Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ؛
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Dalam
Shahih Muslim,
Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,
أَنَّ
اللهَ
تَعَالَى
قَالَ: مَا
تَرَدَّدْتُ
عَنْ شَيْءٍ
أَنَا
فَاعِلُهُ
تَرَدُّدِي
عَنْ نَفْسِ
الْمُؤْمِنِ
يَكْرَهُ
الْمَوْتَ
وَأَنَا
أَكْرَهُ
مَسَاءَتَهُ
Allah
Ta’ala
berfirman: “Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan
seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci
kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya”.
Hadits
yang agung ini menunjukkan betapa Maha lemah lembutnya Allah ﷻ terhadap
wali-wali-Nya, terhadap orang-orang yang Dia cintai, dan yang dekat dengan-Nya.
Allah ﷻ telah menetapkan kematian bagi setiap hamba. Dan suka atau
tidak itu mesti dialami hamba. Allah ﷻ tidak suka menyusahkan hamba-hamba-Nya.
Namun begitulah sunatullah sejak dahulu. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
kematian.
Ma’asyiral
mukminin,
Pada
kesempatan khotbah yang singkat ini, sejenak kita berbicara tentang suatu
musibah besar yang pernah menimpa kaum muslimin. Musibah itu adalah hari dimana
Rasulullah ﷺ, khalilullah,
imamnya orang-orang bertakwa, penghulu para nabi dan rasul, wafat meninggalkan
umatnya. Sebuah kejadian dan berita yang membuat hati bergoncang. Sebuah kabar
yang mebuat ruh-ruh tercekat diam.
Sebelum
wafat, Nabi ﷺ diberi pilihan. Dan beliau ﷺ memilih apa yang
ada di sisi Allah ﷻ. Di antara sabda terakhir yang beliau ucapkan adalah:
اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
“Aku
memilih kedudukan tinggi di sisi-Mu.”
Dari
Abu Said al-Khudri radhiallahu
‘anhu, ia berkata:
أَنَّ
رَسُولَ
اللَّهِ صلى
الله عليه
وسلم جَلَسَ
عَلَى
الْمِنْبَرِ
فَقَالَ
إِنَّ
عَبْدًا
خَيَّرَهُ
اللَّهُ بَيْنَ
أَنْ
يُؤْتِيَهُ
مِنْ
زَهْرَةِ
الدُّنْيَا
مَا شَاءَ
وَبَيْنَ مَا
عِنْدَهُ
فَاخْتَارَ
مَا عِنْدَهُ
فَبَكَى
أَبُو بَكْرٍ
وَقَالَ
فَدَيْنَاكَ
بِآبَائِنَا
وَأُمَّهَاتِنَا
فَعَجِبْنَا
لَهُ وَقَالَ
النَّاسُ
انْظُرُوا
إِلَى هَذَا
الشَّيْخِ
يُخْبِرُ
رَسُولُ اللَّهِ
صلى الله عليه
وسلم عَنْ
عَبْدٍ
خَيَّرَهُ
اللَّهُ
بَيْنَ أَنْ
يُؤْتِيَهُ
مِنْ زَهْرَةِ
الدُّنْيَا
وَبَيْنَ مَا
عِنْدَهُ وَهُوَ
يَقُولُ
فَدَيْنَاكَ
بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا
فَكَانَ
رَسُولُ
اللَّهِ صلى
الله عليه وسلم
هُوَ
الْمُخَيَّرَ
وَكَانَ
أَبُو بَكْرٍ
هُوَ
أَعْلَمَنَا
بِهِ وَقَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ صلى
الله عليه
وسلم إِنَّ
مِنْ أَمَنِّ
النَّاسِ
عَلَيَّ فِي
صُحْبَتِهِ
وَمَالِهِ
أَبَا بَكْرٍ
وَلَوْ
كُنْتُ
مُتَّخِذًا
خَلِيلًا
مِنْ
أُمَّتِي
لَاتَّخَذْتُ
أَبَا بَكْرٍ
إِلَّا
خُلَّةَ
الْإِسْلَامِ
“Rasulullah ﷺ duduk di mimbar, lalu beliau bersabda,
‘Sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara kenikmatan
apa saja yang ia inginkan di dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Lalu hamba
tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah’.
