بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ اللّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً عَظِيماً”
أما
بعد
Jamaah
Jumat rahimakumullah
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang
diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Jamaah
Jumat rahimani wa
rahimakumullah
Allah
Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Namun hendaknya seorang hamba
ketika mengerjakan ketaatan dan mendapatkan kenikmatan merasakan karunia yang
diberikan Allah Ta’ala
dan taufiq (pertolongan)-Nya kepada dirinya, sehingga dia dapat mengerjakan
ketaatan tersebut.
Allah-lah
yang memberikan kenikmatan dan memudahkannya untuk mengerjakan ketaatan, tidak
ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Dengan begitu sikap ujub –yang muncul karena melihat kelebihan
pada dirinya serta tidak merasakan karunia dan taufik Allah–
akan hilang.
Pengertian
Ujub
Ujub
artinya merasakan kelebihan pada dirinya tanpa melihat siapa yang memberikan
kelebihan itu. Ia adalah penyakit hati yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, jika nampak
atsar/pengaruhnya kepada lahiriah seseorang seperti sombong dalam berjalan,
merendahkan manusia, menolak kebenaran dsb. maka yang nampak ini disebut dengan
kibr atau khuyala’ (kesombongan).
Dan memang sebab munculnya kesombongan adalah karena adanya ujub di hati. Ujub
adalah salah satu penyakit hati di samping hasad (dengki), kibr (sombong), riya’, dan mahabbatuts tsanaa’ (mencintai
sanjungan).
Hukum
ujub
Ujub
hukumnya haram dan termasuk dosa-dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَتُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Ada
yang mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah janganlah kamu alihkan rahang
mulutmu ketika disebut nama seseorang di hadapanmu seakan-akan kamu
meremehkannya. Sedangkan maksud “orang-orang
yang sombong lagi membanggakan diri” adalah orang-orang yang
ujub terhadap dirinya dan membanggakan dirinya di hadapan orang lain.
Bahkan
sebagian ulama ada yang memasukkan ujub ke dalam bagian syirk yang dapat
menghapuskan amalan. Imam Nawawi rahimahullah
berkata, “Ketahuilah, bahwa ikhlas terkadang dihinggapi penyakit ujub.
Siapa saja yang merasa ujub karena amal yang dilakukannya, maka akan hapuslah
amalnya…dst.”
Contoh
Ujub
Di
dalam Alquran disebutkan kisah Qarun (lih. Al Qashsash 76-83). Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan kepadanya harta yang banyak di mana kunci-kuncinya sungguh berat
sampai dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat.
Kaumnya
telah mengingatkan Qarun agar jangan bersikap sombong karena Allah tidak suka
kepada orang-orang yang sombong, namun nasihat itu dijawabnya dengan
mengatakan, “Sesungguhnya
aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”, yakni
kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan Dia mengetahui kelebihan pada
diriku, tentu aku tidak diberikan harta ini (sebagaimana dikatakan Abdurrahman
bin Zaid bin Aslam).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرَ جَمْعًا وَلاَيُسْئَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
“Dan
apakah ia (yakni Qarun) tidak mengetahui, bahwa Allah sungguh telah
membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak
mengumpulkan harta?”
(QS. Al Qashshas: 78)
Qarun
terkena penyakit ujub dan sombong. Suatu hari ia keluar kepada kaumnya dalam
satu iring-iringan yang lengkap dengan para pengawalnya untuk memperlihatkan
kemegahannya kepada kaumnya, maka Allah benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi
akibat kesombongannya.
Contoh
lain ujub adalah seperti dalam hadis riwayat Abu Dawud, bahwa ada dua orang
bersaudara di zaman bani Israil, yang satu mengerjakan dosa, sedangkan yang
satu lagi rajin beribadah.
