Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أَمَرَ بِدُعَائِهِ وَوَعَدَ أَنْ يُجِبَ مِنْ دُعَاءِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَمُصْطَفَاهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى،
Ibadallah,
Ketahuilah,
bahwa doa termasuk ibadah yang paling agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
الدُّعَاءُ
هُوَ
الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.”
Allah
Ta’ala
berfirman,
فَادْعُوا
اللَّهَ
مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya,
meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Al-Mukmin: 14).
Yakni
persembahkanlah doa itu hanya kepada Allah. Ayat ini menjelaskan bahwa doa
merupakan bentuk ibadah, dan ibadah harus semata-mata ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla tidak
kepada selain-Nya.
وَمَنْ
يَدْعُ مَعَ
اللَّهِ
إِلَهاً
آخَرَ لا
بُرْهَانَ
لَهُ بِهِ
فَإِنَّمَا
حِسَابُهُ
عِنْدَ
رَبِّهِ
إِنَّهُ لا
يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping
Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya
perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada
beruntung.” (QS. Al-Mukminun: 114).
Barangsiapa
yang berdoa kepada para wali, orang-orang shaleh, orang-orang yang telah wafat,
kepada jin, dll. Maka dia telah berbuat syirik, menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla.
Mereka menjadi kufur lantaran hal itu. Karena berdoa kepada selain Allah,
berarti dia telah beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَقَالَ
رَبُّكُمْ
ادْعُونِي
أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ
الَّذِينَ
يَسْتَكْبِرُونَ
عَنْ
عِبَادَتِي
Dan
Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku…” (QS. Al-Mukmin: 60).
Maksud
dari “dari menyembah-Ku” Allah menyebut doa dengan ibadah, lalu Dia
lanjutkan ayat tersebut dengan,
إِنَّ
الَّذِينَ
يَسْتَكْبِرُونَ
عَنْ عِبَادَتِي
سَيَدْخُلُونَ
جَهَنَّمَ
دَاخِرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS.
Al-Mukmin: 60).
Dan
ada orang yang sombong dari beribadah kepada Allah itu mengatakan, “Tidak
ada manfaatnya berdoa”. Mereka mengucapkan hal itu dengan sombong. Hal
ini adalah sebesar-besarnya bentuk penentangan dan kekufuran, wal
‘iyadzubillah. Kepada orang ini Allah katakan bahwa mereka akan masuk ke
dalam Jahannam dalam keadaan hina dina. Dan Allah katakana,
فَبِئْسَ
مَثْوَى
الْمُتَكَبِّرِينَ
“Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi
orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az-Zumar: 72).
Dari
ayat ini bisa kita pahami bahwa orang-orang yang sombong dan orang-orang
musyrik itu tempatnya sama. Mereka semua adalah ahli neraka yang diharamkan
dari surga.
Wajib
bagi seorang muslim, berdoa kepada Rabbnya di setiap waktu dan kesempatan. Dan
hendaknya mereka merendahkan diri di hadapa Allah sebagaimana para nabi dan
rasul, sehingga Allah kabulkan doa-doa mereka. Hal itu telah Allah jelaskan
dalam surat al-Anbiya.
Para
nabi dengan kedudukan mulia yang mereka miliki dan kedekatan mereka dengan
Allah, mereka pun tetap butuh untuk berdoa kepada Allah. Bagaimana lagi kiranya
orang selain para nabi? Apakah pantas mereka mengatakan ‘doa itu tidak
ada gunanya?’ atau mereka mengatakan, ‘jika sesuatu itu ditakdirkan
terjadi, maka dia akan terjadi. Kalau tidak ditakdirkan, ya tidak. Jadi doa itu
tidak bermanfaat’. Wal ‘iyadzubillah. Ini bentuk mendebat Allah
dengan kebatilan.
حُجَّتُهُمْ
دَاحِضَةٌ
عِنْدَ
رَبِّهِمْ
“maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan
mereka.” (QS. Asy-Syura: 16).
