Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَإِلَهِيَتِهِ وَأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أُسْرِيَ بِهِ لَيْلاً مِنَ المَسْجِدِ الحَرَامِ إِلَى المَسْجِدِ الأَقْصَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ البِرِّ وَالتَّقْوَى وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
تَمَسَّكُوْا
بِدِيْنِكُمْ،
وَلِتَجْتَمِعَ
كَلِمَتُكُمْ،
وَاحْذَرُوْا
مِنْ كَيْدِ
أَعْدَائِكُمْ
مِنَ
الكُفَّارِ
وَالمُنَافِقِيْنَ،
فَإِنَّ
الْكُفَّارَ
وَالْمُنَافِقِيْنَ
مُنْذُ أَنْ
بَعَثَ اللهُ
رَسُوْلَه
محمداً صلى
الله عليه
وسلم وَهُمْ
يُحَاوِلُوْنَ
زَعْزَعَةَ
هَذَا
الدِّيْنِ
وَيُرِيْدُوْنَ
ارْتِدَادَ
المُسْلِمِيْنَ
عَنْ دِيْنِهِمْ،
قَالَ
تَعَالَى:
(وَلا
يَزَالُونَ
يُقَاتِلُونَكُمْ
حَتَّى
يَرُدُّوكُمْ
عَنْ دِينِكُمْ
إِنْ اسْتَطَاعُوا)
[البقرة:217]،
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah
kepada Allah Ta’ala.
Berpegang teguhlah kepada agama-Nya agar kalian berada pada kalimat yang satu.
Waspadailah tipu daya musuh kalian dari kalangan orang-orang kafir dan munafik.
Karena sesungguhnya mereka selalu mengadakan provokasi dan keraguan terhadap
umat Islam agar mereka murtad dari Islam. Hal itu telah mereka lakukan sedari
zaman Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala
berfirman,
وَلا
يَزَالُونَ
يُقَاتِلُونَكُمْ
حَتَّى
يَرُدُّوكُمْ
عَنْ
دِينِكُمْ
إِنْ اسْتَطَاعُوا
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka
(dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka
sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217).
Inilah
yang selama-lamanya menjadi tujuan mereka. Jangan kita sangka tipu daya mereka
ini hanya terjadi di awal kedatangan Islam saja, bahkan tipu daya yang mereka
lakukan di zaman sekarang ini lebih dahsyat dan semakin menjadi. Tidak akan
selamat seorang muslim dari tipu daya dan kejahatan mereka kecuali dengan
menolaknya penuh kekuatan. Kekuatan di sini adalah kekuatan iman dan keyakinan,
kemudian baru kekuatan persenjataan. Allah Ta’ala
berfirman,
وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا
اسْتَطَعْتُمْ
مِنْ قُوَّةٍ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60).
Harus
ada dua kekuatan, yaitu kekuatan keimanan dan keyakinan kemudian kekuatan
persenjataan.
Kekuatan
keimanan, atas izin Allah, akan menghalangi kejelekan yang dilakukan musuh.
Kejelekan mereka tidak akan bisa dibendung dengan adanya perpecahan dan
perselisihan dalam akidah dan tersebarnya kebid’ahan. Perpecahan dalam
agama malah akan membuka pintu bagi orang-orang kafir untuk memasukkan tipu
muslihat mereka terhadap umat Islam. Karena itu Allah Jalla wa ‘Ala
berfirman,
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ
اللَّهِ
جَمِيعاً
وَلا
تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah dengan tali Allah, dan jangalah kalian
berpecah belah.” (QS. Ali Imran: 103).
Allah
Ta’ala
juga berfirman,
وَلا
تَكُونُوا
كَالَّذِينَ
تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا
مِنْ بَعْدِ
مَا
جَاءَهُمْ
الْبَيِّنَاتُ
وَأُوْلَئِكَ
لَهُمْ
عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang
bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS.
Ali Imran: 105).
Tidak
akan dicapai persatuan umat Islam apabila:
Pertama: Berselisih dan berpecah dalam
akidah.
Akidah
kaum muslimin adalah akidah yang satu, akidah tauhid yang murni yang sesuai
dengan Alquran dan sunnah. Di atas jalan laa
ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Kalimat inilah yang
menyatukan kaum muslimin dan menjadikan mereka berjaya, menguasai Timur dan
Barat. Sebelum meyakini akidah ini, orang-orang Arab berpecah belah dan hina di
bawah kekuasaan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan para
penyembah berhala. Ketika Allah anugerahkan mereka dengan agama Islam, dengan
kalimat tauhidnya, kemudian mereka berpegang teguh dengannya dan
mengamalkannya, tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu mengalahkan mereka.
