إِنّ
الْحَمْدَ
لِلّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
…
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Pada
zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara,
bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan
fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di
antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan demonstrasi
(unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan
umum.
Demostrasi biasanya dilakukan untuk menyatakan
pendapat kelompok tersebut atau menentang pendapat kelompok tersebut atau
menentang kebijakan yang diberlakukan oleh suatu pihak. Unjuk rasa pada umumnya
dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah atau para
buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya, atau juga para karyawan dan
pegawai yang minta dinaikkan gajinya. Di samping itu, ada juga unjuk rasa yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok lain dengan tujuan-tujuan yang lain pula.
Sebagaimana
kita ketahui, demonstrasi ini telah berkembang dan menjamur di
tanah air tercinta. Dan yang lebih parah lagi, unjuk rasa dijadikan sebagai
simbol kebebasan berekspresi di Indonesia. Itulah profil demonstrasi
(unjuk rasa), salah satu di antara produk-produk sistem demokrasi yaitu gagasan
hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama
bagi semua warga negara. Semua itu adalah undang-undangnya orang kafir.
Unjuk
rasa terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di negeri kita. Misalnya,
ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar -yang berakibat melonjaknya harga
bahan pokok dan lainnya- maka sebagian masyarakat dan para aktivis pelajar
tidak menerima keputusan pemerintahan tersebut. Mereka pun menyikapinya dengan
mengerahkan massa dan menggalang persatuan dalam rangka mengadakan demostrasi
dan mengungkap kejelekan-kejelekan pemerintah di atas mimbar. Ujung-ujungnya
terjadilah tindakan anarkis, kekerasan, dan pengrusakan. Itulah sekelumit
fenomena yang dapat kita rekam di tengah-tengah masyarakat.
Ketahuilah,
wahai saudaraku, tindakan-tindakan itu semua tidaklah menyelesaikan perkara
tetapi justru memperparah dan memperumit masalah. Sikap ini termasuk penyakit
jiwa. Apbila melihat seuatu yang tidak selaras dengan kehendaknya dan tidak
disepakati oleh hawa nafusnya, maka muncullah di dalam jiwanya keluh kelas.
Sebagaimana
Allah berfirman,
إِنَّ اْلإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا {19} إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا {20} وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا {21}
“Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh keash lagi kikir. Apabila ia ditimpa
kesusahan maka ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia amat
kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Demonstrasi dan unjuk rasa bukanlah jalan dakwah
sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian orang. Sebagai seorang muslim sudah
sepatutnya untuk mengetahui terlebih dahulu apakah aktivitas semacam ini
dibenarkan secara syar’i ataukah tidak. Mungkinkah kita memperjuangkan
Islam, menasihati pemerintah melalui demonstrasi dan unjuk rasa di
pinggir-pinggir jalan dan di gedung-gedung parlemen? Adakah hal ini semua
dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat,
dan tabi’in, yang mana mereka merupakan generasi terbaik umat ini. Tidak
pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperjuangkan Islam
dengan cara ini, bahkan hal ini akan menimbulkan banyak madharat (kerugian)
yang lebih besar.
Tidak
ada kebaikan sedikit pun yang kita peroleh kecuali kalau kita mencontoh suri
teladan umat ini yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
para sahabatnya, dan para tabi’in yang sudah mapan ilmunya dalam
berdakwah. Cukuplah mereka kita jadikan panutan dalam bersikap dan bertindak
untuk meraih kembali kejayaan Islam yang kini telah terlepas dari kaum
muslimin. Hendaklah kita mengingat perkataan Imam Malik
لَا يُصْلِحُ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Tidak
akan baik penghujung umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki
generasi awalnya.” (Lihat Hal al-Muslimu Mudzaman Bittiba’i Madzhab
Mu’ayyan oleh Muhammad Sulthon al-Ma’shumi al-Khunjadi: 100)
Kaum
muslimin yang dimuliakan oleh Allah
Tidak
tersembunyi lagi bahwa mafsadat (kerusakan) yang diakibatkan demonstrasi
amatlah besar. Demonstrasi bukanlah jalan keluar dari masalah yang dihadapi
oleh pemerintah. Jika memang tujuannya untuk menasihati pemerintah bukanlah
seperti itu caranya melainkan dengan menasihati mereka (pemerintah) dengan cara
yang syar’i dan ittiba (ikut) kepada salaf sholih. Nasihatilah mereka
dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan demonstrasi,
bukan dengan mengerahkan massa sambil membawa spanduk bertuliskan kritikan
(baca: hujatan) kepada pemerintah. Wal’iyadzu billah.
