الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ، فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَإِلاَّ رُدَّ فِي الْهَوَانِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ
Amma ba’du :
Wahai kaum muslimin!
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, karena takwa adalah bekal terbaik sepanjang hidup
dan sesudah mati.
Ada sebuah harapan mulia dan
cita-cita luhur yang diidam-idamkan oleh setiap suami dan istri. Ada keinginan
mendesak yang diharapkan oleh setiap pengantin. Bila harapan, cita-cita dan
keinginan itu terwujud maka panji-panji cinta dan bahagia akan berkibar di atas
keluarga dan kata-kata kasih dan sayang akan bergema di sudut-sudutnya. Bila
tidak, rumah tangga akan tenggelam di dalam lautan gelisah dan nestapa, serta
bahteranya akan dihempaskan oleh gelombang keburukan dan permusuhan ke dalam
samudera bencana dan malapetaka.
Saudara-saudara! Itulah dia
“Kabahagiaan Rumah Tangga”. Merupakan harta yang sulit dicari di
zaman ini, dan barang langka sepanjang masa. Karena persoalan kemasyarakatan
sosial kian membesar, persoalan rumah tangga kian menumpuk dan berada di garda
depan dalam barisan masalah-masalah umat dan masyarakat. Ini adalah peringatan
akan adanya ancaman bahaya yang besar dan kerusakan yang luas terhadap negara
dan bangsa, dalam urusan dunia dan akhirat.
Wahai kaum muslimin! Salah
satu anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya ialah rumah tangga. Allah
memberinya pasangan hidup yang mulia sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya,
sebagai penenang hati, kasih sayang, pakaian dan teman setia. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum
:21)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala
juga berfirman :
وَاللهُ
جَعَلَ لَكُم
مِّنْ
أَنفُسِكُمْ
أَزْوَاجًا وَجَعَلَ
لَكُم مِّنْ
أَزْوَاجِكُمْ
بَنِينَ
وَحَفَدَةً
وَرَزَقَكُم
مِّنَ
الطَّيِّبَاتِ
أَفَبِالْبَاطِلِ
يُؤْمِنُونَ
وَبِنِعْمَتِ
اللهِ هُمْ
يَكْفُرُونَ
“Allah
menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu
dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari
yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan
mengingkari nikmat Allah.” (QS. An-Nahl :72)
Di rumahnya seorang suami
bisa menemukan tempat berlabuh yang mulia dan ketenangan jiwa setelah lelah
bekerja. Ia bisa mengibaskan debu-debu kejenuhan dan kebosanan dari dirinya. Ia
dapat meluruhkan kesulitan hidup dengan senyuman yang manis, wajah yang ceria,
kata-kata yang lembut, perlakuan yang halus, persaan yang hangat, dan emosi yang
meluap. Ia diimbangi oleh pasangan hidupnya, teman perjalanannya, belahan
jiwanya, dan ibu dari anak-anaknya. Dan dirumahnya seorang istri bisa menemukan
sarang keluarga yang bahagia dan tempat hidup yang enak. Di rumah itu lahirlah
generasi baru yang shalih dan istimewa di bawah naungan naluri ayah yang
penyayang dan naluri ibu yang pengasih, jauh dari pemicu ketegangan dan
keglisahan, pengganggu kenikmatan, dan pengundang kesengsaraan dan kekacauan.
Begitulah, Islam menginginkan
agar keluarga bisa menjadi markas kebaikan, cinta dan keharmonisan, dan bisa
menjadi benteng dalam berbakti, berkasih sayang dan perdamaian. Islam meminta
kedua pilar utama keluarga suami dan istri agar bisa menjadi contoh dalam hal
kerjasama yang baik dan pelaksanaan hak dan kewajiban masing-masing. Atas dasar
itulah kebahagiaan rumah tangga tidak terletak pada pakaian yang mewah, makanan
yang enak, dan penghidupan yang segar. Melainkan pada kasih sayang, cinta dan
kerjasama. Sesungguhnya rumah tangga yang berdiri di atas pondasi pertengkaran
dan perseteruan, dipenuhi cobaan dan masalah adalah benar-benar rentan terhadap
hantaman badai kehancuran dan topan perceraian, jauh dari ketenangan batin dan
harapan kemapanan.