Menangislah
Abu Bakar. Kemudian ia berkata, ‘Kami jadikan bapak-bapak dan ibu-ibu
kami tebusan untuk mu (wahai Rasulullah)’.
Kami
heran dengan apa yang terjadi pada Abu Bakar. Orang-orang mengatakan lihatlah
dia, Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang seorang hamba yang Allah beri pilihan
antara kenikmatan apa saja yang ia inginkan di dunia dengan apa yang ada di
sisi-Nya, ia malah berkata ‘kami jadikan bapak-bapak dan ibu-ibu kami
tebusan untuk mu (wahai Rasulullah)’. Ternyata yang dimaksud seorang
hamba yang diberi pilihan itu adalah beliau sendiri. Dan Abu Bakar adalah orang
yang paling paham di antara kami.
Kemudian
Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya manusia yang paling dermawan
loyal kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, seandainya aku
boleh menjadikan seseorang sebagai khalil (tingkatan kekasih yang paling
tinggi) maka pastilah aku jadikan Abu Bakar khalil ku, akan tetapi (yang
terjadi antara aku dengannya) adalah persaudaraan dalam Islam’.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Wafatnya
Rasulullah ﷺ adalah berita besar. Khotib akan mengisahkan bagaimana kisah
dicabutnya ruh orang terbaik yang pernah hidup di dunia ini. Manusia terbaik
yang pernah menginjakkan kakinya di muka bumi.
Beliau
ﷺ
mengalami sakit di akhir bulan Shafar tahun 11 H. beliau merasakan sakit kepala
yang berat, namun beliau hadapi dengan sabar dan penuh ketenangan. Kemudian
sakit yang beliau alami bertambah berat. Saat itu, beliau berada di rumah Ummul
Mukminin Maimunah radhiallahu
‘anha. Kemudian beliau ﷺ meminta izin kepada istri-istrinya agar
dirawat di rumah Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu
‘anha. Mereka pun mengizinkannya.
Dalam
Shahih Bukhari, dari Aisyah radhiallahu
‘anha, ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَسْأَلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ يَقُولُ أَيْنَ أَنَا غَدًا ؟ أَيْنَ أَنَا غَدًا ؟ يُرِيدُ يَوْمَ عَائِشَةَ ، فَأَذِنَ لَهُ أَزْوَاجُهُ يَكُونُ حَيْثُ شَاءَ ، فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ حَتَّى مَاتَ عِنْدَهَا
“Pada
saat mengalami sakit yang mengantarkan Rasulullah ﷺ kepada wafatnya, beliau berkata,
‘Besok aku di rumah siapa? Ia menginginkan hari itu adalah giliran
bermalama di rumah Aisyah. Istri-istrinya pun mengizinkan beliau bermalam di
tempat yang beliau inginkan. Dan beliau berada di rumah Aisyah hingga maut
menjemputnya.”
Kemudian
bertambah parahlah sakit beliau. Bahkan untuk shalat berjamaah di masjid pun
beliau tidak mampu. Beliau memerintahkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk mengimami para
sahabat shalat. Aisyah radhiallahu
‘anha mengisahkan, “Ketika Rasulullah ﷺ sakit yang
mengantarkannya kepada wafatnya, waktu shalat pun tiba. Beliau meminta izin
untuk tidak mengimami orang-orang. Beliau mengatakan suruhlah Abu Bakar untuk
menjadi imam. Lalu dikatakan kepada beliau, ‘Abu Bakar adalah seseorang
yang mudah menangis. Jika dia menggantikanmu menjadi imam, ia tidak akan mampu
shalat bersama orang-orang’. Beliau ﷺ pun mengulangi apa yang beliau katakan.
