Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابٌ، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَشُكْرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الصِحَّةُ وَالشَّبَابُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيْعُ الحِسَابِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَهَى عَنِ الفُسُوْقِ وَالسِّبَابِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي النُّهَى وَالأَلْبَابِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَأُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهُ، قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
Masa
muda adalah masa energik, masa produktif, masa untuk merasakan kelezatan
ibadah. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Aash radhiallahu
‘anhu ia berkata,
قَالَ
لِي رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
“أَلَمْ
أُخْبَرْ أَنَّكَ
تَصُومُ
النَّهَارَ
وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟
” قُلْتُ:
بَلَى، قَالَ:
“فَلَا تَفْعَلْ
نَمْ وَقُمْ
وَصُمْ
وَأَفْطِرْ،
فَإِنَّ
لِجَسَدِكَ
عَلَيْكَ
حَقًّا، وَإِنَّ
لِزَوْرِكَ
عَلَيْكَ
حَقًّا،
وَإِنَّ لِزَوْجَتِكَ
عَلَيْكَ
حَقًّا
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata kepadaku: “Bukankah aku dikabarkan bahwasanya
engkau (senantiasa) berpuasa (sunnah) di siang hari dan engkau sholat malam
suntuk?”
Aku
(Abdullah bin Amr) berkata: “Benar”.
Beliau
berkata, “Janganlah kau lakukan. Bangun, sholat malam-lah dan tidurlah!
Berpuasa dan berbukalah! Karena sesungguhnya tubuhmu punya hak yang harus kau
tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan istrimu punya hak yang
harus kau tunaikan.”
Sejarah
telah mengabadikan sikap-sikap hebat para pemuda yang mengenal Rab mereka,
berpegang teguh dengan agama mereka, maka Alquran pun mengabadikan kenangan
mereka. Allah berfirman tentang Ibrahim ‘alaihissalam:
قَالُوا
سَمِعْنَا
فَتًى
يَذْكُرُهُمْ
يُقَالُ لَهُ
إِبْرَاهِيمُ
“Mereka (para penyembah berhala) berkata: “Kami
dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama
Ibrahim”. (QS. Al-Anbiyaa: 60).
Allah
berfirman tentang para pemuda Ashabul Kahfi:
إِنَّهُمْ
فِتْيَةٌ
آمَنُوا
بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ
هُدًى (١٣)وَرَبَطْنَا
عَلَى
قُلُوبِهِمْ
إِذْ قَامُوا
فَقَالُوا
رَبُّنَا رَبُّ
السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضِ
لَنْ نَدْعُوَ
مِنْ دُونِهِ
إِلَهًا
لَقَدْ
قُلْنَا إِذًا
شَطَطًا (١٤)
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman
kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami
meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata,
“Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak
menyeru Tuhan selain Dia. Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan
Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al-Kahfi 13-14).
Para
pemuda adalah kekuatan umat, harapan masa depan, mereka memiliki kedudukan
dalam Islam. Dan diantara 7 golongan yang dinaungi oleh Allah di bawah
naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, adalah
–sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam-:
شَابٌّ
نَشَأَ فِي
عِبَادَةِ
اللهِ
“Pemuda yang tumbuh di atas ibadah kepada Allah.”
Masa
muda adalah pancaran sinar yang mempengaruhi masyarakat, adalah tekad dan
kekuatan, semangat dan darah muda, yang sifat-sifat ini mengharuskan seorang
pemuda untuk mengatur kehidupannya dengan kepemimpinan yang dibangun di atas
pribadi yang bijak. Mengontrol jiwa dan mengekang hawa nafsunya, serta
mengarahkan jiwanya kepada kebaikan dan kemenangan. Pribadi yang bijak yang
bisa menggariskan tujuan-tujuan yang mengarahkan ambisinya, sehingga
mengangkatnya ke tangga kejayaan, menjadikannya berperan dalam kehidupan dan
memiliki visi di atas muka bumi.
Jika
kehidupan pemuda hampa dari visi dan tujuan maka jadilah kehidupannya tanpa
arti, perhatiannya menjadi kurang.
وَمَا
هَذِهِ
الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
إِلا لَهْوٌ
وَلَعِبٌ
وَإِنَّ
الدَّارَ
الآخِرَةَ
لَهِيَ
الْحَيَوَانُ
لَوْ كَانُوا
يَعْلَمُونَ (٦٤)
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau
dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabuut: 64).
Waktu
merupakan aset termahal yang dimiliki oleh para pemuda dalam kehidupannya.
Dalam waktu, seorang pemuda menanamkan harapannya dan merealisasikan tujuannya.