Ikatan suami istri adalah
ikatan yang memiliki akar yang dalam, pilar yang kokoh, dan dasar yang jauh.
Ini dijelaskan oleh firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala :
لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Ruum :21)
Ini menegaskan adanya
ketenteraman (di dalam rumah tangga) dalam bentuk yang paling tinggi dan makna
yang paling atas, yang semestinya dirasakan oleh suami demikian juga istri. Dan
juga dijelaskan oleh firmah Allah Subhanahu
wa Ta’ala :
هُنَّ
لِبَاسٌ
لَّكُمْ
وَأَنتُمْ
لِبَاسٌ
لَّهُنَّ
“Mereka
(istri-istri kamu) itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka.” (QS. Al-Baqarah :187)
Allahu Akbar! Lihatlah
keindahan bahasa Alquran yang menggambarkan hubungan antara suami dan istri
seperti hubungan antara manusia dan pakaian. Apa yang lebih dekat dan lebih
lekat dengan seseorang selain pakaiannya ? Dengan demikian pernikahan bukanlah
sekedar ikatan duniawi, materi, birahi, dan hewani, melainkan ikatan ruhani dan
jiwa yang mulia. Oleh karena itu Islam sangat getol dalam upaya memperkuat
ikatan ini. Islam memerintahkan agar kita senantiasa menjaganya dan
mengingatkan kita agar tidak gegabah dan lalai terhadapnya. Supaya mawar
kebahagiaannya tidak layu, bunga kenyamanannya tidak mati, dan pohon ketahanannya
tidak kering. Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa keseriusan dari pihak
suami dan istri untuk melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing.
Saudara-saudara seiman dan
seakidah! Sepanjang suami istri harus mengetahui bahwa kesempurnaan hidup
berumah tangga adalah sesuatu yang mustahil dicapai. Sebab, keterbatasan adalah
watak dasar manusia. Maka, baik suami maupun istri harus bisa mengkondisikan
dirinya untuk menerima kekurangan, memaklumi kesalahan, dan memaafkan
kakhilafan. Karena tak ada gading yang tak retak.
Karena begitu pentingnya
masalah ini maka Kitab Allah datang dengan penjelasan yang sangat lengkap.
Sebagaimana diproklamirkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada umat ini di dalam pertemuan agung di
padang Arafah. At-Tirmidzi dan lain-lain meriwayatkan dari Amr bin Ahwash
Al-Jusyami radiyallahu
‘anhu bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
di dalam Haji Wada’ :
“Ingatlah!
Perlakukanlah kaum wanita (istri-istrimu) dengan baik. Sesungguhnya mereka adalah
semacam tawanan di sisimu. Kamu tidak memiliki hak apapun dari mereka selain
itu, kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka
melakukannya, hindarilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan
pukulan yang tidak melukai. Jika mereka patuh kepadamu maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyalahkan mereka. Ingatlah! Sesungguhnya kamu punya
hak atas istri-istrimu, dan istri-istrimu pun punya hak atas kamu. Adapun hak
kamu atas istri-istrimu ialah mereka tidak boleh mengizinkan orang yang tidak
kamu sukai menginjak tempat tidurmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu
sukai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah! Hak mereka atas kamu ialah kamu harus
berbuat baik kepada mereka dalam memberikan pakaian dan makanan mereka.”
(HR. Tirmidzi No.1163 dan Ibnu Majah No.1851)
Imam al-Bukhari dan Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah bersabda:
“Perlakukanlah kaum wanita dengan baik,
karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya sesuatu yang paling
bengkok pada tulang rusuk ialah bagian atasnya. Jika engkau membiarkannya, ia
akan senantiasa bengkok. Jadi perlakukanlah kaum wanita dengan baik.”