Merekalah yang menguasai berbagai negeri di Timur dan di Barat. Demikian pula
halnya, umat generasi akhir ini, tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu
yang membuat generasi awal tersebut menjadi baik.
Kedua: Berselisih dalam manhaj dakwah.
Demikian
juga perselisihan dalam manhaj dakwah. Dakwah haruslah sesuai dengan manhaj
(metode) Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Jika dakwah itu hanya sesuai dengan
metodenya para pembesar jamaah kemudian ia mengharuskan para pengikutnya tidak
keluar dari batasan-batasan yang ia buat, maka setiap jamaah memiliki metode
yang berbeda-beda. Inilah yang menyebabkan umat Islam berpecah dan orang-orang
kafir kian semangat menggembosi mereka.
Semakin
ditemui banyaknya jamaah-jamaah yang menyimpang, semakin lemahlah kaum
muslimin, dan semakin semangat pula musuh-musuh mereka mengalahkan mereka.
Allah Ta’ala
berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan
bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan
itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan
Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).
Ketika
kita beramal sesuai dengan Alquran dan sunnah, maka Alquran dan sunnah akan
menjadi manhaj kita, bukan aturannya si fulan dan manhajnya fulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ا
فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ
مِنْكُمْ
بَعْدِى فَسَيَرَى
اخْتِلاَفًا
كَثِيرًا
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِى
وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ
الْمَهْدِيِّينَ
الرَّاشِدِينَ
تَمَسَّكُوا
بِهَا
وَعَضُّوا
عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ
وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
الأُمُورِ
فَإِنَّ
كُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup
sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi
kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mereka
itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan
gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena
setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap
bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi).
Jadi,
rujukan utama kita dalam beragama adalah Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bukan metode beragamanya kelompok ini, organisasi itu, atau tokoh itu dan tokoh
itu, karena tidak menutup kemungkinan metode-metode beragama yang dipraktikkan
organisasi, kelompok, atau tokoh menyelisihi metode beragama yang Allah dan
Rassul-Nya ajarkan sehingga memecah belah dan melemahkan kaum muslimin. Inilah
rencana yang diberlakukan oleh orang-orang kafir. Jadi wajib bagi umat Islam
untuk bersatu dengan landasan Alquran dan sunnah, jika mereka memang
benar-benar menginginkan kejayaan di dunia dan akhirat. Jika tidak, maka yang
ada hanyalah kehancuran dan kebinasaan. Walaa
haula walaa quwwata illa billah.
Ketiga: tidak menaati pemimpin.
Menaati
pemimpin adalah salah satu dari sebab tercapainya persatuan. Urusan umat Islam
tidak akan berjalan tanpa adanya pengaturan dan pengorganisasian oleh seorang
pemimpin. Dan seorang pemimpin tidak akan berfungsi kecuali didengar dan
ditaati.
Jika
kaum muslimin menaati pemimpin yang mengarahkan mereka dan menjaga mereka, maka
dengan izin Allah orang-orang kafir akan berputus asa terhadap mereka. Oleh
karena itu, kita lihat orang-orang kafir saat ini berusaha menanamkan keraguan
kepada para pemimpin, merusak hubungan masyarakat muslim dengan pemimpinnya.
Mereka juga memprovokasi masyarakat untuk tidak menaati para pemimpin dan
membuat onar dalam pemerintahannya, serta menyebarkan kejelekan dan dosa
pemimpin. Ini merupakan bentuk dari tipu daya orang-orang kafir dan hal ini
selama-lamanya tidak akan membawa kebaikan terhadap umat Islam.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
افْتَرَقَتِ اْليَهُوْدُ على إِحْدى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأمَّةُ على ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إلاَّ وَاحِدَة” قِيْلَ: مَنْ هِيَ يا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي (أخرجه أبو داود)
“Telah
berpecah belah Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan, dan Nashrani menjadi
tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah belah ummatku menjadi tujuh puluh
tiga golongan, semuanya berada di neraka kecuali satu. Para Sahabat bertanya,
‘Siapakah mereka wahai Rasulullah?’, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ‘Mereka adalah seperti apa yang aku dan para sahabatku pada
hari ini’.” (HR. Abu Dawud).
