Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا، أَمّا
بَعْدُ …
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
muslimin, rahimakumullah.
Kami
wasiatkan kepada para jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala;
menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi dan penyejuk hati kita,
Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum muslimin, rahimakumullah.
Di
dalam Alquran, Allah Ta’ala menghabarkan tentang salah satu bentuk
nikmat-Nya yaitu berupa “al-hikmah” yang diberikan kepada salah
seorang hamba-Nya yang shaleh yang bernama Luqman, seraya berfirman,
وَلَقَدْ
آتَيْنَا
لُقْمَانَ
الْحِكْمَةَ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada
Luqman.” (Qs. Luqman : 12)
Ikhwatal
Islam,
Setelah
Allah memberikan nikmat-Nya yang agung ini kepada Luqman, Allah
memerintahkannya agar bersyukur kepada Allah Ta’ala atas
kenikmatan yang diterimanya tersebut. Dengan kesyukuran itu Allah akan
memberikan keberkahan, memberikan tambahan kebaikan baginya pada kenikmatan
tersebut dan Allah akan memberikan tambahan karunia-Nya kepadanya. Allah juga
memberitahukan kepadanya bahwa syukur orang-orang yang bersyukur atas karunia
Allah Ta’ala manfaatnya akan kembali kepada mereka dan bahwa siapa
saja yang kafir, yang mengingkari kenikmatan-Nya, tidak bersyukur kepada Allah
atas karunia-Nya, akibatnya akan kembali kepadanya pula. Allah tidak merasa
butuh kepadanya, ia tetap terpuji pada apa yang Dia tentukan dan putuskan.
Allah berfirman,
أَنِ
اشْكُرْ
لِلَّهِ
وَمَنْ
يَشْكُرْ فَإِنَّمَا
يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ
وَمَنْ كَفَرَ
فَإِنَّ
اللَّهَ
غَنِيٌّ
حَمِيدٌ
“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur
(kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan
barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.” (Qs. Luqman : 13)
Ikhwatal
Islam
Allah
‘Azza wa Jalla menyebutkan beberapa hal yang menunjukkan hikmah
lukman ini dalam pelajaran/nasehat yang beliau sampaikan kepada putranya. Allah
berfirman,
وَإِذْ
قَالَ
لُقْمَانُ
لِابْنِهِ
وَهُوَ يَعِظُهُ
يَا بُنَيَّ
لَا تُشْرِكْ
بِاللَّهِ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah.”
Ikhwatal
Islam,
Luqman
melarang anaknya dari mempersekutukan Allah, yakni memalingkan ibadahnya kepada
selain Allah, agar anaknya tidak beribadah kepada selain Allah di samping
beribadah kepada Allah.
Kemudian,
Luqman menjelaskan kepada anaknya alasan atau sebab pelarangannya tersebut,
seraya mengatakan :
إنَّ
الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar.”
Ikhwatal
Islam,
Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan Allah, ia telah berbuat kezhaliman, karena ia telah
meletakkan hak Allah bukan pada tempatnya. Adapun hak Allah adalah diibadahi
dan tidak disekutukan dengan siapa pun, sebagaimana sabda nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam yang beliau sampaikan kepada sahabat mulia, Muadz
bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu, dalam hadis yang diriwayatkan imam
Muslim di dalam Shohihnya, beliau bersabda,
فإن
حق الله على
العباد أن
يعبدوه ولا
يشركوا به
شيئا
“Sesungguhnya hak Allah atas hamba, yaitu : hendaknya
mereka –para hamba-Nya- menyembah Allah dan tidak mempersekutukan Allah
dengan sesuatu apapun.”
Ikhwatal
Islam,
Mempersekutukan
Allah adalah tindak kezhaliman. Maka jika seorang hamba berbuat zhalim, itu
berarti ia telah melakukan perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala
karena Allah Ta’ala telah berfirman dalam hadis qudsi,
يَا
عِبَادِى
إِنِّى حَرَّمْتُ
الظُّلْمَ
عَلَى
نَفْسِى
وَجَعَلْتُهُ
بَيْنَكُمْ
مُحَرَّمًا
فَلاَ تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan
kezhaliman atas diriku, dan aku menjadikan kezhaliman itu haram juga di antara
kalian. Oleh karena itu, jangan kalian saling berbuat zhalim.” (HR.
