Khutbah
Pertama:
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ, أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ, وَأَسْأَلُهُ الْمَغْفِرَةَ يَوْمَ الدِّيْنِ.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَامَحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِاالْهُدَى وَالنُّوْرِالْمُبِيْنِ,صَلَّى اللهُ وَ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا
بَعْدُ
فَأُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَاءً وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللَّهِ,
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا,
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ,
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
وَكُلُّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
Kaum
muslimin rahimani warahimakumullah,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
عَنْ
أَبِي
هُرَيْرَةَ
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ:
أَنَّ
رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ: ﴿العُمْرَةُ
إِلَى
العُمْرَةِ
كَفَّارَةٌ لِمَا
بَيْنَهُمَا،
وَالحَجُّ
المَبْرُورُ
لَيْسَ لَهُ
جَزَاءٌ
إِلَّا
الجَنَّةُ﴾.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
bersabda, “Umrah satu ke umrah lainnya adalah penebus dosa antara
keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ibadallah,
Dalam
hadits yang baru saja khotib sebutkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
menjelaskan keutamaan umrah dan haji. Yaitu umrah dapat menebus dosa antara dua
umrah. Penebus dosa semacam ini digolongkan oleh para ulama dalam kategori amal
shaleh atau ketaatan. Akan tetapi amal shaleh tersebut menurut mayoritas ulama
ahlus sunnah hanya dapat menebus dosa kecil saja, itu pun dengan syarat
menjauhi dosa-dosa besar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
dalam beberapa hadis, di antaranya:
الصَّلَوَاتُ
الْخَمْسُ،
وَالْجُمْعَةُ
إِلَى
الْجُمْعَةِ،
وَرَمَضَانُ
إِلَى رَمَضَانَ،
مُكَفِّرَاتٌ
مَا
بَيْنَهُنَّ
إِذَا
اجْتَنَبَ
الْكَبَائِرَ
“Shalat lima waktu, dan Jumat satu ke Jumat lainnya, dan
Ramadhan satu ke Ramadhan lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu
selagi seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”
Beliau
shallallahu ’alaihi wa
sallam juga bersabda,
مَا
مِنَ امْرِئٍ
مُسْلِمٍ
تَحْضُرُهُ
صَلَاةٌ
مَكْتُوبَةٌ
فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا
وَخُشُوعَهَا
وَرُكُوعَهَا،
إِلَّا
كَانَتْ
كَفَّارَةً
لِمَا
قَبْلَهَا
مِنَ
الذُّنُوبِ
مَا لَمْ
يُؤْتِ
كَبِيرَةً
وَذَلِكَ
الدَّهْرَ
كُلَّهُ»
“Tidaklah seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu
kemudian ia membaguskan wudhunya, membaguskan khusyuknya dan rukuknya kecuali
hal itu sebagai penebus dosa yang telah ia lakukan sebelumnya selagi ia tidak
melakukan dosa besar, dan penebusan dosa itu berlangsung sepanjang
zaman.” (HR. Muslim).
Imam
Nawawi rahimahullah
berkata, “Semua dosa itu dapat diampuni dengan sebab amal shaleh kecuali
dosa besar karena dosa besar itu hanya dapat ditebus dengan taubat.
Al-Qadhi
‘Iyadh rahimahullah
berkata, “Ampunan yang disebutkan dalam hadis ini adalah selagi yang
bersangkutan tidak melakukan dosa besar dan ini adalah pendapat ahlus sunnah,
dan dosa besar itu hanya dapat ditebus dengan taubat atau rahmat dan keutamaan
dari Allah Ta’ala.
Ibadallah,
Kemudian
ada satu pertanyaan, “Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil, karena
dosa-dosa kecilnya telah tertebus dengan amal saleh lainnya seperti shalat lima
waktu, Jumat, puasa Arafah dan lain-lain, dosa apakah yang akan ditebus oleh
umrah tersebut?”
Jawabannya
adalah, “Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil dan dosa besar, maka
umrah satu ke umrah lainnya tersebut dicatat sebagai amal shaleh yang dengannya
derajat seorang hamba menjadi tinggi. Dan jika ia tidak memiliki dosa kecil
akan tetapi memiliki dosa besar, maka diharapkan semoga dapat
meringankannya.”
Hal
ini sebagaimana yang disebutkan oleh as-Suyuthi rahimahullah pada salah satu hikmah yang
beliau nukil dari Imam Nawawi rahimahullah
bahwasannya jika ada yang mengatakan, “Jika wudhu itu penebus dosa, maka
dosa apa yang akan ditebus oleh shalat? Dan jika shalat itu penebus dosa, maka
dosa apa yang akan ditebus oleh puasa Arafah, puasa ‘Asyura’, dan
ucapan amin seorang makmum yang bertepatan dengan ucapan amin para malaikat?