Tidak
ada jalan keselamatan kecuali dengan mengikuti jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya dari kalangan muhajirin dan anshar. Sebagaimana firman
Allah Ta’ala,
وَالسَّابِقُونَ
الأَوَّلُونَ
مِنْ الْمُهَاجِرِينَ
وَالأَنصَارِ
وَالَّذِينَ
اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا
عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada
Allah…” (QS. At-Taubah: 100).
Wajib
bagi kita menempuh jalan yang telah mereka tempuh dan meneladani cara beragama
mereka. Apabila terjadi kesalah-pahaman antara person tertentu atau antara
masyarakat dan para pemimpin, solusinya adalah ishlah (perbaikan hubungan),
bukan malah saling menjelekkan dan membuka aib di tengah khalayak. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ
طَائِفَتَانِ
مِنْ
الْمُؤْمِنِينَ
اقْتَتَلُوا
فَأَصْلِحُوا
بَيْنَهُمَا فَإِنْ
بَغَتْ
إِحْدَاهُمَا
عَلَى الأُخْرَى
فَقَاتِلُوا
الَّتِي
تَبْغِي
حَتَّى تَفِيءَ
إِلَى أَمْرِ
اللَّهِ
فَإِنْ فَاءَتْ
فَأَصْلِحُوا
بَيْنَهُمَا
بِالْعَدْلِ
وَأَقْسِطُوا
إِنَّ
اللَّهَ
يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ*
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ
أَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu
berselisih hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu
melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian
itu kamu perangi sampai ia tunduk kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah
tunduk, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu
berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 9-10).
Seandainya
ada sekelompok orang yang memberontak kepada pemimpin atau antara suku
tertentu, maka hendaknya segera dilakukan ishlah, perbaikan hubungan. Apabila
mereka kembali berselisih bahkan berperang, maka bagi mereka firman Allah
“Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah
yang melanggar perjanjian itu kamu perangi” karena kelompok yang
melanggar ini menebar kerusakan dan permusuhan. Kalau mereka diperangi, maka
persatuan dapat kembali terwujud.
Ada
sebagian orang yang sempit pemahamannya, mereka menggemakan apa yang mereka
sebut dengan revolusi. Mereka terus menyemangati dan mengajak orang lain
bersatu dengan mereka. Mereka adalah orang-orang yang memecah belah barisan
kaum muslimin dan melemahkan kekuatan kaum muslimin. Orang-orang yang demikian
adalah penyeru kesesatan, penebar kegundahan, dan penghancur persatuan. Jangan
dengarkan seruan mereka, seruan yang membahayakan dan merugikan kaum muslimin.
Allah Jalla wa ‘Ala
berfirman,
فَاتَّقُوا
اللَّهَ
وَأَصْلِحُوا
ذَاتَ
بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
إِنْ كُنتُمْ
مُؤْمِنِينَ
“Oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah
perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika
kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 1).
Inilah
peranan yang wajib kita jalankan. Wajib bagi kita untuk mewaspadai tipu daya
musuh umat Islam, musuh agama, musuh persatuan, dan musuh rasa kasih sayang
antara kaum muslimin.
Untuk
menghadapi isu-isu demikian, Allah pun telah memerintahkan kita untuk shalat
berjamaah di masjid agar hati-hati kita saling bertaut, saling mengenal sesama
umat Islam, satu dan yang lain saling mengisi kekurangan. Dengan demikian
persatuan umat bisa diwujudkan. Demikian juga Allah syariatkan perkumpulan yang
lebih besar lagi pada saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Dan perkumpulan
yang lebih besar lagi, perkumpulan umat Islam sedunia saat menunaikan ibadah
haji. Mereka menggemakan satu suara di sekitar Ka’bah. Sebagai perwujudan
persatuan umat Islam dan saling mengenal antara sesama mereka.
Setiap
orang yang menyerukan untuk memprovokasi umat Islam dan menimbulkan perasaan
benci sesama mereka, mereka adalah penyeru-penyeru kesesatan. Wajib bagi setiap
muslim menolak perkataannya, dan wajib bagi orang-orang yang berilmu untuk
membantahnya agar umat mewaspadai bahaya mereka. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan kita untuk saling mencintai. Beliau bersabda,
لَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ افْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian
tidak akan masuk surga hingga beriman dan tidak sempurna iman kalian hingga
saling mencintai. Maukah aku kabarkan satu amalan jika kalian amalkan kalian
akan saling mencintai? (Yakni) Sebarkan salam di antara kalian.” (HR.