Waktunya diisi dengan ilmu yang bermanfaat, dengan amal sholeh, dengan ibadah
dan ketaatan, disertai wawasan yang bermanfaat, dan dalam visi-visi yang
membuahkan hasil dan produktivitas yang bermanfaat, dan amalan-amalan yang
meluruskan tingkah lakunya dan mengangkat kehidupannya. Waktu diisi dengan
keahlian-keahlian yang mengembangkan bakatnya dan pekerjaan yang membangun masa
depannya.
Jika
waktu menjadi kosong dari visi dan tujuan yang tinggi, maka akan masuklah
pemikiran-pemikiran yang keliru, maka tersibukanlah sang pemuda dengan
perkara-perkara yang sia-sia, dengan memikirkan perkara-perkara yang rendahan,
serta semakin menguat dorongan untuk menyimpang.
Waktu
kosong adalah tanah yang subur untuk menabur benih-benih kotoran dan kesesatan.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
وَالنَّفْسُ
إِنْ لَمْ
تُشْغِلْهَا
بِالْحَقِّ
شَغَلَتْكَ
بِالْبَاطِلِ
“Dan jika engkau tidak menyibukkan jiwamu dengan
kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”
Di
antara hal yang berbahaya adalah membuang-buang waktu untuk browsing
halaman-halaman situs-situs internet dan media sosial yang merusak akidah,
mempengaruhi tingkah laku, menggoncang akhlak, serta melemahkan hubungan tali
kekeluargaan, dan mengantarkan pada sikap menyendiri dan menjauh dari
masyarakat. Dan dampak dari hal ini sudah jelas dan diketahui.
Pemuda
menghadapi makar yang dihembuskan oleh musuh-musuh, dengan menampilkan umbaran
syahwat-syahwat yang haram, serta pengobaran gejolak syahwat yang merusak
karakter pribadinya, menyia-nyiakan masa depannya, menghancurkan masa mudanya,
dan terhamparkannya sang pemuda di medan kebingungan dan kesesatan. Serta
memalingkannya dari perhatian terhadap visi dan tujuan-tujuan yang tinggi, dari
perkara-perkara kemasyarakatan dan urusan umat, memalingkannya dari mentarbiyah
dirinya dengan Alquran dan pengisian hatinya dengan keimanan serta menempuh
jalan orang-orang sholeh, demikian juga memalingkannya dari melampiaskan
syahwatnya dengan cara-cara yang disyariatkan yang mewujudkan kebahagiaannya
dan kemuliaannya.
Pernikahan
bagi pemuda merupakan kebutuhan secara fitrah, merupakan ketenteraman jiwa, dan
benteng penjaga akhlak. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu maka
menikahlah, dan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena puasa
menjadi perisai baginya.”
Menunda-nunda
pernikahan –padahal sudah mampu- menimbulkan dampak-dampak buruk yang
berkaitan dengan perangai, psikologi, dan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوه تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
“Jika
datang pada kalian lelaki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya maka
nikahkanlah ia, jika kalian tidak melakukannya maka akan timbul fitnah di atas
muka bumi dan kerusakan yang besar.”
Pemuda
butuh untuk menimbang antara akal dan perasaannya dalam menghadapi kehidupan.
Masa muda digoyang oleh perasaan-perasaan yang menggeret. Bisa jadi
mempengaruhi masa depannya jika tidak tunduk di bawah cahaya Alquran.
Menjadikan akal dan perasaan -yang bergelora dan tidak mengerti- sebagai
penentu keputusan, bisa mengantarkan sang pemuda kepada sikap ekstrim
(berlebih-lebihan) atau sebaliknya atau mengantarkan kepada penyimpangan.
Gejolak
perasaan cinta para pemuda hendaknya dihadapi dengan penuh perhatian dalam
keluarga, memberikan kasih sayang dan kehangatan terhadap mereka, serta
mendidik mereka untuk menjaga diri, menundukan pandangan, dan malu kepada
Allah.
Dari
Jarir bin Abdillah radhiallahu
‘anhu ia berkata,
سَأَلْتُ
رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنْ
نَظْرَةِ
الْفُجَاءَةِ،
فَأَمَرَنِي
أَنْ
أَصْرِفَ
بَصَرِي
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang pandangan tiba-tiba, maka Rasulullah memerintahkan aku untuk
memalingkan pandanganku.” (HR. at-Tirmidzi).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
يا
عليُّ لَا
تُتْبِعِ
النَّظْرَةَ
النَّظْرَةَ،
فَإِنَّ لَكَ
الْأُولَى،
وَلَيْسَتْ
لَكَ
الْآخِرَةَ
“Wahai Ali, janganlah engkau mengikutkan pandangan dengan
pandangan yang lain, sesungguhnya boleh bagimu pandangan pertama, dan tidak
boleh bagimu pandangan berikutnya.” (HR. Abu Dawud).