(Shahih al-Bukhari,
5186 dan Shahih Muslim,
1468 )
Abu Daud meriwayatkan dari
Muawiyah bin Haidah radiyallahu
‘anhu bahwa ia pernah bertanya : “ Ya Rasulullah, apa
kewajiban kami kepada istri kami ?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
“Engkau harus memberinya makan jika
engkau makan. Engkau harus memberinya pakaian jika engkau berpakaian. Jangan
memukul wajah, jangan menjelek-jelekkannya, dan jangan menjauhinya kecuali di
dalam rumah.” (Sunan Abu Daud, 2142 )
Lebih dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan bergaullah dengan mereka
(istri-istrimu) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’
:19)
وَلَهُنَّ
مِثْلُ
الَّذِي
عَلَيْهِنَّ
بِالْمَعْرُوفِ
وَلِلرِّجَالِ
عَلَيْهِنَّ
دَرَجَةٌ
وَاللهُ
عَزِيزٌ
حَكِيمٌ
“Dan
para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang
ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan
daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah :228)
Wahai para suami! Anda semua
harus mengetahui kewajiban dan haknya masing-masing, lalu melaksanakan dengan
sebaik-baiknya. Demi Allah, seandainya masing-masing melaksanakan peran dan
tugas masing-masing, niscaya tidak ada satu pun keluarga yang ditimpa
masalah-masalah berat yang mengganggu tidur atau pertengkaran yang membuat
rumah menjadi kosong.
Wahai para suami! Bertakwalah
kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri Anda. Laksanakanlah kewajiban
Anda. Jalankanlah tugas Anda sebagai kepala rumah tangga sesuai dengan syariat
Allah. Tunaikanlah kewajiban Anda dalam memberikan nafkah dan menyiapkan tempat
tinggal menurut kemampuan Anda.
أَسْكِنُوهُنَّ
مِنْ حَيْثُ
سَكَنتُم
مِّن وُجْدِكُمْ
وَلاَتُضَآرُّوهُنَّ
لِتُضَيِّقُوا
عَلَيْهِنَّ
“Tempatkanlah
mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan
janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”
(QS. Ath-Thalaq :6)
لِيُنفِقْ
ذُو سَعَةٍ
مِّن
سَعَتِهِ
وَمَن قُدِرَ
عَلَيْهِ
رِزْقُهُ
فَلْيُنفِقْ
مِمَّآ
ءَاتَاهُ
اللهُ
لاَيُكَلِّفُ
اللهُ نَفْسًا
إِلاَّ
مَآءَاتَاهَا
“Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan
rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang
Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq :7)
Pergaulilah istri-istri Anda
dengan baik. Perlakukanlah mereka dengan akhlak yang baik. Siapakah yang lebih
berhak anda perlakukan dengan akhlak baik selain istri-istri anda, pendamping
hidup anda ?
Imam Ahmad, Abu Daud,
At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang
yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kamu ialah
orang yang paling baik kepada istri-istrinya.” (al-Musnad, 2:472, Sunan Abi Daud, 4682, Jami’ at-Tirmidzi,
1162 dan Shahih Ibnu Hibban,
4176 )
At-Tirmidzi juga meriwayatkan
bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang
paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada
keluargaku.” (Jami’
At-Tirmidzi, 3895 )
Wahai para suami! Tunaikanlah
kewajiban Anda untuk tidur bersama istri-istri Anda. Ajarilah mereka tentang
urusan-urusan agama. Cemburulah kepada mereka, peliharalah kemuliaan dan
kehormatan mereka. Jangan biarkan mereka keluyuran sesuka hati. Wajibkan kepada
mereka menutup aurat secara benar dan menjaga kehormatan diri mereka dengan
baik. Lindungilah mereka dari pemicu-pemicu keburukan dan kerusakan,
media-media perusakan dan penghancuran, dan faktor-faktor penyebab timbulnya
penyimpangan dan kejahatan.