Karena
Dzat yang doa itu ditujukan, dan Dzat yang menetapkan takdir adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
karena itu tidak bertentangan antara doa dengan takdir. Wajib bagi seorang
muslim untuk mengusahakan suatu sebab. Dan doa adalah di antara sebab yang bisa
mewujudkan sesuatu. Doa tidak bertentangan dengan takdir. Ia adalah usaha yang
bermanfaat. Demikian juga mengimani qadha dan qadar. Inilah sikap semestinya
dari seorang mukmin.
Ibadallah,
Doa
itu senantiasa dibutuhkan. Namun memang ada waktu-waktu yang utama dan
ditekankan agar doa itu lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan.
Pertama, berdoa saat mendapatkan keadaan yang
amat sulit.
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62).
Dalam
keadaan yang sangat dulit, Allah akan mengijabahi doa seorang hamba
sampai-sampai walaupun yang tertimpa keadaan demikian adalah seorang yang kafir
kepada-Nya. Karena orang-orang kafir di masa jahiliyah atau orang-orang yang
menyekutukan Allah mereka akan berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan
tatkala ditimpa kesulitan.
وَإِذَا
غَشِيَهُمْ
مَوْجٌ
كَالظُّلَلِ
دَعَوُا
اللَّهَ
مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ
“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti
gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya…” (QS. Luqman: 32).
Saat
mereka dalam keadan ditimpa musibah, mereka mengetahui tidak ada yang bisa
menyelamatkan mereka dari musibah tersebut kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Patung-patung yang mereka semba tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari
musibah dan bencana yang menimpa mereka. Karena itulah, mereka hanya berdoa
kepada Allah semata dan Allah kabulkan doa mereka. Ini adalah salah satu bentuk
kasih saying Allah Subhanahu
wa Ta’ala terhadap para hamba-Nya.
Kedua, doa di saat sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
أَمَّا
الرُّكُوعُ
فَعَظِّمُوا
فِيهِ الرَّبَّ،
وَأَمَّا
السُّجُودُ
فَأكثروا فِيه
من
الدُّعَاءِ
فَقَمِنٌ
أَنْ
يُسْتَجَابَ
لَكُمْ
“Adapun saat rukuk, maka agungkanlah Allah. Dan saat
sujud, perbanyaklah doa karena pantas doa kalian dikabulkan.”
Dan
beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
أَقْرَبُ
مَا يَكُونُ
الْعَبْدُ
مِنْ رَبِّهِ
وَهُوَ
سَاجِدٌ
“Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah
saat dia sujud.”
Karena
itu, perbanyaklah doa ketika sujud, baik saat shalat wajib maupun shalat
sunnat.
Ketiga, di sepertiga malam terakhir. Hal ini
sebagaimana dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
يَنْزِلُ
رَبُّنَا
إِلَى
سَّمَاءِ
الدُّنْيَا
كُلَّ
لَيْلَةٍ
حِينَ
يَبْقَى
ثُلُثُ اللَّيْلِ
الآخِرُ
فيَقُولُ
مَنْ يَدْعُونِي
فَأَسْتَجِيبَ
لَهُ مَنْ
يَسْتَغْفِرُنِي
فَأَغْفِرَ
لَهُ مَنْ
يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ
“Rabb kita turun kelangit dunia pada tiap malam di waktu
sepertiga malam akhir, dan Rabb kita berseru barangsiapa yang berdoa kepada-Ku
maka akan aku kabulkan baginya, barangsiapa yang memohon ampun pada maka aku
akan mengampuninya, dan barangsiapa yang meminta-Ku maka akan Aku beri.”
Keempat,
pada hari Jumat. Sesungguhnya pada hari Jumat ada suatu waktu yang seseorang
berdoa pada waktu tersebut pasti Allah Subhanahu
wa Ta’ala kabulkan. Waktu mustajab di hari Jumat ini
dimungkinkan ada di sepanjang waktu Jumat tersebut. Tidak ditentukan waktunya
spesifik agar seorang muslim bersungguh-sungguh dalam berdoa di sepanjang hari
Jumat tersebut. Sehingga ia semakin banyak mengamalkan amalan kebaikan dan
semakin bertambah pula pahala untuknya.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan bahwa waktu dan keadaan ini memiliki
keistimewaan, namun berdoa tetap dianjurkan dalam keadaan apapun dan waktu
kapanpun. Allah Ta’ala
berfirman tentang para nabinya.