Yang mana semua itu adalah penebus dosa sebagaimana yang telah dijelaskan dalam
hadits Nabi. Maka jawabannya adalah sebagaimana jawaban para ulama yaitu semua
amal shaleh itu adalah penebus dosa kecil jika dosa itu ada pada diri seorang
hamba, dan jika pada dirinya tidak terdapat dosa besar atau kecil, maka semua
amal shaleh itu ditulis sebagai kebaikan yang dengannya derajat seorang hamba
ditinggikan, dan jika pada dirinya tidak ada dosa kecil, akan tetapi terdapat
dosa besar maka kami berharap dapat memperingannya.
Kemudian
apakah wujud penebusan dosa tersebut berupa penambahan berat timbangan kebaikan
nanti pada hari kiamat atau penghapusan dosa?
Jawabannya
adalah penebusan dosa tersebut berupa penghapusan dosa, sebagaimana yang telah
Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits lain bahwa amal
kebaikan itu dapat menghapus dosa seorang hamba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Dan
iringilah perbutan jelek dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik tersebut
akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi).
Seorang
hamba ketika meninggalkan dunia ini dalam keadaan berbeda-beda, ada yang tidak
memiliki dosa sama sekali, karena ia telah diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk
melakukan amal shaleh dan bertaubat kepada-Nya dari semua dosa-dosa besarnya,
ada pula yang membawa amal shaleh dan membawa dosa besar selain syirik. Jika
Allah ‘Azza wa Jalla
menghendaki pengampunan maka dosa besar seorang hamba akan diampuni-Nya, dan
jika tidak, maka Allah ‘Azza
wa Jalla akan melakukan timbangan amal untuk menentukan salah satu
dari keduanya mana yang berat.
Oleh
karena itu hendaknya seorang Muslim senantiasa waspada! Jika ia terjatuh ke
dalam kubangan dosa kecil, maka hendaknya ia segera melakukan amal shaleh agar
dosa akibat perbuatannya itu terhapus dengan amal shaleh yang dilakukannya.
Sedangkan, jika ia terjatuh pada kubangan dosa besar, maka hendaknya ia segera
bertaubat sebelum ia lupa dan sebelum datang kematian menghampirinya.
Kaum
muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam
hadits tentang keutamaan haji dan umrah yang telah khotib sebutkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
juga menjelaskan keutamaan haji mabrur yakni haji yang tidak tercampuri dengan
dosa. Balasan bagi orang yang hajinya mabrur tiada lain kecuali surga. Imam
Nawawi rahimahullah
menambahkan bahwa balasan bagi orang yang hajinya mabrur itu tidak hanya
diampuni dosa-dosanya akan tetapi juga dimasukkan ke dalam surga.
Lalu
timbul pertanyaan, “Apakah kriteria haji mabrur itu?
Para
ulama, semisal Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan empat kriteria haji
mabrur, yaitu:
Pertama: Ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla,
bukan karena riya’ seperti ingin mendapatkan pujian dan penghormatan dari
masyarakat, dan juga bukan karena sum’ah seperti menceritakan bahwa ia
sudah pernah berhaji dengan tujuan agar dipanggil Pak haji atau Bu hajah.
Kedua: Mutaba’ah mengikuti tuntunan
Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam dalam manasiknya, sebagaimana sabda Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam,
لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
“Hendaknya
engkau ambil dariku tuntunan manasik kalian.” (HR. Muslim).
Ketiga: Dari harta yang halal, bukan dari
harta yang haram seperti riba, hasil dari perjudian atau hasil dari merampas
hak orang lain, atau hasil korupsi dan lain sebagainya, sebagaimana sabda Nabi:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
إِنَّ اللهَ
طَيِّبٌ لَا
يَقْبَلُ
إِلَّا
طَيِّبًا
وَإِنَّ اللهَ
أَمَرَ
الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ
بِهِ
الْمُرْسَلِينَ،
فَقَالَ: يَا
أَيُّهَا الرُّسُلُ
كُلُوا مِنَ
الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا
صَالِحًا ۖ
إِنِّي بِمَا
تَعْمَلُونَ
عَلِيمٌ
[المؤمنون: 51]
وَقَالَ: يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ
[البقرة: 172]
ثُمَّ ذَكَرَ
الرَّجُلَ
يُطِيلُ
السَّفَرَ
أَشْعَثَ
أَغْبَرَ،
يَمُدُّ
يَدَيْهِ
إِلَى
السَّمَاءِ،
يَا رَبِّ،
يَا رَبِّ،
وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ
حَرَامٌ،
وَمَلْبَسُهُ
حَرَامٌ،
وَغُذِيَ
بِالْحَرَامِ،
فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ
لِذَلِكَ؟ ”
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu
baik dan tidak menerima kecuali yang baik pula. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta’ala memerintahkan kepada kaum Mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada
para rasul. maka, Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman, ’Wahai para rasul! Makanlah dari
(makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan’ (QS.
