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan senantiasa bersemangat dalam
mempelajari agama-Nya serta mengamalkannya. Karena dengan bertakwa
kepada-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambahkan kepada kita ilmu
yang bermanfaat serta memberikan kepada kita bimbingan dan
petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُواْ
اللّهَ
وَيُعَلِّمُكُمُ
اللّهُ
وَاللّهُ
بِكُلِّ
شَيْءٍ
عَلِيمٌ
“Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepada
kalian ilmu dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah:
282)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak
firman-Nya telah menceritakan kepada kita tentang kisah para nabi dan
rasul-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita
bahwa pada kisah-kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat
berharga bagi orang-orang yang mau merenungkannya. Hal ini sebagaimana
tersebut dalam firman-Nya:
لَقَدْ
كَانَ فِي
قَصَصِهِمْ
عِبْرَةٌ
لِّأُوْلِي
الأَلْبَابِ
مَا كَانَ
حَدِيثاً
يُفْتَرَى
وَلَـكِن
تَصْدِيقَ
الَّذِي
بَيْنَ
يَدَيْهِ
وَتَفْصِيلَ
كُلَّ
شَيْءٍ
وَهُدًى
وَرَحْمَةً
لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu (yaitu para nabi) terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yusuf: 111)
Hadirin rahimakumullah,
Di antara kisah penting yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan adalah
kisah tentang Nabi-Nya, Musa ‘alaihissalam. Bahkan kisah ini Allah
Subhanahu wa Ta’ala sebutkan secara berulang-ulang dalam berbagai surat
dalam Al-Qur`an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kisah ini untuk
diketahui dan dipelajari. Kisah ini menceritakan tentang binasanya
seorang penguasa zhalim yang diberi gelar Fir’aun. Disebutkan dalam
kisah tersebut, Fir’aun adalah penguasa yang berbuat semena-mena dan
zhalim kepada sebagian penduduknya. Dia membagi penduduknya menjadi dua
golongan untuk kemudian memperlakukannya dengan tidak adil. Dia
muliakan golongan yang berasal dari bangsanya dengan diberi kebebasan
untuk melakukan apa yang mereka suka. Dan dia hinakan golongan lainnya,
yaitu yang berasal dari Bani Israil yang pada saat itu mereka adalah
sebaik-baik manusia. Terlebih setelah sampai berita kepada Fir’aun akan
datangnya seorang dari keturunan Bani Israil yang akan menjadi sebab
runtuhnya kekuasaannya. Segeralah dia mengutus orang-orangnya untuk
membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil yang dilahirkan pada
masa itu. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
إِنَّ
فِرْعَوْنَ
عَلَا فِي
الْأَرْضِ
وَجَعَلَ
أَهْلَهَا
شِيَعاً
يَسْتَضْعِفُ
طَائِفَةً
مِّنْهُمْ
يُذَبِّحُ
أَبْنَاءهُمْ
وَيَسْتَحْيِي
نِسَاءهُمْ
إِنَّهُ
كَانَ مِنَ
الْمُفْسِدِينَ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan
menjadikan penduduknya bergolong-golongan, menindas segolongan dari
mereka (yaitu Bani Israil), menyembelih anak laki-laki mereka dan
membiarkan hidup anak-anak perempuannya. Sesungguhnya Fir’aun termasuk
orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)
Ketika Musa ‘alaihissalam lahir pada waktu itu, ibunya pun
mengkhawatirkan keselamatan putranya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala
menghendaki Musa ‘alaihissalam selamat dari kezhaliman Fir’aun dan bala
tentaranya. Bahkan Musa ‘alaihissalam akhirnya hidup di tengah-tengah
keluarga Fir’aun. Makan dan minum serta berpakaian juga mengendarai
kendaraan sebagaimana yang digunakan oleh keluarga Fir’aun. Begitulah
kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang akan dijadikan
sebagai sebab runtuhnya kekuasaan Fir’aun, justru hidup dan besar di
lingkungan keluarganya.
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada wali-wali-Nya
dari kalangan orang-orang yang beriman adalah pertolongan yang akan
datang pada setiap masa dan setiap tempat di manapun mereka berada.