إِنَّهُمْ
كَانُوا
يُسَارِعُونَ
فِي الْخَيْرَاتِ
وَيَدْعُونَنَا
رَغَبًا
وَرَهَبًا ۖ
وَكَانُوا
لَنَا
خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa
kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu
kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).
Seorang
muslim jangan pernah meninggalkan doa.
Doa
itu terbagi dua:
Pertama,
doa ibadah, yaitu memuji Allah atau semua ibadah keapda Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua, doa masalah, yaitu meminta suatu keinginan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
(biasa kita sebut doa). Kedua jenis doa ini terdapat dalam surat Al-Fatihah
yang kita baca setiap kali sholat.
Doa
ibadah tersebut terdapat di awal surat Al-Fatihah berupa pujian dan pengagungan
terhadap Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي قسمين فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ). قَالَ اللَّهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي، فإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). قَالَ اللَّهُ سبحانه وتَعَالَى: أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِي. فإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ الله: مَجَّدَنِي عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ). قَالَ الله: هَذَا لعبدي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“Aku
membagi shalat menjadi dua bagian, untuk-Ku dan untuk hamb-Ku. Apabila hamba-Ku
berkata, ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam’. Allah menjawab,
‘Hamba-Ku memuji-Ku. Apabila hamba-Ku mengatakan, ‘Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang’. Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’.
Apabila hamba tadi berkata, ‘Yang menguasai hari pembalasan’. Allah
menjawab, ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku’. Apabila hamba itu mengatakan,
‘Hanya kepada-Mula kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon
pertolongan’. Allah menjawab, ‘Ini untuk-Ku dan untuk hamba-Ku.
Bagi hamba-Ku apa yang dia pinta’.”
Kemudian
ayat-ayat selanjutnya adalah doa masalah karena berisi permintaan seorang hamba
kepada Allah.
Oleh
karena itu, bersemangatlah untuk berdoa. Semoga Alllah memberi taufik kepada
kita semua dalam shalat-shalat kita dan dalam setiap waktu kita. Kita semua
butuh kepada doa. Lebih dari kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman,
karena kita adalah orang yang fakir di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
أَنْتُمْ
الْفُقَرَاءُ
إِلَى
اللَّهِ
وَاللَّهُ
هُوَ الْغَنِيُّ
الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan
Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha
Terpuji.” (QS. Fathir: 15).
Kita
semua miskin di sisi Allah. Kita sangat butuh kepada-Nya dalam setiap waktu dan
keadaan. Karena itu, teruslah senantiasa berdoa. Berdoa kepada-Nya dengan
menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
وَلِلَّهِ
الأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى
فَادْعُوهُ
بِهَا
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah
kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al-A’raf:
180).
Kita
berdoa dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan isi doa. Wahai ar-Rahman,
rahmatilah aku. Ya Karim, muliakanlah aku. Wahai Yang Maha Dermawan, kasihilah
aku dengan keutamaan dari-Mu. Demikianlah, setiap nama atau sifat-Nya sesuai
dengan isi doa yang dipanjatkan.
Nama-nama
Allah itu banyak. Di antaranya disebutkan di dalam Alquran dan disebutkan pula
dalam Sunnah. Dan di antaranya ada yang belum diajarkan Allah kepada kita.
Karena itulah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa dengan,
أَسْأَلُكَ
بِكُلِّ
اسْمٍ هُوَ
لَكَ سَمَّيْتَ
بِهِ
نَفْسَكَ
أَوْ أَنْزَلْتَهُ
فِي
كِتَابِكَ
أَوْ عَلَّمْتَهُ
أَحَداً مِنْ
خَلْقِكَ
أَوِ
اسْتَأْثَرْتَ
بِهِ فِي
عِلْمِ
الْغَيْبِ
عِنْدَكَ
“Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau
miliki, yang Engkau namai diri-Mu dengan nama-nama tersebut. Atau dengan
nama-nama yang sudah engkau sebutkan dalam kitab-Mu. Atau nama-nama yang Engkau
ajarkan kepada salah seorang dari ciptaan-Mu. Atau nama-nama yang Engkau simpan
dalam ilmu-Mu.”
