|
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَـهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ. (آل
عمران: 102)
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللهَ الَّذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا. (النساء: 1)
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ
فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا. (الأحزاب: 70-71)
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala di manapun kita berada. Baik ketika kita sedang bersama orang
banyak maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa takut akan
terkena adzab-Nya, kapan dan di mana pun kita berada. Karena kewajiban
menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya
bukan hanya pada waktu dan saat-saat tertentu saja. Bahkan beribadah
kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi
kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ
رَبَّكَ
حَتَّى
يَأْتِيَكَ
الْيَقِيْنُ
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian
mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)
Hadirin rahimakumullah,
Belum lama berlalu, kaum muslimin berada di bulan yang penuh
barakah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya dan shalat
tarawih di malam harinya. Bulan yang kaum muslimin mengisinya dengan
berbagai amal ketaatan. Kini bulan itu telah berlalu. Dan akan menjadi
saksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala perbuatan yang
dilakukan oleh setiap orang di bulan tersebut. Baik yang berupa amalan
ketaatan maupun perbuatan maksiat. Maka sekarang tidak ada lagi yang
tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada
catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ
تَجِدُ
كُلُّ
نَفْسٍ مَا
عَمِلَتْ مِنْ
خَيْرٍ
مُحْضَرًا
وَمَا
عَمِلَتْ
مِنْ سُوْءٍ
تَوَدُّ
لَوْ أَنَّ
بَيْنَهَا
وَبَيْنَهُ
أَمَدًا
بَعِيْدًا
وَيُحَذِّرُكُمُ
اللهُ
نَفْسَهُ
وَاللهُ
رَءُوْفٌ
بِالْعِبَادِ
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati (pada
catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga)
kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia
dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu
terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”
(Ali ‘Imran: 30)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ibarat seorang pedagang yang baru selesai dari
perniagaannya, tentu dia akan menghitung berapa keuntungan atau
kerugiannya. Begitu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang
beriman dengan hari akhir ketika keluar dari bulan Ramadhan. Bulan yang
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang
telah lalu bagi orang yang berpuasa dan shalat tarawih karena iman dan
mengharapkan balasan dari-Nya. Dan pada bulan tersebut, Allah Subhanahu
wa Ta’ala bebaskan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa neraka
sehingga benar-benar bebas darinya. Yaitu bagi mereka yang memanfaatkan
bulan tersebut untuk bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang
sebenar-benarnya.
Saudara-saudaraku seiman yang mudah-mudahan senantiasa
dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Oleh karena itu, orang yang mau berpikir tentu akan
melihat pada dirinya. Apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan?
Sudahkah dia memanfaatkannya untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya?
Ataukah kemaksiatan yang dilakukan sebelum Ramadhan masih berlanjut
meskipun bertemu dengan bulan yang penuh ampunan tersebut? Jika
demikian halnya, dia terancam dengan sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam:
وَرَغِمَ
أَنْفُ
رَجُلٍ
دَخَلَ
عَلَيْهِ رَمَضَانُ
ثُمَّ
انْسَلَخَ
قَبْلَ أَنْ
يُغْفَرَ
لَهُ
“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan
namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad
dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)
Namun demikian bukan berarti sudah tidak ada lagi
kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki diri. Karena kesempatan
bertaubat tidaklah hanya di bulan Ramadhan. Bahkan selama ajal belum
sampai ke tenggorokan, kesempatan masih terbuka lebar. Meskipun bukan
berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya. Bahkan semestinya dia
segera melakukannya. Karena kematian bisa datang dengan tiba-tiba dalam
waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui
kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa taubat adalah
pertolongan dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga tidak
bisa seseorang memastikan bahwa dirinya pasti akan bertaubat sebelum
ajal mendatanginya. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sendiri, pada akhir hayatnya tidak bisa bertaubat kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal yang mengingatkannya adalah orang
terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Namun ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan taufiq
dan pertolongan-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu
memberikannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera
bertaubat dari seluruh dosanya. Sehingga dia akan mendapat ampunan dan
menjadi orang yang tidak lagi memiliki dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِنَّمَا
التَّوْبَةُ
عَلَى اللهِ
لِلَّذِيْنَ
يَعْمَلُوْنَ
السُّوْءَ
بِجَهَالَةٍ
ثُمَّ
يَتُوْبُوْنَ
مِنْ
قَرِيْبٍ
فَأُولَئِكَ
يَتُوْبُ
اللهُ عَلَيْهِمْ
وَكَانَ
اللهُ
عَلِيْمًا
حَكِيْمًا. وَلَيْسَتِ
التَّوْبَةُ
لِلَّذِيْنَ
يَعْمَلُوْنَ
السَّيِّئَاتِ
حَتَّى
إِذَا حَضَرَ
أَحَدَهُمُ
الْمَوْتُ
قَالَ
إِنِّي تُبْتُ
اْلآنَ
وَلاَ
الَّذِيْنَ
يَمُوْتُوْنَ
وَهُمْ
كُفَّارٌ
أُولَئِكَ
أَعْتَدْنَا
لَهُمْ
عَذَابًا
أَلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah hanyalah akan menerima taubat bagi
orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena ketidakhati-hatiannya dan
kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang Allah
terima taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan
tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan
kejahatan sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara
mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat
sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati
sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi mereka itu telah Kami siapkan
siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun orang yang telah memanfaatkan pertemuannya
dengan Ramadhan untuk bertaubat dan mengisinya dengan berbagai amal
shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan memohon agar amalannya diterima serta memohon agar bisa istiqamah
di atas amalan tersebut. Dan janganlah dirinya tertipu dengan banyaknya
amalannya. Sehingga dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang
yang paling baik dan paling hebat. Bahkan dia harus senantiasa memohon
ampun dan beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena
seseorang tidak bisa memastikan apakah amalan yang sudah dia lakukan
diterima atau tidak. Seandainya diterima pun, sesungguhnya belum bisa
untuk membalas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ia terima.