Dengan pertolongan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan
kebenaran dan Allah Subhanahu wa Ta’ala hinakan kebatilan. Disebutkan
dalam kisah tersebut, bahwa kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjadikan Musa ‘alaihissalam sebagai rasul-Nya. Namun ketika Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengutus Musa ‘alaihissalam untuk mendakwahi
Fir’aun dan pengikutnya serta memerintahkan mereka untuk beriman kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, Fir’aun pun menolaknya bahkan
dengan sombongnya mengatakan: “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dialog antara Musa ‘alaihissalam
dengan Fir’aun dalam firman-Nya:
قَالَ
فِرْعَوْنُ
وَمَا رَبُّ
الْعَالَمِينَ
. قَالَ
رَبُّ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَمَا
بَيْنَهُمَا
إن كُنتُم
مُّوقِنِينَ. قَالَ
لِمَنْ
حَوْلَهُ
أَلَا تَسْتَمِعُونَ
. قَالَ
رَبُّكُمْ
وَرَبُّ
آبَائِكُمُ
الْأَوَّلِينَ. قَالَ
إِنَّ
رَسُولَكُمُ
الَّذِي
أُرْسِلَ
إِلَيْكُمْ
لَمَجْنُونٌ
. قَالَ
رَبُّ
الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ
وَمَا
بَيْنَهُمَا
إِن كُنتُمْ
تَعْقِلُونَ
. قَالَ
لَئِنِ
اتَّخَذْتَ
إِلَهاً
غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ
مِنَ
الْمَسْجُونِينَ
“Fir’aun bertanya: “Siapa Rabb semesta alam itu?” Musa menjawab: “Rabb
Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah
Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang yang) memercayai-Nya.” Berkata
Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya (dengan nada mengejek):
“Apakah kalian tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “(Dia adalah)
Rabb kalian dan Rabb nenek-nenek moyang kalian yang dahulu.” Fir’aun
berkata: “Sesungguhnya Rasul kalian yang diutus kepada kalian benar-benar
orang gila.” Musa berkata: “Rabb yang menguasai timur dan barat serta
apa yang ada di antara keduanya, (itulah Rabb kalian) jika kalian
mempergunakan akal.” Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Ilah
selainku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang
dipenjarakan.” (Asy-Syu’ara: 23-29)
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan kebenaran
yang dibawa oleh utusan-Nya dengan hujjah dan keterangan yang sangat
jelas. Adapun Fir’aun, tidaklah keluar dari mulutnya kecuali kata-kata
ejekan dan ancaman serta tuduhan yang tidak berlandaskan bukti.
Sehingga ketika Fir’aun mengatakan kepada pengikutnya dengan menuduh
Musa ‘alaihissalam sebagai orang yang gila, Allah Subhanahu wa Ta’ala
tampakkan bahwa Fir’aun dan para pengikutnyalah yang sesungguhnya
adalah orang-orang yang tidak berakal. Karena mereka mengingkari
sesuatu yang sangat jelas kebenarannya yang mereka tidak bisa
membantahnya. Demikianlah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada
orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada
mereka ilmu sehingga bisa mengungkap kebatilan serta mematahkan tuduhan
yang dilontarkan tanpa bukti sehingga tampaklah siapa yang di atas
kebenaran dan siapa yang mengikuti hawa nafsu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Disebutkan pula dalam kisah tersebut, bahwa ketika Fir’aun tetap di
atas kekafiran dan kesesatannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan
Musa ‘alaihissalam untuk meninggalkan negeri tersebut. Namun ketika
Fir’aun mengetahui hal itu, dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar
Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
فَأَتْبَعُوهُم
مُّشْرِقِينَ
. فَلَمَّا
تَرَاءى
الْجَمْعَانِ
قَالَ أَصْحَابُ
مُوسَى إِنَّا
لَمُدْرَكُونَ. قَالَ
كَلَّا
إِنَّ
مَعِيَ
رَبِّي
سَيَهْدِينِ
. فَأَوْحَيْنَا
إِلَى
مُوسَى أَنِ
اضْرِب بِّعَصَاكَ
الْبَحْرَ
فَانفَلَقَ
فَكَانَ كُلُّ
فِرْقٍ
كَالطَّوْدِ
الْعَظِيمِ . وَأَزْلَفْنَا
ثَمَّ
الْآخَرِينَ
. وَأَنجَيْنَا
مُوسَى
وَمَن
مَّعَهُ
أَجْمَعِينَ
. ثُمَّ
أَغْرَقْنَا
الْآخَرِينَ
. إِنَّ فِي
ذَلِكَ
لَآيَةً
وَمَا كَانَ
أَكْثَرُهُم
مُّؤْمِنِينَ
“Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu
matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat,
berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan
tersusul.” Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul;
sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk
kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan
tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah
seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang
lain (yaitu Fir’aun dan kaumnya). Dan Kami selamatkan Musa dan seluruh
orang-orang yang besertanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain
itu (Fir’aun dan bala tentaranya). Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar merupakan suatu tanda yang besar namun kebanyakan mereka
tidaklah beriman.” (Asy-Syu’ara`: 60-67)
Hadirin rahimakumullah,
Di dalam sebagian kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun tersebut,
kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran. Di antaranya adalah:
1. Bahwa orang-orang yang beriman akan diuji dengan musuh-musuhnya dari
kalangan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal itu untuk
menampakkan siapa yang benar-benar kokoh imannya serta siapa yang lemah
imannya atau bahkan menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya.
2. Bahwa kebatilan meskipun didukung kekuatan sebesar apapun, tidak
akan bisa mengalahkan kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan
menampakkan kebenaran dan akan menghancurkan kebatilan. Maka
orang-orang yang mengetahui dirinya di atas kebenaran harus yakin bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaga serta memenangkannya.
Barangsiapa sabar dan kokoh di atas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala,
niscaya akan mendapat pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
3. Bahwa kemenangan akan datang bersama kesabaran dan bahwa bersama
kesulitan akan datang jalan keluar.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan
kepada kita taufiq dan hidayah-Nya untuk senantiasa mempelajari
firman-firman-Nya. Sehingga kita bisa memahami dan mengambil pelajaran
dari ayat-ayat-Nya yang kita baca.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا
فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
حَقًّا
وَتُوْبُوْا
إِلَيْهِ صِدْقًا
إِنَّهُ
هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ
للهِ عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
تَوْفِقِهِ
وَامْتِنَانِهِ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
senantiasa mengambil pelajaran dari kemenangan-kemenangan yang diraih
oleh wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya adalah
kemenangan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya
yaitu Musa ‘alaihissalam.
Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Perlu diketahui, bahwa kisah diselamatkannya Musa ‘alaihissalam bersama
pengikutnya serta ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya,
terjadi pada hari yang kesepuluh dari bulan Muharram. Itulah hari yang
kemudian dikenal dengan nama hari ‘Asyura. Hari tersebut merupakan hari
yang diberi keutamaan dan dimuliakan sejak dahulu kala. Sehingga Nabi
Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa
syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits
yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa shahabat
‘Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
أَنََّ
رَسُوْلَ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَدِمَ
الْمَدِيْنَةَ
فَوَجَدَ
اليَهُوْدَ
صِيَمًا
يَوْمَ
عَاشُوْرَاءَ
فَقَالَ
لَهُمْ
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَا
هَذَا الْيَوْمُ
الَّذِي
تَصُوْمُوْنَهُ؟َ
فَقَالُوْا: هَذَا
يَوْمٌ
عَظِيْمٌ،
أَنْجَى
اللهُ فِيْهِ
مُوْسَى
وَقَوْمَهُ
وغَرَّقَ
فِرْعَوْنَ
وَقَوْمَهُ
فَصَامَهُ
مُوْسَى
شُكْرًا
فَنَحْنُ
نَصُوْمُهُ. فَقَالَ
رَسُوْلُ
الله صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: فَنَحْنُ
أَحَقُّ
وَأَوْلَى
بِمُوْسَى
مِنْكُمْ. فَصَامَهُ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَأَمَرَ
بِصِيَامِهِ.