Seorang
muslim itu adalah mereka yang banyak berdoa kepada Allah. Bertawasul dengan
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha dekat dan
Maha menjawab doa. Dia berfirman,
فَادْعُوا
اللَّهَ
مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ
وَلَوْ
كَرِهَ
الْكَافِرُونَ
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya,
meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Al-Mukmin: 14).
بَارَكَ
اللهُ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ
وَنَفَعْنَا
بِمَا فِيْهِ
مِنَ البَيَانِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
تَعْظِيْمًا
لِشَأْنِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى،
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah,
Perbanyaklah
doa, karena kita saat berada pada masa yang berat. Masa dimana banyak fitnah
berkecamuk. Fitnah yang datang dari orang-orang kafir dan orang-orang yang benci
terhadap Islam. Kita lihat juga saudara-saudara muslim kita ditimpa bencana dan
musibah. Kita berdoa untuk kebaikan kita dan kebaikan mereka agar Allah memberi
jalan keluar untuk kita dan kaum muslimin lainnya.
Umat
Islam itu bagaikan satu jasad, apabila salah satu organ tubuhnya merasakan
sakit, maka bagian tubuh lainnya akan merasa demam dan tidak bisa tidur.
Permisalan orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih saying, dan lemah lembut
di antara mereka, seperti layaknya tubuh yang satu. Apabila salah satu
bagiannya merasakan sakit, maka bagian yang lain pun merasakannya pula.
Bertakwalah
kepada Allah wahai hamba Allah sekalian,
Perbanyaklah
doa dan jangan pernah merasa berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah pasti mengabulkan doa walaupun atas kebijaksanaan-Nya ia tunda
pengabulannya. Allah Ta’ala
berfirman,
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنْ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan
Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan
dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25).
Allah
Jalla wa ‘Ala memuliakan kita lantaran kita banyak berdoa kepada-Nya dan
Dia pula yang berjanji untuk mengabulkan doa. Kita sekarang sangat butuh kepada
berdoa. Berdoa untuk diri kita dan saudara-saudara kita agar Allah mengangkat
musibah yang menimpa mereka lantaran gangguan orang-orang kafir. Tidak ada
tempat berlari dan kembali kecuali hanya kepada Allah.
فَفِرُّوا
إِلَى
اللَّهِ
إِنِّي
لَكُمْ مِنْهُ
نَذِيرٌ
مُبِينٌ
“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah.
Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah
untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50).
Kembalilah
kepada Allah dengan taubat, istighfar, dan doa. Tolonglah saudara-saudara kita
dengan ucapan dan aksi sampai Allah memberikan solusi untuk mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى
الْبِرِّ
وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2).
Selain
itu, perlu diketahui pula bahwa penghalang dikabulkannya doa juga banyak. Di
antara penghalang yang paling besar adalah memakan sesuatu yang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
في
الرَّجُلَ
يُطِيلُ
السَّفَرَ
أَشْعَثَ
أَغْبَرَ
يَمُدُّ
يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ
يَا رَبِّ يَا
رَبِّ
وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ
وَمَشْرَبُهُ
حَرَامٌ
وَمَلْبَسُهُ
حَرَامٌ
وَغُذِىَ
بِالْحَرَامِ
فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ
لِذَلِكَ
“(Kemudian Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menceritakan tentang) seorang laki-laki
yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan
berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a:
“Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang
yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi
makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan
doanya?”
Wajib
bagi seorang muslim untuk memakan makanan yang halal. Memakan makanan yang
haram akan menghalangi terkabulnya doa seseorang. Kalau pintu doa dan pintu
ijabah itu sudah tertutup, apalagi yang bisa kita perbuat?