Di
antara penopang pemuda dalam membangun kepribadiannya yang kuat adalah hubungan
yang erat dengan keluarganya. Hal ini merupakan benteng baginya dan tempat
perlindungan baginya serta tempat bernaungnya yang menyediakan ketentraman hati
dan ketenangan, serta rileksnya pikiran. Keluarga merupakan tempat memperoleh
nasehat dan arahan, sarapan rohani, serta pengokohan kepribadian.
Hilangnya
hubungan yang erat dengan keluarga atau menyepelekannya serta lemahnya hubungan
para ayah dengan anak-anak menjadikan para pemuda terdampar di tempat-tempat
asuhan yang tidak jelas, gelombang-gelombang keras yang menghantam akal pikiran
mereka, yang bisa jadi menjerumuskan mereka ke lembah-lembah yang jauh.
Nasehat
dan pengarahan merupakan makanan rohani dalam kehidupan pemuda, pembawa
kebahagiaan baginya, dan Alquran telah menekankan hal ini karena urgensinya
dalam membina kepribadiannya, serta pengamanan langkah perjalanannya di dunia.
Dalam wasiat Luqman kepada anaknya:
وَإِذْ
قَالَ
لُقْمَانُ
لابْنِهِ
وَهُوَ يَعِظُهُ
يَا بُنَيَّ
لا تُشْرِكْ
بِاللَّهِ
إِنَّ
الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ (١٣)
Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar”. (QS. Luqman: 13).
Luqman
juga berkata:
يَا
بُنَيَّ
إِنَّهَا
إِنْ تَكُ
مِثْقَالَ حَبَّةٍ
مِنْ
خَرْدَلٍ
فَتَكُنْ فِي
صَخْرَةٍ
أَوْ فِي
السَّمَاوَاتِ
أَوْ فِي الأرْضِ
يَأْتِ بِهَا
اللَّهُ
إِنَّ
اللَّهَ لَطِيفٌ
خَبِيرٌ (١٦)يَا
بُنَيَّ
أَقِمِ
الصَّلاةَ
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ
وَانْهَ عَنِ
الْمُنْكَرِ
وَاصْبِرْ
عَلَى مَا
أَصَابَكَ
إِنَّ ذَلِكَ
مِنْ عَزْمِ
الأمُورِ (١٧)
(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada
(sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit
atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah
shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
(QS Luqman : 16-17)
Bekerjanya
seorang pemuda dengan berusaha di penjuru bumi merupakan harga diri dan
kemuliaan bagi keluarganya, dan ini merupakan hasil kerjaan yang terbaik.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam ditanya:
أَيُّ
الْكَسْبِ
أَطْيَبُ؟
قَالَ: عَمَلُ
الرَّجُلِ
بِيَدِهِ،
وَكُلُّ
بَيْعٍ
مَبْرُورٍ
“Perkerjaan apa yang terbaik?”, Nabi berkata,
“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan semua transaksi yang
baik” (HR. al-Bazzar dan dishahihkan oleh Al-Hakim).
Dan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menjadikan pekerjaan mengumpulkan kayu
bakar lalu menjualnya itu lebih baik bagi seseorang dari pada meminta-minta
kepada manusia, diberikan atau tidak diberikan oleh manusia.
Umar
radhiallahu ‘anhu
berkata,
أَرَى
الْفَتَى
فَيُعْجِبُنِي،
فَإِذَا قِيْلَ
لاَ حِرْفَةَ
لَهُ سَقَطَ
مِنْ عَيْنِي
“Aku melihat seorang pemuda maka menjadikan aku kagum,
namun ketika dikatakan bahwasanya ia tidak memiliki pekerjaan maka jatuhlah ia
dari mataku.”
Beliau
juga berkata:
لاَ
يَقْعُدَنَّ
أَحَدُكُمْ
عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ
وَهُوَ
يَقُوْلُ :
اللَّهُمَّ
ارْزُقْنِي،
فَقَدْ عَلِمْتُمْ
أَنَّ
السَّمَاءَ
لاَ تُمْطِرُ
ذَهَبًا
وَلاَ
فِضَّةً
“Janganlah sekali-sekali seseorang dari kalian duduk saja
tidak mencari rezeki lalu berkata, “Ya Allah berilah rezeki
kepadaku”. Padahal kalian telah tahu bahwasanya langit tidaklah
menurunkan hujan emas dan hujan perak.”