Orang-orang tetap menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau bersabda,
‘Kalian ini seperti wanita-wanita yang berbicara kepada Yusuf.
Perintahkan Abu Bakar agar mengimami shalat’.
Abu
Bakar pun mengimami orang-orang. Kemudian Nabi ﷺ merasa agak ringan dari sakitnya. Beliau
keluar ke masjid dengan dipapah oleh dua orang. Beliau berjalan menahan sakit.
Kemudian Abu Bakar hendak mundur dari posisi imam, namun beliau ﷺ
mengisyaratkan agar ia tetap di posisinya.
Dalam
ash-Shahihain
diriwayatkan dari Anas radhiallahu
‘anhu bahwasanya Abu Bakar shalat mengimami para sahabat saat
Nabi ﷺ sakit. Pada hari kedua, para sahabat sedang berbaris rapi dalam
shaf, kemudian Nabi ﷺ menyingkap tirai kamarnya. Sambil berdiri, beliau melihati para
sahabatnya. Saat itu wajah beliau bagaikan kertas putih (pucat). Lalu beliau
tersenyum dan tertawa. Hal itu hampir-hampir membuat shalat kami batal karena
gembira melihat Nabi ﷺ. Abu Bakar mundur ke belakang. Ia menyangka Nabi ﷺ
akan keluar menuju shalat. Kemudian beliau mengisyaratkan agar para sahabat
menyempurnakan shalatnya. Lalu beliau menutup kembali tirainya.
Kemudian
bertambah parah sakit Nabi ﷺ. Semakin dekat pula saat-saat perpisahan
dengan beliau. Marilah kita dengarkan kisah saat-saat tersebut. Kisah yang
disampaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu
‘anha, “Dulu, sewaktu masih sehat, Nabi ﷺ pernah bersabda, ‘Sesungguhnya tidak ada seorang
nabi pun yang akan wafat kecuali diperlihatkan tempatnya di surga. Kemudian
mereka diberikan pilihan. Ketika maut mendatanginya, kepala Nabi berada di paha
Aisyah dan beliau pingsan. Ketika siuman kembali, beliau mengarahkan
pandangannya ke atas dan berkata, ‘Aku memilih kedudukan tinggi di
sisi-Mu’. Maka aku (Aisyah) paham ini adalah ucapan beliau yang pernah
beliau sampaikan ketika beliau sehat dahulu.
Aisyah
mengatakan, “Dalam keadaan berat tersbut, Nabi ﷺ memanggil putrinya Fatimah. Kemduian
beliau membisikkan sesuatu. Lalu Fatimah menangis. Kemudian beliau kembali
memanggilanya dan membisikinya. Lalu Fatimah tertawa. Kemudian aku bertanya
kepadanya tentang kejadian itu. Fatimah mengatakan, ‘Nabi ﷺ membisiku, beliau mengabarkan bahwa beliau akan wafat
karena sakit yang beliau derita sekarang ini. Aku pun menangis. Kemudian beliau
membisiku dan mengabarkan bahwa akulah keluarganya yang pertama kali
menyusulnya. Aku pun tertawa”.
Pada
saat Fatimah melihat derita yang dialami ayahnya, ia berkata, “Betapa
menderitanya engkau wahai ayah”. Nabi ﷺ menjawab, “Tidak ada lagi derita
yang akan dirasakan ayahmu setelah hari ini”.
Kemudian
Aisyah radhiallahu
‘anha mengatakan, “Nabi ﷺ saat sedang sakit yang menyebabkannya
wafat, beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat
makanan (beracun) yang aku makan di Khaibar…”
Kemudian
Aisyah berkata, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepadaku adalah
Rasulullah ﷺ wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan Allah mencabut nyawa
beliau saat berada di antara dadaku dan pahaku. Allah mengumpulkan ludahku dan
ludahnya saat wafatnya. Abdurrahman –yakni Abdurrahman bin Abu Bakar,
saudara laki-laki Aisyah- masuk kerumahku. Di tangannya terdapat siwak. Saat
itu Rasulullah ﷺ bersandar padaku. Kulihat ia memandangi siwak itu. Aku tahu ia
suka bersiwak. Kukatakan padanya, ‘Maukah kuambilkan untukmu?’