Cukuplah
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi renungan kita
dalam masalah ini. Beliau bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ
“Barang
siapa yang hendak menasihati penguasa pada suatu masalah, maka janganlah dia
tampakkan dengan terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia pegang tangannya
dan menyendiri dengannya. Kalau dia menerima (nasihat itu) maka itu bagus,
namun jika tidak maka dia telah menunaikan kewajibannya untuk memberikan
nasihat.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya-nya: 3:403 dan dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah:1096)
Sebab
itu, kita harus memahami bahwa nasihat bagi pemerintah adalah dengan menaati
mereka dalam perkara yang ma’ruf, mendoakan mereka, dan menunjuki mereka
ke jalan yang benar serta menjelaskan kekeliruan yang mereka lakukan supaya
dapat dihindari. Dan hendaknya nasihat itu diberikan secara rahasia (empat
mata) antara si pemberi nasihat dan penguasa tersebut. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah bersabda,
مَنْ
رَأَىْ
مِنْكُمْ
مُنْكَرًا
فَلْيُغَيْرِّهُ
بِيَدِهِ فَإِنْ
لَمْ
يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ
فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ
وَذَلِكَ
أَضْعَفُ
الإِيْمَانِ
“Barang siapa melihat sebuah kemungkaran hendaklah ia ubah
dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak
mampu maka bencilah kemungkaran itu dalam hatinya.” (HR. Muslim: 49)
Di
antara para ulama yang menyebutkan dampak buruk demonstrasi
adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Beliau berkata,
“Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru yang tidak
dikenal pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula
pada zaman Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya. Kemudian pada demonstrasi
juga terdapat kericuhan dan kekacau-balauan, keributan, dan gangguan keamanan,
sehingga menyebabkan hal ini dilarang. Pada demonstrasi
juga sering terdapat pengrusakan; pemecahan kaca, pintu, dan selainnya
(tindakan anarkis), begitu pula ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan
wanita) serta mengakibatkan kerusakan kemungkaran dan yang semisalnya.” (Lihat
Al-Jawab al-Abhar, Hal.75)
Syaikh
Al-Alamah Ahmad bin Yahya Muhammad an-Najmi, tatkala mengomentari kelompok
Ikhwanul Muslimin beliau berkata, “Tanzhim berupa gerakan pengerahan
massa dan demonstrasi, Islam tidak mengenal tindakan
semacam ini dan tidak pula mengakuinya. Ini merupakan perkara yang baru (ada
akhir-akhir ini). Bahkan demonstrasi adalah perbuatan orang-orang kafir
yang telah ditiru oleh kebanyakan kaum kita (umat Islam). Lantas apakah setiap
kali orang-orang kafir melakukan suatu perbuatan mengharuskan kita menyetujui
perbuatan mereka? Sesungguhnya Islam ini tidak akan menang apabila diraih
dengan cara pengerahan dan unjuk rasa. Namun, Islam akan menang dengan jihad
yang dibangun di atas aqidah yang shahih dan jalan yang ditempuh oleh
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya para
rasul dan pengikutnya telah mendapatkan berbagai macam cobaan tetapi mereka
tidak diperintah selain untuk bersabar.” (Al-Maurid al-Adzbuz Zulal,
Hal.225)
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللّهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ,
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَصَلَّى
اللّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
Barangkali
timbul tanda tanya di benak kita: “Bila memang pemerintah mempunyai sikap
yang tak selaras dengan kita, tidak sesuai dengan buah pikiran dan ide kita,
pemerintah tidak berhukum dengan hukum Allah atau mungkin telah berbuat
kezhaliman, dan lain-lainnya yang kontradiktif dengan apa yang kita inginkan,
lantas bagaimana kita harus bersikap terhadap pemimpin yang seperti itu?