Anda pasti heran melihat
beragam perlakuan suami kepada istrinya. Ada suami yang di rumahnya tidak ada
bahasa lain selain perintah dan larangan. Hobinya menunjukkan gigi taring dan
mengaum. Kejam dan kesewenang-wenang. Tidak pandai bergaul, tidak ramah, susah
memaafkan, cepat marah dan temperamental. Kalau berbicara seperti orang tolol.
Kalau bertindak seperti orang dungu. Selalu cemberut dan enggan membantu istri.
Kalau masuk rumah selalu menggerutu. Kalau keluar rumah selalu curiga. Tidak
bisa lembut apalagi penyayang. Istrinya sangat menderita selama hidup
bersamanya. Beragam kesengsaraan, cobaan dan ujian ia rasakan.
Ada istri yang mengeluh bahwa
suaminya tidak pernah menghadiri shalat Jumat maupun shalat jamaah. Ada istri
yang melaporkan suaminya mengkonsumsi miras dan narkoba. Ada istri yang mengadu
bahwa suaminya suka bergadang dan jarang pulang. Ada istri yang mengatakan
bahwa suaminya berselingkuh. Dan seterusnya. Fana’udzubillah.
Wahai para suami! Bertakwalah
kepada Allah. Berikanlah hak-hak istri-istri anda, terutama ketika sudah tua,
sakit atau masa talak raj’i. bagi anda yang ingin melakukan poligami,
bertakwalah kepada Allah dalam menjaga keadilan di antara mereka. Jangan sampai
anda mendzalimi istri tua dan menyayangi istri muda. Dalam hal ini anda pasti
menemukan banyak keanehan dan kisah-kisah yang mengherankan. Ada wanita yang
setelah dimadu tidak pernah bertemu dengan suaminya selama bertahun-tahun. Dan
si suami pun tidak memenuhi kewajibannya kepada sang istri maupun kepada
anak-anaknya. Allahumma
sallim.
Wahai para istri! Bertakwalah
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam menghadapi suami Anda. Patuhilah suami anda
secara wajar. Dan lihatlah bagaimana sikap Anda kepadanya? Karena suami Anda sangat
menentukan surga dan neraka Anda. Ketahuilah bahwa kedekatan Anda dengan Allah
dapat diukur dengan melihat seberapa besar keridhaan suami Anda kepada Anda
secara wajar. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Salamah radiyallahu ‘anha
bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
“Wanita manapun yang
meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadnya, pasti akan masuk
surga.” (Jami’
At-Tirmidzi, 1161 )
Jagalah rumah, harta benda
dan anak-anak suami anda. Jangan membebaninya dengan nafkah yang terlalu
banyak. Layanilah suami anda, berikanlah hak-haknya, dan jangan lalai dalam
menjalankannya. Karena ada ancaman keras yang disebutkan di dalam Hadits
al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
“Jika seorang laki-laki mengajak
istrinya ke ranjangnya tetapi ia menolak, kemudian laki-laki itu melewatkan
malamnya sambil memendam amarah, maka para malaikat akan mengutuknya sampai
pagi.”
Dalam riwayat Imam Muslim
dinyatakan :
“Demi dzat yang jiwaku
ada di tanganNya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya keranjangnya
kemudian ia menolaknya, melainkan dzat yang ada di langit murka kepadanya
sampai si suami ridha kepadanya.” (Shahih
al-Bukhari, 3237 dan Shahih
Muslim, 1436 )
Allahul mustaan! Relakah wanita beriman, berakal
sehat, terhormat, merdeka, dan mulia dengan kondisi semacam itu ? dan kini,
betapa banyak wanita yang kondisinya seperti itu. Wal iyadzu billah.