Beliau memberi isyarat dengan kepalanya sebagai tanda menginginkannya.
Kutanyakan, ‘Kulembutkan untukmu?’ Beliau kembali mengangguk. Aku
pun melembutkannya, lalu kuberikan padanya. Di hadapan beliau ﷺ terdapat
sebuah wadah yang berisi air. Lalu beliau masukkan tangannya ke air kemudian
membasuh wajahnya. Setelah itu beliau bersabda, ‘Laa ilaaha
illallaah… sungguh kematian itu ada sekaratnya (rasa sakitnya)’.
Kemudian
beliau angkat tangannya lalu mengatakan ‘Menuju ar-Rafiq
al-A’la’ hingga ruhnya terpisah dan tangannya melemas. Itulah
perkataan terakhir yang beliau ucapkan:
اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى
“Aku
memilih kedudukan tinggi di sisi-Mu.”
Beliau
wafat di waktu duha, hari senin, tanggal 12 Rabiul Awal 11 H. Beliau wafat saat
berusia 63 tahun. fashalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi…
Ibadallah,
Wafatnya
Rasulullah ﷺ adalah musibah yang sangat besar bagi kaum muslimin.
Tokoh-tokoh para sahabat pun sampai shock dengan berita duka tersebut. Dari
Aisyah radhiallahu
‘anha, “Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari
rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya
itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara
sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah
Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun
menangis kemudian berkata, ‘Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah
tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah
ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal’.
Dari
Abdullah bin Abbas radhiallahu
‘anhuma, ia berkata, “Kemudian Abu Bakar keluar dan
Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata,
“Duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka
orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata,
“Amma bad`du, barang siapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad,
maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Kalau kalian menyembah Allah, maka
sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Allah
telah berfirman,
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144).”
Ibnu
Abbas melanjutkan, “Demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui
bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka
semua orang menerima ayat Alquran itu, tak seorang pun diantara mereka yang
mendengarnya melainkan melantunkannya.”
Sa`id
bin Musayyab rahimahullah
berkata, “Ketika itu Umar mengatakan, ‘Demi Allah, sepertinya aku
baru pertama kali mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar.
Sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke
tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku yakin bahwa nabi
memang sudah meninggal.”
أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ
الرَجِيْمِ ﴿
وَمَا
مُحَمَّدٌ
إِلَّا
رَسُولٌ قَدْ
خَلَتْ مِنْ
قَبْلِهِ
الرُّسُلُ
أَفَإِنْ
مَاتَ أَوْ
قُتِلَ
انْقَلَبْتُمْ
عَلَى
أَعْقَابِكُمْ
وَمَنْ
يَنْقَلِبْ عَلَى
عَقِبَيْهِ
فَلَنْ
يَضُرَّ
اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي
اللَّهُ
الشَّاكِرِينَ
﴾ .
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
الكَرِيْمِ
وَنَفَعْنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اَتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
فَإِنَّ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا هِيَ
خَيْرُ زَادٍ
يُبَلِّغُ
إِلَى رِضْوَانِ
اللهِ .
Ibadallah,
Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya,
dari Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu, ia berkata “Abu Bakar radhiallahu ‘anhu
berkata kepada Umar radhiallahu
‘anhu setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, ‘Mari kita pergi mengunjungi Ummu
Aiman sebagaimana Rasullah ﷺ mengunjungi beliau semasa hidupnya.’
Tatkala
kami menemuinya, beliau menangis. Kami pun bertanya, ‘Apa yang membuatmu
menangis? Apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.’
