|
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ،
يُحِبُّ
التَّوَّابِيْنَ
وَيُحِبُّ
المُتَطَهِّرِيْنَ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ مُخْلِصًا
لَهُ
الدِّيْنَ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الصَّادِقُ
الأَمِيْنُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أََيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْا
اللهَ تَعَالىَ
واعْرِفُوْا
مَا أَوْجَبَهُ
اللهَ
عَلَيْكُم
مِنْ
أَحْكَامِ
دِيْنِكُمْ...
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa panjatkan puji syukur kita ke
hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai nikmat-Nya yang telah
dikaruniakan kepada kita. Terlebih nikmat yang paling besar, yaitu
nikmat Islam. Nikmat yang tidak tertandingi besarnya oleh nikmat-nikmat
lainnya. Oleh karena itu kita harus senantiasa bersemangat di dalam
mempelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan kita. Sebagaimana juga
kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala agar mengaruniakan kepada kita istiqamah di atas agama-Nya
sampai ajal mendatangi kita.
Hadirin rahimakumullah,
Di antara permasalahan penting dalam agama kita yang
harus dipelajari adalah perkara yang berkaitan dengan tata cara
berwudhu. Karena hal ini berkaitan dengan sah dan tidaknya pelaksanaan
ibadah yang paling besar setelah kewajiban dua kalimat syahadat, yaitu
shalat lima waktu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
يَقْبَلُ
اللهُ
صَلاَةَ
أحَدِكُمْ
إِذَا
أَحْدَثَ
حَتَّى
يَتَوَضَأَ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima shalat
salah seorang dari kalian apabila berhadats (kecil) sampai dia
berwudhu.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,
Berkaitan dengan kewajiban berwudhu ini, Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
إِذَا قُمْتُمْ
إِلَى
الصَّلاَةِ
فَاغْسِلُوا
وُجُوهَكُمْ
وَأَيْدِيَكُمْ
إِلَى
الْمَرَافِقِ
وَامْسَحُوا
بِرُءُوسِكُمْ
وَأَرْجُلَكُمْ
إِلَى
الْكَعْبَيْنِ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai
dengan siku, dan usaplah kepala dan (basuhlah) kaki kalian sampai
dengan kedua mata kaki.” (Al-Ma`idah: 6)
Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan kepada orang yang terkena hadats kecil untuk berwudhu
jika ingin menjalankan shalat. Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala
jelaskan dalam ayat tersebut bahwa anggota-anggota badan yang harus
terkena wudhu adalah wajah, kedua tangan sampai siku, kepala, serta
kedua kaki sampai mata kaki. Demikian pula diterangkan dalam ayat
tersebut bahwa untuk bagian wajah, kedua tangan dan kaki maka
kewajibannya adalah dengan membasuhnya, yaitu dengan mengalirkan air ke
bagian tersebut. Adapun untuk bagian kepala maka kewajibannya hanyalah
dengan mengusapnya, yaitu cukup dengan mengusapkan tangan yang telah
dibasahi air ke kepala dan tidak perlu dengan mengalirkan air wudhu ke
kepala.
Walaupun perlu diketahui, jika ada seseorang yang
tangannya atau anggota wudhu lainnya terdapat luka dan tidak boleh
terkena air maka tidak perlu baginya untuk membasuhnya. Akan tetapi
kewajibannya adalah menutup bagian luka tersebut dengan kain atau
semisalnya, dan selanjutnya cukup baginya untuk mengusapnya. Namun
tidak boleh baginya untuk menutup lukanya lebih dari kebutuhan sehingga
terlalu banyak menutup bagian yang tidak ada lukanya.
Jama’ah jum’ah yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa
Ta’ala
Berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang berkaitan dengan wudhu, para ulama menyebutkan bahwa
termasuk dari kewajiban membasuh wajah adalah berkumur-kumur dan
istinsyaq. Demikian pula para ulama menjelaskan bahwa termasuk dari
kewajiban mengusap kepala adalah kewajiban untuk mengusap telinga. Oleh
karena itu, sudah semestinya bagi kita untuk menjalankan kewajiban ini
dengan bersungguh-sungguh. Baik dalam berkumur-kumur, yaitu dengan
memasukkan air dan memutarnya di dalam mulut maupun dalam melakukan
istinsyaq yaitu bersungguh-sungguh ketika memasukkan air ke hidung,
kecuali apabila dalam keadaan sedang berpuasa.