Muslim)
Ikhwatal
Islam,
Mempersekutukan
Allah adalah tindak kezhaliman, bahkan merupakan kezhaliman yang paling besar,
إنَّ
الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar.”
Ikhwatal
Islam,
Tentu
saja, orang yang melakukan kezhaliman ini, ia berdosa bahkan firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ
يُشْرِكْ
بِاللَّهِ
فَقَدِ
افْتَرَى
إِثْمًا
عَظِيمًا
“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia
telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)
Ikhwatal
Islam,
Bahkan
dosa ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman tentangnya,
إِنَّ
اللَّهَ لَا
يَغْفِرُ
أَنْ
يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ
مَا دُونَ
ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan
Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa: 48)
Ini
tentu membahayakan pelakunya. Selain itu –kaum muslimin rahimakumullah–
ketahuilah bahwa dosa ini pun mengakibatkan banyak kerugian bagi pelakunya.
Ikhwatal
Islam,
Marilah
kita simak beberapa berita yang Allah Tabaraka wa Ta’ala habarkan
di dalam kitab-Nya yang menjelaskan beberapa kerugian bagi pelaku kesyirikan.
Allah
‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Barangsiapa
yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa: 116)
Dalam
ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَلَقَدْ
أُوحِيَ
إِلَيْكَ
وَإِلَى
الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِكَ
لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ
عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan
kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya
akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Az-Zumar: 65).
Dalam
ayatnya yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّهُ
مَنْ
يُشْرِكْ
بِاللَّهِ
فَقَدْ حَرَّمَ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ
النَّارُ
وَمَا
لِلظَّالِمِينَ
مِنْ
أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti
Allah mengharamkan Surga baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada
bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72).
Ikhwatal
Islam,
Tidak
diragukan bahwa seorang yang sesat ia merugi, karena ia tidak sampai kepada
tujuannya. Demikian pula orang yang beramal namun ia menyekutukan Allah Ta’ala
dalam amalnya tersebut, ia telah susuh payah meluangkan waktu, tenaga atau
hartanya namun ternyata amalnya tersebut tidak memberikan faedah sedikitpun
kepadanya, amalnya tersebut tidak menghasilkan balasan kebaikan sedikitpun yang
dapat ia nikmati.
Dan,
demikian pula –tidak diragukan– bahwa merupakan kerugian jika
seseorang diharamkan masuk ke dalam surge, padahal di dalamnya terdapat banyak
kenikmatan yang Allah mensifatinya dengan firman-Nya,
فِيهَا
مَا
تَشْتَهِي
أَنْفُسُكُمْ
وَلَكُمْ
فِيهَا مَا
تَدَّعُونَ
“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan
memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat: 31)
Bahkan,
– ikhwatal Islam– kerugian yang nyata bila seseorang
dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam neraka.
Ikhwatal
Islam,
Bagaimana
tidak merugi, sementara di dalam neraka itu terdapat siksa Allah yang amat
sangat pedih, sebagaimana di gambarkan dalam Alquran dalam beberapa ayat-Nya
misalnya, Allah berfirman,
فَالَّذِينَ
كَفَرُوا
قُطِّعَتْ
لَهُمْ ثِيَابٌ
مِنْ نَارٍ
يُصَبُّ مِنْ
فَوْقِ رُءُوسِهِمُ
الْحَمِيمُ
“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka
pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas
kepala mereka.” (QS. Al-Hajj: 19)
يُصْهَرُ
بِهِ مَا فِي
بُطُونِهِمْ
وَالْجُلُودُ
“Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada
dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).” (QS. Al-Hajj: 20)
وَلَهُمْ
مَقَامِعُ
مِنْ حَدِيدٍ
“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS.
Al-Hajj: 21)
كُلَّمَا
أَرَادُوا
أَنْ
يَخْرُجُوا
مِنْهَا مِنْ
غَمٍّ
أُعِيدُوا
فِيهَا
وَذُوقُوا
عَذَابَ
الْحَرِيقِ
“Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran
kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka
dikatakan): “Rasakanlah adzab yang membakar ini”.” (QS.
Al-Hajj: 22)
كُلَّمَا
نَضِجَتْ
جُلُودُهُمْ
بَدَّلْنَاهُمْ
جُلُودًا
غَيْرَهَا
لِيَذُوقُوا
الْعَذَابَ
“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka
dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab.” (QS.