Seorang
pemuda yang semangat akan menjauhi pengangguran, ia menerima pekerjaan apapun
jenisnya tanpa merendahkan keahlian tertentu atau pekerjaan tertentu. Dan masyarakat
dituntut untuk memudahkan perkerjaan yang sesuai serta jalan-jalan mata
pencaharian, sehingga menjadikan pemuda salah satu unsur yang bermanfaat bagi
dirinya sendiri dan juga bagi masyarakat.
Hendaknya
seorang pemuda dalam kondisi diam dan berpindah, dalam kondisi muqim maupun
safar, agar tetap bangga dengan agamanya, merasa jaya dengan kepribadiannya
(sebagai seorang muslim), merasa tinggi dengan aqidah Islamnya, dan tidak malu
untuk menampakkannya, serta meninggalkan ikatan taqlid dan ikut-ikutan. Allah
berfirman,
وَلِلَّهِ
الْعِزَّةُ
وَلِرَسُولِهِ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya
dan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8).
Sikap
tenang pada diri seorang pemuda adalah perangai yang terpuji, tabiat yang bisa
diusahakan, serta bentuk kekuatan yang terbina dari akal yang kuat. Adapun
sikap keras dalam bermuamalah, mudah emosional dalam tingkah laku, mudah
membalas dendam dengan ngawur, maka ini semua merupakan sikap-sikap yang
berbahaya, dan juga merupakan sikap-sikap kesetanan. Dampaknya berbahaya bagi
para pemuda dan menyia-nyaiakan energi mereka, dan bisa jadi menjadi bumerang
bagi mereka.
Hendaknya
para pemuda di masa mudanya dan masa energik untuk mengambil pelajaran
sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan, perubahan-perubahan kondisi, serta
berlalunya hari-hari. Hendaknya ia menggunakan kesempatan masa mudanya sebelum
tiba masa tuanya, masa sehatnya sebelum tiba masa sakitnya. Jika tidak, maka ia
akan terpedaya dengan kondisi mudanya, karena masa muda akan diakhiri dengan
masa tua, dan kekuatan ujungnya adalah kelemahan, serta kesehatan akan
dihancurkan dengan sakit. Allah berfirman,
اللَّهُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ
جَعَلَ مِنْ
بَعْدِ
ضَعْفٍ
قُوَّةً ثُمَّ
جَعَلَ مِنْ
بَعْدِ
قُوَّةٍ
ضَعْفًا
وَشَيْبَةً
يَخْلُقُ مَا
يَشَاءُ وَهُوَ
الْعَلِيمُ
الْقَدِيرُ (٥٤)
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah,
kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian
Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha
Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54).
بَارَكَ
اللهُ لِي
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ،
وَنَفَعْنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ العَظِيْمِ
الجَلِيْلِ
لِي
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ العَا
لَمِيْنَ،
اَلرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ،
مَالِكِ يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ إِلَهُ
الأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا
وَنَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَلِيُّ
المُتَّقِيْنَ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَأُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ، قَالَ
تَعَالَى:
وَاتَّقُوا
اللَّهَ ۖ
وَيُعَلِّمُكُمُ
اللَّهُ.
Seorang
pemuda muslim, hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah dan kecintaan
kepada Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Meskipun mungkin ia tenggelam dalam
sebagian kemaksiatan akan tetapi hatinya tetap tergerak merasa takut kepada
Allah, dan menyesal atas dosa. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ
الْعَبْدَ
إِذَا أخْطَأ
خَطِيئَةً، نَكَتَتْ
فِي قَلْبهِ
نُكْتَةٌ
سَوْدَاءُ،
فَإِنْ هُوَ
نَزَعَ
وَاسْتَغْفَر
وَتَابَ،
صُقِلَتْ،
فَإنْ هُوَ
عَادَ، زِيدَ
فِيهَا
حَتَّى
تَعْلُوَ
قَلْبَهُ فَهُوَ
“الرَّانُ”
الَّذِي
ذَكَرَ الله
{كَلاَّ بَلْ
رَانَ عَلَى
قُلُوبِهِمْ
مَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ}
“Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan sebuah dosa
maka terkotori hatinya dengan sebuah titik hitam. Jika ia meninggalkannya dan
beristighfar serta bertaubat maka terkikislah titik hitam tersebut. Jika ia
kembali maka ditambahkanlah titik hitam di hatinya hingga titik-titik hitam tersebut
mendominasi hatinya. Dan itulah “raan” (penutup hati) yang Allah
sebutkan dalam firman-Nya:
كَلا
بَلْ رَانَ
عَلَى
قُلُوبِهِمْ
مَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ (١٤)
Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.