Bolehkah kita memberontak atau mengerahkan massa untuk demonstrasi
beramai-ramai memprotesnya?”
Tidak
boleh begitu! Sikap yang terbaik bagi kita adalah sabar dan tabah. Sekali lagi,
bersikaplah sabar dan tabah! Janganlah kita terbawa oleh arus emosi sehingga
bersikap gegabah yang kerapkali menjadikan pelakunya kebablasan tak terkendali.
Jangan lalai dari bimbingan cahaya ilahi dan menyimpang dari rel syar’i.
Ketahuilah, wahai saudaraku sekalian, Islam memang memerintahkan kepada setiap
pemimpin untuk berlaku adil dan bijaksana dalam memimpin dan memakmurkan
rakyatnya.
Namun,
apabila pemimpin gagal melakukannya maka Islam memerintahkan kepada kita untuk
tetap mematuhinya selagi pemerintah itu tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.
Tidak boleh kita memberontak terhadapnya, untuk menghindari timbulnya kerusakan
yang lebih besar. Mari kita renungkan bersama pesan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ.
“Nanti
setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam
ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan
ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun
jasadnya adalah jasad manusia.“ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa
yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau
bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka
menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at
kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847).
Kita
pasti menginginkan hidup bahagia, aman, tenteram, pemimpin yang ideal yang
mampu mengayomi kita sebagai rakyatnya, dan jauh dari huru-hara. Semua orang
pasti mendambakannya. Maka untuk menggapainya, tinggalkanlah segala bentuk
kezhaliman dan kembalilah ke jalan Allah. Sebagaimana ditandaskan dalam ayat
Alquran:
وَكَذَلِكَ
نُوَلِّي
بَعْضَ
الظَّالِمِينَ
بَعْضًا
بِمَا
كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang
zhalim menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka
usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)
Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “Apabila
hamba banyak melakukan kezhaliman dan dosa-dosa, maka Allah akan menjadikan
bagi mereka para pemimpin zhalim yang mengajak kepada kejelekan.
Sebaliknya,
apabila mereka baik, shalih, dan istiqomah dalam ketaatan, maka niscaya Allah
akan mengangkat bagi mereka para pemimpin yang adil dan baik.” (Tafsir
Karimi ar-Rohman, Hal.239)
Jadi,
semua yang terjadi di negeri kita tercinta ini merupakan takdir yang sudah
ditentukan oleh Allah. Semestinya kita menyikapinya dengan sabar, tenang, dan
tawakal kepada Allah. Itulah yang diwajibkan oleh syariat, bukan menyikapinya
dengan penuh emosi, sibuk mencaci maki pemerintah, melakukan kudeta,
berdemonstrasi, dan melakukan tindakan anarkis yang keluar dari jalur Islam.
Namun, ini tidak berarti kita harus bersikap pasrah, pesimis, putus asa, dan
mengeluh. Kita harus tetap optimis dan berusaha memperbaiki nasib dan keadaan,
asalkan tetap dalam koridor syar’i. Allah berfirman,
إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَابِأَنفُسِهِمْ
“…sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Demikianlah
yang dapat kami sampaikan. Di penghujung khotbah ini kita memohon semoga Allah
menjadikan negeri Indonesia seabgai negeri yang aman sentosa dan menjadikan
pemimpin-pemimpinnya berlaku adil kepada rakyatnya menjauhkan mereka dari perbuatan
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Marilah kita bahu-membahu membangun negeri
tercinta ini dengan perkara-perkara yang baik. Jangan gegabah dalam mengambil
sikap yang berkaitan dengan keputusan pemerintah.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ لِلهِ
رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ.
Sumber:
Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-8, www.khotbahjumat.com