Al-Nisa’: 56)
فَيَوْمَئِذٍ
لَا
يُعَذِّبُ
عَذَابَهُ أَحَدٌ
“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa
seperti siksa-Nya,” (QS. Al-Fajr: 25).
رَبَّنَا
اصْرِفْ
عَنَّا
عَذَابَ
جَهَنَّمَ
إِنَّ
عَذَابَهَا
كَانَ
غَرَامًا
“Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami,
sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” ( Qs. Al-Furqon :
65)
بَارَكَ
اللهُ لِي
وَلَكُمْ
فِيْمَا
سَمِعْنَا،
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
أَحْمَدُ
رَبِّي
وَأَشْكُرُهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
:
Ibadallah, bertaqwalah kepada Allah di mana
saja kalian berada. Berbekallah kalian dengannya, karena ia adalah sebaik-baik
bekal dalam mengarungi perjalan hidup kita di dunia ini menuju kehidupan abadi
di akhirat kelak.
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ
يَا أُولِي
الْأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Demikianlah Allah berpesan kepada kita dalam Surat al-Baqarah ayat 197.
Ikhwatal
Islam,
Setelah
Luqman memerintahkan anaknya agar menunaikan Hak Allah Ta’ala
dengan cara meninggalkan perbuatan syirik, lalu dia memerintahkan kepada
anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua.
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
“Dan Kami wasiat kepada manusia, agar berbuat baik kepada
kedua orang tuanya.”
Kemudian,
Dia menjelaskan perkara yang mana hal itu merupakan salah satu sebab terkuat
yang mengharuskan seseorang berbuat baik kepada kedua orang tuanya terutama
adalah kepada ibunya,
حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ
وَهْنًا
عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي
عَامَيْنِ
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.”
Wahai
orang-orang yang telah dilahirkan oleh ibunya… berbuat baiklah kepada orang
tua kalian, terutama ibu kalian, mereka telah berjasa banyak kepada kalian;
mereka mengandung kalian dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. Mereka
telah mengandung kalian untuk waktu yang tidak singkat, ibu kalian telah
mengandung kalian dengan susah payah, dan melahirkan kalian dengan susah payah
(pula) dengan perjuangan yang luar biasa, mereka telah memberikan asupan
terbaik kepada kalian berupa air susu yang Allah karuniakan kepadanya. Mereka
telah menjaga kalian, pagi, siang, sore dan malam. Bahkan, mereka-ibu-ibu
kalian sering kali harus bergadang di tengah malam demi kalian. Dan seabreg
jasa kebaikan lainnya yang ia berikan kepada kalian yang sungguh amat besar
lagi amat banyak untuk disebutkan.
Ingat
lah bahwa kesemuanya itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala pada
asalnya,
وَمَا
بِكُمْ مِنْ
نِعْمَةٍ
فَمِنَ
اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari
Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl ayat 53).
Oleh
karena itu, bersyukurlah kepada Allah, dengan melakukan ibadah kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dengan menunaikan hak-hak-Nya dan
tidak menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya. Demikian juga,
hendaklah anda bersyukur kepada dua ibu bapak anda, karena mereka menjadi sebab
atau perantara sampainya nikmat Allah kepada anda.
Ikhwatal
Islam,
Adapun
cara Anda bersyukur kepada mereka-kedua orang tua Anda –di antaranya
adalah- dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan
yang santun, mendoakan kebaikan untuk mereka, bersikap rendah hati kepada
mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka nafkah, dan menjauhi
perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan
perbuatan.
Itu
adalah pesan Allah kepada kita di mana kita akan dimintai pertanggungjawabannya
di akhirat kelak, apakah kita telah melaksanakannya, lalu Allah akan memberi
kita balasan yang berlipat ganda, atau apakah sebaliknya, kita menyia-nyiakan,
lalu Allah menyiksa kita dengan siksaan yang sangat buruk. Na’udzubillahi
mindzalik. Allah berfirman,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu.”