Ummu
Aiman berkata, ‘Aku bukan menangisi beliau, karena aku tahu apa yang di
sisi Allah itu lebih baik baginya ﷺ. Akan tetapi aku menangis karena wahyu
telah terputus dari langit.’
Maka
Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis.”
Ibadallah,
Sesungguhnya
anugerah dan nikmat yang Allah berikan kepada kita sangatlah besar. Yaitu
nikmat diutusnya Rasulullah ﷺ penutup risalah kenabian kepada kita. Dan
termasuk nikmat Allah pula, Allah ﷻ mewafatkan beliau dalam keadaan
sempurnanya agama ini. Tidaklah suatu kebaikan pun kecuali telah beliau
tuntutnkan. Dan tidak pula satu kejelekan, kecuali telah beliau peringatkan.
Beliau wafat setelah turunnya firman Allah ﷻ,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(QS:Al-Maidah | Ayat: 3).
Ma’asyiral
muslimin,
Tidakkah
kita mengingat karunia yang begitu besar ini. Agama Allah ini telah sempurna
dan paripurna. Oleh karena itu, wajib bagi para pecinta dan pengikut Nabi untuk
memahami perjalanan hidupnya. Untuk mengikat diri dengan petunjukknya. Untuk
meneladani beliau ﷺ.
Hendaknya
seorang muslim menjadikan hidup mereka berjalan di atas Sunnah dan petunjuk
sebaik-baik manusia ini. Allah ﷻ berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 21).
Jangan
sampai kita hanya meneladani dan mempelajari kehidupan beliau hanya dalam satu
hari saja dalam satu tahun. kita jadikan setiap hari mempelajari dan meneladani
kehidupan beliau ﷺ. Kita isi hari-hari kita dengan mempelajari wahyu Allah, yang
diucapkan melalui lisan Rasulullah ﷺ. Inilah keadaan para pecinta dan pengikut
sejati Muhammad ﷺ.
اَللَّهُمَّ
إِلَهَنَا
وَفِّقْنَا
لِاتِّبَاعِ
نَبِيِّكَ
الكَرِيْمِ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِاتِّبَاعِهِ
وَلُزُوْمِ
هَدْيِهِ
وَالسَيْرِ
عَلَى
نَهْجِهِ،
وَأَعِذْنَا
إِلَهَنَا مِنَ
الْبِدَعِ
كُلِّهَا
وَالحَوَادِثِ
جَمِيْعِهَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِأَنْ
نُحْشِرَ
يَوْمَ
القِيَامَةِ
تَحْتَ لِوَائِهِ،
وَوَفِّقْنَا
اللَّهُمَّ
يَوْمَ
القِيَامَةِ
أَنَّ
نَفُوْزَ
بِشَفَاعَتِهِ،
اَللَّهُمَّ
شَفِّعْهُ
فِيْنَا، اَللَّهُمَّ
شَفِّعْهُ
فِيْنَا،
اَللَّهُمَّ
شَفِّعْهُ
فِيْنَا، اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمُرَافِقَتِهِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
-رَعَاكُمُ
اللهُ- عَلَى
النِعْمَةِ
المُهْدَاةِ
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ:
﴿إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِي مَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ رِضَاكَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
وَأَعِنْهُ
عَلَى البِرِّ
وَالتَقْوَى،
وَسَدِدْهُ
فِي أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ،
اَللَّهُمَّ
وَوَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
وَرَأْفَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا،
وَأَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ، وَبَارِكْ
لَنَا فِيْ
أَسْمَاعِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا.
اَللَّهُمَّ
وَاشْفِ
مَرْضَانَا
وَمَرْضَى
المُسْلِمِيْنَ،
وَارْحَمْ
مَوْتَانَا
وَمَوْتَى
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ وَارْفَعْ
عَنَّا
الغَلَاءَ
وَالبَلَاءَ وَالمِحَنَ
وَالزَلَالَ
وَالفِتَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ،
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ
سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ،
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com