Muslim no. 54).
Ucapan
salam memiliki pengaruh yang luar biasa bagi hati. Karena itulah kita dilarang
untuk saling memboikot, tidak menegur sesama muslim. nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لاَ
يَحِلُّ
لِمُسْلِمٍ
أَنْ
يَهْجُرَ أَخَاهُ
فَوْقَ
ثَلاَثٍ ،
يَلْتَقِيَانِ
فَيَصُدُّ
هَذَا ،
وَيَصُدُّ
هَذَا ،
وَخَيْرُهُمَا
الَّذِى
يَبْدَأُ
بِالسَّلاَمِ
“Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih
dari tiga hari. Jika bertemu, keduanya saling cuek. Yang terbaik di antara
keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari no. 6237).
Hendaknya
kita bertakwa kepada Allah ‘Azza
wa Jalla, memperhatikan keseharian kita, dan mewaspadai musuh-musuh
agama. Wajib bagi kita berpegang teguh dengan agama dan mencari jalan keluar
menuju kebaikan dengannya. Allah Ta’ala
berfirman,
شَرَعَ
لَكُمْ مِنْ
الدِّينِ مَا
وَصَّى بِهِ
نُوحاً
وَالَّذِي
أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ
وَمَا
وَصَّيْنَا
بِهِ
إِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَى
وَعِيسَى
أَنْ
أَقِيمُوا
الدِّينَ وَلا
تَتَفَرَّقُوا
فِيهِ كَبُرَ
عَلَى الْمُشْرِكِينَ
مَا
تَدْعُوهُمْ
إِلَيْهِ اللَّهُ
يَجْتَبِي
إِلَيْهِ
مَنْ يَشَاءُ
وَيَهْدِي
إِلَيْهِ
مَنْ يُنِيبُ
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan
apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah
agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang
musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu
orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang
kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura: 13).
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
البَيَانِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
وَتُوْبُوْا
إِلَيْهِ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ
وَالشُكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمدا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْراً،
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
Ketahuilah
wahai kaum muslimin,
Ada
orang-orang yang memang hendak mengadakan kerusakan di muka bumi. Mereka
menebar permusuhan dan bercita-cita melemahkan kekuatan umat Islam, dan menjadi
agen-agen orang-orang kafir. Merekalah kelompok munafik dari kalangan umat ini.
Menampakkan keislaman, namun di dalam batinnya tersimpan kejelekan. Allah Jalla wa ‘Ala
berfirman kepada Nabi-Nya,
يَا
أَيُّهَا
النَّبِيُّ
جَاهِدْ
الْكُفَّارَ
وَالْمُنَافِقِينَ
وَاغْلُظْ
عَلَيْهِمْ
وَمَأْوَاهُمْ
جَهَنَّمُ
وَبِئْسَ
الْمَصِيرُ
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang
munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam
dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. At-Tahrim: 9).
Dan
firman-Nya,
يَا
أَيُّهَا
النَّبِيُّ
اتَّقِ
اللَّهَ وَلا
تُطِعْ
الْكَافِرِينَ
وَالْمُنَافِقِينَ
“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu
menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.”
(QS. Al-Ahzab: 1).
Kedua
kelompok ini -orang-orang kafir dan munafik-, layaknya saudara kembar yang
saling menolong antara satu dengan yang lain dalam kejelekan. Orang-orang
munafik adalah duta bagi orang-orang kafir, hidup di tengah-tengah umat Islam,
menampakkan keislaman namun di dalam batin terdapat kekafiran. Kelihatannya
seolah-olah menginginkan kebaikan bagi umat Islam, namun di hatinya
menginginkan hal sebaliknya. Hendaknya kita mewaspadai mereka. Mewaspadai
propaganda dan makar mereka. Mereka menyeru manusia dengan kata-kata yang
terkesan bijak. Allah Ta’ala
berfirman menyifati orang-orang munafik,
وَإِنْ
يَقُولُوا
تَسْمَعْ
لِقَوْلِهِمْ
“Jika mereka berbicara, kalian akan mendengarkan perkataan
mereka.” (QS. Al-Munafiqun: 4).