Imam Ahmad dan At-Tirmidzi
meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah bersabda :
“Tidaklah seorang wanita menyakiti
suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata :
‘Jangan sakiti dia ! Celakalah kamu, karena sesungguhnya dia hanya
singgah di sisimu. Sebentar lagi dia akan meninggalkanmu ke tempat kami.”
(al-Musnad,
5:242 dan Jami’
at-Tirmidzi, 1174)
At-Tirmidzi meriwayatkan dari
Abu Hurairah radiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah bersabda :
“Kalau saja aku bisa menyuruh seseorang
bersujud kepada seseorang, niscaya aku telah menyuruh wanita bersujud kepada
suaminya.” (Jami’
at-Tirmidzi, 1159)
Hal itu tidak lain karena
besarnya hak suami atas istrinya. Wahai para istri, simaklah Hadits-hadits di
atas dan amalkanlah isinya jika anda menginginkan hidup di dunia dan ganjaran
di Akhirat.
Anda pasti tercengang dan
prihatin melihat kondisi banyak wanita di rumahnya dan perlakuannya kepada
suaminya.
Ada wanita yang hanya
mengenal suaminya sebagai pembantu yang hina. Ia selalu menghujaninya dengan
guyuran tuntunan dan kebutuhan, serta mengejutkannya dengan daftar belanja dan
barang-barang pelengkap.
Ada wanita yang suka berbuat
sewenang-wenang, berbicara kasar, memancing keributan, dan mencari-cari
kesalahan. Ia tidak tahu terima kasih, suka membantah, tidak pernah puas dan
punya rasa sayang. Bila sang suami masuk ke rumah, ia menemukan baju yang
kusut, rambut yang acak-acakan dan sikap yang angkuh. Pagi hari banyak tidur.
Sore hari banyak memaki. Ia selalu mengandalkan pembantu untuk mengerjakan
pekerjaan rumah tangga. Yang ia tahu hanya keluyuran bersama teman-teman dan
pergi ke pesta. Ia tidak peduli dengan agamanya dan tidak menghiraukan
adab-adab dan akhlak. Ia suka mengumpat, mencaci maki dan marah besar untuk
urusan yang spele. Ia tomboy dan berprilaku layaknya laki-laki. Ia sama sekali tidak
punya kebaikan untuk keluarga, suami dan anak-anaknya. Ya Allah, ampunilah dia
! Dan jauhkanlah kami dari istri semacam itu, ya Allah.
Wahai kaum muslimin dan
muslimat ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Para suami dan istri harus mau melaksanakan
tugasnya masing-masing agar keluarga dan rumah tangga yang tersisa tidak di
habisi oleh pertengkaran. Mudah-mudahan Allah berkenan memperbaiki hati, amal
dan niat kita. Dan semoga Allah berkenan menganugerahi kita istri dan keturunan
yang bisa meneduhkan mata dan menjadi pelipur lara. Sesungguhnya Allah Maha
Pemurah lagi Maha Mulia.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
الْحَمْدُ
لِلهِ
مُقَلِّبِ
القُلُوْبِ
وَعَلاَّمِ
الغُيُوْبِ،
وَقَابِلِ
التَّوْبَةِ
مِمَّنْ
يَتُوْبُ،
شَدِيْدِ
الْعِقَابِ
عِنْدَ
قَسْوَةِ
القُلُوْبِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَ
رَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
سَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا
Amma ba’du :
‘Ibadallah!
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Takutlah akan hari di saat anda dikembalikan
kepada Allah. Ketahuilah bahwa keluarga dan rumah tangga hanya bisa baik dan
makmur dengan taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Karena kemaksiatan bisa
mendatangkan kesialan bagi keluarga dan merusak keharmonisan rumah tangga.