Sekali
lagi, perbanyaklah berdoa. Perbaikilah makanan kita, mata pencarian kita,
keduanya pun akan memperbaiki doa kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha dekat dan Maha
menjawab doa orang yang berdoa. Dia yang menghilangkan kesulitan tersebut
dengan syarat:
Pertama,
ikhlas dalam berdoa.
فَلا
تَدْعُوا
مَعَ اللَّهِ
أَحَدا
“Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di samping
(menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin: 18).
Kedua,
memakan makanan yang halal dan menjauhkan diri dari yang haram.
Betapa
banyaknya makanan haram pada hari ini dan betapa banyak pula jalan-jalan
mencari rezeki yang haram. Yang keduanya bisa masuk ke dalam kehidupan
seseoran, baik dia sebagai pegawai atau dia berwira usaha. Apabila sesuatu yang
haram masuk kepada seorang muslim dari sisi manapun, maka dia akan menjadi
penyebab terhalangnya doanya. Ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya.
Oleh
karena itu, bertakwalah kepada Allah. Dan ingatlah sebaik-baik ucapan adalah
kalamullah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sementara sejelek-jelek perkara adala sesuatu yang dibuat-buat dalam agama ini.
Dan setiap yang dibuat-buat atau baru dalam agama adalah bid’ah. Setiap
bid’ah adalah penyimpangan dan kesesatan. Hendaknya kita juga senantiasa
bersama jamaah, bersatu, dan tunduk kepada pemerintah muslim.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا)،
اللَّهُمَّ
صلِّ وسلِّم
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
الرَّاشِدِيْنَ،
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِّيْنَ،
أَبِي
بَكْرٍ،
وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اللَّهُمَّ
أَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
دَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
هَذَا
الْبَلَدَ
آمِنًا
مُسْتَقِرًّا
وَسَائِرَ بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
كِفْنَا عَنَّا
بَأْسَ
اَلَّذِيْنَ
كَفَرُوْا
فَأَنْتَ
أَشَدُّ
بَأْسًا
وَأَشَدُّ
تَنْكِيْلًا،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
كَيْدَهُمْ
فِي نُحُوْرِهِمْ
وَكِفْنَا
شُرُوْرَهُمْ،
اَللَّهُمَّ
سَلِّطْ
عَلَيْهِمْ
مَنْ
يَشْغِلُهُمْ
بِأَنْفُسِهِمْ
عَنِ
المُسْلِمِيْنَ
إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٍ،
وَلَا حَوْلَ
وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بِكَ،
عَلَيْكَ
تَوَكَلْنَا
وَإِلَيْكَ
أَنَبْنَا
وَإِلَيْكَ
المَصِيْر،
رَبَّنَا لَا
تَجْعَلْنَا
فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ
كَفَرُوْا وَاغْفِرْ
لَنَا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
أَنْتَ العَزِيْزُ
الحَكِيْمُ،
(رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ)،
اللَّهُمَّ
احْفَظْ
هَذِهِ البِلَادَ
، اللَّهُمَّ
احْفَظْهَا
أَمَنَةً مُسْتَقِرَّةً
مِنْ كُلِّ
سُوْءٍ
وَمَكْرُوْهٍ
وَمِنْ كُلِّ شَرٍّ
وَفِتْنَةٍ،
وَمَنْ كُلِّ
بَلَاءٍ وَمِحْنَةٍ،
اَللَّهُمَّ
احْفَظ
سَائِرَ بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
(رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ)،
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
وُلَاةَ أُمُوْرِنَا
وَجَعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
غَيْرَ ضَالِّيْنَ
وَلَا
مُضِلِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
بِطَانَتَهُمْ
وَأَبْعِدْ
عَنْهُمْ
بِطَانَةَ
السُّوْءِ
وَالمُفْسِدِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَلِّي
عَلَيْنَا
خِيَارَنَا
وَكْفِنَا
شَرَّ
شِرَارَنَا
وَلَا تُؤَاخِذْنَا
بِمَا فَعَلَ
السُّفَهَاءُ
مِنَّا،
وَقِنَا
شَرَّ الفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ.
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
* وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ يَعْلَمُ
مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرَ،
وَاللهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com