Orang-orang
munafik berbicara dengan bahasa yang fasih dan indah. Terkadang menukilkan ayat
dan hadits, akan tetapi malah digunakan untuk menghakimi Islam dan kaum
muslimin, la haula wala quwwata illa billah.
Waspadailah
mereka sebagaimana Allah, Rasul-Nya, dan para sahabat memerintahkan untuk mewaspadai
mereka. Karena pada saat ini, makar yang mereka lakukan kian menjadi dan
berbahaya. Mereka memerangi Islam dan kaum muslimin, melemahkan kekuatan umat,
dan senantiasa mengadu domba dengan dibungkus kata-kata yang terkesan
bijaksana. Allah Ta’ala
berfirman,
وَلا
تُطِعْ كُلَّ
حَلاَّفٍ
مَهِينٍ*
هَمَّازٍ
مَشَّاءٍ
بِنَمِيمٍ*
مَنَّاعٍ
لِلْخَيْرِ
مُعْتَدٍ
أَثِيمٍ
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak
bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,
yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak
dosa.” (QS. Al-Qalam: 10-12).
Tukang
adu domba adalah mereka yang mengambil perkataan orang lain lalu disampaikan
kepada yang lain dengan tujuan membuat kerusakan dan meretakkan hubungan antara
satu dengan yang lain. Sebagian ulama mengatakan, tukang adu domba itu mampu
merusak hubungan dalam waktu singkat, yang mampu dilakukan tukang sihir dalam
waktu setahun. Kerusakan yang dilakukan oleh tukang adu domba lebih besar
daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh para penyihir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لا
يدخل الجنة
نمام
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu
domba.”
Allah
Ta’ala
berfirman,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ
جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ
بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا
أَنْ تُصِيبُوا
قَوْماً
بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا
عَلَى مَا
فَعَلْتُمْ
نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Wajib
bagi kita mewaspadai tukang adu domba yang merusak hubungan harmonis sesama
umat Islam, merusak hubungan antara para ulama dengan orang-orang awam, antara
sesama ulama, dan sesama penuntut ilmu. Perkataan mereka lebih merusak dari
pada sihir. Semoga Allah melindungi kita semua darinya.
Bertakwalah
kepada Allah wahai kaum muslimin. Berpegang teguhlah kepada Alquran dan sunnah
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ingatlah sejelek-jelek perkara adalah
sesuatu yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan dalam
permasalahan agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah
kesesatan. Tetaplah bersatu dalam jamaah kaum muslimin, karena tangan Allah
bersama jamaah kaum muslimin. Siapa yang melenceng darinya, maka ia melenceng
menuju neraka.
واعلموا
أن الله أمركم
بأمر بدأ فيه
بنفسه فقال
سبحانه:
(إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً)
[الأحزاب:56]،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
اَلرَّاشِدِيْنَ
اَلأَئِمَّةِ
المَهْدِيِّيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدَ
آمِناً
مُسْتَقِرّاً
وَسَائِرَ
بِلَادِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
مَنْ أَرَادَ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
بِسُوْءٍ
فَأَشْغَلَهُ
بِنَفْسِهِ
وَاصْرِفْ
عَنَّا
كَيْدَهُ
وَاكْفِنَا
شَرَّهُ
إِنَّكَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٍ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
غَيْرَ
ضَالِّيْنَ
وَلَا
مُضِلِّيْنَ
اَللَّهُمَّ
اَصْلِحْ
بِطَانَتَهُمْ
وَأَبْعَدْ
عَنْهُمْ بِطَانَةَ
السُّوْءِ
وَالمُفْسِدِيْنَ
اَللَّهُمَّ
أَمِدَّهُمْ
بِعَوْنِكَ
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْهُمْ
بِتَوْفِيْقِكَ
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
عَمَلَهُمْ
خَالِصًا
لِوَجْهِكَ
وَاجْعَلْهُ
فِيْ صَالِحِ
الإِسْلَامِ
وَالمُسْلِمِيْنَ
رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ.
عبادَ
الله، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ*
وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ يَعْلَمُ
مَا
تَفْعَلُونَ)
[النحل:90-91]،
فاذكروا اللهَ
يذكرْكم،
واشكُروه على
نعمِه
يزِدْكم ولذِكْرُ
اللهِ أكبرُ،
واللهُ يعلمُ
ما تصنعون.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com