Hadirin rahimakumullah,
Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud dengan kewajiban
mengusap kepala dalam berwudhu adalah mengusap seluruh bagian kepala
dan bukan sebagiannya saja. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
بَدَأَ
بِمُقَدَّمِ
رَأْسِهِ
حَتَّى ذَهَبَ
بِهِمَا
إِلَى
قَفَاهُ
ثُمَّ
رَدَّهُمَا
إِلَى
الْـمَكَانِ
الَّذِي
بَدَأَ
مِنْهُ
“(Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusap
kepala) memulai dari bagian depan kepalanya dan kemudian menjalankan
kedua telapak tangannya sampai ke (batas) tengkuknya, kemudian
mengembalikan lagi kedua telapak tangannya ke tempat memulai
mengusapnya (bagian depan kepala).” (Muttafaqun ‘alaih)
Oleh karena itu wajib bagi kaum muslimin untuk
mencontoh apa yang dilakukan oleh suri teladannya yaitu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusap kepala. Yaitu dengan
mengusap seluruh kepalanya dan bukan hanya sebagiannya saja.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah Subhanahu wa
Ta’ala,
Keterangan tentang tata cara wudhu dengan lebih lengkap
bisa kita pelajari dalam beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Di antaranya disebutkan dalam hadits:
أََنَّ
عُثْمَانَ
دَعَا
بِوَضُوءٍ
فَغَسَلَ
كَفَّيْهِ
ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ
ثُمَّ
تَمَضْمَضَ
واسْتَنْشَقَ
واسْتَنْثَرَ
ثُمَّ
غَسَلَ
وَجْهَهُ
ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ ثُمَّ
غَسَلَ
يَدَهُ
اليُمْنَى
إِلَي الْـمِرْفَقِ
ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ
ثُمَّ
اليُسْرَى
مِثْلَ
ذَلِكَ
ثُمَّ
مَسَحَ
بِرَأْسِهِ ثُمَّ
غَسَلَ رِجْلَهُ
اليُمْنَى
إِلَى
الكَعْبَيْنِ
ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ
ثُمَّ
اليُسْرَى
مِثْلَ
ذَلِكَ
ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ
رَسُوْلَ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم
تَوَضَّأَ
نَحْوَ
وُضُوئِ
هَذَا...
“Adalah ‘Ustman bin ‘Affan meminta untuk didatangkan
padanya air wudhu, maka kemudian beliau mencuci kedua telapak tangannya
tiga kali kemudian berkumur-kumur sambil memasukkan air ke hidung serta
mengeluarkannya, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian
membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali dan setelah itu
tangan yang kiri juga demikian, selanjutnya mengusap seluruh kepalanya,
membasuh kakinya yang kanan tiga kali dan kemudian kaki yang kiri juga
demikian. Setelah itu beliau mengatakan: “Saya melihat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Disebutkan dalam hadits yang lainnya, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
وُضُوءَ
لـِمَنْ
لَـمْ
يَذْكُرِ
اسْمَ اللهِ
عَلَيْهِ
“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama
Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika melakukannya.” (HR. Ahmad dan yang
lainnya dan dihasankan oleh Al-Albani rahimahullahu di dalam kitabnya
Al-Irwa`)
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta’ala,
Untuk lebih jelasnya dalam tata cara menjalankan wudhu,
maka kami bawakan berikut ini keterangan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-‘Utsaimin rahimahullahu dalam salah satu bukunya. Beliau
rahimahullahu menyebutkan bahwa tata cara wudhu adalah sebagai berikut:
- Berniat untuk
berwudhu di dalam hati dengan tidak mengucapkannya. Karena Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melafadzkan niatnya
baik di dalam wudhu maupun shalatnya, dan juga seluruh ibadahnya.
Begitu pula karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang
ada di dalam hati sehingga tidak ada perlunya untuk diberitakan
lewat lisannya.
- Kemudian
menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membaca bismillah.
- Kemudian mencuci
telapak tangannya tiga kali.
- Kemudian
berkumur dan istinsyaq (yaitu memasukkan air ke hidung) tiga kali.
- Kemudian
membasuh wajahnya tiga kali. Yaitu secara melebar dari telinga ke
telinga dan memanjang dari mulai tempat biasanya tumbuhnya rambut
di kepala bagian atas sampai ke ujung dagu/jenggot.
- Kemudian
membasuh kedua tangannya tiga kali dari mulai ujung jari tangan
sampai ke siku, dimulai dari tangan yang kanan dan setelah itu
yang kiri.
- Kemudian
mengusap kepalanya sekali yaitu dengan membasahi kedua telapak
tangannya dan mengusapkannya dari mulai bagian depan kepala terus
ke belakang hingga batas tengkuknya dan kemudian dikembalikan ke
bagian depan kepala lagi.
- Kemudian
mengusap kedua telinganya sekali dengan memasukkan kedua
telunjuknya ke bagian dalam lubang telinga dan kedua ibu jarinya
mengusap bagian luar telinga.
- Kemudian
membasuh kakinya tiga kali dimulai dari ujung jari kaki sampai ke
kedua mata kaki. Dimulai dari kaki yang kanan dan setelah itu kaki
yang kiri.
Saudara-saudaraku
kaum muslimin rahimakumullah,
Selanjutnya dianjurkan bagi kita setelah berwudhu untuk
membaca doa:
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
Dalam riwayat lainnya yang dishahihkan oleh Asy-Syaikh
Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu ada tambahan:
اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِيْ
مِنَ
التَّوَّابِيْنَ
واجْعَلْنِيْ
مِنَ
الْـمُتَطهِّرِينَ
Maka dengan membaca doa tersebut kita berharap akan
mendapatkan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana telah
disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim
rahimahullahu dalam shahihnya. Yaitu bahwasanya orang yang berwudhu dengan
sebaik-baiknya dan kemudian dia berdoa dengan doa tersebut maka akan
dibukakan baginya pintu-pintu surga.