Betapa banyak persatuan yang terpecah belah, kekuatan yang tercerai berai,
keluarga yang terguncang, istri yang dicerai, anak-anak yang terlantar
gara-gara kemaksiatan, baik yang didengar, dilihat, maupun dibaca.
Ketahuilah bahwa rumah adalah
salah satu pos terpenting untuk menyebarkan iman dan melahirkan generasi yang
mengerti akidah dan Alquran. Lebih-lebih di zaman sekarang. Dan ketahuilah
bahwa musuh-musuh Islam tidak henti-hentinya melancarkan serangannya terhadap
rumah tangga dan keluarga untuk meruntuhkan sendi-sendinya, merobohkan
bangunannya, mengguncang kekompakannya dan membangkitkan pertengkaran suami
istri. Hal itu didukung oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu
mereka menyalakan api fitnah di antara suami dan istri. Dan banyak orang di luar
keluarga yang berupaya merusak ikatan di antara mereka berdua.
Kepada para orang tua,
hendaknya anda bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam menghadapi anak dan menantu anda. Jangan suka
mencampuri kehidupan rumah tangga mereka, kecuali untuk kemaslahatan mereka.
Jadikanlah rumah tangga Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dan model yang patut
ditiru dalam upaya menggapai kebahagiaan dan merendam berbagai macam masalah
dan pertengkaran.
Dan dengan tulus hati saya menyerukan
kepada setiap pasangan suami istri yang mengalami percekcokan rumah tangga agar
menutup buku masa lalu dan memulai hidup baru. Hidup yang penuh dengan tenggang
rasa, cinta kasih dan serasi. Dan saya juga menyerukan terbentuknya lembaga
pembinaan (konsultasi) rumah tangga untuk menyelesaikan percekcokan rumah
tangga sebelum terjadi pengendapan masalah yang bertumpuk-tumpuk dan
membutuhkan bantuan perantara sebagaimana disayari’atkan oleh Allah.
Hendaknya pasangan suami istri terutama suami harus bisa mengendalikan diri dan
tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk mengakhiri ikatan pernikahan.
Karena akibatnya sangat serius dan dampaknya sangat besar terhadap individu dan
masyarakat.
Simaklah contoh berikut ini
yang patut ditiru dalam upaya menggapai kebahagiaan rumah tangga dan hubungan
yang baik antara suami dan istri.
Di dalam perpustakaan tarikh
disebutkan bahwa tatkala anak Ummu Sulaim binti Milhan, istri Abu Thalhah,
meninggal dunia sementara Abu Thalhah sedang pergi berjihad di jalan Allah.
Sampai ia pulang kerumah tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepada Abu
Thalhah perihal kematian anaknya. Ketika ia datang dan menanyakan perihal
anaknya, Ummu Sulaim menjawab: “Dia lebih tenang dari pada sebelumnya.
“Rupanya Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah sembuh dari sakitnya.
Maka ia pun segera menyantap makanan yang disediakan. Kemudian Ummu Sulaim
berdandan dan memakai wewangian. Lalu Abu Thalhah tidur bersamanya dan bercinta
dengannya. Keesokan harinya, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya :
“Relakan kepergian anakamu.” Lalu Abu Thalhah menceritakan kisahnya
kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Lantas beliau bersabda:
“Semoga Allah memberkati kalian berdua
pada malam kalian itu.” (HR. al-Bukhari, 1301,5470, Muslim,
2144 dan Ahmad, 3/105 )
Kemudian Ummu Sulaim
melahirkan anak bernama Abdullah bin Abi Thalhah. Lalu Abdullah dikaruniai 10
orang anak yang semuanya menjadi ahli qira’at, ulama dan mujahid.
Ini adalah salah satu contoh hubungan
yang ideal antara suami dan istri. Adakah yang mau mengikuti ? Alhamdulillah,
ternyata banyak sekali.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab :56)
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ
مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
Dikutip dari buku: Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Setahun Edisi pertama, ElBA al-Fitrah, Surabaya.
Artikel www.KhotbahJumat.com