Orang
yang rajin beribadah ini senantiasa memperhatikan saudaranya yang mengerjakan
dosa sambil berkata, “Berhentilah (melakukan dosa)!”, suatu ketika
orang yang rajin beribadah ini memergoki saudaranya sedang mengerjakan dosa,
lalu ia berkata, “Berhentilah (melakukan dosa)!” Namun saudaranya
balik menjawab, “Demi Tuhanku, biarkanlah diriku, dan memangnya kamu
dikirim untuk mengawasiku?” Maka orang yang rajin beribadah itu berkata,
“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu
ke surga.” Maka Allah mencabut nyawa keduanya, dan keduanya berkumpul
bersama di hadapan Allah. Allah berfirman kepada orang yang rajin beribadah,
“Apakah kamu
mengetahui Diriku atau berkuasa terhadap apa yang Aku lakukan dengan Tangan-Ku?”,
maka Allah berfirman kepada orang yang mengerjakan dosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan
rahmat-Ku”, sedangkan kepada yang satu lagi Allah berfirman,
“Bawalah dia ke
neraka.”
Abu
Hurairah yang meriwayatkan hadis ini berkata, “Demi Allah yang diriku di
Tangan-Nya, ia telah mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya binasa dunia
dan akhirat.”
Dalam
riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَالَ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ اَهْلَكَهُمْ
“Barangsiapa yang mengatakan
“Orang-orang telah binasa”, maka sebenarnya kata-kata itu telah
membinasakannya.”
Imam
Malik berkata –menerangkan hadis di atas-: “Apabila ia mengucapkan
kata-kata itu karena melihat keadaan orang-orang yakni agamanya (yang kurang),
saya kira hal itu tidak mengapa…, akan tetapi apabila ia mengucapkan
kata-kata itu karena merasa ujub dengan dirinya dan merendahkan manusia, maka
hal itu dibenci dan dilarang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda:
مَنْ
تَعَاظَمَ
فِي نَفْسِهِ,
وَاخْتَالَ فِي
مِشْيَتِهِ,
لَقِيَ
اَللَّهَ
وَهُوَ
عَلَيْهِ
غَضْبَانُ
“Barangsiapa
menganggap besar dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan, ia akan menemui
Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (HR. Hakim dan
para perawinya dapat dipercaya)
Maksud
“menganggap besar dirinya”
adalah merasa dirinya sebagai orang besar dan pantas untuk dimuliakan.
Dari
keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa ujub menghalangi seseorang dari
mencapai kesempurnaan, ia juga sebab yang membuat seseorang binasa di dunia dan
akhirat; betapa banyak kenikmatan berubah menjadi siksaan, kekuatan menjadi
kelemahan, kemulian menjadi kehinaan akibat ujub. Selain itu ujub dapat
menutupi kebaikan pada seseorang, menampakkan keburukan dan mendatangkan
celaan. Di antara akibat lainnya adalah mendapatkan kekalahan, penyebab
turunnya murka Allah, mendapatkan kebencian dari manusia dan dapat menghapuskan
amal shalih.
Perhatikanlah
peristiwa perang Hunain, karena ujub jumlah yang banyak menjadi tidak berarti
apa-apa, lih At Taubah: 25.
Nasihat
Ulama Salaf Tentang Ujub
Jamaah
Jumat rahimani wa rahimakumullah
Berikut
ini ada beberapa nasihat para ulama dan orang-orang shaleh tentang ujub.
Abu
Bakar Ash Shiddiq radhiallahu
‘anhu berkata, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan
seorang muslim, karena orang muslim yang rendah itu di hadapan Allah adalah
mulia.”
Aisyah
radhiallahu ‘anha
berkata, “Sesungguhnya kalian telah lalai dari ibadah yang paling utama,
yaitu tawaadhu’
(lawan ujub dan sombong).”
Aisyah
juga pernah ditanya, “Kapankah seseorang telah bersalah?” Ia menjawab,
“Ketika dirinya mengira bahwa ia orang yang terbaik.”