Al-Mu’minun: 51). Dan Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman, makanlah
dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu’ (QS. Al-Baqarah:
172). Kemudian Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam menyebutkan orang yang bepergian dalam
waktu lama; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke
langit, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram,
bagaimana doanya akan dikabulkan?”. (HR. Ahmad, Muslim, dan selainnya).
Keempat: Terbebas dari perbuatan rafats (jima’ atau
perkataan dan perbuatan yang mengarah ke sana), dan fusuq (kefasikan), serta
jidal (berdebat bukan dalam rangka menegakkan kebenaran). Hal ini sebagaimana
penjelasan Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam dalam hadis belia shallallahu ’alaihi wa sallam,
مَنْ
حَجَّ
لِلَّهِ فَلَمْ
يَرْفُثْ،
وَلَمْ
يَفْسُقْ،
رَجَعَ كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ
“Barangsiapa melakukan haji ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
tanpa berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu
ia dilahirkan oleh ibunya”. (HR. Bukhari).
Ulama
yang lain menyebutkan bahwa tanda haji mabrur adalah amal perbuatan seseorang
setelah menunaikan ibadah haji lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Demikian
–ibadallah- di antara keutamaan haji dan umrah. Mudah-mudahan sedikit
penjelasan ini bisa menjadi motivasi kita untuk menunaikan ibadah haji dan
umrah yang sesuai dengan tuntunan syariat Allah. Yakni syariat Islam yang
diridhainya.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِهَدْيِ
سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ
وَقَوْلُهُ
القَوِيْمُ. أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرِ
لَهُ عَلَى
مَنِّهِ وَجُوْدِهِ
وَامْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
تَعْظِيْماً
لِشَأْنِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَلدَّاعِيْ
إِلَى رِضْوَانِهِ؛
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَأَعْوَانِهِ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى .
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Dari
sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
العُمْرَةُ
إِلَى
العُمْرَةِ
كَفَّارَةٌ لِمَا
بَيْنَهُمَا،
وَالحَجُّ
المَبْرُورُ
لَيْسَ لَهُ
جَزَاءٌ إِلَّا
الجَنَّةُ﴾.
“Umrah satu ke umrah lainnya adalah penebus dosa antara
keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dapat
kita petik pelajaran sebagai berikut:
Pertama:
Amal shaleh dapat menebus dosa kecil, dan diantara amalan shaleh itu adalah
umrah dan haji.
Kedua:
Balasan haji mabrur selain bisa menebus dosa juga bisa menyebabkan masuk surga.
Ketiga:
Harta yang halal merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan haji mabrur.
Keempat:
Amal shaleh dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah ‘Azza wa Jalla .
Kelima:
Ikhlas dan mutaba’ah merupakan syarat dasar diterimanya amal shaleh.
Keenam:
Taubat merupakan penebus dosa kecil dan besar.
Ketujuh:
Bagi seorang hamba jika ia terjatuh dalam dosa kecil maka hendaknya ia segera
melakukan amal shaleh sebagai kaffarah-nya, dan jika ia terjatuh dalam dosa
besar maka hendaknya ia lekas-lekas bertaubat sebelum ia lupa atas dosa
tersebut dan sebelum ajal menjemput nyawa.
Kedelapan:
Seorang Muslim dalam melakukan amal shaleh hendaknya diniatkan untuk menebus
dosa, kemudian diniatkan untuk mendapatkan pahala dan ridha Allah ‘Azza wa Jalla .
Kesembilan:
Wujud dari penebusan dosa bagi seorang hamba adalah terhapusnya dosa hamba yang
bersangkutan.
Kesepuluh:
Dosa besar selain kesyirikan itu tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala , jika
Dia menghendaki pengampunan maka diampuni dosa tersebut, dan jika tidak, maka
dilakukan hisab.
Mudah-mudahan
khotbah yang singkat ini bermanfaat bagi khotib pribadi dan jamaah sekalian.
عِبَادَ اللهِ: وَ صَلُّوْا وَسَلِّمُوْا - رَحمَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)).
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ
احْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ عَمَلَهُ
فِي رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَّاصِحَةَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
للَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
مِنَ
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَتُبْ عَلَى
التَّائِبِيْنَ،
اَللَّهُمَّ وَارْحَمْ
مَوْتَانَا
وَمَوْتَى
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَاشْفِ
مَرْضَانَا وَمَرْضَى
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
فَرِجّْ هُمُ
المَهْمُوْمِيْنَ
مِنَ المُسْلِمِيْنَ
وَفَرِّجْ
كَرْبَ
المَكْرُوْبِيْنَ،
وَاقْضِ
الدَّيْنَ
عَنِ
المَدِيْنِيْنَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ أَنْتَ
حَسْبُنَا
وَنِعْمَ
الوَكِيْلِ. {
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
}.{ رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ }.
)عِبَادَ
اللهِ: اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ .(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
[Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ustadz Nur Kholis bin Kurdian di
majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVI/1433H/2012M).
www.KhotbahJumat.com