Ikhwatal
Islam,
Meskipun
Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita agar berbuat baik kepada
orang tua, yang berkonsekwensi pada mentaati perintah orang tua kita. Namun,
Allah memberikan batasan dalam firman-Nya,
وَإِنْ
جَاهَدَاكَ
عَلَى أَنْ
تُشْرِكَ بِي
مَا لَيْسَ
لَكَ بِهِ
عِلْمٌ فَلَا
تُطِعْهُمَا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan
Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mematuhi keduanya.”
Ikhwatal
Islam,
Jadi,
apabila orang tua kita menyuruh kita atau bahkan mamaksa kita untuk melakukan
kemaksiatan atau kesyirikan yang mana ini adalah kemaksiatan kepada Allah yang
terbesar, maka kita dilarang oleh Allah mematuhi kedua orang tua kita. Dan,
tidaklah dikatakan bahwa ketidakpatuhan kita tersebut merupakan kedurhakaan
kepada orang tua. Oleh karenanya, janganlah sekali-kali kita mengira bahwa
kepatuhan kita kepada orang tua atas perintahnya untuk melakukan kemaksiatan
kepada Allah, melakukan kesyirikan kepada Allah termasuk berbuat baik kepada
keduanya; sebab hak Allah harus lebih diutamakan atas semua orang, dan tidak
ada kepatuhan kepada makhluq dalam kemaksiatan terhadap kholiq, Allah ‘Azza
wa Jalla.
Ikhwatal
Islam,
Meski
demikian, hal ini bukan merupakan penghalang bagi kita untuk tetap berbuat baik
kepada orang tua kita. Oleh karenanya, Allah kemudian berfirman,
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan
pergaulilah keduanya(kedua orang tua kita) di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka
Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ikhwatal
Islam,
Selanjutnya
Luqman memberi nasehat kepada anaknya beberapa perkata ; yaitu :
1. Mengingatkannya akan adanya balasan Allah atas amal yang
dilakukan oleh hambanya seberapapun besar kecilnya amal tersebut.
2. Luqman memerintahkan kepada anaknya agar mendirikan sholat,
memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, serta bersabar
terhadap apa yang menimpanya.
3. Luqman melarang anaknya agar tidak memalingkan mukanya dari
manusia (karena sombong)
4.
Luqman melarang anaknya agar dia tidak berjalan di muka bumi dengan angkuh,
dengan sombong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha
Pemberi nikmat, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.
5.
Luqman mengingatkan anaknya bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong
lagi membanggakan diri.
6.
Luqman memerintahkan anaknya agar sederhana dalam berjalan (berjalan dengan
tawadhu'(merendahkan diri), berjalan dengan tenang.
7.
Luqman memerintahkan anaknya agar melunakkan suaranya saat berbicara sebagai
etika terhadap orang lain dan Allah Ta’ala.
Ikhwatal
Islam,
Itulah
beberapa wasiat Luqman, seorang hamba Allah yang shaleh yang telah diberi
kenikmatan berupa “Hikmah” oleh Allah yang Allah berikan kepada
siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah
menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa
yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari
firman Allah).” (QS. Al-baqoroh: 269).
Semoga
kita dapat mengambil pelajarannya.
Ikhwatal
Islam, rahimakumullah
Ketahuilah
bahwa salah sutu perkara yang dianjurkan kepada kita -ummat nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam– adalah memperbanyak shalawat untuk nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jumat, di hari yang
kita tengah berada di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ
مِنْ
أَفْضَلِ
أَيَّامِكُمْ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ
فَأَكْثِرُوا
عَلَىَّ مِنَ
الصَّلاَةِ
فِيهِ
فَإِنَّ
صَلاَتَكُمْ
مَعْرُوضَةٌ
عَلَىَّ
“Sesungguhnya di antara hari yang paling utama adalah hari
Jumat, karena itu perbanyaklah membaca shalawat untukku. Sesungguhnya shalawat
kalian ditampakkan kepadaku. (HR. Abu Dawud)
Oleh
karena itu, khotib mengajak diri khotib pribadi dan jamaah sekalian, marilah
kita perbanyak sholawat kita kepada nabi Muhamammad shallallahu
‘alaihi wa sallam di hari yang utama ini.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا تَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
اللهم
افتح بيننا
وبين قومنا
بالحق وأنت
خير الفاتحين.
اللهم
إنا نسألك
علما نافعا
ورزقا طيبا
وعملا متقبلا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و َمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
Sumber:
al-sofwah.or.id