Qatadah
rahimahullah
pernah berkata, “Barangsiapa yang diberikan harta, kecantikan, pakaian
maupun ilmu, kemudian ia tidak bertawadhu’, maka nanti akan menjadi
musibah baginya pada hari kiamat.”
Muhammad
bin Wasi’ berkata, “Kalau sekiranya dosa itu dapat tercium baunya,
tentu tidak seorang pun yang akan mau duduk bersamaku.”
Dalam
riwayat disebutkan bahwa Umar bin Abdul ‘Aziz apabila berkhutbah di atas
mimbar, lalu dirinya khawatir tertimpa ujub, maka ia memutuskan khutbahnya. Dan
apabila ia menulis tulisan yang di sana membuatnya ujub, maka ia merobeknya dan
berkata, “Ya Allah,
aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku.”
Ibnu
Rajab berkata, “Seorang mukmin sepatutnya senantiasa melihat dirinya jauh
dari derajat yang tinggi, sehingga dengan begitu ia mendapatkan dua pelajran
berharga; sungguh-sungguh dalam mengejar keutamaan serta berusaha menambahnya
lagi dan melihat dirinya dengan penglihatan yang kurang.”
Ibnul
Qayyim berkata, “Berhati-hatilah dari sikap berlebihan (mengatakan)
“saya”, “saya memiliki” dan “milik saya”,
karena lafaz-lafaz tersebut telah membuat Iblis, Firaun dan Qarun tertimpa
cobaan. “Saya lebih
baik darinya” diucapkan Iblis. “Saya memiliki kerajaan Mesir”
diucapkan Firaun dan “Sesungguhnya
aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku” diucapkan
Qarun.”
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
اَلحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ، الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى
فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا
إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا تُعَاقِبُ
اللَيْلَ
وَالنَّهَار
Sebab
Munculnya Ujub
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Setelah
kita mengetahui pengertian ujub, bahaya, dan nasihat-nasihat untuk menjauhi
ujub, kita juga harus mengetahui sebab munculnya ujub.
Di
antara sebab timbulnya ujub adalah karena lemahnya keyakinan dan kurangnya
meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala,
lupa terhadap dirinya yang memiliki kekurangan dan kelemahan, tidak menyadari
bahwa hati mudah berbalik, tidak mentadabburi (memikirkan) kandungan Alquran
dan pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya, tidak mengetahui hakikat dunia,
kehidupannya yang sementara dan rendahnya nilai dunia, kecerdasan akal dan
pengalamannya yang kurang serta tidak mengetahui apa yang akan terjadi di balik
sesuatu, tidak bersyukur terhadap nikmat Allah yang begitu banyak, merasa aman
dari makar Allah ‘Azza
wa Jalla. Termasuk sebab munculnya ujub adalah tidak melihat
sejarah orang-orang terdahulu yang telah binasa. Allah Ta’aala berfirman:
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِن قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِي اْلأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَاكَانَ لَهُم مِّنَ اللهِ مِن وَاقٍ
“Dan
apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan
betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih hebat
kekuatannya daripada mereka …dst. (QS. Al Mu’min: 21)
Di
samping, hal-hal di atas, di antara sebab yang dapat memunculkan ujub adalah
sering mendapatkan pujian dan sanjungan. Oleh karena itu, Abu Bakr Ash Shiddiq
ketika dipuji oleh orang lain ia bertawadhu’ dan berkata,
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنِيْ
خَيْرًا
مِمَّا يَظُنُّوْنَ
وَاغْفِرْ
لِيْ مَا
لاَيَعْلَمُوْنَ
وَلاَ
تُؤَاخِذْنِيْ
بِمَا يَقُوْلُوْنَ
“Ya
Allah, jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka kira, ampunilah kesalahanku
yang mereka tidak mengetahuinya dan janganlah Engkau hukum diriku karena ucapan
mereka.” (lih. Tarikhul
khulafa’ 117)
Mazhaahir
(Fenomena) Ujub
Fenomena
yang timbul dari ujub banyak sekali, di antaranya adalah menolak kebenaran,
merendahkan manusia, tidak mau bermusyawarah, tidak mau menuntut ilmu
syar’i, melabuhkan kain melewati mata kaki, sombong dalam berjalan,
berbangga-bangga dalam hal ilmu, melirik dengan nada merendahkan,
berbangga-bangga dengan keturunan dan nasab, menyelisihi manusia dengan maksud
agar dikenal, memuji diri sendiri, melupakan dosa-dosa dan menganggapnya
sedikit, selalu berbuat maksiat, tidak semangat menjalankan ketaatan karena
merasa sudah mencapai tingkatan yang tinggi, dan tampil sebelum memiliki
keahlian.