Bahwasanya ketika masuk kota Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Ada
apa dengan hari ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka
mengatakan: “Ini adalah hari yang agung, hari yang Allah selamatkan
Musa dan kaumnya padanya serta Allah tenggelamkan Fir’aun dan
pasukannya. Maka berpuasalah Musa sebagai bentuk rasa syukur dan
kamipun ikut berpuasa padanya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata: “Kalau demikian, kami lebih berhak dan lebih pantas
terhadap Musa daripada kalian.” Maka berpuasalah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pada hari tersebut serta memerintahkan para
shahabatnya untuk melakukan puasa pada hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)
Dari hadits tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwa para nabi adalah
orang-orang yang menjadikan kemenangan sebagai sesuatu yang patut
disyukuri, yaitu dengan menampakkan bahwa kemenangan datangnya adalah
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan manusia adalah makhluk yang lemah
serta membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mendorong
dirinya untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya. Maka Nabi Musa
‘alaihissalam berpuasa pada hari tersebut. Begitu pula nabi kita
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak semestinya hari
kemenangan itu justru dijadikan sebagai hari yang dirayakan untuk
menampakkan kebanggaan atas kemampuan dan kekuatan bangsanya. Sehingga
dirayakan dengan pesta-pesta dan foya-foya. Atau dengan mengadakan
acara-acara hiburan serta petunjukan-pertunjukan yang sarat
kemaksiatan. Namun semestinya hari tersebut mengingatkan akan
kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mendorong untuk
menjalankan dan menegakkan syariat-Nya.
Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ditanya tentang puasa ‘Asyura, beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab:
يُكَفِّرُ
السَّنَةَ
الْـمَاضِيَةَ
“Puasa tersebut menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR.
Muslim)
Namun untuk menghindari keserupaan dengan ibadah orang-orang Yahudi dan
Nashara, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada
umatnya untuk berpuasa pula pada hari sebelumnya. Hal ini sebagaimana
disebutkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya dari
shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata:
حِيْنَ
صَامَ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَوْمَ
عَاشُوْرَاءَ
وَأَمَرَ
بِصِيَامِهِ،
قَالُوْا: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ،
إِنَّهُ
يَوْمٌ
تُعَظِّمُهُ
الْيَهُوْدُ
والنَّصَارَى. فَقَالَ
رَسُوْلُ
الله صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: فَإِذَا
كَانَ الْعَامُ
الْمُقْبِلُ
إِنْ شَاءَ
اللهُ صُمْنَا
الْيَوْمَ
التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ
يَأْتِ
الْعَامُ
الْمُقْبِلُ
حَتَّى
تُوُفِّيَ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari
‘Asyura dan memerintahkan para shahabatnya untuk berpuasa pada hari
tersebut, mereka (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, hari ini
(‘Asyura) adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashara.”
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika aku menjumpai
tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa pula pada hari
yang kesembilannya.” Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Namun sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah sudah wafat.” (HR.
Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Dari hadits-hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa kaum muslimin
disunnahkan untuk berpuasa pada hari yang kesembilan dan kesepuluh pada
bulan Muharram, hari yang dikenal dengan Tasu’a dan ‘Asyura. Bahkan
sebagian ulama menyebutkan disyariatkannya pula untuk berpuasa pada
hari setelahnya yaitu hari yang kesebelas, dalam rangka menyelisihi
orang-orang Yahudi dan Nashara. Wallahu a’lam bish-shawab.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada
kita semua untuk melakukan puasa pada hari tersebut, dan mudah-mudahan
kita mendapatkan keutamaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala
janjikan.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّينِ, وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمينَ
في كُلِّ
مَكانٍ. اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
والْمُسْلِماتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّهُ
سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .عِبَادَ
اللهِ ... إِنَّ
اللهَ
يَأمُرُ
بِالْعَدْلِ
والْإِحْسَانِ
وإيْتَاءِ
ذِي
القُرْبى ويَنْهى
عَن
الْفَحْشَاءِ
والْمُنْكَرِ
والْبَغِي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ
يَذْكُرْكُمْ
واشْكُرُوْه
عَلىَ
النِّعَمِ
يَزِدْكُمْ،
ولَذِكْرُ
اللهِ
أكْبَرُ
واللهُ
يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُوْنَ.
|