(QS Al-Muthoffifin : 14)
Sebagian
pemuda ada yang mengetahui kesalahannya, mengetahui keharaman apa yang ia
lakukan, akan tetapi ia mengakhirkan dan menunda-nunda taubatnya. Dan
menunda-nunda -yaitu ia berkata, “Aku nanti akan kembali, aku nanti akan
bertaubat”- merupakan penghalang terbesar untuk bertaubat, dan kata
“nanti” atau “akan” merupakan salah satu pasukan iblis.
Terus
menerusnya sebagian pemuda dalam dosa-dosa merupakan perkara yang sangat
berbahaya, keburukan yang besar. Seorang yang berakal khawatir dengan akibat
dosa-dosa, sesungguhnya nyala apinya tersembunyi dibalik debu. Bisa jadi
hukuman datang terlambat, dan bisa jadi siksaan datang tiba-tiba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ
اللَّهَ
يُمْلِي
لِلظَّالِمِ،
فَإِذَا
أَخَذَهُ
لَمْ
يُفْلِتْهُ”
ثُمَّ قَرَأَ:
{وَكَذَلِكَ
أَخْذُ
رَبِّكَ
إِذَا أَخَذَ
الْقُرَى
وَهِيَ
ظَالِمَةٌ إن
أخذه أليم شديد}
“Sesungguhnya Allah mengulur (menunda siksaan) bagi orang
yang berbuat zalim. Maka jika Allah mengadzabnya maka ia tidak akan lolos”
Lalu Nabi membaca firman Allah:
وَكَذَلِكَ
أَخْذُ
رَبِّكَ
إِذَا أَخَذَ
الْقُرَى
وَهِيَ
ظَالِمَةٌ
إِنَّ
أَخْذَهُ أَلِيمٌ
شَدِيدٌ (١٠٢)
“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk
negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih
lagi keras.” (QS. Huud: 102).
Dan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا
رَأَيْتَ
اللَّهَ
عَزَّ
وَجَلَّ يُعْطِي
الْعَبْدَ
فِي
الدُّنْيَا
عَلَى مَعَاصِيهِ
مَا يُحِبُّ
فَإِنَّمَا
هُوَ اسْتِدْرَاجٌ،
ثُمَّ تَلا:
{فَلَمَّا
نَسُوا مَا
ذُكِّرُوا
بِهِ
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ
أَبْوَابَ
كُلِّ شَيْءٍ
حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا
بِمَا
أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً
فَإِذَا هُمْ
مُبْلِسُونَ }
“Jika engkau melihat Allah Azza wa Jalla memberikan kepada seorang hamba
dunia yang ia sukai padahal ia dalam kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah, maka
itu adalah istidroj”. Lalu Nabi membaca firman Allah:
فَلَمَّا
نَسُوا مَا
ذُكِّرُوا
بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
أَبْوَابَ
كُلِّ شَيْءٍ
حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا
بِمَا
أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً
فَإِذَا هُمْ
مُبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah
diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk
mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan
kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu
mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).
ألا
وصلوا – عباد
الله – على
رسول الهدى،
فقد أمركم
الله بذلك في
كتابه، فقال:
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
ۚ يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى طَاعَتِكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَ الإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّق
جَمِيْعَ
وُلَاةِ أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِكُلِّ
قَوْلٍ سَدِيْدٍ
وَعَمَلٍ
رَشِيْدٍ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ
وَمَا
قَرَّبَ
إِلَيْهِ
مِنْ قَوْلٍ
وَعَمَلٍ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
النَّارِ
وَمَا
قَرَّبَ
إِلَيْهِ
مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ الخَيْرِ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ،
مَا عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ،
وَنَعُوْذُبِكَ
مِنَ
الشَّرِّ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ،
مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا الَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا اَلَّتِيْ
هِيَ
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ
خَيْرٍ،
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
إِمَامَنَا
وَوَلِّيَ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْهُ
لِهُدَاكَ،
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
وَوَفِّقْ
نَائِبِيْهِ
لِكُلِّ خَيْرٍ
يَا أَرْحَمُ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ أُمُوْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَتَحْكِيْمِ
شَرْعِكَ يَا
أَرْحَمُ
الرَاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلًّا
لِلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ
رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ ۚ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ.
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Bari ats-Tsubaity (Imam dan Khotib Masjid Nabawi)
Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
www.KhotbahJumat.com