Karena amalan yang dia lakukan benar-benar tidak bisa lepas dari
pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sudah sepantasnya bagi
dirinya untuk senantiasa tawadhu’ dan tidak merasa paling baik. Bahkan
semestinya dia memperbanyak menutup amalannya dengan beristighfar
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena begitulah sifat-sifat orang
yang beriman. Yaitu orang-orang yang sudah beramal dengan
sebaik-baiknya namun masih merasa takut kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala akan kekurangan dirinya dalam beramal. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَالَّذِيْنَ
يُؤْتُوْنَ
مَا آتَوْا
وَقُلُوْبُهُمْ
وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ
إِلَى
رَبِّهِمْ
رَاجِعُوْنَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka
berikan, dengan hati yang takut (tidak akan diterima). (Mereka tahu
bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”
(Al-Mu`minun: 60)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita
ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan
tersebut. Begitu pula rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah
terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan. Maka doa yang
senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan
tersebut janganlah kemudian kita tinggalkan di bulan berikutnya. Begitu
pula membaca Al-Qur`an yang senantiasa kita lakukan di bulan Ramadhan,
janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Bahkan
ibadah puasa pun semestinya tetap kita lakukan meskipun di luar bulan
tersebut. Karena masih sangat banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki
keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menjalankannya. Begitu pula
shalat malam, adalah amalan ibadah yang semestinya tidak berhenti
dengan berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dengan
beberapa rakaat saja. Karena menjaganya adalah salah satu sifat
wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam
firman-Nya:
تَتَجَافَى
جُنُوْبُهُمْ
عَنِ
الْمَضَاجِعِ
يَدْعُوْنَ
رَبَّهُمْ
خَوْفًا
وَطَمَعًا
وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُوْنَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk
mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan
penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan dari sebagian
rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Di antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan
kita adalah berlanjutnya amalan tersebut pada waktu berikutnya. Karena
amalan yang baik akan menarik amalan baik berikutnya. Maka marilah kita
senantiasa menjaga amalan-amalan kita dan janganlah kita kembali kepada
perbuatan maksiat setelah kita bertaubat kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bahwa di depan kita ada
timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik dan
amalan kita yang jelek. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ
خَفَّتْ
مَوَازِينُهُ
فَأُولَئِكَ
الَّذِيْنَ
خَسِرُوا
أَنْفُسَهُمْ
فِيْ
جَهَنَّمَ
خَالِدُوْنَ. تَلْفَحُ
وُجُوْهَهُمُ
النَّارُ
وَهُمْ فِيْهَا
كَالِحُوْنَ
“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka
mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa
yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan
dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (Al-Mu`minun:
102-103)
Hadirin rahimakumullah,
Orang yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut
tentu akan terus berusaha untuk beramal shalih sampai ajal
mendatanginya, sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu untuk
melakukannya, maka dia tidak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan
maksiat, maka diapun akan meninggalkannya dan tidak menyepelekannya,
sekecil apapun bentuknya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذْ
تَلَقَّوْنَهُ
بِأَلْسِنَتِكُمْ
وَتَقُوْلُوْنَ
بِأَفْوَاهِكُمْ
مَا لَيْسَ
لَكُمْ بِهِ
عِلْمٌ
وَتَحْسَبُوْنَهُ
هَيِّنًا
وَهُوَ
عِنْدَ
اللهِ
عَظِيْمٌ
“Dan kalian ucapkan dengan mulut-mulut kalian apa yang
kalian tidak berilmu tentangnya dan kalian menganggapnya sebagai suatu
yang sepele saja. Padahal hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang
besar.” (An-Nur: 15)
Akhirnya kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
agar menerima amalan-amalan kita dan memberikan kekuatan kepada kita
agar senantiasa mampu untuk menjalankannya. Dan mudah-mudahan Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengampuni seluruh kesalahan kita.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا
فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ
هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ
اللهُ
عَمَلَنَا
وَعَمَلَكُمْ
وَجَعَلَهَا
فِي
مِيْزَانِ
حَسَنَاتِنَا،
إِنَّهُ وَلِيُّ
ذَلِكَ
وَالْقَادِرُ
عَلَيْهِ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ
لِلهِ
مُقَدِّرِ
الْمَقْدُوْرِ
وَمُصَرِّفِ
اْلأَيَّامِ
وَالشُّهُوْرِ،
وَأَحْمَدُهُ
عَلَى
جَزِيْلِ
نِعَمِهِ وَهُوَ
الْغَفُوْرُ
الشَّكُوْرُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَّ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ
وَلَهُ
الْحَمْدُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيْرٍ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الْبَشِيْرُ
النَّذِيْرُ
وَالسِّرَاجُ
الْمُنِيْرُ،
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
إِلَى
الْبَعْثِ
وَالنُّشُوْرِ،
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan marilah kita senantiasa memikirkan
betapa cepatnya berlalunya malam dan siang. Karena hal ini akan
mengingatkan kita akan semakin dekatnya waktu perpindahan kita dari
tempat beramal di alam dunia ini menuju saat pembalasan di akhirat
nanti. Sehingga akan mendorong kita untuk segera memanfaatkan
kesempatan yang ada untuk beramal shalih. Karena kesempatan hidup di
dunia kalau tidak digunakan untuk ketaatan, maka kesempatan itu akan
pergi dengan segera dan akan berakhir dengan penyesalan serta kerugian
pada hari kiamat. Adapun apabila digunakan kesempatan hidup kita di
dunia dengan ketaatan, niscaya akan kita rasakan hasilnya. Karena amal
shalihlah sesungguhnya kekayaan yang akan kita bawa untuk hari akhir
nanti.
Adapun kekayaan yang berupa harta benda di dunia tidaklah
bermanfaat kecuali kalau digunakan untuk beramal di jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Maka apalah artinya kekayaan di dunia ini kalau
akhirnya berujung dengan tidak memiliki apa-apa bahkan mendapat siksa
di akhirat nanti. Sementara kalau kita gunakan kesempatan ini untuk
beramal shalih maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan
pernah berakhir. Bahkan berlanjut dari mulai di dunia ataupun setelah
kita berpindah ke alam kubur sampai ketika saat hari kebangkitan dan
berikutnya akan mendapatkan kenikmatan yang selamanya di surga. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
مِنْ ذَكَرٍ
أَوْ أُنْثَى
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً
طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ
مَا كَانُوا
يَعْمَلُوْنَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sesungguhnya
akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang sangat membahagiakan dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Namun
akan datang waktu-waktu berikutnya yang akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan
kita. Maka bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat
berharga. Bahkan lebih berharga dari harta yang dimilikinya. Karena
harta apabila hilang dari dirinya maka masih ada kesempatan untuk
dicari. Adapun waktu apabila telah berlalu maka tidak akan bisa untuk
didapatkan lagi. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan
hidup yang sangat sebentar ini dengan sebaik-baiknya. Janganlah amalan
yang telah kita bangun pada bulan-bulan yang lalu kemudian kita
robohkan lagi pada bulan berikutnya. Bahkan semestinya kita kokohkan
dengan melanjutkan amalan tersebut pada bulan-bulan berikutnya. Dan
janganlah kita mendekati setan setelah kita menjauhinya pada bulan
Ramadhan yang lalu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di antara amal shalih yang sangat besar keutamaannya
untuk dilakukan setelah bulan Ramadhan, yaitu pada bulan Syawwal,
adalah puasa sunnah selama enam hari pada bulan tersebut. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
صَامَ
رَمَضَانَ
ثُمَّ
أَتْبَعَهُ
سِتًّا مِنْ
شَوَّالٍ
كَانَ
كَصِيَامِ
الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan dan kemudian
dia mengikutkannya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia
seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya rahmat dan
kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Yaitu
barangsiapa yang puasa selama enam hari baik secara berurutan ataupun
berselang-seling, mulai hari kedua di bulan Syawwal, maka dia akan
mendapat pahala orang yang puasa selama satu tahun. Tentu saja ini
adalah keutamaan yang tidak akan dilewatkan begitu saja oleh setiap
muslim. Maka dia akan segera menunaikannya. Karena semakin cepat
dilakukan maka akan semakin baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat)
kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)
Namun keutamaan ini didapat bagi orang yang
melakukannya setelah dia selesai menjalankan puasa Ramadhan baik
dilakukan pada waktunya maupun di luar waktunya bagi yang memiliki
hutang puasa. Untuk itu, semestinya orang yang memiliki hutang puasa
segera membayarnya setelah hari raya Idul Fithri. Kemudian segera
mengikutinya dengan puasa selama enam hari pada bulan tersebut.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa
memberikan taufik-Nya kepada kita untuk selalu mendapatkan curahan
rahmat-Nya.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَ
أَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنْ
جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمِ
الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ
في كُلِّ
مَكَانٍ. رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْلَنَا
مِنْ لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنْتَ
الْوَهَّابُ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ ... اذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ
وَاللهُ
يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُوْنَ.
|