Macam-Macam
Ujub
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Ujub
bisa menimpa ilmu, akal dan ra’yu/pendapatnya, harta, kekuatan,
kemuliaan, penampilan, ibadah dsb.
Menimpa
ilmu, misalnya seseorang merasa sudah banyak ilmunya sehingga tidak mau
menambah lagi, atau membuatnya meremehkan ulama.
Menimpa
akal dan pendapat, misalnya ujubnya orang-orang filsafat dengan akalnya. Mereka
mengira cukup dengan akal, semuanya bisa dijangkau, termasuk hal ghaib. Dan
ujubnya ahlul bid’ah, mereka menyangka bahwa cara ibadah yang mereka
adakan lebih baik daripada yang disebutkan dalam sunah.
Menimpa
harta, misalnya seseorang merasa sudah banyak hartanya, akhirnya ia bersikap
boros dan berlebihan.
Menimpa
kekuatan, misalnya seseorang merasa paling kuat, seperti kaum ‘Aad,
mereka mengatakan, “Siapakah
yang lebih kuat daripada kita?” akhirnya Allah menimpakan
kehinaan kepada mereka di dunia dan akhirat.
Menimpa
kemuliaan, misalnya karena merasa sebagai orang mulia, membuat dirinya malas
bekerja dan enggan mengejar keutamaan.
Obat
Penyakit Ujub
Untuk
mengobati penyakit ujub di antaranya adalah dengan berdoa kepada Allah agar
dijauhkan dari penyakit ini, menyadari kekurangan pada dirinya, menyadari bahwa
apa yang diberikan Allah berupa ilmu, harta, kekuatan dsb. bisa saja
dicabut-Nya besok jika Allah menghendaki, meyakini bahwa ketaatan seorang hamba
betapa pun banyak, namun tetap saja tidak dapat menyamai pemberian Allah kepada
kita, mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu yang telah binasa,
menyadari bahwa selainnya ada yang lebih utama daripada dirinya dan mengetahui
akibat buruk dari sifat ujub.
Tawaadhu’
Kebalikan
dari sombong dan ujub adalah tawaadhu’. Tawaadhu’ adalah
merendahkan diri kepada Allah dan rendah hati kepada hamba-hamba-Nya dalam arti
bersikap sayang dan tidak merasa dirinya lebih di atas mereka, bahkan melihat
orang lain melebihi dirinya dalam hal keutamaan. Tentang keutamaan
tawadhu’ Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah Allah menambahkan hamba-Nya
yang sering memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang
bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah Ta’ala akan meninggikannya.”
(HR. Muslim)
Mudah-mudahan
Allah menjaga kita dan melindungi kita dari sifat ujub, berbangga diri, agar
amal ibadah kita tidak sia-sia. Dan mudah-mudahan Allah memaafkan dan
mengampuni sikap ujub yang telah kita lakukan, baik disadari ataupun tidak.
إِنَّ
اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Marwan
bin Musa
Maraji’: Al
‘Ujb (Umar bin Musa Al Haafizh), Al Misbahul Munir fii Tahdzib tafsir Ibnu Katsir,
Minhajul Muslim,
dll.