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta’ala,
Sebagian ulama menjelaskan, bahwa di antara hikmah
dijadikannya anggota wudhu adalah wajah, tangan, kepala dan kaki adalah
karena keempat anggota badan inilah yang banyak digunakan untuk
beramal. Sehingga kita berharap dengan wudhu yang kita lakukan akan
menjadi sebab dihapusnya kesalahan-kesalahan kita yang muncul dari keempat
anggota badan tersebut. Baik yang berkaitan dengan wajah seperti
kesalahan-kesalahan mata dalam memandang maupun kesalahan-kesalahan
yang dilakukan oleh lisan saat berbicara. Begitu pula yang berkaitan
dengan kepala, seperti kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh telinga
dalam mendengar. Ataupun yang berkaitan dengan kesalahan-kesalahan
kedua tangan maupun kedua kaki. Oleh karena itu semestinya kita
berusaha menghadirkan hati ketika berwudhu untuk mendapatkan keutamaan
tersebut. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan
kepada kita dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan menerima
amalan-amalan kita serta mengaruniakan kepada kita berbagai keutamaan
yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan bagi hamba-hamba-Nya.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
حَقًا وَ تُوْبُوْا
إِليه
صِدْقًا
إِنَّهُ
هُوَ اْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ
عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ
بِالْـهُدَى
وَ دِيْنِ
الْـحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ،
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أََيُّهَا
النَّاس،
اتَّقُوْا
اللهَ تَعَالىَ
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
التَّطَهُّرَ
لِلصَّلاَةِ
بِالوُضُوْءِ
أَمَانَةٌ
بَيْنَ
العَبْدِ
وَرَبِّهِ،
يُسْأَلُ عَنْهُ
يَوْمَ
القِيَامَةِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita berupaya untuk menjalankan agama Islam ini
dengan sebaik-baiknya. Yaitu dengan mengikuti para sahabat dan para
ulama yang mengikuti mereka di dalam memahami petunjuk Allah Subhanahu
wa Ta’ala di dalam kitab-Nya dan petunjuk Rasul-Nya di dalam
hadits-hadits yang shahih.
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah
Subhanahu wa Ta’ala,
Menunaikan wudhu adalah amanah yang seseorang akan
dimintai pertanggungjawabannya dalam pelaksanaannya di akhirat kelak.
Oleh karena itu, seorang yang beriman tentu akan menjalankan wudhu
dengan sebaik-baiknya. Karena orang yang beriman adalah orang yang
memiliki sifat amanah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
وَالَّذِيْنَ
هُمْ
لأَمَانَاتِهِمْ
وَعَهْدِهِمْ
رَاعُوْنَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang
dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: 8)
Oleh karena itu tidak boleh bagi seseorang untuk
bermudah-mudahan dalam menunaikan wudhu. Seperti yang dilakukan
sebagian orang yang hanya menyiramkan air ke tangan atau kakinya.
Sementara itu dia tidak memerhatikan apakah airnya telah merata
mengenai seluruh bagian yang harus terkena air wudhu atau belum.
Padahal apabila ada bagian anggota wudhu yang harusnya terkena air
namun tidak dikenakan padanya air, maka wudhunya tidak sah. Sehingga
bisa jadi seseorang selama bertahun-tahun merasa telah menjalankan
shalat namun pada kenyataannya dia belum menjalankannya karena wudhu
yang dia lakukan tidak sah.
Hadirin rahimakumullah
Begitu pula dalam menggunakan air, maka tidak boleh
bagi kita untuk berlebih-lebihan sehingga menyelisihi apa yang
dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semestinya kita
berusaha sebisa mungkin untuk hemat dalam menggunakan air. Karena
demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sebagaimana tersebut dalam hadits:
كَانَ
رَسُوْلُ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم يَتَوَضَّأُ
بِالْـمُدِّ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
berwudhu hanya menggunakan air sebanyak satu mud (secakupan 2 telapak
tangan).” (Muttafaqun ‘alaih)
Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa apa yang
dilakukan oleh sebagian orang yang berlebih-lebihan dalam menggunakan
air sehingga terkadang untuk mencuci satu kaki saja menggunakan satu
atau dua gayung air adalah perbuatan yang menyelisihi apa yang
dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,
Demikianlah beberapa hal penting berkaitan dengan
wudhu. Adapun untuk lebih rinci lagi, maka bisa kita dapatkan
insyaallah melalui majelis-majelis ilmu. Akhirnya, marilah kita
berusaha untuk benar-benar mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sebaik-baik kalam
adalah kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana
sejelek-jelek amalan adalah amalan ibadah yang diada-adakan dan amalan
ibadah yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menunjukkan kepada
kita jalan-Nya yang lurus dan memasukkan kita semua ke dalam surga-Nya.
Amiin.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِه
أَجْمَعِيْنَ. وَالْـحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالـَمِيْنَ
|